Pertemuan Tam Di Sengaja

1189 Kata
Selompatnya di apartement Hana, ia melaju gesit secepat kecepatan cahaya dan mendaratkan kakinya di sebuah gedung paling tinggi tak jauh dari apartement Hana.  Suara semilir angin di atas gedung menerpa wajah pucatnya, tiba-tiba saja ia menjadi manusia setelah mengalami perubahan ke wujud aslinya kurang lebih satu jam saja. Perubabannua kembali pada wujud manusia menjadikan tubuhnya menjadi lemas, pandangannya buram, dan sedikit berkunang-kunang, hidungnya mengeluarkan sedikit darah. Ia pun tidak apa yanh sedang terjadi dengannya. Biasanya ketika bulan purnama telah berbentuk sempurna, ia akan berubah menjadi Gumiho yang paling ganas dan merobek apapun tanpa memperdulikan siapa saja di depannya. Dan biasanya, perubahannya akan berakhir menjadi Gumiho setelah datangnya fajar di puncak langit timur. Namun kali ini berbeda, ia hanya berubah menjadi Gumiho kurang lebih satu jam saja. Apakah semua ini gara-gara Hana? Wanita yang ia selalu pikirkan karena memiliki paras yang sama dengan kekasihnya di kehidupan manusia seratus tahun lalu. Apakah memang dewa telah mempertemukannya dengan Hana agar ia kembali pada sifat awalnya ketika menjadi manusia seratus tahun lalu. Namanya De'ana, wanita yang mampu merubah sifat Jee sebaik pria manusia pada umumnya, bahkan De'ana pernah berkata padanya bahwa sifatnya telah berubah sempurna bahkan melebihi sifat yang biasa manusia lakukan. Berawal dari kedatangannya ke kehidupan manusia seratus tahun lalu dengan tugas yang sama seperti saat ini. Hari itu, hujan turun lebat disertai petir dan kilat, ia berjalan dengan keadaan sempoyongan mengikuti langkah kakinya berhenti di suatu tempat.  Perubahan pertamanya menjadi manusia pada malam itu membuat tubuhnya menjadi lemah, ia belum memahami bagaimana seharusnya menjadi seorang manusia. Yang ia tahu, ia harus segera membangkitkan kekuatannya melalui tindakannya. Kekuatan seorang Gumiho berasal dari sifat kejamnya yang harus ia lakukan setiap saat, dari menyakiti hati manusia hingga tindakan yang membuat ia di benci oleh manusia. Tetapi malam dengan cuaca buruk itu, telah membuat manusia berteduh di balik rumah mereka masing-masing, ia tidak menemukan target untuk ia jadikan bahan sebagai penambah kekuatannya, hingga satu jam lebih ia berjalan, akhirnya ia pingsan di depan pekarangan rumah seseorang. Saat fajar tiba hujan pun reda, bau harum alam telah menyebar, membuat De'ana keluar rumah menikmati keindahan alam pada waktu fajar itu juga, sebab selain bau harum alam yang membuat ia tertarik keluar rumah, biasanya juga ia senang menyaksikan mekarnya bunga-bunga di pekarangan rumahnya.  Setelah membuka pintu, ia di kagetkan oleh sebatang kayu yang hanyat di bawa arus hujan ke depan rumahnya yang mirip tubuh manusia. Ia pelan-pelan berjalan ke arah batang kayu yang tergeletak tepat di depan gerbang rumahnya, melangkahi beberapa rumput dan cacing yang muncul di permukaan tanah.  Sedikit menghela napas, ia pun tepat di depan yang ia duga bahwa itu sebatang kayu yang terhanyut arus hujan semalam, ia perhatikan dari bawah dan atasnya berulang kali tanpa menyentuhnya sama sekali, namun cahaya fajar yang mulai tinggi di alam itu menyoroti matanya hingga ia sadar bahwa sebatang kayu itu ialah mayat manusia. De'ana kaget dan langsung memanggil-manggil kedua orang tuanya yang masih terlelap di kamar mereka, kemudian ia periksa denyut nadi dan napas pria yang tergeletak tepat di gerbang pekarangan rumahnya itu. Pada jam tujuh pagi, pria itu sadarkan diri, ternyata dia adalah Jee. De'ana bersama kedua orang tuanya merasa lega setelah pria yang terbawa arus hujan semalam itu membuka mata. Papa De'ana langsung bertanya asalnya, namun Jee tidak langsung menjawabnya. Mata Jee berputar-putar melihat ke arah ke tiga orang di depannya secara bergantian yang tersenyum padanya. Di kamar kecil dan sangat sederhana itu ia terbangun dengan pakaian yang sangat hangat, ia tidak lagi merasakan tubuhnya memar, pusing kepalanya telah hilang, ia telah merasakan lancarnya menelan air liurnya. Tiba-tiba ia teringat perkataan ketua suku bangsanya sebelum ia di kirim ke bangsa