Jang Hana, kini dengan penyeselannya, yang menghardik dirinya sendiri didepan foto tunangan yang tersenyum. Semua rencana yang ia susun untuk memulihkan ingatan tunangannya gagal total. Sebab ia kurang meyakini apa yang sebelumnya ia percayai.
Ia mengaduh sambil menatap wajah foto itu tanpa canggung, lalu berkisah saat dia dan tunangannya ketika awal bertemu. Ia mengaku tidak mungkin salah, sebab asa sesuatu yang berbeda yang ia rasakan setelah duduk didepan pria yang mirip dengan tunangannya itu meskipun beberapa menit. Ia tidak merasakan sebuah aura yang biasa ia rasakan saat didekat tunangannya dulu. Biasanya nalurinya merasakan aura sebuah bijaksana saat ia dekat dengan tunangannya.
Lalu tiba-tiba saja ia merasa malu jika mengungkapkan atah mengaku pria itu sebagai tunangannya yang kecelakaan sekitar 6 bulan yang lalu. Maka itu agar terlihat menghormati pria itu, ia tinggalkan sebuah kartu alamat apartermennya. Jadi jika pria itu tidak datang memenuhi undangan keduanya,hal itu tidak jadi suatu masalah baginya akan tetapi,ia hanya langsung menjawab pertanyaan pria itu saat pertemuan malam kemarin dengan bukti foto tunangan yang sangat persis dengan dirinya jika nanti ia datang.
Disamping itu, ia saja masih mengaku sebagai wanita yang paling bodoh karna tidak bisa memanfaatkan peluang saat didepan pria itu, mengapa ia tidak mempertanyakan asal usulnya? Dan seputar kehidupannya agar dia bisa menyimpulkan pria itu memang tunangannya atau orang lain.
Esoknya, pada jam 6 pagi saat ia ingin pergi ke sekolah, nafasnya sedikit ia hembuskan saat merasa statusnya sebagai guru telah buruk dimata guru lain disekolahnya. Untung saja kepala sekolahnya hanya meminta istirahat terlebih dahulu padahal belakangan ini ia merasa dianggap sebagai hama disekolahannya ia tau, semua ini berkat pria yang ia kenal akrab, yang telah susah payah memohon kepada kepalah sekolah supaya tidak terjadi pemecatan pada Hana. Dan Ye Jun memang telah berjanji bertanggung jawab jika Hana datang kesekolah dengan keadaan jorok seperti belakangan ini.
Hana telah menghubungi Ye Jun semalam, bahwa mulai hari ini ia akan kembali mengajar seperti biasanya. Lalu tiba-tiba setelah ia menutup pintu apartermennya, Jang-Hwan, pria yang mirip tunangannya itu memanggil namanya dari belakang. Dia begitu rapi, sementara Hana masih bimbang antara mengusirnya atau melanjutkan rencananya saat melihat Jang-Hwan datang menemuinya.
"Kenapa Anda datang terlalu pagi?" Tanya Hana rada cemberut.
"Anda memintaku datang kapan saja," jawab Jang-Hwan.
Namun tetapi ia terlalu enggan membatalkan janji mengajarnya hari ini pada Ye Jun. Dan ia tidak mungkin pulang menyia-nyiakan kesempatan kedua ini.
"Anda begitu cantik," kata Jang-Hwan sambil tersenyum."Apakah aku bisa masuk?" Lanjut Jang-Hwan. Agak ragu Hana menjawab, "silahkan." Lalu Hana membuka lebar pintu apartermennya.
Jang-Hwan melangkah masuk, sesekali menoleh kekanan dan kekiri, ia seperti seorang meneliti yang memastikan beberapa benda yang ada didalam ruang tamu aparterment Hana. Dan Hana sendiri, membatalkan kepergiannya kesekolah, dia memberi tahu lewat pesan chat dihandphonenya.
Saat mereka saling berhadapan, Lalu Jang-Hwan menguji kebersihan dan kerapian apartementnnya, dan ia juga kagum melihat tata ruang dari berbagai penempatan barang-barang yang ada didalam ruang tamu aparterment Hana.
Hana pun juga agak bingung, semenjak ia stress minggu lalu dan sampai sekarang seingatnya ia tidak pernah membersihkan dan merapikan serta merubah tata ruang benda-benda yang ada didalam ruang tamu apartermentnya. Lukisan bunga mawar yang biasa ia tatap pun pindah kedinding sebelah timur membelakangi posisi duduknya.
Siapa sebenernya yang merubah semua ini? Jika memang Housekipping apartement yang membersihkan, itu artinya Hana akan berprotes sebab tidak pernah memberitahu Hana terlebih dahulu. Namun sudahlah, yang lebih penting dari itu pria yang mirip dengan tunangan didepannya sekarang.
"Terimakasih," jawab Hana dengan singkat.
"Lalu apa yang harus aku lakukan untuk Anda?" tanya Jang-Hwan seketika.
"Baiklah," kata Hana. Lalu ia menarik nafas panjang dan mengeluaran pelan. "Aku harap Anda tidak kaget!" lanutnya, yang membuat Jang-Hwan pun semakin penasaran.
Hana mulai bercerita dari awal perkenalannya dengan pria yang bernama Yu Jin, pria yang delapan bulan lalu melamarnya. Bahkan ia mengku bahwa apartement yang ia tempati sekarang milik mereka berdua setelah menikah nanti.
Tetapi hal lain berkata, tunangannya meninggal dalam kecelakaan mobil enam bulan lalu membuat semangat melanjutkan hidupnya menjadi patah. Sampai-sampai ia mencoba melanjutkan upaya bunuh diri sebanyak dua kali digedung lingkup sekolahnya. Namun ia berhasil diselamatkan oleh seseorang yang berkekuatan super dan hal itu membuat dia penasaran dan hampir gila karena tidak ada yang percaya mengenai ceritanya. Bahkan teman akrab dan orang tua dari tunangannya pun tidak percaya.
"Dan Anda tahu, ternyata wajah tunanganku dan manusia super yang menyelamatkan ku itu mirip dengan Anda. Bahkan ia sangat mirip dengan Anda! Dari wajah dan tubuhnya. Aku baru saja berpendapat mengenai Anda adalah tunanganku yang selamat dari kecelakaan maut tersebut. Dan aku berencana ingin memulihkan ingatan Anda, karena aku memang yakin Anda itu telah amnesia. Ini buktinya!" Kata Hana, sambil mengeluarkan foto tunangannya didalam tasnya.
"Sampai sekarang aku selalu bertanya-tanya, siapa Anda sebenarnya? Dari mana asal Anda? Aku butuh Anda dengan jujur mengungkapkannya!" Pinta Hana.
Lama berselang, Jang-Hwan pun menjawab, "Aku adalah seorang Imoogi!"
Hana yang mendengar pengakuan Jang-Hwan hanya terdiam, entah dia harus percaya atau dia harus segera menyadarkan lelaki itu. Apa maksudnya dengan Imoogi, apakah dia sedang berhalusinasi atau sedang membuat lelucon yang sama sekali tidak membuat Hana tertawa.
"Imoogi? Anda masih percaya dengan Imoogi?" tanya Hana bingung. Karena baginya, Imoogi hanya ada di cerita legenda yang sering diceritakan guru SD-nya dulu.
"Percaya atau tidak yang jelas aku adalah Imoogi." jawab Jang-Hwan lagi dengan nada santainya.
"Tidak usah mengelabui ku," jawab Hana frustasi.
"Aku tidak berbohong, aku sudah berkata jujur pada anda." jawab Jang-Hwan masih dengan wajahnya yang santai.
Lain dengan Hana, sudah kalut mendengar pengakuan dari lelaki di hadapannya itu. Bukan jawaban seperti ini yang dia inginkan, dia hanya ingin mencari tahu apakah dia kekasihnya yang hidup kembali, atau dihidupkan lagi. Tapi nyatanya, malah menambah rasa bingungnya dengan pengakuan yang sangat aneh itu.
"Aku tidak percaya, zaman sekarang mana ada Imoogi seperti yang kamu katakan itu." mata Hana tajam melihat Jang-Hwan.
"Aku memang bukan tunangan anda, bukan juga robot atau apalah itu yang diciptakan mirip dengan tunangan anda.
Aku memang benar-benar seorang Imoogi. Jika tidak percaya ya itu terserah padamu, tapi jika anda menginginkan pembuktian akan aku lakukan." jawab Jang-Hwan.
Mendengar itu Hana masih saja bingung, tidak percaya dengan apa yang Jang-Hwan ucapkan.