Sepasang burung terlihat mesra di balik jendela kamar di atas gedung tinggi, setangkai bunga mawar pemberian Jang-Whan ia sirami setiap pagi, tak terlalu basah, hanya cukup untuk membasahi tanah, batang, daun dan bunganya juga.
Mentari pagi terlalu mega untuk di tinggalkan begitu saja, biarkan kita mekar bagai sebuah saat bermandi cahayanya.
Kemeja putih sepaha, serta sandal ringan berbulu cukup membuatnya nyaman menikmati paginya di seputaran apartementnya. Sekarang hari sabtu, bukan waktu untuk bermalas-malasan atau larut dalam kenikmatan panorama yang ada di depan mata, meski rasanya lelah, dan mencoba mendendam dalam hatinya esok jika hari libur minggu tiba, mending rebahan saja atau menghibur diri dengan musik-musik klasik eropa. Menaburkan sedikit latte art dalam permukaan secangkir Capuccino terasa sangat berharga mengawali paginya. Kemudian memasak meskipun ia tidak tahu tentang masakan, paling tidak ia bisa merubah sayur mentah menjadi siap makan.
Kemarin mungkin hari sialnya, bayangkan saja mulai dari pagi sampai larut malam ia mendapatkan masalah. Seperti kejadian-kejadian kemarin itu saling berhubungan satu sama lain, suatu paham ganjil yang menimbulkan tanda tanya.
Jika masalah perkalian atau pengakaran, ia bisa tuntaskan tanpa melihat rumus, tetapi kemarin itu benar-benar menegangkan, sampai-sampai masih terbayang bahwa pria berwajah pucat itu datang dan tergeletak lagi di depan pintu apartementnya. Kemudian lebih tega lagi terhadapnya.
Muka kusut karena lelahnya tiba-tiba meledak menjadi bahagia setelah panggilan masuk dari Jang-Whan terlihat, tetapi Jang-Whan itu makhluk jelmaan, dan konon kata Jee ia memiliki sifat tercela, mungkin bagai dirinya, bahkan melebihi Jee.
Masa bodoh...semua kan sudah terlihat jelas, siapa yang berdusta, siapa yang benar. Dan Jang-Whan sendiri selama ini tidak terbukti makhluk yang aneh seperti kelakuan pria berwajah pucat itu.
Tak peduli ia ahli sihir atau ahli nujum sekalian, baginya pria yang mirip tunangannya itu memang telah berhasil membuat hatinya kepincut, terbuka kembali tabir lubang gelap yang lama tertutup dalam dirinya.
Mungkin selain Jang-Whan memang sosok yang ganteng, baik dan santun, ia juga sosok yang romantis, meskipun sejauh ini ia hanya memberikan satu tangkai bunga mawar dengan tiga duri di batangnya, sudah cukup untuk dikatakan pria romantis.
Almarhum tunangannya pun tidak pernah memberikannya bunga atau yang berkaitan dengan tumbuhan atau alam, tunangannya sangat materialis, hanya memandang satu objek pada wanita bahwa satu-satunya yang membuat wanita bahagia adalah memberikannya harta benda, cincin berkilau putih, mobil yang mewah, di tambah apartement, wanita tak akan menghindar dari kutukan itu.
Hana pun mengangkat panggilan masuk dari Jang-Whan seolah-olah ia tidak mengalami suatu masalah, lagi pula setelah ia memeriksa lemarinya, tak satu apa pun yang kurang, masih utuh dan lengkap, hanya saja ia lelah merapikannya. Dan takutnya juga Jang-Whan dan Jee itu memang dari bangsa yang sama meskipun mereka makhluk yang berbeda.
Kemudian, Jang-Whan berkata pagi ini tidak bisa mengatantarnya ke sekolah seperti biasa, karena hari ini ada satu tugas yang harus ia selesaikan. Tetapi tak cukup lama, paling selesai jam dua belas siang.
"Iya, tidak apa-apa. Aku bisa berangkat sendiri kok!" Jawab Hana.
"Tetapi kalau kamu tidak keberatan, malam minggu nanti, aku akan mengajakmu makan malam ke restoran waktu itu!" Kata Jang-Hwan.
"Bagaimana ya...baiklah. Tetapi...." ucap Hana merasa bingung.
"Tetapi apa?" Tanya Jang-Whan.
"Jangan sampai telat," ucap Hana sambil tersenyum.
"Baik...." sahut Jang-Whan dengan cepat.
Jam setengah tujuh, Hana pun berangkat ke sekolah tanpa satu hambatan seperti hari kemarin, perasaannya juga sangat berbeda dengan yang kemarin. Hari ini dia merasa sangat bahagia dan bebannya sudah terkuras. Entah karena ajakan makan malam dari Jang-Hwan atau karena oertemuan singkat pagi ini. Rasanya Hana sudah lama tidak merasakan bahagia sebahagia ini.
Perjalanannya menuju sekolah dia lalui dengan sangat santai, tidak terburu-buru atau bahkan rasa takut. Dia parkir mobilnya di parkiran sekolah dan dia menuju ruang kerjanya sebelum dia masuk ke dalam kelas dan mengajar sesuai jadwalnya hari ini.
Hana mengajar dengan penuh semangat, memberikan semangat positif juga pada orang sekitarnya. Senyumnya memenuhi wajahnya yang manis menambah semangat para anak didiknya berlama-lama diajar oleh guru seperti Hana.
Hana menyelesaikan jam pelajarannya dengan sangat sempurna, dia merasa senang karena semua anak didiknya juga merasa nyaman diajar olehnya. Baginya mengajar bukan hanya pekerjaan, tapi sudah mediasi untuk mengurangi rasa cemasnya juga.
Krriiingg... Krriiinggg... Kriingg...
Bel istirahat sudah memenuhi halaman sekolah dengan perkasanya, membuat para siswa bersiap-siap untuk beristirahat, mengisi perut mereka yang kosong dengan makanan di kantin sekolah yang tidak pernah gagal rasanya.
"Baik anak-anak untuk hari ini kita akhiri saja, tapi jika di antara kalian ada yang mau ditanyakan atau belum faham dengan apa yang saya jelaskan, silahkan datang keruangan saya. Saya akan sangat senang menerima kalian." ucap Hana sebelum dia meninggalkan kelas yang dia ajar tadi.
"Baik Bu, terimakasih." jawab mereka dengan serentak, seperti sedang ikut acara paduan saja.
Hana keluar dari ruang kelas, menuju ruang kerjanya. Senyumnya masih saja mengembang di wajahnya, membuat siapa saja yang melihat ikut tersenyum karena aura Hana sangat berbeda jika dia sedang bahagia seperti ini. Seperti dia menjadi anak sekolahan saja yang sedang jatuh cinta.
"Hai," sapa Ye Jun pada Hana saat mereka berpapasan di lorong kelas.
"Hai, kamu baru selesai kelas?" sapa Hana balik pada Ye Jun.
"Yah, sepertinya ada yang membuat mu senang hari ini." tebak Ye Jun saat dia melihat Hana yang tidak henti tersenyum.
"Eemm... Tidak juga." jawab Hana singkat tapi tidak menghilangkan senyum di wajahnya, "Ayo ke kantin, biar ku teraktir makan sup ikan kesukaan mu!" ajak Hana menarik tangan Ye Jun ke arah kantin.
Melihat tingkah Hana, Ye Jun sangat aneh. Baginya Hana cepat sekali berubah, bukan kah kemarin dia sangat galau tapi sekarang sangat bahagia bagai anak kecil yang baru mendapat hadiah balon dari kakaknya.
"Apa ada yang mau kamu ceritakan pada teman mu ini?" tanya Ye Jun dengan wajah bingungnya. Mendengar itu Hana hanya menggelengkan kepalanya dengan cepat.
Hana bukan sekedar teman bagi Ye Jun, tapi juga adik. Dia sangat menyayangi Hana, apa pun tentang Hana dia ingin tahu, dia juga ikut bahagia melihat Hana bahagia. Saat dia melihat Hana pertama kali mendengar kabar tunangannya sudah tiada dia juga ikut terpukul melihat kondisi Hana yang sudah tidak ada semangat untuk hidup. Baginya Hana sudah sangat sakit saat itu, ditambah lagi tudingan Hana sebagai seorang guru yang gila karena kekasihnya meninggal juga membuat Hana tambah semakin kacau. Tapi sekarang, Hana sudah bangkit menjadi gadis yang ceria.