[ 19 ] Diculik?

1239 Kata
Motor memasuki objek wisata terkenal di ujung kota itu, wahana di dalamnya cukup banyak, dan Yudha membawa Ayla ke taman bunga. Sesampainya di sana, pria itu menyuruh perempuan itu menunggu.  Setelah beberapa saat, ia kembali dengan membawa Sepeda Onthel yang desainnya sudah modern. "Beneran main sepeda?"  Tanya perempuan itu tak percaya. "Iya, lah, ayo!  Gue bonceng," ajak Yudha. Ayla mendekati Yudha dengan ragu-ragu. "Memang bisa gowesnya?" "Gak yakin, sih, terakhir main sepeda waktu SMP. Dulu gue pengan banget jemput lo sekolah naek sepeda. Tapi sayang belum kesampean lo udah keburu pindah." "Gue berat, loh." Wanita itu berdiri di sisi sepeda dengan masih merasa ragu. "Gue udah tahu." Laki-laki itu tersenyum dan mencubit gemas hidung Ayla. “Pokoknya, gue udah ngasi peringatan. Kalo ni sepeda jebol, bukan salah gue,” sahut perempuan itu seraya naik ke atas sepeda dengan hati-hati.   Yudha mulai mengayuh setelah Ayla duduk. Ia merasakan beban yang cukup berat di belakang, tetapi bibirnya tersenyum bahagia. Akhirnya cita-citanya membonceng Ayla terlaksana. Diam-diam ia membuat daftar hal-hal yang ingin ia lakukan berdua dengan wanita itu jika bertemu lagi, dan selagi ia ada di Jakarta maka laki-laki itu merasa harus membahagiakannya. Karena membuat hati Ayla bahagia termasuk dalam salah satunya.   Laki-laki berkemeja putih itu mulai berpeluh setelah mulai menggowes selama beberapa menit. Beberapa kali ia tidak dapat mengendalikan laju sepeda, kaku karena telah lama tidak melakukannya. Ditambah harus menahan berat badan wanitanya yang lumayan berat. “Pegangan yang kenceng, ya, Ay!” serunya sambil terus menggowes melintasi taman. “Sudah,”  jawab wanita yang dipanggil. Ayla sejak tadi memegang sadel sepeda dengan kuat, berusaha membantu Yudha menyeimbangkan laju sepeda. “Jangan pegang jok, pegang pinggang!” seru laki-laki itu masih bersemangat. “Bukannya lo gelian, ya? Nanti tambah susah gowesnya,” jawab Ayla mengingat-ingat. Dulu laki-laki itu sangat sensitif di bagian sisi tubuhnya. “Pegang aja!” teriaknya masih berusaha keras memperbaiki lajunya. Ia menyesal, seharusnya ia beli saja sepeda gunung untuk latihan, padahal kemarin temannya sudah menawarkannya untuk ikut klub sepeda. Akan tetapi, ia terlalu malas.   Setelah berupaya untuk tidak banyak bergerak agar laki-laki itu dapat mengendarai sepeda dengan baik. Ayla merasa, bahwa ia lebih percaya Yudha membawa motor dibandingkan sepeda. Sedari tadi, sepeda itu miring ke kiri dan kanan, membuatnya khawatir terjatuh.  Ditambah pinggangnya pegal karena duduk dengan posisi menyamping karena menggunakan rok. Harusnya tadi gue pake celana jeans aja, gerutu Ayla dalam hati.   Setelah sekitar lebih dari 20 menit mengayuh dengan tidak nyaman, akhirnya pria itu menyerah. Usianya yang menjelang 40 ternyata tak dapat dibohongi. Tulangnya sudah berderik karena kekurangan pelumasan pada sendi akibat kurang olahraga dan makan yang tak seimbang. Yudha menyadari cintanya memang tak pernah berubah untuk wanita yang duduk di belakangnya, tetapi fisiknya berkata lain. Ia gagah di luar. Namun, keropos di dalam. “Hhhh ... hhhh ... udahan, yah,” serunya setelah mendadak berhenti dengan dengkul yang gemetar. “Capek? Ya, udah jangan dipaksa, nanti kalo copot dengkulnya gak ada ganti,” sahut Ayla segera berdiri dengan rasa syukur karena akhirnya pinggangnya lurus kembali. “Maaf, ya. Padahal gue pengen banget main sepeda bareng lo.” “Dulu, kita gak sempat, ya, Yud?” tanya Ayla, matanya menerawang dan menyadari betapa waktu pertemuan mereka lebih banyak di sekolah. Jarang sekali keluar untuk sengaja main berdua kecuali di saat pulang sekolah. “Iya, dulu aku, tuh, maunya jemput dan antar lo pulang sekolah pakai sepeda, tapi lo-nya udah keburu pindah aja.” Yudha masih berusaha mengatur napasnya yang terkikis nikootin, minuman keras, dan angin malam. “Ya, udah, gih, pulangin sana sepedanya. Kita jalan-jalan aja,” usul Ayla seraya meregangkan tubuh, menghilangkan pegal.   Setelah Yudha, mengembalikan sepeda mereka pun berjalan mencari tempat untuk dapat duduk-duduk dan minum. Setelah menemukan tempat yang tepat, mereka segera duduk demi melepas lelah. Ayla tersenyum geli melihat laki-laki di depannya yang sibuk mengelap keringat yang mengucur sekaligus mengatur napas yang tersengal-sengal. Berbanding terbalik dengan semangatnya mengayuh sepeda tadi. "Jadi, lo tadi mo ngomongin apa?" tanya wanita itu sambil menatap pria di depannya. Merasa heran mengapa kemarin ia memutuskan untuk tak lagi berhubungan dengannya padahal ia sangat bahagia dan menantikan pertemuan ini. "Gue … lupa," jawab Yudha. "Loh, kok?" "Duh, pikiran gue nge-blank, Ay. Mana panas lagi." Yudha mengguyurkan wajah dan kepalanya dengan air, membiarkan sampai tetes air terakhir dalam botol air mineral itu habis. Buliran air tampak berkilau tertimpa cahaya matahari sore, wajahnya menjadi semakin tampan di mata Ayla. "Lagian, masih jam tiga sore maksa main sepeda, nih, minum!" Wanita itu menyorongkan air minumnya, dan laki-laki itu menenggaknya hingga hampir habis.   Beberapa saat mereka masih repot dengan tisu dan air mineral, sedang Yudha masih terus mengatur napas. Tak ada kata-kata yang keluar dari mulut keduanya, hanya menikmati lelah dan panasnya udara sore yang dulu tak sempat mereka lakukan.   Suara ombak dan semilir angin yang menghempas wajah Ayla dan Yudha terasa menenangkan. Sesekali mereka saling memandang dengan lekat, tetapi cepat-cepat beralih melihat hal lain, saat mata mereka bertemu seraya tersenyum, sebab merasakan kehangatan yang tiba-tiba mengalir di hati. "Ay," panggil Yudha ketika pandangan mereka bertemu ketiga kalinya. "Hmmm ...." “Ayla Kosha Hammam,” panggil Yudha dengan nama lengkap wanitanya. “Hmmm ....” Ayla menjawab sambil menatap pinggiran pantai. "Kok hmm? Lo, lagi sariawan?" tanya Haikal kesal dengan jawaban perempuan itu yang terasa mengacuhkannya. “Hhhh!” Dengkus wanita itu kesal dan memandangi wajah yang dirindukan itu, sedetik.  Ya, hanya sedetik, sebab ia tak mampu menatapnya lebih lama. Ia tak ingin rindu yang menetap dalam kalbu tergambar jelas di matanya dan pria itu mengetahuinya. Keputusannya untuk duduk di sini berdua dengan laki-laki yang tidak lagi sendiri membuatnya enggan berlama, juga tidak ingin berpisah terlalu cepat.   “Ada apa, Yudha Turangga?” “Nah, gitu, dong, dijawab. Memang gue tembok, jawabannya cuma hmmm,” cibir lelaki itu. “Marah?” tanyaku padanya. “Iya, lah. Kapan lagi coba gue bisa ketemuan lagi sama lo, mumpung lo lagi di sini. Sebelum lo blokir gue dari hidup lo,” sahutnya kesal, ia tak habis pikir perempuan itu berani memblokir seluruh kontaknya setelah ciuman pertama keduanya. Ia merasa Ayla membuat dirinya hanya sekedar lelucon saja. “Ya, udah. Kalo marah gue pergi aja.” “Loh, kok, gitu. Lo, kan, tau gue gak pernah bisa marah sama lo, Ay.” “Lha, tadi katanya marah?” “Makanya jangan cuekin gue,” Yudha merengut. “Oke oke, gue gak cuekin. Memang lo mau ngomong masalah apa, sih?” tanya Ayla mengalah, kedatangannya ke kota ini harus memiliki alasan, dan bicara adalah solusi dalam menyelesaikan masalah keduanya. “Banyak, banyak yang mau gue omongin, sampe gak tau harus mulai dari mana.” “Lo-nya aja bingung, apalagi gue, Yud.” “Kalau begitu kita mulai dari kisah masa lalu.” “Ngomongin masa lalu, lagi?  Memang masih ada yang perlu dibahas?” tanya Ayla, merasa urusan masa lalu yang kurang dari dua tahun bersama itu ternyata memerlukan penyelesaian yang cukup panjang. Berbulan-bulan sejak pertama kali saling telepon, chatting, dan bertemu. “Iya, lo, kan, yang ninggalin gue. Gue butuh banyak penjelasan untuk itu, kenapa dulu lo tiba-tiba pergi dan pindah sekolah.” “Terlalu panjang untuk dijelasin, apa lo gak bosan bahas tentang hal itu, lagi.” “Enggak, gue memang butuh banyak penjelasan, kita selesaikan masalah yang lalu, baru gue bisa buat keputusan tentang kita di masa sekarang.” “Baiklah. Jadi mau mulai dari mana.”   = = = = = = = = = = = = = = =
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN