Kejadian demi kejadian aneh menambah kebingungan Hana kembali, setelah ia berhasil melacak dan bahkan bertemu langsung dengan pria berwajah pucat yang menyelematkannya itu di sebuah hotel bintang lima di lantai tiga belas, seketika pria berwajah pucat terdengar baru saja chek-out dari hotel sehari lalu. Menurut bagian resepcionis, pria bernama Ah-Wang yang menginap di kamar 608 berasal dari Korea Utara. Ia chek-in di hotel tersebut sekitar enam bulan yang lalu. Selama ini, ia terkenal dengan pria tertutup dan pemarah, seolah-olah ia menanggung banyak masalah namun anehnya ia sering membantu, seperti ibu hamil yang ia tuntun kemarin. Ia memang seperti itu.
Pria itu tak pernah bercerita mengenai tujuan apa yang ia lakukan ke Korea Selatan, entah berbisnis, liburan, atau sebagai mata-mata negara mereka. Selama ini ia hanya terlihat keluar masuk hotel pada waktu pagi hingga pada malam hari tanpa wajah ceria sedikit pun.
Namun, setelah Hana tak pernah menemui pria berwajah pucat itu lagi, hal aneh pertama yang ia rasakan ialah ia merasa sedang di awasi dan di ikuti oleh seseorang dari jarak jauh. Yang lebih parah mengenai kejadian aneh selanjutnya ialah bukan hanya fisiknya yang di jaga namun berkaitan pula dengan hatinya, seolah-olah seseorang yang membuat hati Hana kecewa akan segera tertimpa masalah, seperti Kepala Sekolah yang menghubungi Hana secera tiba-tiba di tengah malam hari, ia memberitahukan Hana dengan suara yang kacau bahwa Hana tak jadi ia pecat dari sekolah, dan berganti menjadi diskorsing selama satu minggu saja.
Apakah keanehan yang selama ini Hana rasakan ada sangkut pautnya dengan pria berwajah pucat itu? Bahkan, ia terheran oleh seorang bocah yang tiba-tiba menangis di depannya, mengatakan maaf padanya secara serius. Hana baru sadar, bahwa bocah itu siang hari lalu pernah berkata padanya ia seorang wanita bau. Meskipun itu sama sekali tak membuat Hana tersinggung dan sakit hati, namun sekarang yang ingin ia ketahui, teror semacam apa yang terjadi ketika ia di sakiti orang. Sementara Kepala Sekolah dan adik kecil enggan bercerita lebih lanjut mengenai kejadian apa yang mereka rasakan.
Dan hal aneh selanjutnya, dan bahkan Hana menganggap hal ini mengerikan tak sewajarnya hal ini terjadi, semua berawal saat ia bangun tidur dengan keadaan kamar yang tiba-tiba rapi dan bersih padahal selama sebulan ia membiarkan kamarnya kotor berantakan.
Jika memang bukan ruh tunangannya yang datang menjaganya, bisa jadi pria berwajah pucat yang tak diketahui pasti identitasnya itu!
Di terik matahari pagi hari minggu, aktivitas yang biasa Hana lakukan kembali ia lakukan setelah ada angin lembut berbisik di pikiran dan hatinya, ia seakan dipanggil untuk keluar dari apartemennya agar kembali melakukan aktivitas olahraga. Seperti biasanya, ia hanya mencuci muka, lalu berganti pakaian tidur ke pakaian olahraga.
Sampai di kerumunan orang-orang menikmati cuaca cerah pagi hari, ada satu kerumunan anak kecil yang berlomba-lomba ingin mendapatkan permen gratis dari seorang pria. Seketika Hana melamunkan sesuatu, sepertinya ia sering melihat seorang pria dengan tubuh yang persis dengan pria yang membagikan permen lolipop warna-warni ke anak kecil itu.
Hana perlahan menghampirinya, mendekatinya dari belakang, di antara kesibukan pria itu membagikan permen gratis, lalu ia di sapa seorang bocah di depan pria yang membelakanginya itu, "Apakah kakak ingin permen juga?"
