Seminggu selepasnya musim gugur, pagi itu sejuk namun tak terlalu Hana sapa, untuk bangun dari tempat tidurnya saja ia enggan. Rasanya wanita terkenal pendiam itu hanya ingin rebahan, menimbun dirinya dalam-dalam, dalam kesepian dan rasa gundahnya. Tubuhnya begitu layu untuk ia gerakkan kesana-kemari. Bahkan untuk memetik sehelai tisu di atas meja dekat kasurnya saja ia tak mampu apalagi untuk pergi ke sekolah mengajar murid-muridnya.
Memang pikirannya berontak, sebagai guru dari sekolah menengah ternama itu seharusnya ia mengemban tugasnya, mendidik murid-muridnya hingga mereka pandai tidak kalut seperti dia.
Bagaimana ia bisa bercerita tentang kekuatan pada anak didiknya, sementara ia sendiri tak memiliki kekuatan tersebut. Ya, Hana memang telah merasa tiada di dunia dalam pembaringannya. Tak perlu orang-orang yang tak paham mengenai ia alami di luar sana menemuinya atau bahkan mempertanyakan dirinya apalagi meresahkan keadaannya. Hana tahu, bahwa semua itu mereka hanya pura-pura saja perhatian saja, begitulah dunia. Tidak ada yang cinta dan menyayanginya sekarang, semua pada sibuk pada kesenangan mereka masing-masing.
Akan tetapi, suara panggilan masuk dari kepala sekolah yang memintanya untuk masuk sekolah hari ini memaksanya harus memenuhi panggilan darurat itu. Hana telah merasa ada yang mengganjel saat ia menutup telephonenya, jarang-jarang kepala sekolah menghubunginya secara langsung, kebanyakannya selama ini melalui Ye Jun. Pasti ada hal besar yang Kepala Sekolah ingin sampaikan, bisa jadi ia akan di pecat seperti rumor yang beredar selama ini tentang kemalasannya mengajar dalam kelas.
Terakhir ini ia menjadi perbincangan para guru di sekolahnya, Ye Jun dengar dan berkata padanya bahwa para guru meminta kepada kepala sekolah untuk mengekuarkan Hana sebab bisa merusak citra sekolah jika pihak luar mengetahui bahwa sekolah megah tersebut memiliki tenaga ajar seburuk Hana.
Apa yang harus sekaranv di pertahankan dari Hana? Tak ada lagi yang mengharapkannya menjadi guru di sekolah menengah itu, terkecuali mungkin para anak didiknya yang terkenal dengan nama geng Siput itu dan satu lagi yaitu Ye Jun.
Apalagi saat melihat tingkah dan penampilannya, sama sekali tak menandakan ia seorang guru. Dengan tentu para guru mengajukan desakan pada Kepala Sekolah dalam rapat hari-hari mereka yang tak di hadiri Hana belakangan ini untuk menghentikan status Hana sebagai guru. Apalagi guru kimia yang latar belakangnya memang membenci Hana gara-gara ia cemburu Hana dekat dengan mantan pacarnya Ye Jun itu. Ia selalu emosional memberikan pengaruh-pengaruh kuat agar Hana secepatnya di keluarkan dari sekolah. Hana hanya sebagai hama pengganggu, perusak pemandangan di sekolah ini. Seenaknya pula ia datang-pergi, masuk-keluar dari sekolah ini. Kadang-kadang ia tinggalkan para muridnya begitu saja saat jam kelas masuk, dan berdasarkan aduhan para siswa, Hana kerap kali bingung dan bengong saat ia memberikan materi pelajaran. Duh...penampilannya, acak, kusut, tak enak di pandang. Sebagai murid, mereka mengeluh agar Hana segera di gantikan dengan guru yang lain. Yang lebih kompeten dan tak sebobbrok guru Hana.
Namun bagi Hana, biarlah ia di pecat hari ini juga dari sekolah yang awalnya ia impikan itu, ia tak lagi peduli dengan karir yang telah lama ia ingin dapatkan. Ia hanya peduli dengan sinyal-sinyal kematian, mengarungi lembah curang atau indah lalu berhasil menempuhnya dan bertemu dengan tunangannya di alam sana. Lagi pula kehidupan itu bagai segumpal debu yang bertiup mengikuti arah angin. Tak ada yang spesial, tak ada yang perlu di istimewakan dalam hidup itu. Setalah hidup itulah yang abadi.
Aduh...rasanya ia ingin memesan seseorang untuk mewakilinya menemui Kepala Sekolah berkepala jontos itu, ia tak kuat bangkit dari rebahan yang terlalu nyaman baginya untuk di tinggalkan. Ia paksa tubuh kurusnya yang tak terurus bangun, mendatangkan sakit yang menusuk kepalanya. Aliran darahnya seperti tak terasa, daging dan tulang tubuhnya sama-sama telah melunak hingga ia merasa tak mampu menopang dirinya sendiri.
Ia berdiri, dan berusaha melangkah ke arah kamar mandi, membasuh wajah sudah cukup untuk menghadiri panggilan Kepala Sekolah yang terhasut itu. Ia pun sadar saat bercermin melihat wajahnya yang telah kehilangan daya tariknya dan sangat buruk untuk di lihat. Apapun kata mereka terhadapnya, ia lagi tak memperdulikannya.
Matahari pagi itu bagai cermin yang memantulkan cahaya ke arah matanya, teriknya yang hangat tak mampu membuat ia terbangun dalam kelesuannya. Hana benar-benar bagai seorang vampir yang enggan menyejukkan diri di matahari pagi, ia sama sekali tak ingin bersahabat dengan itu. Namun terpaksa ia harus berjalan kaki ke sekolah karena mobil yang biasa ia tumpangi kehabisan bahan bakar.
Tiba-tiba di antara pejalan kaki yang ingin menyeberang ke tepi jalan seberang, ia terkejut dengan kehadiran pria berwajah pucat tangguh yang menyelematkannya dari maut itu. Pria itu berada tepat dua baris di hadapannya saat mengantri menyeberang jalan.
Tak salah lagi, bahwa pria itu memang dia. Hana mengenalnya dekat, sedakat ia mengenal dirinya sendiri. Dari hidung dan rahangnya yang kuat, meskipun sekarang ia berkecamata tak menuntut Hana tak akan mengenalinya. Dari rambut dan postur tubuhnya juga sama. Pria ini sudah pasti ia, sama-sama pucatnya. Hana lalu membuntutinya.
Setelah di seberang jalan, pria itu melangkah ke arah kanan jalan, langkahnya begitu cepat seperti tergesa-gesa. Ia hanya fokus melihat ke arah delan tanpa menoleh ke arah kiri-kanannya.
Dari belakang Hana membuntutinya bagai seorang wanita mengear cintanya, tak di sangka aura kehidupannya seakan muncul kembali, keringatnya kembali menetes, dan nafasnya agak tersengal mengikuti pria dengan langkah cepat di depannya itu.
Masa bodoh dengan Kepala Sekolah berkepala plontos itu, entah ia mengeluarkannya atau hanya sebatas memperingatinya, ia tambah tak peduli saat mengetahui pria misterius yang menyelamatkannya nyawanya itu muncul di hadapannya secara tiba-tiba. Tak menandakan pula ia seorang robat atau malaikat seperti dugaannya kemarin, ia lebih tepat seperti manusia biasa, tak ada yang berbeda darinya.
Lalu pria yang tak di ketahui identitasnya itu seketika berhenti, dan memutar pandangan ke arah Hana, sontak Hana memutar tubuhnya juga. Suara sepatu pria itu mengarah padanya, Hana menunduk dan memejamkan mata seolah-olah ia bersembunyi di balik pejaman matanya itu.
Lalu apa yang terjadi? Pria itu berhenti tepat di hadapan seorang wanita hamil yang sedang berjalan susah, yang tak sengaja ia lewati. Ia terlihat berbincang sedikit dan wanita hamil itu pun ia bantu.
