Yang menjadi tanda-tanda datangnya pagi ialah hanya dua, pertama biasanya Hana terbangun oleh suara alarm yang ia setel untuk berbunyi pada jam enam. Kedua, suara dering panggilan masuk dari Jang-Whan yang memang sengaja membangunkannya.
Biasanya dering panggilan masuk dari Jang-Whan yang berbunyi pertama sebelum dering alarm yang telah ia setel itu berdering, namun pagi kali ini ia dibangunkan oleh dering alarm.
Saat matanya terbuka, Hana kemudian membuka hanphonenya dan berharap ada satu panggilan tak terjawab dari Jang-Whan tertera di layar handphonenya. Ia juga berharap, Jang-Whan meninggalkan satu pesan saja, meskipun itu hanya pesan singkat dan biasa.
Tetapi semua yang ia harapkan itu semuanya tidak ada, hanya ada beberapa notifikasi pesan biasa. Kemudian, ia bangun menuju satu pot kecil bunga mawar yang ia letakkan tepat di bawah paparan cahaya matahari di jendela kamar apartementnya. Bunga mawar kecil itu tampak hidup dan segar setelah itu ia siram.
Lalu ia bercerita pada bunga mawar pemberian Jang-Whan itu bahwa yang ia rasakan saat ini adalah suatu dilema tetapi benar-benar mencintainya, meski semalam pria berwajah pucat itu mengatakan hal yang buruk mengenainya.
Pada pagi jam setengah enam, selesai ia mandi dan telah siap menuju ke sekolah, untuk kesekian kalinya pria berwajah pucat datang membuatnya kesal dan marah. Kali ini, pria itu datang tanpa kesadaran menyatu dalam dirinya, ia tergeletak tak sadarkan diri tepat di hadapan pintu apartementnya, tanpa bulu-bulu tebal- indah dan ekor sembilannya.
Sebenarnya hal semacam ini, sama sekali tak Hana sukai, apalagi kedatangan pria ini dengan cara seperti ini dan membuat keberangkatannya ke sekolah jadi terhenti.
Kemudian apa yang harus ia lakukan? Pikirnya.
Ia tidak mungkin membiarkan Jee seorang diri tergeletak pingsan di apartementnya meskipun ia selalu membencinya, tidak mungkin juga hari ini ia bolos ke sekolah gara-gara mengurusi satu pria yang semalam membuat kegaduhan di apartementnya.
Hana begitu resah, berulang kali ia katakan keresahannya lewat kata-kata benci pada Jee, ia juga bertanya-tanya mengapa harus dirinya yang diperkenalkan waktu pada Jee, kenapa tidak wanita lain seperti atlet silat atau seorang Polwan agar ia bisa di lawan.
Dan Hana sendiri itu wanita lemah, ia tidak bisa membela dirinya sendiri.
Kemudian setelah melewati pemikiran yang panjang, ia pilih untuk membaringkan Jee di kamar apartementnya dan meninggalkannya ke sekolah. Karena dia merasa dia cukup terlambat karena mengurus Jee yang selalu dia anggap membuat kegaduhan dan merepotkan dirinya.
Hana menuju parkiran apartementnya untuk membawa mobilnya, dia sudah sangat terbiasa berangkat sendiri dengan mobilnya tanpa karena itu baginya juga sangat menyenangkan dan tidak merepotkan siapa-siapa. Di sepanjang perjalanan Hana mencoba menikmati jalanan yang pagi itu kebetulan sangat sepi, mungkin jam berangkat kerja sudah berlalu sehingga dia tidak begitu merasa sesak di jalan raya. Tapi pikirannya kini terpecah, antara memikirkan Jang-Hwan dan kepikiran Jee yang tiba-tiba tergeletak di depan pintu apartemennya begitu saja. Bukankan dia semalam sudah pergi hilang entah kemana? Kenapa dia bisa berada di depan apartement ku lagi. Pertanyaan itu berulang-ulang berputar di dalam kepala Hana, hingga tak terasa dia sudah tiba di parkiran sekolah tempat dimana dia mengajar. Sesampainya dia, dia tidak keluar. Dia mengatur nafasnya, menyusun kata demi kata untuk dia berasalan kenapa dia bisa terlambat dan kehilangan jam pertama pelajarannya untuk mengajar.
Hana keluar dari mobilnya, berjalan dari parkiran menuju ruang kerjanya. Memang dia sudah kehilangan jam mengajarnya, tapi dia berjanji akan menggantinya di jam yang lain. Di depan ruang kerjanya dia bertemu dengan Shopia, hanya senyuman dia berikan dan dia segera berlalu masuk keruangannya.
"Apa keterlambatan ku ini diketahui kepala sekolah?" tanyanya dalam hati.
Lima belas menit lagi jam pelajaran akan berahir dan semua siswa akan beristirahat.
"Baiklah, aku harus ke ruangan kepala sekolah untuk meminta maaf." Hana bangkit dari kursi kerjanya.
Tidak berselang lama bel tanda istirahat berdering, semua siswa berkerumunan keluar kelas menuju kantin. Hana melihat anak didiknya berjalan kearahnya dengan semangat.
"Pasti mereka akan complain kenapa aku tidak mengajar di kelas mereka." batin Hana, dia melempar senyum tipisnya pada anak didiknya.
"Bu Hana..." teriak salah satu anak didiknya itu sambil berlari kecil ke arahnya
"Tidak usah berlari." tegur Hana
"Ibu tidak apa-apa?" tanya salah satu dari mereka
"Iya, aku baik-baik saja. Malah aku sangat sehat." jawab Hana, "Heemm, untuk tadi maaf aku tidak mengajar di jam kelas kalian." lanjut Hana lagi.
"Syukurlah, kami kira Ibu sedang tidak sehat." jawab mereka
"Jam yang kosong bisa nanti di ganti kok Bu." jawab yang satunya.
"Oh baiklah, kalian anak-anak yang baik." jawab Hana tersenyum karena dia merasa senang siswanya sangat mengerti dia.
"Sama-sama Bu Hana, Ibu mau kemana?" lanjut salah satu anak didiknya yang sangat aktif.
"Mau keruangan kepala sekolah, aku mau minta maaf karena datang terlambat ke sekolah untuk mengajar." jawab Hana menjelaskan niatnya.
"Ku rasa tidak perlu Bu, karena kepala sekolah sendiri yang meminta kami maklum jika ibu tidak datang hari ini." jawab mereka.
Mendengar itu Hana merasa aneh, kenapa bisa begitu. Bukankah datanhmg terlambat di sekolah ini sangat dilarang, apalagi untuk seorang guru.
"Oh, baik lah kalau seperti itu." jawab Hana lega tapi merasa sedikit aneh.
"Jadi, kita ke kantin saja Bu sudah lama kam kita tidak sarapan bersama." ajak anak didiknya padanya.
Ahirnya Hana mengikuti ajakan anak didiknya, lagi pula rasanya sudah lama mereka tida mengobrol layaknya teman di luar kelas seperti ini. Meski fikirannya masih bercabang antara memikirkan Jang-Hwan yang tidak menelfonnya pagi ini, dan keadaan Jee yang belum sadarkan diri dia tinggalkan di kamar apartemennya.
Mereka duduk di meja yang biasa mereka duduki bersama, memesan makanan dan minuman yanh mereka suka di kantin sekolah mereka yang besar itu. Mengobrol hal penting bahkan hal yang diluar sekolah pun mereka obrolkan. Mereka terlihat teman sekelas jika sedang duduk satu meja dan makanan di depan mereka, tidak terlihat sebagi guru dan siswa.
Itu lah kelebihan Hana sebagai guru, dia tidak membatasi dirinya untuk berbaur dengan anak didiknya, sehingga anak didiknya juga tidak sungkam dan sangat mencintainya. Hana bisa menjadi guru bagi mereka, tapi bisa mereka anggap kakak, teman bahkan orang tua sekali pun. Sifat Hana yang hangat dan penuh cinta membuatnya seperti itu.
"Menjadi seorang guru yang menyenangkan tidak cukup jika tidak bisa menjadi teman juga bagi mereka." itu lah yang Hana pernah katakan pada rekan gurunya yang lain.