Kemudian pria itu membalikkan badannya dan memberikan permen yang tersisa tinggal satu di tangannya itu pada Hana, ia tersenyum rendah dan sangat tampan. "Ambillah..." ucapnya pada Hana. Sementara Hana masih terdiam seakan tidak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang. Ternyata tak salah lagi, pria yang memberikan permen secara gratis itu sangat mirip dengan tunangan Hana. Dari lekuk wajah, senyum, mata dan bahkan gaya rambut juga postur tubuhnya. Sama sekali tak memiliki perbedaan.
Hana hanya terpukau hingga ia meneteskan air mata, ia yakin bahwa pria di depannya itu adalah tunangannya. Mungkin saja kematiannya di manipulasi atau entahlah...Hana telah yakin, dengan amat yakin bahwa itu memang tunangannya. Ia benar-benar rindu terhadapnya. Sambil meneteskan air mata, Hana berkata, "Bisakah aku memelukmu?" "Silahkan..." ucap pria itu sambil tersenyum, Hana pun langsung memeluknya erat.
Kehangatan pelukan ini telah lama Hana rindukan, telah lama ia tenggelam dalam rasa benci terhadap dirinya sendiri, dan menganggap semua makhluk hidup berperan untuk membencinya. Sekarang, ia dalam pelukan yang telah lama hilang, yang kerap sekali mengganggu pikirannya tentang cerita kemesraan antara dia dan tunangannya. Derita yang selama ini ia hadapi seakan telah melayang keluar dari tubuhnya setelah merasakan pelukan hal yang lama ia nanti.
"Kamu dari mana saja?" Ucap Hana masih dalam pelukan.
"Maksudnya!" Ucap pria itu terheran. Kemudian ia melepas pelukan mereka.
"Apakah aku mengenal Anda?" Lanjut pria kembali.
"Kamu benar-benar telah lupa setelah kejadian itu, aku adalah Hana, tunanganmu!"
"Kejadian apa? Maaf, aku belum bertunangan. Mungkin saja Anda salah orang." Lalu pria itu pergi begitu saja
meninggalkan Hana. Tetapi Hana tidak ingin melepaskan tunangan yang ia yakini lupa ingatan itu. Mungkin, waktu kecelakaan ada orang yang menyelematkan tunangannya itu, akan tetapi ia mengalami amnesia. Dari itu Hana mengejarnya, ia berjanji akan memulihkan ingatannya kembali.
"Tunggu...dengarkan aku sebentar!" Teriak Hana. Pria itu berhenti dan segera meminta Hana untuk bicara.
"Apakah aku bisa mengundangmu makan malam, malam ini? Please..." kata Hana sambil memohon. Sejenak pria itu berpikir, ia pun menyetujuinya dan langsung pergi setelah Hana memberitahukan alamat restoran dan jam ketemuannya.
Selama perjalanan pulang ke apartementnya, Hana bertanya-tanya mengenai pria yang ia yakini tunangannya itu, lalu siapa pria yang mirip tunagannya yang menyelematkannya pertama kali bunuh diri itu? Hana sama sekali tak melihat hal aneh pada pria itu, tak menandakan ia adalah hantu atau robot yang memiliki kekuatan super. Sebab dalam pelukan tadi Hana dengannya, ia merasakan berpelukan dengan seorang manusia, yang memiliki detak jantung dan aliran darah.
Baru ia rasakan bunga yang menekuk di dalam hatinya selama ini telah ia rasakan hidup kembali, dengan begitu, ketika pria itu memang benar-benar tunangannya yang telah kehilangan kesadarannya, itu artinya ia tak lagi menyesali kehidupannya seperti selama ini. Janji yang pernah mereka ikrarkan tak dapat lagi menghantuinya setelah pria itu memang benar-benar tunangannya. Hana telah memiliki rencana jauh di sepanjang perjalanannya pulang ke apartemennya, ketika tunangannya nanti ingatannya telah pulih kembali, ia meminta agar tunangannya segera menikahinya. Mempublikasikannya pada seluruh dunia, agar mereka tahu bahwa kini Hana telah menikah dengan seorang pria yang ia cinta dan mencintainya.