Apakah itu istri pria berwajah pucat itu? Mungkin saja ia, mungkin juga tidak. Tetapi Hana lebih percaya batinnya, bahwa wanita hamil itu istrinya. Ia seakan merasakan kepedihan wanita hamil itu juga dari itu Hana simpulkan wanita hamil itu adalah istrinya.
Hana tetap saja membuntutinya dari belakang, di depan kiri, mereka masuk ke sebuah hotel bintang lima, memasuki tangga lift dan Hana pula mengikuti sambil menutupi wajahnya. Tangga lift kotak itu berhenti di lantai tiga belas, pria berwajah pucat dan wanita hamil itu berjalan ke arah kiri menuju kamar nomor 601 dan seterusnya. Tiba di depan pintu kamar 606, pria itu membuka pintu kamar, lalu keduanya masuk. Sementara Hana memantau mereka dari kejauhan. Berarti sekarang dugaannya berbeda, bahwa pria berwajah pucat itu ialah seorang manusia biasa, ia memiliki seorang istri hamil. Alamat tempat tinggalnya dan sedikit mengenainya sudah Hana ketahui, jadi tinggal tunggu waktu yang tepat saja untuk berbincang dengannya. Hari ini Hana sedikit lega. Penasarannya yang hampir meledakkan kepalanya telah ia temukan jawabannya. Syukurlah...malam ini ia bisa tidur dengan tenang.
Tetapi, saat Hana ingin memasuki tangga lift meninggalkan ruang kosong yang sepi itu, terlihat pria berwajah pucat itu keluar dari kamar, lalu berjalan menuju arah kanan.
Hana langsung bergegas mengukutinya, ia berlari kecil dan sedemikian pula ia memperkecil suara ketukan sepatunya agar tidak terdengar pria berwajah pucat yang melangkah dengan cepat itu. Hingga beberapa jarak langkah Hana dengan pria berwajah pucat itu, seketika pria berwajah itu kembali memunculkan kemisteriusannya saat Hana terpelesat jatuh. Ia tiba-tiba hilang tanpa ada suara pintu terbuka dari pandangannya.
Tak bisa di percaya, tiba-tiba saja pria berwajah pucat itu berdiri tegak di belakang Hana, menatap Hana dengan mata sinis tajamnya, seolah-olah ia ingin merobek, mencincang Hana bagai daging yang akan ia makan. Padahal tidak ada apapun yang menghubungkan ruang satu dengan ruang lainnya, semuanya memiliki pembatas dinding tebal masing-masing. Seharusnya Hana melihatnya saat ia berjalan ke belakang Hana meskipun itu geraknya sangat cepat. Tidak salah lagi, bahwa pria inilah yang menolong Hana selamat dari mautnya.
Kini bukan hanya pria di belakangnya itu yang berwajah pucat, Hana pun sama pucatnya dengan pria itu, di tambah rasa takut hingga ia berkeringat, dan Hana enggan untuk menoleh ke arahnya, ia khawatir melihat matanya bagai cahaya mata singa yang ingin memburunya pada kedalaman malam hari.
"Apa alasanmu mengikutiku dari tadi?" Sentak pria berwajah pucat yang telah melototinya. Hana masih terdiam, tubuhnya gemetar.
"Jawab...!" Sentak pria berwajab pucaf kembali.
"Aku hanya ingin berterima kasih...." jawab Hana dengan cepat. Lalu pria berwajah pucat memutarbalikkan tubuh dan Hana menunduk takut padanya. Rambutnya yang acak menutupi wajahnya.
"Aku tidak pernah membantu wanita sepertimu...." kata pria berwajah pucat, lalu melanjutkan, "Pergilah...sebelum benar-benar aku berbuat hal buruk padamu!"
Sambil berjalan mengikuti perintah pengusiran dari pria itu, Hana pun mengangkat wajahnya perlahan hingga pria berwajah pucat melihatnya. "Kamu..." ucapnya. Seakan ia baru sadar telah menyelematkan Hana dari mautnya.
"Hei...terimakasih," kata Hana singkat.
"Pergi...pergi cepat," teriak pria berwajah pucat menyentak Hana. Hingga-hingga penghuni kamar di hotel keluar.