Mobil yang mereka tumpangi melewati gedung-gedung megah di tengah kota, sekilas cahaya lampu di tengah kota mampu mengundang perhatian, cukup terhitung beberapa mobil hulu hilir dari depan dan samping mereka.
Namun arah pulang ini, Hana hanya terdiam mensandarkan kepalanya di jendela mobil, hatinya tiba-tiba mengeras setelah pernyataan cintanya di biarkan hanyut dalam udara, layaknya hanya dia saja yang telah mengais cinta sementara Jang-Whan sendiri tak memiliki perasaan suka terhadapnya.
Apakah Jang-Whan tak memiliki perasaan cinta khusus untuk lawan jenisnya, ia hanya menikmati panorama sebagai makhluk yang mengedepankan sosial, berbagi rasa terhadap orang-orang yang membutuhkan bantuannya, hanya sebatas itu perasaanya?
Hana rasa ia memang telah salah, ia memang salah sendiri menilai, menilai dan menimbang rasa yang selama ini Jang-Whan berikan padanya, bunga mawar elok di jendela kamarnya itu berarti bukan tanda cinta, melainkan tanda persahabatan, hanya sebatas persahabatan.
Bahwa Jang-Whan memang makhluk yang tak sama dengannya, barangkali ia memang tak memiliki cinta, akan tetapi, kadang kala Jang-Whan memperlihatkan bahwa ia juga memiliki cinta, dari sudut mata dan tingkahnya.
Sudahlah...memang cinta kadang tak membuat bergetar hati yang kita cinta, sama seperti cintanya pada Jang-Whan, tak melulu ia dapat perhatian lebih seperti memberikan edukasi pada setiap anak didiknya.
Ingin rasanya dalam perjalanan pulang ini, ia meneteskan air mata, mengalirnya deras agar Jang-Whan menyaksikannya dan bertanya padanya apa yang sedang terjadi dengannya, tapi itu cukup membuat ia malu, nanti Jang-Whan malah berpikir ia adalah pengemis cinta.
Karena memang juga semenjak keluar dari restoran, Jang-Hwan terdiam seolah-olah sedang memikirkan sesuatu, tetapi jangan-jangan ia sungkan karena tidak bisa menjawab pernyataan cinta Hana, makanya ia diam.
Jika memang Jang-Whan sungkan terhadap pernyataan itu, akan lebih baik untuk selanjutnya ia tidak usah lagi bertemu dengannya. Meskipun sedikit pilu dan beberapa tetesan air mata mengalir dan tentunya ada penyesalan juga. Ia berjanji tidak akan menghubungi Jang-Hwan lagi.
Sesekali ketika Hana melihat bayangan wajahnya di jendela mobil, timbul pertanyaan lebih sulit di mengerti dari pertanyaan-pertanyaan sederhana lainnya. Seperti benarkah Jang-Hwan tidak mencintaiku? Seolah-olah ia tidak terima bahwa pria mirip almarhum tunangannya itu tidak suka padanya. Sekali lagi, bukankah ia telah berulang kali merayu, menenagkan, bahkan mengucapkan hal-hal yang membuat ia berperasaan. Bahkan ia berjanji tidak akan meninggalkannya, itu sudah cukup kuat menjadi bukti bahwa ia juga suka terhadapnya.
Ketika memang Jang-Whan hanya mampu membangkitkan perasaan gelapnya tanpa ada tanggung jawab lebih darinya, pria seperti itu pantasnya tidak ada disebelahnya. Ia benar-benar tidak suka terhadap pria seperti itu.
Kemudian, Jang-Whan membatuk, seolah-olah itu adalah tanda ia akan berbicara. Sementara Hana tidak memperdulikannya. Biarkan ia batuk sampai keluar darah sekalipun, tak mungkin akan ia perhatikan. Hatinya sudah terlalu kecewa bagai tenggelam dalam pasir hisap atau lumpur hisap yang tak mungkin kembali kecuali Jang-Whan merespons cintaya meskipun ia bilang, "Maaf aku tidak bisa menerima cintamu" itu lebih baik dari pada menggantungkan perasaannya.
Lalu Jang-Hwan menoleh ke arah Hana, tiba-tiba wajahnya menampilkan kekagetan, dan langsung bertanya pada Hana, apa yang sedang terjadi padanya.
Hana menjawab singkat, "Tidak apa-apa."
Mendengar jawaban dan nada terdengar kesal itu, membuat Jang-Whan tersadar, ternyata sewaktu di restoran tadi Hana sempat mengungkapkan cinta padanya, dengan gula-gula yang lebih manis sebagai perangkatnya, tetapi belum ia respons sampai dengan sekarang.