manusia, bahwa untuk memulihkan kekuatan supernya ia harus memperbanyak menyakiti manusia, terutama mematahkan hatinya, dia juga dilarang jatuh cinta agar kekuatannya kembali sempurna. Saat mengingat itu, kemudian Jee berdiri dan langsung berkata pada De'ana bahwa dia tidak cinta padanya. Membuat De'ana dan kedua orang tuanya kaget, bingung lalu tertawa. Papa De'ana berambut poni itu segera menenangkan Jee, dia adalah ahli kejiwan yang terkenal di sekitar rumahnya. Saat Papa De'ana mencoba menenangkan Jee dengan menggenggam bahunya, Jee langsung menipis tanganya, dan langsung berkata padanya bahwa ia tidak suka dengannya.  Namun, tiga bulan setelah keluarga De'ana sepakat menampung Jee yang mereka vonis ia mengalami gangguan jiwa, timbul perubahan sedikit demi sedikit bagai seorang bayi yang baru mengetahui apa-apa. Semuanya di ajarkan oleh De'ana, mulai dari tatakrama, bergaul dan bahkan bekerja, sampai di pertengahan tahun, akhirnya De'ana mengetahui latar belakang Jee yang selama ini ia tutupi, bahkan ia berkata jujur mengenai bahan dasar kekuatannya. Namun sekarang sepertinya ia telah menjadi manusia yang utuh, ia tidak lagi memandang manusia sebagai makhluk yang rendah akal, yang memanfaatkan kebanyakan orang untuk kepentingan diri sendiri seperti yang di ceritakan bangsa mereka di kehidupan dunia mereka.  Jee merasa telah merasakan cinta saat De'ana tak sengaja menatap matanya di balik daun bunga matahari di pekarangan rumah, getaran hatinya tak sengaja seperti sebuah genderang perang yang di pukul tiba-tiba, hingga esoknya ia terlihat kusut karena semalaman memikirkan bagaimana caranya mengungkapkan cinta pada De'ana, Sebab De'ana tidak pernah mengajarkan hal itu padanya. Tetapi di sebuah kebun anggur tidak jauh dengan rumah mereka, De'ana malah mengatakan awal padanya bahwa ia cinta padanya, diam-diam selama ini ia menyukainya dan berulang kali ia bermimpi dengannya.  "Lalu bagaimana denganku," kata Jee. "Aku harus mengatakan apa agar kamu tahu bahwa aku juga cinta kamu," lanjutnya. De'ana tertawa, saking senangnya ia sampai mengeluarkan air mata. Lalu memeluk Jee erat dan berbisik di telinga Jee agar ia menikahinya. "Apakah nikah itu?" Tanya Jee serius.  "Sebuah tanda bahwa pasangan telah sah menjadi keluarga," ucap De'ana sederhana.  "Sekarang?" Tanya Jee kembali. De'ana pun mendadak tertawa keras. Kemudian di sore harinya, mereka pulang dan mengabarkan pada kedua orang tuanya bahwa mereka saling cinta dan meminta izin agar mereka segera di nikahkan. Kedua orang tua De'ana teriak riang, anak semata wayangnya itu dianggap seperti memberikan kado spesial ulang tahun Mamanya yang baru saja berakhir dua hari lalu, berita pernikahan mereka membuat gumpalan lelah menjadi sepercik kebahagian bagi kedua orang tua De'ana. "Awal bulan kita langsungkan pernikahan kalian," ucap Papanya. Tetapi lima hari menuju hari besar pernikahan mereka, tiba-tiba pada pertengahan malam, De'ana mengalami demam tinggi dan mengeluarkan darah di kedua lubang hidungnya, ia tidak merasakan rasa pada lidahnya, wajahnya juga memucat, mungkin ia terserang sebuah virus ganas yang di tularkan oleh unggas yang ia rawat tadi pagi. Jee dan kedua orangtuanya menangis melihat De'ana mengerang kesakitan, lidahnya kaku mengatakan sesuatu. Tiba jam dua malam, Jee mengepal tangan De'ana sambil menangis di sebelahnya, ia berulangkali mengatakan cinta padanya dan segera akan menikahinya. Tetapi waktu berkata lain, De'ana meninggal dunia meninggalkan satu bisikan cinta di telinga Jee yang ia paksakan. "Aku pun mencintaimu."  Sebulan setelah kepergian De'ana, wanita santun yang memiliki wajah selembut sutra itu, membuat Jee kembali mencari misinya, sifatnya pun telah berubah menjadi keras untuk memulihkan kekuatannya. Lalu di malam pergantian musim semi, ia berjanji tidak akan kembali pada ke kehidupan manusia setelah ia berhasil mendapatkan apa yang ia cari. Akan tetapi, ketua suku bangsa mereka kembali menugaskannya untuk pergi ke dunia manusia dan di malam jam sepuluh, ia tak sengaja menolong wanita yang mirip dengan De'ana yaitu Hana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN