Sore tadi, di dalam gedung ruang kerjanya, Hana tiba-tiba mendapat panggilan singkat dari Jang-Whan bahwa pria yang ia suka itu memintanya datang ke resto ran waktu itu mereka bertemu. Kata pria itu, ada hal penting yang ingin Jang-Whan sampaikan.
Tetapi di samping ia sangat senang mendengar suara lembut Jang-Whan, dan ia pula masih bingung antara menemuinya atau tidak, sebab ada pria berwajah pucat tergeletak tak sadarkan diri di apartementnya seorang diri.
Tentu hal ini menjadi pilihan yang paling serius yang harus ia putuskan dengan cepat, meskipun burai pengetahuannya tak seperti rembulan yang akan muncul tiba-tiba di malam hari, akan tetapi ia sangat yakin bahwa kali ini Jang-Whan akan mengatakan cinta padanya. Atau jika memang tidak seperti itu, berarti Jang-Whan memiliki upaya yang sama dengannya bahwa selama dua puluh empat jam berlalu ia telah merasakan rindu. Dan Rindunya itu melebihi rindu musim kemarau pada penghujan.
Ia katakan dengan sekelumat mungkin agar ia tidak terjebak di dalam kenangan yang baru saja ia lahirkan, tidak di dalam bendung pusara cinta yang hampir purnama munculkan pada kemarin malam, ia akan mengatakan cinta pada Jang-Whan terlebih dahulu pada malam itu.
Tetapi sorotan mata Jang-Whan itu sangat berbeda dengan almarhum tunangannya, sorot matanya itu kadang bisa di baca, kadang juga sulit dibaca, untuk mengartikan bahwa ia cinta padanya itu kadang terlihat dan juga tidak. Ia berubah-ubah bagai cuaca.
Mungkin memang seperti itu makhluk kuno yang mencoba bertransisi pada makhluk yang di namakan manusia. Ia masih terlalu kaku untuk mengekspresikan hatinya lewat mata atau wajahnya. Atau itulah kelebihan mereka yang tidak di miliki oleh manusia.
Seorang politikus pun atau ahli kejiwaan selagi dia manusia pasti bisa di baca, meskipun itu hanya sedikit. Ia seperti makhluk yang paling bijak yang pernah ada di dunia manusia.
Sementara untuk pria berwajah pucat yang selalu mengganggu ketenangannya itu, tak perlu di jelaskan panjang lebar, melihatnya saja ia ingin menutup mata. Melihatnya sama seperti menyiakan-nyiakan waktu.
Lebih baik dan memang lebih pantas di sebut pria nakal, secara kesuluhan yang terdapat di dalam dirinya. Tidak ada sama sekali yang pantas di puji dalam dirinya.
Tetapi kali ini apakah ia harus berkorban; mengorbankan sesuatu yang kini telah jelas terlihat di depan mata. Sekali lagi ia teringat, Jang-Whan akan mengatakan cinta padanya, tak lebih seperti bulan yang muncul di ufuk timur yang menggoda mata.
Baiklah, baiklah...napasnya ia hembuskan, jari-jari tangan kiri ia ketukan pelan di atas meja kerjanya, ia menatap tajam dan dalam kedepan, ke satu arah kertas-kertas yang menumpuk di atas mejanya.
Ya...memang ini tugas yang sulit, lebih sulit dari semua materi yang pernah ia ajarkan pada murid-muridnya. Tak mungkin ia menggagalkan ajakan Jang-Whan, takutnya pria yang kini ia rindukan itu menghilang lagi begitu saja, tanpa meninggalkan tanda. Apalagi ini tentang cinta, cinta sepersekian kali ia rasakan namun tidak seperti ini, kali ini mengandung sebuah ideologi baru yang harus ia pahami.
Sudah cukup satu kali saja ia gagal melangsungkan cintanya pada hubungan yang paling sakral, untuk kali kesempatan ini biarkan ia berhasil memeluknya, mendapat keberhasilan itu dengannya. Lagi pula, Jang-Whan memiliki kondisi rupa dan struktur tubuh yang sama dengan almarhum tunangannya.
Tidak mungkin hanya gara-gara pria yang ia tidak tahu latar belakangnya itu berada sendiri di apartementnya ia menggagalkan ajakan Jang-Whan, memang siapa dia? Dia hanya pria yang tidak tahu malu, mentang-mentang ia pernah menyelematkannya bulan lalu.
Tetapi di relung hatinya yang paling dalam, terbesit kata kasihan pada Jee. Bukannya sesama makhluk harus saling membantu seperti yang biasa Jang-Whan katakan padanya. Sekali bisa mengapa tidak!
Lagi pula pria itu tidak pernah menuntut agar ia membayar jasa sewaktu ia menolongnya, dan siapa tahu juga ia pria yang bernasib sama dengan anak-anak panti yang ia sebut itu sihir Jang-Whan. Keterlaluan!
Eh...bukannya ia seorang Gumiho, itu artinya ia memiliki kekuatan yang sama dengan Jang-Whan dan pasti ia pun memiliki alasan mengapa ia sampai berada di dunia manusia.
Oh...apa jangan-jangan misi Jang-Whan dan Jee itu memiliki keterkaitan dan mereka saling kenal seperti yang diucapkan Jee semalam atau apa mereka berdua sedang mencari sesuatu padanya. Tetapi apa? Ia sama sekali tak merasa memiliki apa-apa. Bahkan untuk bermimpi saja ia takut apalagi menyimpan, mendapatkan, membeli yang berkaitan dengan mereka.
Tidak, itu pasti tidak. Tetapi untuk mengetahui semua itu, ia harus mencari tahu tanpa sedikitpun menimbulkan kecurigaan pada kedua pria itu.
Jika di lihat-lihat, Jee merupakan sosok yang lebih terbuka dari pada Jang-Whan, ia lebih seperti kumbang melihat putik bunga, selalu saja menampilkan ke dewasaan pribadinya.
Setelah memantapkan hatinya, Hana pun segera menghubungi Jang-Whan, bahwa untuk pertemuan kali ini ia tidak bisa datang karena ada beberapa soal sekolah yang malam ini harus ia selesaikan.
Selesai berbincang singkat dengan Jang-Whan, ia pun merapikan meja kerjanya dan menutup tas kulit hitamnya.
Akan tetapi Ye Jun datang mengetuk dan menyapanya di balik pintu ruang kerjanya, ia mengatakan ada beberapa hal penting yang harus ia jelaskan. Hana pun membuka tanpa sehelai senyum seperti biasa jika ia bertemu dengannya.
"Ada apa?" Tanya Hana, ia telah siap untuk pulang.
"Apa bisa kita bicarakan di dalam?" Pinta Ye Jun. Ia sedikit tersenyum dan terkesima pada Hana, sebab pada jam malam lelah seperti ini, Hana masih saja terlihat rapi dan wangi.
"Maaf...aku harus segera pulang," jawab Hana bermuka datar.
"Bagaimana jika aku teraktir makan malam, saat ini!" Pinta Ye Jun berseri.
"Maaf...aku tidak bisa," ucap Hana dengan singkat.
Kemudian Ye Jun mencoba meraih kedua tangan Hana, tetapi Hana menghindarinya. Lalu ia segera pergi dari hadapan Ye Jun tanpa mengucapkan sepatah kata. Ia pun menjadi kesal padanya.
Dalam perjalanan pulang di mobilnya, Hana menyalahkan waktu yang baru saja ia putuskan begitu saja, ia mengingat segala kejadian hari ini dan saling mengait-ngaitkannya. Dari Ye Jun yang baru saja bertindak aneh yang membuatnya seketika kesal terhadapnya. Seakan ia tahu bahwa baru saja ia membatalkan janji ketemuannya dengan Jang-Whan.
Dan Jang-Whan sendiri seperti mengetahui bahwa di apartementnya ada Jee yang mencoba ia ingin rawat sampai Jee sadarkan diri. Dan Jee sendiri seolah-olah mengetahui bahwa Jang-Whan dan Ye Jun akan mengatakan sesuatu penting padanya dari itu ia datang dengan kondisi tak sadarkan diri di apartementnya, agar ia membatalkan semua janjinya.
Entahlah...memang semua kejadian hari ini seperti saling berkaitan, tetapi mungkin saja semua itu hanya kebetulan. Dan anehnya, "Mengapa Jee, pria yang baru saja aku kenal begitu aku percayai dan mudah aku tinggalkan sendirian di kamar? Bagaimana di seorang penjahat datang hanya berpura-pura saja." Kata Hana.
"Ah...." teriak Hana kesal terhadap semua pilihannya. Ia memukul-mukul setir mobilnya.
Sampainya di depan pintu apartementnya, ia pun memutar kunci pintu dan segera masuk setelah pintu terbuka. Ia melihat tak sedikitpun berubah di ruang tamu, masih terlihat seperti awal, rapi dan bersih.
Namun saat ia memasuki kamarnya, ia sangat kaget, ketika pria berwajah pucat yang dari tadi mengganggu pikirannya itu ternyata seorang penjahat yang kini di depan matanya nampak pria itu membuka lemari pakaiannya, seperti mencari sesuatu.