"Bodoh, bodoh, bodoh...." ucap Jang-Hwan dalam hatinya sambil memukul setir dengan pelan.
Kemudian ia menoleh pada Hana, menyentuh dan menggenggam tangan Hana. Seketika Hana pun menoleh padanya.
Jang-Whan pun tersenyum padanya. Lalu berkata dengan lembut, "Maafkan aku Han, aku telah lalai, aku ini makhluk ceroboh...."
"Apa yang kamu maksud?" Tanya Hana rendah.
"Tetapi aku juga sangat berterima kasih padamu!" Sambung Jang-Hwan.
"Maksudnya?" Tanya Hana memastikan.
"Apakah kamu benar-benar cinta terhadapku? Menyayangiku?" Tanya Jang-Hwan balik.
"Tidak." Jawab Hana singkat, kemudian air matanya berlinang. "Satu jam lalu dan hari sebelumnya aku memang cinta padamu, tetapi sekarang tidak!" Sambung Hana.
"Pasti ada yang salah," kata Jang-Hwan membatin. Untuk menyelesaikannya, ia pun menepikan mobilnya di trotoar jalan.
Lalu ia mengambil kedua tangan Hana, kemudian memandang dalam mata Hana yang kadang ragu juga melihatnya, "Lihat aku!" Pintanya. Hana pun melihat ke arah matanya, sebab mata Jang-Whan itu tak seperti mata pria lainnya, terlalu lembut jika tidak di pandang.
"Sekali lagi aku bertanya, apakah kamu memang cinta padaku, sampai sekarang?" Ucap Jang-Whan. Hana tak menjawab hanya menganggukkan kepala.
"Jika memang seperti itu, kamu berhasil membuatku jadi manusia sempurna, sebab itu merupakan satu rahasia makhluk sepertiku. Aku akan menjadi manusia sempurna ketika ada menyatakan cinta padaku. Dan kamu telah menyatakan cinta padaku," kata Jang-Hwan tersenyum-senyum.
"Lalu?" Tanya Hana tak merasa puas.
"Aku juga cinta kamu. Ya, aku juga telah lama mencintaimu, aku telah menunggu kamu mengatakan cinta padaku. Aku mencintai kamu Hana...." ucap Jang-Hwan.
"Benar?"
"Sumpah Han, aku juga mencintaimu!"
Mereka sama-sama tersenyum dan bahagia, Hana pun memeluk Jang-Whan, lebih erat dari logam dengan magnet. Lebih mesra dari tangkai dan bunga, lebih bahagia dari seekor ratu lebah. Hingga Hana meneteskan air mata merasakan kebenaran cinta yang tak bisa direplika. Ia telah melebur di dalam keseriusan cinta.
"Aku cinta kamu," ucap Hana mengulang..
Hana memeluk erat Jang-Hwan, rasanya luka yang selama ini dia rasakan seketika hilang, dekap hangat peluk Jang-Hwan membuat hangat bukan hanya di tubuhnya tapi juga di dalam hatinya yang selama ini beku. Air mata Hana tidak henti-hentinya mengalir, tapi senyumnya juga tidak pudar dari wajahnya yang manis. Seakan emosi mempermainkannya, harus menis dan bahagia dia waktu yang sama.
Jang-Hwan juga memiliki perasaan yang sama pada Hana, sejak pertama kali mereka bertemu sampai dia mengaku dirinya bukanlah seorang manusia. Tapi hanya seorang Imoogi yang kebetulan mencintai Hana. Dengan segala kekurangan dan kelebihannya Hana tetap mencintainya, bukan karena wajahnya yang mirip dengan tunangan Hana yanh sudah meninggalkannya, tapi karena sikap lembutnya kepada Hana, sifat hangatnya pada semua orang yang membuat Hana jatuh hati pada Jang-Hwan.
Jika teringat beberapa bulan yang lalu, rasanya Hana tidak memiliki semangat hidup. Rasanya mengakhiri hidup lebih baik baginya, tapi sekarang. Setelah kedatangan Jang-Hwan di hidupnya membuatnya berubah. Berbanding terbalik dari sebelumnya. Cinta sudah tumbuh di hati Hana, membuatnya ingin hidup lebih lama lagi di dunia ini. Mencintai Jang-Hwan dan tidak ingin ditinggalkan untuk kesekian kaliannya oleh orang yang dia cinta. Hana ingin memulai hidupnya yang baru sekarang ini.