Sebenarnya seberapa serius pria mirip almarhum tunangan Hana itu terhadap janjinya, bukan pertama kali ia berjanji pada Hana tetapi sudah berulang kali, bukan hanya sebatas janji akan bertemu bahkan ia janji tidak akan meninggalkan atau mengecewakan Hana.
Di dalam pikiran wanita seperti Hana, janji semacam itu adalah doktrin kental yang selalu melekat, bahkan ucapan sekecil apapun yang pernah siapa pun katakan padanya maka akan menjadi sel baru dalam pikirannya.
Apalagi sebuah perkataan seorang pria yang ia suka, meskipun pria itu hanya sebatas mengatakan sesuatu bercanda baginya itu perkataan serupa sabda, yang harus di jaga dan menjadi acuan sampai kapan pun.
Perkataan itu merupakan alat baginya, apabila ada satu janji atau perkataan yang tak sengaja ia pernah ucapkan maka ia otomatis akan mengingatkan meskipun perkataan itu sudah berumur senja bahkan sangat basi untuk di ungkapkan.
Kekuatan daya ingatnya semacam partikel yang selalu bergerak bebas di luar angkasa, ia tidak boleh di tipu oleh satu perkataan jika kamu pernah mengatakannya, dan bahkan dialah yang paling ingat ketimbang orang yang pernah mengucapkannya.
Selanjutnya, ketika malam telah mengganti siang, matahari telah tertutupi kegelapan, jika satu menit saja Jang-Whan telat dari waktu yang telah di sepakati, maka akan timbul dalam hatinya bahwa orang tersebut cereboh. Ada kartu kuning yang telah ia tempelkan pada orang tersebut.
Lima menit jam sepuluh malam, jika dalam waktu singkat itu Jang-Whan tidak menghubunginya maka akan secara langsung muncul dalam nalurinya bahwa telah terjadi apa-apa dengannya.
Bisa saja Jang-Whan membatalkannya, bisa juga ia telat. Tetapi jika Jang-Whan sama sekali tidak menghubungi malam ini, maka pada malam itu juga ia akan selalu resah sampai pada waktu ia telah mendapatkan kabar darinya.
Selang dua menit ia mempertanyakan hal itu, masuk panggilan dari Jang-Whan dan ia mengabarkan telah sampai di parkiran mobil. Hana pun segera menuju ke ruang parkiran dengan cepat.
Jam sembilan lebih dua detik, Hana pun melihat kelembutan sapaan senyum Jang-Whan ke arah matanya membuat ia merindukan almarhum tunangannya. Ia telah larut dalam pesona aura dalam diri Jang-Whan, bukan perkara ia mirip dengan almarhum tunangannya, tetapi Jang-Whan memang memiliki daya tarik berbeda dari puluhan pria yang telah ia kenal sebelumnya.
Pintu sebelah kanan mobil sudah di buka oleh Jang-Hwan untuk Hana, melihat itu Hana tersipu malu karena rasanya sudah lama dia tidak merasakan dibuka kan pintu mobil oleh seseorang lelaki untuknya.
"Terimakasih," ucap Hana pelan dengan senyumnya yang malu-malu.
Jang-Hwan hanya mengangguk kecil tanpa menjawab ucapan Hana tadi. Dia pun masuk ke dalam mobil segera, tanpa ada ucapan kecil pun darinya.
Sepanjang perjalanan masih saja hening, Jang-Hwan yang gugup karena mendapat undangan makan malam dari Hana, dan juga Hana yang masih mengatur detak jantungnya yang semakin kencang saat duduk di sebelah Jang-Hwan di dalam mobil.
"Maaf, aku datang terlambat menjemput mu." tiba-tiba Jang-Hwan memecah kesunyian di antara mereka.
"Oh, Em... Iya tidak apa-apa asal kamu tidak membatalkan saja." jawab Hana tergugup karena merasa Jang-Hwan sangat tiba-tiba membuka obrolan.
"Jadi, kemana kita ini?" kata Jang-Hwan bertanya, karena sebelumnya dia belum tahu dimana tempat yang akan di janjikan Hana padanya.
"Lurus saja, nanti di perempatan depan kita belok kiri. Di depan sana ada restoran favorite ku. Kamu pasti akan suka makananya." jawab Hana sedikit antusias memberi arahan pada Jang-Hwan. Mendengar itu Jang-Hwan tersenyum kecil melihat tingkah Hana yang tadi kaku kini sudah sangat menyenangkan baginya.
"Baiklah," jawab Jang-Hwan singkat.
Tidak berselang lama, mereka sampai pada restorant yang di maksud oleh Hana, mereka masuk dan memilih meja yanh sekiranya sangat strategis untuk mereka berbicara, tidak terlalu ramai tapi juga masih bisa menikmati live musik yang ada disana. Malam itu mereka beruntung sekali karena ada persembahan yang sangat indah, penyanyi yang mempunyai suara merdu itu menambah kesan istimewa di acara makan malam itu.
"Ada yang bisa saya bantu?" sapa ramah pelayan restoran itu menyambut mereka.
"Bisa saya lihat menunya?" jawab Jang-Hwan tak kalah ramah, yang menambah aura positifnya dimata Hana.
"Kamu harus mencoba spagetti disini, sangat enak. Tidak kalah dengan yang spagetti asli dari Itali." Hana nyeletuk menunjukkan menu yanh paling dia suka di restoran ini. Menu itu sering dia makan saat berkunjung dengan tunangannya dulu, dan itu menu kesukaan mereka.
"Baiklah, saya pesan ini." Jang-Hwan memesan tanpa ragu apa yang di rekomendasikan oleh Hana untuknya.
Setelah pelayan itu meninggalkan mereka, kesunyian kembali lagi datang di tengah-tengah mereka. Hana yang gugup, seperti kehilangan kata-kata dan tidak tau ingin memulai katanya dari mana. Padahal hatinya audah sangat berdebar dan ingin mengungkapkan apa yang dia rasakan selama ini pada Jang-Hwan.
"Eemm... Jang-Hwan aku mau membicarakan sesuatu." ucap Hana gugup membuka obrolan serius malam itu.
Sementara itu, mata Jang-Hwan sedang tidak fokus pada Hana. Dia melihat keselilingnya, karena dia merasa aneh diruangan itu. Imoogi sejenisnya memang sangat peka terhadap sesuatu meskipun itu jauh dari tempatnya berdiam sekarang.
Dan benar saja apa yang dia rasakan, dari kejahuan di seperti melihat Jee musuhnya yang seorang Gumiho. Dia buru-buru berdiri dan menarik tangan Hana pergindRi restoran itu. Melihat itu Hana bingung dengan apa yang dilakukan Jang-Hwan.
"Jang-Hwan apa yang terjadi? Lepaskan tanganku. Itu menyakiti ku." teriak Hana tertahan karena genggaman Jang-Hwan sangat erat di lengannya.
"Oh, maaf. Maafkan aku Hana. Sepertinya kita pindah tempat saja. Aku ingin melihat udara segar saja." jawab Jang-Hwan membuat alasan agar Hana tidak kecewa padanya.
"Tapi, kita sudah memesan makanan. Sepertinya sebantar lagi akan selesai." Hana mencoba menahan agar Jang-Hwan tetap di tempat itu.
"Tidak perlu menunggu, aku sepertinya belum lapar." Jang-Hwan meninggalkan beberapa lembar uang di meja untuk menggantikan makanan yang dia pesan dan ungkapan permintaan maafnya karena meninggalkan tempat itu sebelum makanan pesanan mereka di hidangkan. "Ayo!" lanjutnya lagi menarik tangan Hana, meskipun kali ini tidak terlalu kasar tapi tetap membuat Hana bingung dengan perubahan Jang-Hwan secepat ini.
"B-Baik lah." jawab Hana bingung dan mengambil tasnya dan mereka keluar dari restoran itu.
Hana belum banyak tanya tentang perubahan Jang-Hwan, dia hanya mengikuti langkah Jang-Hwan yang semakin cepat. Sampai-sampai dia harus berlari kecil untuk mengimbangi langkah kaki panjang Jang-Hwan untuk sampai ke mobil mereka. Begitu pun Jang-Hwan, dia belum memberitahu apa yang terjadi, dia terus menerus mencari alasan jika Hana bertanya soal ini padanya. Karena tidak mungkin dia berterus terang apa yang terjadi padanya di dalam cafe itu.