Apakah kalian percaya pada sesuatu yang super? Yang benar-benar berbeda dengan manusia sewajarnya. Kekuatannya mungkin lebih kali lipat cepat di banding kecepatan singa saat memangsa, kekampuannya melacak seseorang yang butuh pertolongan itu sangat cepat, secapat kilat. Mungkin semacam robot? Yang telah di program penuh untuk membantu mengurangi tingkat kematian bunuh diri di negara.
Namun, para anak didiknya yang menyebut mereka sebagai geng Siput itu menggelengkan kepala setelah di tanya oleh Hana. Suatu kode bahwa mereka tidak paham apa yang sedang ibu guru kesayangan mereka itu bicarakan. Mereka hanya memperhatika wajah kusut dan pucat Hana secara mendalam, seperti tak menyangka saja, guru yang awalnya anggun bagai seorang putri dalam dongeng-dongeng Cinderella itu berubah menjadi seonggak daging yang hidup. Tak terasa pula aura kehidupan dalam dirinya. Sangat kusut.
Wanginya pun tak sesengat kemarin, apabila Hana jauh disana, bau parfumnya itu menebar kemana-mana. Kali ini tidak, ia seperti tak terurus saja, membuat mereka tambah iba.
Memang begitukah cinta? Memang begitukah wanita yang sedang patah hati? Tanya salah satu dari mereka dalam hati. Setahunya cinta hanya permainan kalimat sederhana saja tanpa mempertebal rasa apalagi sampai mengganggu jiwa. Mereka kira, cinta tak sedalam penghayatannya, kita hanya menjalani dengan pasangan sewajarnya tanpa bertindak hal bodoh setelah berpisah. Namun melihat wanita di depan mereka yang seakan kehilangan kesadarannya itu, membuat mereka bertanya-tanya tentang seberapa besar cinta guru mereka itu pada mantan tunangannya yang telah tewas beberapa bulan lalu. Namun, meraka takut menyinggung hatinya.
Ibu Hana kan memang sering cerita pada mereka tentang apa saja dari yang terkecil sampai terbesar sebelum semua ini terjadi padanya, tetapi ia tak pernah bercerita hal lebih mengenai tunangannya itu, paling tidak jika di tanya cinta, ia menjawab cinta, tidak ada juga ekspresi lebih terpancar di wajahnya, menandakan bahwa cintanya pada tunangannya itu sederhana saja, seperti api menghanguskan kayu. Berarti selamana ini ibu Hana bercerita wajar-wajar saja sama mereka, sekadar apa yang anak didiknya butuhkan saja.
Lama berdiam, Hana akhirnya mengangkat kepalanya dan mulai berkata lagi, "Apa kalian tahu apa yang harus aku lakukan?" Dan meraka menjawab dengan menggelengkan kepala lagi.
Dari mereka ada yang meneteskan mereka, ia tak kuasa melihat Ibu Hana seperti ini. Ia berkata, "Bagaimana kalau ibu Hana pergi ke psikiater, mudah-mudahan ibu Hana menemukan jawaban dari mereka."
"Jawaban apa?" Tanya guru kimia itu, tiba-tiba ia berdiri di samping mereka.
"Memang benar, seharusnya orang yang mengalami gangguan jiwa itu pergi ke psikiater, konsultasilah kepadanya!" Ucap guru kimia itu dengan pelan.
"Iya...terimakasih," ucap Hana sederhana.
Sekolah tak ada tempat bagi guru yang mengalami gangguan jiwa, bisa merusak citra sekolah. Apalagi ia dengar beberapa hari belakangan ini Hana sering bolong mengajar meskipun ia dalam lingkup sekolah. Saat ditanya, alasannya hanya satu yaitu sakit padahal ia terlihat sehat-sehat saja. Berarti, yang Hana maksudkan sakit itu adalah sakit jiwanya.
Hari itu, setelah mendapat tamparan keras dari guru kimia tadi rasanya ia memang harus pergi ke psikiater untuk mengetahui kondisi jiwanya. Jangan-jangan ia memang di hantui arwah mantan tunangannya itu, menjaganya dari balik alam yang berbeda.
Atau bahkan jasad mantan tunangannya itu benar-benar telah di curi untuk di jadikan robot. Ya, itu lebih mendekat ke arah sesuai fakta yang berkembang di negara mereka. Bahwa akhir-akhir ini sering tertulis, terdengar kabar dari banyak media mengenai jasad yang hilang dan bahkan ada yang mengaku hidup kembali. Apa benar mantan tunangannya juga menjadi korban itu? Lalu siapa dengan pria berwajah pucat yang terakhir menangkap Hana dari kematian itu? Apakah ia mayat yang di jadikan robot juga?
Jika masalah gangguan jiwa, itu adalah isu bodoh mengenainya. Hana sama sekali tidak mengalami gangguan jiwa, ia hanya ingin mengetahui kebenaran fakta dari semua cerita ini.
Tapi, isu Hana dengan gangguan jiwanya sudah sangat tersebar kesetiap sudut sekolah tempat dia mengajar. Bukan tanpa perantara, tapi itu semua adalah ulah guru kimia yanh sangat memusuhinya itu.
Bagi guru kimia, Hana adalah penghalangnya untuk mendekati Ye Jun. Dia sangat terobsesi denga Ye Jun apapun yang berkaitan dengan Ye Jun harus dia ketahui dan jika ada penghalang sedikit pun ingin sekali dia dengan segera menghilangkan penghalang itu tanpa terkecuali Hana.
Padahal, Ye Jun bagi Hana tidak lebih dari seorang sahabat. Bahkan Ye Jun sudah sangat dia anggap sebagai kakaknya karena mereka sangat berteman dengan baik. Tidak melibatkan perasaan sedikit pun. Isu demi isu tentang Hana semakin terdengar, dari dia gila bahkan isu tentang dialah pembunuh kekasihnya sendiri pun sudah sangat merusak fikiran Hana. Itu yang membuatnya terlihat tak semenarik dulu. Sakit yang dia katakan pada rekan gurunya bukan sakit yang di derita oleh badannya, tapi sakit fikiran yang dia alami karena isu-isu tentangnya.
Semakin dia mendengar isu-isu tentangnya demakin terlihat kacau juga hidupnya. Seakan di dunia ini sudah tidak ada lagi yang percaya padanya, bahkan dia merasa dia adalah orang paling banyak pembencinya.
"Sudah Bu Hana, omongan ibu itu tidak usah di dengarkan. Ke psikiater bukan berarti itu gila." jawab salah satu anak didik Hana.
"Kamu sih punya ide begini." bisik salah satu temannya.
Mereka mencoba menenangkan Bu Hana yang sudah mulai kalut kelihatannya, semakin tertekan karena omongan pedas guru kimia yang selalu memberinya omongan tajam yang menyakitkan.
"Kalau tidak gila lalu apa?" sangah guru kimia yang selalu mengaku dirinya cantik itu.
"Tutup mulut mu!" jawab salah satu anak didik Hana yang tomboy karena sudah muak dengan kelakuan guru kimia itu di hadapannya.
"Guru dan anak didik sama saja. Sama-sama gila, ya sudah aku harus mengurus kelas dan mengajar dulu karena aku masih waras." sindirnya kepada Hana sebelum dia meninggalkan Hana dan anak didiknya yang sudah terlanjur marah padanya.
Guru kimia yang merasa dirinya cantik dan sexy itu pergi tanpa menghiraukan perasaan Hana, baginya jika Hana semakin tertekan itu semakin bagus. Tidak akan ada yang menyukai orang gila, termasuk Ye Jun dan dia bisa dengan leluasa mencuri kesempatan untuk dekat dan memilimi Ye Jun selamanya. Tujuan utamanya hanya Ye Jun dan memiliki Ye Jun tidak peduli siapa yang harus dia lenyapkan.
Sementara Hana semakin kalut, dia tidak bisa mengontrol air matanya yang jatuh. Rasa penyesalan, rasa kehilangan, dan rasa bersalah menjadi satu dalam fikirannya. Dia tidak bisa melupakan tunangannya, tapi dia juga tidak bisa mengembalikan tunangannya dengan air matanya.