Moment Yang Berharga

1180 Kata
Telah Hana rindukan momen-momen seperti ini, memotong satu daging lembut sambil bercermin dikedua mata orang yang ia cinta, mengunyah daging itu pelan-pelan sambil menikmati senyumnya, setelah itu, ia akan mengatakan "aku sangat cinta kamu" di saat lantunan musik jazz bergeming dengan lembut di sebelah mereka. Ia teteskan air matanya ketika ia teringat semuanya. Setengah jam lagi, pria yang mulanya ia tolak mentah-mentah saat mengatakan cinta padanya zaman kuliah dulu, kini menjadi pria yang lupa segala tentangnya, bahkan mantan tunangan yang pernah mencium sambil menangis keningnya itu tak lagi ingat sedikit pun tentangnya. Bahkan warna merah jambu yang biasa ia sebut-sebut sebagai warna kesukaannya itu tak lagi ia ingat.  Hana menganggap bertanggung jawab atas amnesia yang di derita tunangannya, ia harus berusaha mengembalikan ingatannya bagaiamana pun caranya. Semenjak pria yang ia anggap tunangannya itu menyanggupi ajakan malamnya di suatu restoran favorit mereka, sejak itu pula ia memikirkan cara apa saja yang harus ia lakukan agar amnesia tunangannya itu kembali pulih seperti semula. Hana memang tahu makanan favorit serta obrolan khas yang bikin ngakak ala tunangannya itu, namun apakah ia akan berhasil mengembalikan ingatan tunangannya jika ia suguhkan hal itu padanya di makan malam nanti. Apakah tidak akan mengundang ketololan jika ia tiba-tiba berbuat aneh di depan tunagannya yang lupa ingatan? Apakah ia harus juga menjulingkan matanya, untuk meniru yang sering tunangannya lakukan ketika ia bercerita kisah lelucon itu? Benar-benar memalukan!  Tidak masalah jika tunangannya merespons balik dan baik, entah ia tertawa, senang atau setidaknya bertanya apa yang sedang baru saja Hana lakukan di depannya. Hana akan menjawab dengan jujur bahwa ia tunangannya, dan menceritakan semua cerita lama dan kecelakaannya padanya. Namun, jika tunangannya itu tidak merespons bagaimana? Wajahnya datar, murung, atau hatinya merasa di bodohi oleh wanita kalut seperti dia. Lalu dia mengatakan dasar wanita gila, atau perkataan s***s lainnya, bukan hanya malu yang Hana rasakan, bisa saja ia mensayat tangannya.  Tetapi kayaknya pria yang mirip tunangannya itu kini telah berubah, kini ia terlihat menjadi pria yang lebih sopan, penyantun, dan lemah lembut, bisa jadi jika Hana melakukan lelucon di depannya maka ia akan riang gembira seperti yang di inginkan Hana, alih-alih tunangannya itu mengingat cerita khas dan mengganti posisi Hana sebagai pembawa ceritanya. Itu lebih baik dan lagi seru. Namun, jika nanti ia merasa gugup melakukan ritual rutin sebagai pencair suasana yang biasa tunangannya itu lakukan, maka lebih baik diam sama, bercerita layaknya seorang remaja yang sedang melakukan awal pendekatan, saling melempar senyum, saling lirik-melirik, hingga akhirnya tunangannya itu akan mengatakan cinta padanya seperti dulu kala ia mengatakan serius mencintainya. Jika memang sulit mengembalikan ingatannya, maka Hana akan mencoba menghipnotis pria mirip tunangannya itu untuk mengatakan cinta padanya. Dan sangat pasti ia akan mengatakan cinta pula padanya. Setengah jam berakhir, sedikit telat dari waktu yang ia janjikan, Hana pun berangkat tergesa-gesa ke restoran. Rencana berbusana yang ia pikirkan lima jam sebelum berangkat ke restoran kini tak sesuai, berulangkali ia ganti busananya bagai seorang putri yang baru saja kehilangan selera berbusananya. Kurang lebih dua puluh menit perjalanan, Hana pun sampai di depan restoran favorit yang telah lama ia tak kunjungi. Alunan musik khas restoran ini kembali ia dengar dan seketika mengingatkan semua tentang ia dan tunangannya, cahaya ruang yang tak terlalu terang membuat kesan romantis setiap kali ia dan tunangannya berkunjung menyantap makan. Dimana tunangannya kini? Ya...Hana sedang melakukan pertemuan dengan pria yang mirip dengan tunangannya, yang ia yakini sendiri bahwa itu memang tunangannya. Di sebelah kanan meja ke empat belas, pria itu berlindung di balik seorang ayah dan putrinya yang sedang menikmati