Ketika dua sepasang makhluk telah berbahasa saling mengungkapkan cinta, maka letak cinta itu berada di paling ujung, saling membahasakan diri berulangkali tanpa izin terhadap waktu lagi. Tanpa ada lagi penghalau antara meniru dan saling melihat.
Dua pasang yang bernama kekasih adalah bentuk dari salah satu misteri kehidupan, di targetkan hanya untuk melakukan pengungkapan sayang. Lewat kekasih kita bisa mengenal kekuatan Dewa, kekuatan ilahi, bahkan kekuatan diri kita sendiri. Lewat ia pula, kita bagai seperti mencelupkan jari kelingking dalam wadah tetesan air suci.
Mengenalkan kekasih kita lebih jauh ke dalam sukma yang tak pernah orang lain tahu, kepada jiwa yang tak orang lain dengar. Kita memperkenalkannya, lewat sandiri dan berbagai tindakan kita padanya.
Bernasib baik, jika suatu pasangan yang baru lahir di perkenalkan pada orang yang berhubungan darah dengannya, itu artinya di dalam pasangan tersebut terdapat kemahiran yang pas.
Setiba di apartement Hana, ia pun meninggalkan satu pesan aktif yang penuh misteri. Ia tinggalkan pesan itu, lewat gelombang suara kata-kata dan merambat ke telinga Jang-Whan dan ia simpan. Setahunya, Hana merupakan seorang wanita yang telah lama di tinggal kedua orang tuanya, bahkan ia sendiri yang menceritakan tersebut padanya. Lalu kenapa ia tiba-tiba meninggalkan pesan seperti itu, membuat suatu cerita yang ganjil.
Apakah selama ini ia bohong atau hanya berpura-pura di depan Jang-Hwan, hanya mengaku sebagai wanita yang pernah memiliki tunangan berwajah mirip dengan Jang-Hwan.
Bagaimana jika foto-foto terpajang di tembok apartementnya, adalah foto-foto rekayasa, yang memang ia telah susun. Untuk memanipulasi agar Jang-Hwan terjebal dalam perangkatnya. Setelah Jang-Hwan berhasil menjadi miliknya, maka ia akan mengungkapkan status aslinya.
Tetapi pula, jangan-jangan Hana itu anak seorang kaya raya, lalu cerita kematian kedua orang tua tersebut hanya untuk pura-pura saja. Mungkin ia anak broken home, lalu setelah memiliki pasangan, ia akan memperkenalkannya.
Membingungkan juga pesan singkat dari Hana. Siapa sebenarnya dia, selama ini dia hanya mengaku sebagai wanita yang di tinggal tunangannya. Meskipun Hana pernah membawanya ke makam tunangannya.
Bagaimana jika Hana adalah makhluk serupa dia, yang telah ditugaskan untuk mengawasi atau memata-matainya. Kemudian, ketika dia sudah terjebak ke dalam perangkat Hana, bisa saja timbil sesuatu menimpanya bahkan bangsanya.
"Astaga...aku memang benar-benar jadi manusia sempurna sekarang, aku telah akui itu. Sebelumnya aku tidak pernah berburuk sangka karena itu merupakan ajaran adat istiadat bangsa kami. Tetapi sekarang setelah aku menjadi manusia sempurna, seakan timbul rasa tuduhan buruk ku padanya. Apa memang seperti menjadi manusia." Ucap Jang-Hwan membatin di apartemet bekas Mama angkatnya.
Padahal Hana hanya menitipkan satu pesan singkat sederhana, yaitu, "Besok aku akan menjemputmu dan akan memperkenalkanmu dengan seseorang yang memiliki hubungan darah denganku."
"Aku memang terlalu bodoh menjadi manusia, aku saja yang tidak bisa berperasangka sehat, dan ternyata aku sendiri yang mengacaukan diriku sendiri," batin Jang-Hwan.
Sampai jam satu dini hari, ia masih tetap mencoba mengumpulkan energi untuk memikirkan kebenaran pesan singkat yang di tinggal Hana padanya. Dalam pesan singkat itu, Hana tidak menjawab setelah Jang-Whan bertanya apa yang ia maksud. Hana tidak memperjelas itu lagi, ia hanya memberikan senyuman dengan mata berbinar bagai wanita yang paling merdeka dan memenangkan piala kejuaraan.
"Pokoknya rahasia," kata Hana sebelum Jang-Hwan berpamitan pulang.
Selain memikirkan Hana, Jang-Whan terpikir pada pria yang sekilas seperti makhluk Gumiho, musuh bebuyutannya di restoran tadi, seoalah-olah pria itu mengintainya dengan Hana.
Apa mungkin Hana memiliki korelasi dengannya, ketika mereka berhasil menjebaknya dalam perangkat cinta, maka ia tidak lagi bisa mencari tugasnya, dan bangsa mereka akan di hancurkan oleh Dewa.
Ia harus berhati-hati, siapa tahu memang benar Hana hanya berpura-pura cintanya padanya. Menjebaknya dalam perangkap yang ia telah rencanakan dengan seorang Gumiho itu. Bisa saja seperti itu.
Mengagetkan sekali, dan ia menyesali, kenapa baru sekarang ia terpikirkan hal seperti itu, kenapa ia tidak bisa berkaca di saat dulu ia turun ke dunia manusia.
Manusia memang seperti itu, bisa bekerjasama dengan sesama mereka dan makhluk lain, asal mereka saling di untungkan.
Bisa saja apartement yang sekarang Hana tempatkan serta mobilnya adalah hadiah dari seorang Gumiho itu, sebab dengan kekuatannya ia bisa melakukan upaya saja. Itu memang adalah sifat alami mereka.
Namun sudahlah...bisa-bisa kepala akan pecah hanya gara-gara memikirkan hal yang belum terang seperti saat ini.
Semua akan jelas ketika telah mencapai di puncak cerita. Untuk saat ini, biarkan alur yang mengaturnya. Hana tetaplah Hana, sebagai wanita yang baru menjadi kekasihnya. Tanpa menelan fiktif bahwa ia tengah di jadikan alat oleh pria Gumiho itu untuk menjebaknya.
Di hari minggu jam delapan pagi, Hana pun berangkat menjemput Jang-Whan tanpa terlebih dahulu ia hubungi, sepasang dress anggun telah membaluti tubuhnya, dia ingin terlihat cantik dan anggun di depan kekasih barunya itu. Dia ingin memberikan yang terbaik untuk Jang-Hwa.
Hana menjemput Jang-Hwan di apartemennya, tanpa banyak bicara Hana hanya tersenyum cantik yang membuat jang-Hwan sedikit lupa akan ke khawatirannya terhadap Hana. Mereka di sepanjang perjalanan hanya diam, karena memang itu yang di minta oleh Hana. Tidak perlu banyak bertanya dan nikmati saja perjalanan ini. Bahkan mobil pun Hana sendiri yang menyetir, karena hanya dia yang tau kemana mereka akan pergi hari itu.
Jang-Hwan tidak melepas pandangannya dari Hana, sangat cantik dan juga misterius di waktu yang bersamaan. Membuat Hana terlihag cantik dan juga penuh rasa waspada untuk Jang-Hwan. Sedangkan Hana terlihat dari raut wajahnya sangat bahagia dan sangat menikmati perjalanan mereka. Sesekali Hana mencuri pandang ke arah Jang-Hwan yang masih diam.
Mungkin benar apa yang dikatakan Jang-Hwan, dia sudah menjadi seorang manusia sempurna, sebab khawatir dan prasangka buruk sudah menguasai isi fikirannya. Tidak mungkin jika seorang Imoogi memiliki fikiran semacam itu. Karena memang imoogi dan manusia adalah dua makhluk yang sangat berbeda, dan sangat berbanding terbalik isi fikiran dan hatinya.
Mobil yang mereka tumpangi masih belum sampai pada tempat tujuan yang Hana janjikan pada Jang-Hwan, daerah jalanan itu juga baru pertama kali di lalui oleh Jang-Hwan, jadi dia tidak bisa menebak kemana dan ketempat seperti apa mereka akan sampai nantinya. Sebab, kisi-kisi pun tidak di berikan oleh Hana. Perjalan mereka kali ini menjadi sangat rahasia dan mungkin akan menjadi sebuah kejutan untuk Jang-Hwan. Dia hanya bisa menunggu, dan pasrah kemana Hana akan membawanya, entah ke tempat yang dia akan suka atau bahkan sebaliknya. Wanita yang baru saja menjadi kekasihnya itu.