Ini hal yang sangat membingungkan, pertama ia di datangi sesosok yang mirip dengan wajah tunangannya dan tanpa sehelai apapun berbeda dengan penampilannya. Hanya saja kecepatan dan kekuatannya melebihi bayangannya tentang manusia. Apa jangan-jangan memang benar pria yang menangkapnya dari terjunnya dalam upaya bunuh diri pertama kali itu adalah hantu dari tunangannya, atau jangan-jangan itu hanya sesosok malaikat yang menyerupai tunangannya? Dan sekarang malaikat itu menyerupai orang lain yang tak kalah tampan dan kuatnya dengan sesosok yang pertama menolongnya.
Sungguh kejadian semua ini di luar batas logika! Tak ada dalam ilmu apapun selama ini yang Hana pelajari mengenai mahkluk secanggih mereka.
Di kala pagi telah datang, sepasang permasalahan yang melilit jiwa Hana telah membuat fisiknya terlihat seperti mayat hidup. Wajahnya sangat pucat, rambut yang dulu lembut, indah tersisir tak lagi ia perhatikan. Tak ada gunannya. Di dalam imajinasinya hanya sebuah kematian menyusul tunangannya.
Meski dua kali ini ia telah selamat dari percobaan maut yang ia lakukan, tak merubah pikiran kacaunya menjadi pikiran yang sehat. Apalagi ketika ia memejamkan mata, seketika saja dengan cepat bayangan tunangannya berwajah masam menagihnya tentang janji mereka, membuat ia tambah merasa bersalah.
Tampaknya ia sangat membutuhkan teman pria guru olahraga itu sebagai penasihat pribadinya, sebab pria itulah selama ini yang bisa membangunkannya dari kelemahan batinnya. Akan tetapi, Ye Jun tampak tak memperayai cerita Hana saat ia cerita pertama kali di tolong oleh pria berwajah persis tunangannya itu. Ye Jun hanya meneguk satu air putih tanpa bereaksi lebih. Perihal kaget, ia memang terlihat kaget, namun di balik itu ia seperti mencium aroma cerita yang di lebih-lebihkan oleh Hana, baginya Hana hanya berhalusinasi. Membuat Hana kesal padanya.
Tetapi pada siapa lagi, selain kepada Ye Jun. Pria berbadan atletis itulah selama ini menjadi ruang pembebasan bagi keterpurukan jiwa Hana.
Sampainya Hana di sekolah, sebelumnya tanpa mandi, merapikan diri, dengan rambut acak dan wajah pucat ia mendatangi Ye Jun pada pagi buta di ruang kerjanya.
Ye Jun tersenyum hangat seperti menyambut kedatangan Hana yang berwajah pucat itu, ia sama sekali tak merasa aneh dengan kondisi Hana yang semakin hari semakin kusut. Mungkin ia telah paham bahwa Hana sekarang jiwanya sedang bergejolak, sedang merasakan suatu bencana di luar batas kemampuannya sebagai wanita. Ye Jun hanya tersenyum hangat bagai psikiater yang kedatangan pasiennya. Kiranya senyumnya itu dapat membuat batin Hana berubah menjadi tenang atau setidaknya Hana melepaskan segala keresahannya.
Lalu Hana duduk tepat di kursi depan Ye Jun, dan berkata dengan sedihnya, "Aku kedatangan makhluk aneh lagi dan ia menolongku saat aku melakukan upaya bunuh diri lagi." Dengan itu, Hana meneteskan air mata.
"Lalu?" Tanya Ye Jun dengan singkat. Dan seketika itu pula wajahnya berubah serius.
"Ia tak berwajah seperti tunanganku, ia berbeda, ia berwajah pucat namun kekuatan mereka sama cepatnya."
"Apakah ia juga mampu terbang seperti yang kamu ceritakan pertama kali?" Tanya Ye Jun, tampaknya ia mulai percaya dan penasaran pada cerita Hana.
Hana menggeleng sambil menunduk, ia berkata, "Tidak. Ia menangkapku dengan tangannya saat sepersekian detik tubuhku mencapai tanah."
Tarikan napas pertama Ye Jun hembuskan, kedua dan setelah itu ia tertawa kencang.
Benar prasangka Hana, ia bagai orang bodoh yang sedang memonton pertunjukan lucu. Perlakuannya itu membuat Hana tambah kecewa dan marah.
"Bukannya begitu," kata Ye Jun yang masih terpingkal tertawa. "Ketika memang ada manusia super yang seperti kamu ceritakan, yang berbuat baik menolong manusia, maka tingkat bunuh diri di negeri ini tidak akan bertambah. Tetapi lihat kenyataannya Hana! Manusia super hanya ada di dalam film-film. Tingkat halusinasimu telah benar-benar di luar batas Hana," sambil berdiri dan menggenggam bahu Hana, Ye Jun berkata, "Sadarlah Hana, segera lupakan kisahmu dengan tunanganmu, carilah penggantinya, aku mohon padamu! Aku tidak ingin terjadi hal buruk lagi padamu." Ye jun tampak serius berbicara seperti itu pada Hana.
Baginya Hana bukan hanya teman, tapi juga adik yang selalu dia khawatirkan kondisinya.
Tapi Hana, masih saja terperangkap dengan kisah cintanya dan bayangan tunangannya. Rasa bersalah semakin membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa.
Ye jun pergi meninggalkan Hana sendirian, dia sudah merasa cukup mendengar cerita halusinasi Hana yang mengaku bertemu dan di tolong oleh manusia super kuat yang mampu terbang dan sangat kuat.
Ye jun mengendari mobilnya dengan sangat pelan, sambil memikirkan Hana.
"Apa lagi yang harus aku katakan pada anak itu," ucapnya pelan. "Sepertinya tekanan yang dia rasakan sudah sangat mengganggunya,aku hanya ingin melihat Hana yang dulu. Yang sangat cerita dan menyenangkan." lanjutnya lagi. Memang semenjak kehilangan kekasihnya Hana seperti bukan dirinya lagi.
Sementara itu Hana, tidak terima dengan apa yang Ye Jun katakan padanya. Karena dia sangat yakin dia melihat lelaki itu dengan mata kepalanya sendiri, merasakan sentuhan tangannya saat dia lelaki itu menolongnya. Bagaimana mungkin dia berhalusinasi.
"Ye Jun benar-benar tidak percaya padaku, apa dia sudah menganggap aku ini gila." geramnya. "Akan ku buktikan sendiri, aku akan tetap mencari tahu tentang lelaki itu." lanjut Hana.
Sepanjang malam Hana tidak tenang, dia selalu terbayang tentang wajah pucat lelaki itu. Di satu sisi dia juga selalu mengulang-ulang semua ucapan Ye Jun padanya, "Lupakan kisah mu dengan tunanganmu." ucap Hana lirih mengupang perkataan Ye Jun.
"Bagaimana bisa? Di setiap hari selalu saja fikiran tertuju padanya." Hana merasa putus asa. Dia sangat tidak percaya suatu hal buruk yang tidak dia bayangkan sebelumnya menghantui hidupnya saat ini. Bahkan kehilangan kekasih yang sangat dia cinta tidak dia bayangkan sebelumny, tapi nyatanya itu semua terjadi. Mau tidak mau Hana harus meresapi setiap detik kenangan yang menyakitkan itu. Banyak omongam dari orang sekitarnya yang selalu mengarah padanya, menyalahkan dan menganggapnya pembawa s**l. Itu yang semakin membuat Hana tertekan dan merasa mengakhiri hidupnya adalah jalan yang terbaik untuknya.
"Aku ingin tenang juga Ye Jun, aku ingin kembali ke kehidupanku yang dulu. Yang bahagia tenang dan sangat di cintai." Hana menangis seakan memberi tahukan deritanya pada Ye jun, teman satu-satunta yang kini juga menganggap dirinya aneh karena selalu menyebut lelaki kuat penyelamatnya saat dia ingin bunuh diri.
Hana bertekad untuk akan selalu mencari tau tentang lelaki kuat yang menyelamatkan itu. Tidak perduli Ye Jun percaya atau tidak padanya, yang jelas dia sudah sangat penasaran dan ingin sekali membuktikan jika dia tidak berhalusinasi atau bahkan tidak gila. Dia masih sangat-sangat waras, bisa membedakan mana hayalan dan mana nyata.