Tidak salah lagi, semua ke khawatiran dan dugaanya tentang Jee itu benar. Ia dalah penipu sekaligus penjahat yang berkesempatan mencuri di tempat orang jika telah memiliki kesempatan.
Tidak salah lagi seperti dugaan yang telah berkicau dalam pikiraanya selama ini tentangnya. Hana telah tertipu padahal sudah jelas bisa dilihat dari penampilannya. Ia layaknya pria di tepi-tepi g**g-g**g sempit dan gelap yang menunggu mangsanya untuk mereka culik dan rampok.
Apa jangan-jangan di suka membunuh, berbuat dan bertindak jahat lainnya terhadap korbannya, apalagi seperti gadis cantik kayak dirinya, mungkin akan ia mencelakainya.
Sialan...dengan perasaan salah dan benci, marahnya pun meninggi, ia ambil palu bisbol dekat pintu kamarnya, ia pegang hati-hati dengan kedua tangannya. Dengan perasaan sangat emosi, ia pun memukulnya pada bagian punggung dan mengenai kepala Jee dengan keras.
Tetapi, Jee hanya seperti pria yang kaget, lalu menoleh pada Hana, seperti ia tidak menemukan kesalahan pada dirinya, ia pun melanjutkan membongkar lemari Hana satu persatu.
Hana sendiri pun kaget seusai memukul keras pada bagian punggungnya dengan keras, ia kira Jee akan tumbang lalu tewas, namun reaksinya hanya sebatas kaget.
Sekali tak membuat Jee tumbang, akhirnya ia angkat kembali palu bisbol itu lalu ia arahkan ke kepala Jee sambil meneteskan air mata, ia tidak perduli lagi apa yang akan terjadi pada Jee selanjutnya.
Baginya selagi bisa mempertahankan kepemilikan dan pribadinya maka ia akan lawan meskipun agak takut dan gemetaran.
Lagi-lagi pukulan palu bisbol itu seperti sebuah ketukan jari pelan pada kepala Jee, dan ia sama sekali tak bereaksi. Kemudian Hana lempar palu bisbol, ia rasa telah menyerah menggunakan benda itu karena tidak dapat melukai tubuhnya.
Hana sempat terpikirkan untuk mengambil sebuah pisau dapur untuk ia tancapkan pada kulit pria yang telah lancang membongkar lemarinya ini. Tetapi ia takut, dan bahkan ia anggap itu juga keterlaluan.
Bagaimana jika ia mati beneran? Hana akan mendapat masalah dan berurusan dengan hukum, di samping ia masuk penjara maka reputasinya pun akan menjadi gelap.
Dari itu, ia pilih saja menarik tangan Jee untuk menghentikan keterlaluannya, meski tenaganya tak seberapa, mudah-mudahan Jee bisa iba dengan tangis yang ia munculkan.
"Hentikan, hentikan...!" Serunya pada Jee, bagai sebuah banteng ganas yang tuli.
Setelah semua lemari dan bahkan meja belajar Hana pun Jee bongkar, ia pun mereda setelah mencapai k*****s maksimalnya. Mungkin ia telah lelah tak bisa menemukan apa-apa di lemari Hana, hanya pakaian seperti gaun-gaun indah dan baju yang biasa ia pakai untuk kerja dan baju santai, selebihnya tidak ada apa-apa.
Perhiasaan atau dokumen berharga itu sama sekali tidak ada, seperti yang kemarin Hana bilang dalam hatinya bahwa Jee salah tempat jika ia mencari atau ingin merampok barang berharga di kamarnya.
Dengan muka datar Jee menatap Hana yang dari tadi menangis dan memintanya berhenti. Seolah-olah ia baru saja tak berbuat apa-apa, seperti ia tak memiliki perasaan bersalah.
Namun dengan Hana, ia mencoba menghindar setelah tatapan datar Jee tertuju padanya, seakan ia mengartikan tatapan tersebut adalah tatapan ancaman yang mencoba akan berbuat hal tak terduga padanya, seperti kekerasaan atau tindakan di laur batas pikirnya.
Jika seperti itu, Hana pun bergegas menuju ruang tamu mengambil tas kerjanya yang ia geletakkan disana, siapa tahu jika ia memberikannya uang di dalam tabungan Bank, maka ia akan puas lalu pergi.
Tidak di duga pula, Jee mengikutinya dari belakang menuju ruang tamunya. Rasa cemas terpatri di hati Hana menimbulkan geteran kuat, tangannya gemetar disertai jantungnya yang deg-degan.
Ia harus segera memberikan kartu ATM-nya pada Jee dan memberikan kode rahasia sandinya. Mudah-mudahan tabungan ratusan juta di dalam tiga kartu itu dapat membenamkan kejahatannya.
Hana hanya berharap-harap ia tidak disakiti secara fisik maupun psikisnya, akan butuh waktu bertempo-tempo mengembalikan traumanya.
Tepat di belakangnya, saat ke tiga kartu berisi ratusan juta itu telah berada di genggamannya, ia pun membalikkan badan, menundukkan kepala, dan menjulurkan ketiga kartu itu padanya sambil berkata, "Ini ada tabunganku ratusan juta, sandinya 002213, tolong terima dan jangan sakiti aku!"
Tetapi Jee tidak merespon hal itu, ia seperti pria yang sedang mabuk hingga seperti tidak mengenal siapa-siapa. Ia hanya menatap ke arah pintu keluar tanpa sedikitpun memperhatikan ucapan Hana.
Suara satu persatu ketukan sepatu kulitnya seperti seorang mafia yang berjalan pelan sedang mengampuni lawannya. Dan lawannya itu sendiri adalah Hana.
Hana hanya melirik langkah sepatunya yang semakin menjauh melewati dirinya. Di dalam hatinya terkandung kata-kata doa agar Jee keluar dari apartementnya.
"Jangan menoleh, jangan menoleh...." ucapnya dalam hati.
Tiba-tiba suara ketukan langkah kaki Jee terhenti membuat Hana terpaksa memejamkan matanya, kemudian ia serongkan badannya dan tepat mengarah pada Jee, ia berkata, "Jangan sakiti aku...ambillah ini!" Sambil menunjukkan ketiga kartu di tangannya itu padanya.
Tetapi yang terdengar suara pintu apartementnya terbuka dan Jee pun hilang di hadapannya. Hana pun mengangkat kepalanya pelan-pelan, memastikan Jee benar-benar telah pudar di pandangannya.
Setelah ia memastikan dan benar-benar telah tiada, Hana segera berlari ke arah pintu dan langsung memutar kunci pintu apartementnya sebanyak tiga kali, ia berharap pintu kayu berwarna putih yang ia kunci rapat-rapat ini tidak bisa di lewati oleh Jee, meskipun ia seorang makhluk yang sangat kuat.
"Syukurlah...." kata Hana setelah menghembuskan napas. Ia sangat lega tidak di jadikan korban oleh monster berwujud manusia itu.
Rasa takut dan cemas masih meliputi puncak indranya, kemudian ia ambil handphonenya dan akan ia beritahu Jang-Whan apa yang sedang baru ia alami, tetapi tiba-tiba timbul hal yang ia sendiri tak menduganya, seolah-olah sebagai makhluk mitologi yang menjelma menjadi manusia, Jang-Whan dan Jee itu sama saja, hanya saja ia berpura-pura.
Untuk menenangkan kecemasannya, ia harus bercerita pada seseorang, tetapi siapa?
Ye Jun, guru yang tadi sempat bertingkah aneh padanya, karena memang dialah tempatnya mencurahkan segala gundahnya.
Jam sebelas lewat, Ye Jun pun mengangkat panggilan dari Hana, pertama Hana meminta maaf padanya atas perlakuannya tadi kepadanya, dan Ye Jun pun membalas memaafkannya.
Namun ketika Hana bercerita tragedi yang baru saja terjadi dengannya sambil menangis pada Ye Jun, Ye Jun hanya menjawab dengan tenang, tanpa menampakkan satu ke khawatiran atau rasa peduli terhadapnya, ia hanya menjawab, "Mungkin kamu terlalu lelah; dari itu istirahatlah...!" Ye Jun tidak percaya ketika Hana mengatakan penjahat tersebut tidak bisa ia lukai meskipun ia pukulkan palu bisbol berulangkali padanya tanpa ia katakan bahwa penjahat itu seorang Gumiho atau makhluk mitologi yang menjelma menjadi manusia.
Mendengar respons tak menyenangkan dari Ye Jun itu membuat Hana tambah kesal padanya, kemudian mematikan panggilan berlangsung itu tanpa sebuah kata penutup.
"Kalian itu sama saja...." ucap Hana setelah menutup panggilan tersebut.
Hana pun menuju kamarnya dengan beberapa perasaan campur aduk yang ia rasakan, dari takut, cemas dan kecewa.