makan malam mereka. Pria mirip tunangannya itu terlihat keren dan sangat gagah, mengenakan kemeja putih serba rapi, rambutnya bersinar dan tertata rapi pula. Saat melihat Hana datang, ia sedikit senyum dan menyambut Hana. Mempersilahkan lebar kursi yang akan Hana tempati. Hana terlalu terpukau untuk duduk langsung sesuai intruksi pria mirip tunangannya itu, matanya seketika berkaca-kaca seperti ia tidak menyangka bahwa pria yang mirip tunangan di depannya itu menjelma menjadi pria santun. Ada apa dengannya? Membuat Hana tambah enggan meninggalkannya. Dan ingin mengatakan cinta padanya, berulang kali hingga ia bosan mendengarnya. Sebenarnya pula Hana tak terlalu percaya diri dengan busana dan make-up yang membalut di wajahnya, seperti ia kehilangan selera khas dandanannya setelah ia lama terkubur dalam kegelapan pikiran bodohnya. Ia baru saja mandi, berkeramas, menggunakan parfum baru dan ia semprotkan juga parfum lama di sekujur pakaiannya, hingga bau itu menjadi satu dalam tubuhnya. Ia terlalu kaku untuk menampilkan dirinya kembali. “Maaf telat,” ucap Hana setelah ia duduk di depan pria itu. Pria itu hanya menjawab dengan senyum. Lalu ia melihat mata Hana yang dari tadi melihatnya. “Bisakah aku mengatakan sesuatu pada Anda?” tanya pria itu. Hana menunduk sambil mengangukkan kepala bagai wanita remaja pemalu saat berdekatan dengan pria yang ia suka. “Maaf...aku melihat anting di telinga kanan dan kiri Anda tidak serasi, yang satunya kecil dan sebelahnya memanjang. Sebenarnya Anda akan terlihat lebih anggun jika menggunakan anting yang panjang seperti di telinga kiri Anda.” Astaga...Hana langsung memeriksa kebenaran yang dikatakan pria itu, ternyata memang benar, ia menggunakan anting berbeda sebelah. Amat memalukan untuk dinner awalnya kembali. Sambil melepas kedua anting yang terpasang di telinga itu, Hana berkata dengan pipi sedikit memerah, “Hehe...sebenarnya ini fashion terbaru, tetapi jika Anda tidak suka, aku bisa melepaskannya. “Oh...maaf, maaf. Aku kira Anda keliru mengenakannya.” Kemudian pria itu mengulurkan tangannya pada Hana, “Ahn Jang-Hwan,” ucapnya memperkenalkan diri. “Jang Hana,” ucap Hana sambil tersenyum kecil. “Senang berkenalan dengan Anda. Lalu apa yang Anda ingin bicarakan padaku?” tanya pria itu. Tiba-tiba saja lidah Hana kaku setelah ditanya hal itu, ia seperti telah amnesia pula pada semua rencana beberapa jam yang ia rencanakan, seperti lupa pula mengenai bahasa sehari-hari ia gunakan. Nafasnya sesak seketika, ia tahu ini bukan penyakit serius melainkan ia terlalu gugup mengungkapkan atau bertanya hal sepela pada pria yang duduk manis di depannya itu. Padahal ia memiliki rencana kedua jika rencana pertama terlalu sulit, akan tetapi, ia benar-benar bodoh untuk membuka sebuah obrolan. Sepuluh menit berlalu, ia hanya terlihat seperti melakukan drama yang membingungkan pria yang bernama Ahn Jang-Hwan itu, bahkan ia terlihat berkeringat padahal dalam ruang restoran tersebut sejuk. “Apakah ada yang salah, Hana?” tanya Jang-Hwan agak bingung. Lalu kemudian, Hana rasa tak kuat lagi menahan desakan hati dan pikirannya untuk segera pergi dari hadapan pria yang memiliki nama yang tidak sama dengan tunangannya itu. Sebab di lain sisi, seketika hatinya mengatakan bahwa pria itu bukan tunangannya melainkan pria yang sangat mirip dengan tunangannya. “Maafkan aku....” ucap Hana, lalu ia mengambil kartu alamat apartemennya, sambil memejamkan mata, ia berkata, “Bisakah Anda datang ke alamat ini kapan pun Anda suka. Ada beberapa hal yang ingin aku tunjukkan!” setelah itu ia pergi meninggalkan pria itu sendiri di depan meja dengan berbagai hidangan makanan yang berbeda dengan kesukaan tunangannya. Dalam hati Hana, jika nanti Jang-Hwan datang ke apartemennya, ia bisa menunjukkan langsung berupa bukti foto-foto sewaktu ia bertunangan dengannya. Dengan itu, ia tidak terlalu banyak bicara dan dianggap sebagai pelantur saja. Namun, apakah Jang-Hwan akan tetap datang setelah ia baru saja Hana membuatnya kecewa?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN