[ 18 ] The Day

1464 Kata
26 Oktober 2019. Bus dari Stasiun Kereta Api Tanjung Karang telah tiba di Stasiun Gambir Jakarta. Ayla melangkah turun menuju area penjemputan, ia sudah memesan taksi online juga sudah membooking hotel tempatnya akan menginap. Bahkan pesan teks untuk Meilia pun sudah terkirim. Ayla hanya perlu mandi dan berganti pakaian. Waktu masih menunjukkan pukul setengah enam, langit masih berwarna ungu kebiruan. Namun, lalu lalang kendaraan sudah memadati jalan. Selasai ia merapikan barang bawaan, ia segera membersihkan diri lalu berganti kaos alumni, tak lupa topi berwarna hitam dan putih sebagai tanda pengenal angkatan. Ayla sudah berdiri di depan gedung sekolah yang telah lama sekali ia tak pernah kunjungi, segera saja memori masa sekolah menyeruak memenuhi kalbu dan pikirannya. Hari itu kaos berwarna warni menyesuaikan tahun angkatan memenuhi jalan dan lapangan sekolah. Kelas-kelas terisi penuh oleh para alumni bukan hendak belajar, tetapi sedang saling bertemu pandang dan berinteraksi saling mengingat kenanagan masa sekolahnya masing-masing. "Tempat kumpulnya di lantai III, kelas 9-G." Pesan teks dari Meilia k****a lagi agar tak salah masuk ruangan. Sekolah itu sudah memiliki wajah baru, yang kuingat gedungnya hanya dua lantai dan berwarna krim kecoklatan, sekarang gedung tersebut memiliki empat lantai dan berganti warna menjadi biru muda. Jembatan penyambung dua gedung yang duku kami sebut sebagai 'jembatan cinta' sudah tidak ada. Namun, pihak sekolah telah mengabadikan jembatan tersebut menjadi photoboot agar para alumni yang bertandang dapat kembali bernostalgia. Kembali ke kota itu saja sudah membangkitkan berjuta kenangan indah. Apalagi kembali ke sekolah ini. Sebetulnya, bukan pertama kalinya Ayla kembali ke kota itu. Akan tetapi, entah mengapa kali ini nama Yudha Turangga langsung teringat. Apakah nanti kita akan bertemu lagi? Bolehkah kita bertemu lagi? Dirinya ingin bertemu lagi. Di sisi lain, Yudha merasa kesal sebab sekretarisnya menelepon saat dia sudah menyiapkan diri untuk datang ke acara reuni. "Kan semalam sudah saya bilang untuk membatalkan semua kegiatan," seru Yudha kesal. Ia memakai dasi dengan cekatan. "Maaf, Pak. Dewan direksi meminta rapat mengenai hasil expand kita ke luar negeri di percepat," jawab sang sekretaris itu takut-takut. Sejujurnya ia telah berbohong, Maura telah mengatur agar rapat itu dimajukan tanpa sepengetahuanYudha. Ia berbuat begitu setelah mengintip obrolan grup di aplikasi WA suaminya sejak jauh hari. Wanita itu berupaya agar suaminya tak dapat bertemu mantan walau ia harus membalik keadaan. Setelah selesai mematut diri, ia segera berlari keluar kamar, sebab dalam waktu 30 menit rapat akan dimulai. Tetapi semenit kemudian Yudha kembali masuk kamar, dan mengambil kaos dan topi angkatan yang tergeletak di atas tempat tidur. Yudha tidak yakin rapat akan berlangsung cepat, tetapi ia berharap rapat lancar dan sebelum acara reuni selesai ia bisa mampir ke sekolah, walau ia tak yakin Ayla akan hadir atau tidak. Di sekolah, Ayla celingukan mencari-cari letak kelas yang dimaksud. Ia naik ke lantai III, lalu berbelok ke kanan, memperhatikan penanda kelas yang sekarang tampak rapi dan bagus, ia ingat dulu sekolahnya masihlah bobrok, rupanya pembangunan sekolah telah menjadi fokus utama pihak sekolah, Ayla pun turut bangga. "Ayla?" Seseorang yang sedikit familiar menegur Ayla dari dalam kelas. Ia memperhatikan wajahnya, sepertinya mereka pernah kenal. Namun, Ayla sudah lupa dengannya. "Ehm, maaf siapa, ya?" "Aku Anto, kita dulu pernah pacaran," jelasnya. "Oh, Kak Anto. Apa kabar, Kak?" jawab Ayla kini berusaha secepatnya meninggalkan tempat itu. "Baik, tempat pertemuan kamu di mana?" tanya laki-laki itu berusaha menahan Ayla agar tak segera beranjak. "Ini masih nyari, Kak. Udah, ya, Kak." Ayla segera berbalik. Berharap laki-laki itu tak mengikuti. "Oke. Eh! Minta nomor hape, dong," sergah Anto masih berkeras menahannya lebih lama. "Hapenya nge-drop, Kak." Getar ponsel mengagetkan keduanya, Ayla langsung berbalik. Ia berlari secepatnya agar pria itu tak menyadari kebohongannya. "Lo di mana?" tanya Melia. "Udah di lantai III, kelasnya di mana, sih?" jawab Ayla sambil tersengal-sengal. "Dari tangga tengah, belok kanan, lalu lurus terus. Di depan kelas ada Darma." "Ah, iya sudah. Sudah ketemu." Ayla berlari melewati tiga kelas lagi. Sesampainya di sana ia mencoba mengatur napas. Darma menegurnya, Ayla mengulurkan tangan tanpa berkata, suaranya tercekat. Darma menepuk-nepuk punggungnya. "Jauh, ye, perjalanan dari Lampung. Nyampe sini sampe ngos-ngosan gitu," canda Darma. Ayla meliriknya kesal, kalo bukan karena ketemu Anto tadi, ia malas berlarian ke sana kemari seperti tadi. Acara reuni pun semakin meriah, tak habis-habis para alumni perempuan berbagi cerita tentang keluarga, dan pekerjaan yang dilakukan sekarang. Berbagi resep, sambil sesekali mengulang cerita lalu yang sangat lucu ketika diceritakan sekarang. Para lelaki berkumpul di sudut lain sambil berfoto kelompok mengabadikan momen indah yang mungkin tak dapat terulang lagi. Acara semakin siang semakin panas, ya iyalah. Akan tetapi, sosok yang dinantikan Ayla tak jua muncul. Yudha bukan tak memantau kegiatan reuni, sesekali ia melihat laporan teman-temannya melalui foto yang di post dalam grup obrolan. Rapat sudah setengah jalan hanya tinggal tanya jawab antara manajemen dengan para dewan direksi. Ponsel bergetar, nama Darma tampil dalam panggilan. Ia terpaksa mengabaikannya. Pesan teks terkirim darinya, foto Ayla bersama Meilia, Tami, dan Darma membuat pria itu terlonjak. "Ayla datang ke reuni. Lo di mana? Cepet lagi, keburu bubar." Pesan teks itu membuat jantung Yudha meronta. Ia menatap jam tangannya, sudah pukul sebelas siang. Yudha berdiri, semua peserta rapat langsung menatapnya heran. "Pertanyaan seputar rencana expand kita ke Eropa saya rasa sudah cukup, jika ada yang ingin ditanyakan lebih lanjut silakan kepada staf marketing dan distribusi yang akan menjelaskan rinciannya. Lagipula uji coba pengiriman dua minggu lalu mendapat sambutan baik dari para konsumen dan berjalan lancar. Demikian, saya serahkan rapat selanjutnya akan di pandu langsung Direktur Sales and Distribution, saya baru saja mendapat berita yang harus saya tangani secepatnya. Permisi." Pria itu berjalan cepat menuju pintu, mengabaikan berbagai pendapat dan gunjingan yang tak ingin didengarnya. "Pak, mau ke mana? Habis ini bapak harus makan siang bersama ketua dewan direksi dan Ibu Maura," tegur sekretarisnya. "Batalkan!" hardik pria itu. Ia langsung berlari ke lobby. Waktu sudah menunjukkan pukul dua siang, semakin sore suasana semakin riuh. Live Music terdengar seantero gedung, semua berdiri dalam kelompok-kelompok kecil berjoget, bernyanyi sambil membicarakan masa lalu atau kegiatan yang sekarang dilakukan. Tak ada tanda-tanda sekolah akan sepi, para alumni masih betah mengobrol seru, dengan diselingi berfoto-foto, guna berlomba-lomba update status di sosmed masing-masing. Tiba-tiba, sepasang tangan menutupi kedua mata Ayla, ia meronta berusaha melepaskan tangan iseng itu. Ketika akhirnya terlepas ia pun menengok ke belakang mencari si pembuat masalah dan terperangah. "Yudha!?" Orang yang dipanggil tersenyum bahagia. Caranya memandang seperti menemukan permata di dalam tumpukan jerami. "Yuk, Ay!" ajaknya. "Eh, mau ke mana?" tanya Ayla heran. Tanpa meminta izin Yudha langsung menarik lengan, membawanya pergi dari tempat itu. Meilia dan teman-teman lain memanggil nama keduanya. Namun, Yudha tak mempedulikan apa-apa lagi, ia terus menarik wanitanya. Mengacuhkan hentakan tangan Ayla yang berusaha melepaskan genggamannya. "Kamu tambah 'ndut. Kebiasaannya kalo stres makan masih belum ilang?" tanya Yudha seraya terus berjalan menuju lapangan parkir. "Biarin!" Ayla merajuk masih berusaha melepaskan genggaman tangannya. Yudha tidak mau melepaskannya dan tetap tersenyum. Salah sendiri seenaknya memutuskan hubungan begitu saja, gerutunya dalam hati. "Marah?" tanya Yudha sambil merunduk menatap mata perempuan yang bening itu. Ayla merasa jengah, jarak mereka terlalu dekat. Ia melengos. "Enggak, cuma kesel!" kata Ayla berpura-pura. Pria ini pernan mengkhianatinya berkali-kali, tetapi ia selalu saja tak pernah bisa berlama-lama membencinya. "Nanti kalo marah cepat tua loh." "Bodo amat! Emang udah tua kali," sahut Ayla sambil memalingkan wajah tak mau terus memandang mata itu. Yudha mencubit pipi tembam, wanita berkulit kuning langsat itu. "Aww! Sakit." "Kamu kalo marah lucu, ya. Aku jadi seneng godain." Ayla merasa gemas, dan berusaha memukul dadanya. Baru setengah jalan, pergelangan tangannya sudah ditangkap. Mereka kembali bertatapan, senyum pria itu lenyap, matanya tak lagi terfokus, tatapannya membuat suasana menjadi canggung. Ayla dan Yudha bukan lagi remaja, tetapi apa yang mereka lakukan membuat jiwa muda keduanya bangkit, belum lagi Yudha memikirkan tentang ciuman mereka terakhir kali. "Ayo, kita harus pergi sekarang." Yudha melepas tangan kirinya, dan mengalihkan pandangan ke arah lain, Ayla pun merunduk malu. "Aku pikir kamu gak bakal dateng, aku bahagia bisa bertemu kamu lagi, Ay. Sungguh." Dia berkata sambil tersenyum, lalu berbalik, dan mempercepat lajunya. Sehingga Ayla tertinggal dua langkah dibelakangnya. Ia mempercepat langkah, mencoba mensejajarkannya. Akan tetapi, langkah itu terlalu lebar untuk diikuti kaki kecilnya. "Sebenernya kita mau ke mana?" "Main sepeda!" jawab Yudha sekenanya. "Apa!" Yudha hanya tersenyum nakal dan melemparkan helm, Ayla hampir menjatuhkan helm itu. Keduanya sama-sama terkejut, dan menahannya. Sedetik jemari mereka bersentuhan. Membuat getaran dalam d**a keduanya semakin kencang. Ayla menyorongkan helm itu kembali padanya. Yudha menatapnya gemas. "Gue butuh bicara dengan lo, oke!" "Bicara aja di sini." "Gue mohon Ay, jangan keras kepala." Ayla mendesah, dan dengan enggan memakai helm. "Main sepeda di mana, Yud?" Setengah berteriak perempuan itu bertanya, karena mereka sedang berada di atas motor, dan suara motornya cukup keras. "Lihat aja nanti!" Yudha menjawab, suaranya sedikit tak jelas karena terbawa angin. "Jangan jauh-jauh." Sekali lagi Ayla berkata keras, bersaing dengan suara motor. "Suka-suka aku dong."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN