Bukan masalah waktu yang menentukan perubahan Jee menjadi Gumiho, akan tetapi sempurnanya bulan purnama, ia sudah pastikan akan berubah menjadi makhluk Gumiho pada saat itu juga dan kemungkinan ia juga akan bertindak berutal ketika telah menjadi makhluk Gumiho, maka dari itu, ia meminta dengan sangat amat pada Hana agar Hana menutup pintu apartementnya dan segera bersembunyi di tempat yang paling aman di dalam apartementnya.
Dan Untuk menuruti kemauan pria berwajah pucat itu, Hana sedikit menggertaknya, jika ia selesai memasukkan Hana dalam deritanya malam ini, jangan sekali-sekali membawanya dalam derita lain, sudah cukup satu kali ini saja. Hana pun juga muak dengan tingkah dan cara pria berwajah pucat itu padanya. Meskipun kadang terbayang bahwa pria berwajah pucat ini pernah membantunya meloloskan diri dari maut yang ia sendiri membuatnya.
Namun biarlah kali ini ia harus mengalah, jika memang pria yang tak ingin ia sebut namanya itu melakukan suatu tindak kriminal maka ia akan segera melaporkannya. Jangankan bertindak kriminal, merusak keindahan apartemenntnya pun akan ia laporkan. Handphone telah siap ditangannya, ia tinggal menekan layar bertulis nomor Kepolisian yang sudah ia siapkan.
Jika ia mendengar suara keributan di balik pintu kamar mandi yang ia kunci rapat-rapat saat sekarang maka akan segera ia laporkan. Paling tidak, ia akan mengatakan di dalam laporannya nanti bahwa ada pria berwajah pucat datang membuat kegaduhan di apartemenntnya, atau malahan ia akan mengatakan ada perampok di apartementnya. Ia rasa itu sudah cukup untuk mewakili pria itu sebagai pembuat rusuh malam ini.
Sesekali Hana tidak terima merasa di permainkan oleh Jee di balik pintu kamar mandi itu, tetapi meskipun seperti itu, ia penasaran bagaimana wujud Gumiho tersebut. Jika ia memang seperti rubah, maka ia ingin sekali melihatnya? Seperti yang ia ketahui bahwa rubah memiliki bulu-bulu halus di sekujur tubuhnya. Jika ia memang sepertu rubah, maka ukurannya seberapa? Apakah besarnya melebih seperti rubah yang sering di tayangkan di media atau sebaliknya.
Akan tetapi, untuk menyelesaikan rasa penasaran yang menggejolak dalam benaknya itu sangat sulit, sebab ia telah di minta untuk mengamankan diri sebelum ada tanda-tanda perubahan Jee telah selesai.
Namun kembali timbul bisikan dalam hati Hana, bahwa ternyata Jee seorang pencuri, perampok dan semacamnya yang mengaku-ngaku sebagai makhluk mitologi Kuno. Tetapi sesekali Hana tersadar kembali, bahwa pria itu memiliki kekuatan super cepat sama halnya dengan Jang-Whan; jika ia percaya pada Jang-Whan, maka seharusnya ia juga harus percaya pada Jee.
Lalu sekarang bagaimana dengan kondisi Jang-Whan? Siapa yang mengobati luka perubahannya ke wujud asalnya. Ia pasti menderita sama halnya dengan Jee atau bahkan lebih. Lalu Hana terpikir tentang Jee yang baru saja menuduh Jang-Whan sebagai pria pembohong, makhluk yang telah lama ia kenal karakternya pembohongnya, yang berupaya berbohong pada setiap manusia agar kekuatannya meningkat drastis.
Bagaimana jika semua yang dikatakan Jee Whan itu memang benar?
"Tetapi itu tidak mungkin," sesekali membenarkan di dalam hatinya. Ia tahu persis pria yang suka berbohong atau tidak, kan ketahuan juga lewat tampilan wajahnya. Sedangkan wajah Jang-Whan ketika berbicara tak memiliki tanda-tanda bahwa ia seorang pembohong. Dan lagi pula, selama ini terus membuktikan mengenai kebenaran perkataannya.
Semua ini gara-gara pria itu, pikiran kacau kembali timbul pada Hana, setiap perkataan yang dikeluarkan Jee tadi menjadi hantu yang menggacaukan pikirannya. Bahkan saat Jee mengatakan bahwa Jang-Whan itu ahli sihir juga menjadi kepala Hana tergoda dan hampir berburuk sangka pada Jang-Whan padahal ucapan Jee itu belum tentu benar juga.
Karena perkataan Jee itu, Hana merasa harus menanyakan lebih pasti apakah yang dia ucapkan tadi itu benar atau hanya karangannya saja. Hana rasa ia harus keluar sekarang dan menanyakannya lebih lanjut, tetapi apakah pria itu telah selesai berwujud seperti aslinya? Yang ia dengar dalam kamar mandi hanya suara hatinya yang dari tadi tidak terima dan menuntut kejelasan pada Jee.
Hampir setengah jam ia menahan diri untuk berlindung di dalam kamar mandi yang ia kunci, tetapi belum juga ada pemberitahuan mengenai Jee selesai berubah ke wujud aslinya atau belum. Ia hanya mendengar kesunyian di balik pintu kamar mandi yang berulang kali ia menguping. Tidak ada suara teriakan atau erangan kesakitan seperti awal Jee memintanya untuk berlindung. Apa jangan-jangan Jee telah menipunya? Dan sekarang ia telah pergi membawa segopok harta di dalam lemarinya. Jika memang seperti itu, ia salah masuk merampok kamar, sebab di dalam lemarinya tidak ada harta benda apapun yang sangat berharga, hanya ada dokumen-dokumen yang tidak terlalu berharga untuk ia jual.
Hana pun membuka pintu kamar mandi dengan sedikit ragu, kepalanya menengok bagai kepala kura-kura keluar dari tempurungnya, ia menoleh ke segala arah, memastikan bahwa suara batinnya yang dari tadi mengganggu itu benar atau salah.
Ketika melihat ke arah pojok kiri di ruang tamu tersebut, ia melihat seeokor rubah besar kira-kira berukuran gajah berdiri dengan bulu-bulu putih bercaya di sekujur tubuhnya. Telinga memanjang serupa daun singkong tua, tatapannya begitu buas dan mengarah juga padanya.
"Apakah itu kamu?" Tanya Hana sambil melotot tak percaya di balik pintu kamar mandi. Rubah itu sama sekali tidak merespon ucapan Hana.
"Apakah kamu belum pulih?" Tanya Hana kembali. Lalu tiba-tiba rubah sebesar gajah itu melambai ke arahnya seakan meminta Hana untuk keluar mendekatinya. Seketika bertambah ketakutan dalam dirinya setalah ia dilambai.
Saat Hana mencoba memberanikan diri keluar mendekatinya, tiba-tiba rubah itu bergerak membuat Hana kaget lalu mundur kembali ke tempat asal amannya.
Jee yang telah berubah menjadi makhluk Gumiho itu berjalan menuju jendela yang menganga ke arah luar apartementnya, sembilan ekor panjang dan tegaknya memuat Hana sekali lagi terpukau melihatnya. Apalagi di sekujur tubuhnya bersinar cahaya yang sangat bersih.
Saat rubah itu mendekati jendela, Hana menyapa keras, "Kamu mau kemana?" Tanpa rubah itu jawab, ia melompat ke arah jendela itu dan melaju gesit bagai kecepatan cahaya, dan seketika hilang dalam pandangan Hana. Hana hanya terpaku melihat peristkwa yang sangat cepat itu. Bagai kilatan petir yang tidak bisa dia hentikan atau dia tunda lajunya. Tubuhnya beberapa saat terpaku melihat ke arah jendela tempat dimana rubah itu melompat, seperti tidak terjadi apa-apa jejak pun tidak nampak jika tadi ada seseorang yang melompat ke arah keluar dari jendela itu.
"Pergi kemana dia?" tanya Hana lirih pada dirinya sendiri saat dia mulai tersadar dan melihat keluar, menebar pandangannya keseliling daerah apartemennya dari atas.