Kira-kira lima belas menit lagi perubahan bulan di atas langit akan menjadi purnama sempurna, Jee, pria yang baru saja memperkenalkan namanya itu pada Hana mengatakan akan berubah ke wujud aslinya sebagai makhluk Gumiho. Makhluk yang tak bisa ia bayangkan dan tidak kemungkinan ia tidak pernah lihat sebelumnya.
Makhluk mitologi kuno yang sampai detik ini telah menjadi tanda tanya rakyat Korea pada umumnya, sementara kebenaran makhluk mitologi tersebut sebagian warga menyebutnya adalah makhluk mitos yang tak patut dipercaya.
Dalam sejarah yang di ajarkan disekolah, Gumiho tidak pernah terdaftar dalam bentuk sikap yang nyata, dan lebih di pahami juga di mengerti hanya lewat cerita turun temurun warga Korea.
Selama hidup Hana tidak pernah mendengar apalagi mempercayai makhluk kuno yang hidup apalagi sampai bisa menjelma menjadi seorang manusia, namun setelah ia di selamatkan dalam upaya kematiannya beberapa minggu lalu, ia pun mencari tahu siapa sebenarnya dua pria yang entah memang sengaja ingin menyelematkan atau hanya mereka kebetulan melintas saja.
Ia telah bertemu dan bahkan sudah jatuh cinta pada seorang Imoogi yang sebelumnya ia tidak tahu itu makhluk apa. Ia hanya berspekulasi bahwa kedua pria itu hanya seorang robot yang di program untuk membantu mengurangi tingkat kematian bunuh diri di negara.
Hana tidak pernah terpikirkan tentang suatu makhluk kuno, yang tumbuh berkembang dalam kehidupan manusia dan bisa menjadi manusia. Sekaligus yang membuat ia heran ketika ia menemui makhluk kuno itu lebih mendalami perannya sebagai manusia yang saling membahu dan membantu. Ia terkesima oleh prinadi Jang-Whan dan baginya ia melebihi kebaikan dewa.
Namun sekarang di depannya, berdiri seorang pria yang terlihat begitu sombong dan congkak, yang berbeda seratus persen karakternya dengan Jang-Whan, pria yang sebelumnya ia panggil dengan wajah pucat tersebut seperti bunga teratai atau sekalian bunga bangkai yang tidak sedap di pandang, apa lagi di buat hiasan di pekarangan.
Pria itu layaknya monster yang tak memiliki sifat bagaimana cara bersopan santun, bahkan ia berulang kali memperlihatkan kekuatan super seakan ingin pamer pada Hana.
Sebelumnya Hana kira Jee Whan menyerupai Jang-Whan, mengenai sifatnya, tetapi setelah ia mengikutinya di hotelnya kemarin lalu, suaranya keras menggelegar mengusir Hana, seakan matanya memanas melihat Hana. Hingga ia kerap kali membuang muka ketika melihat Hana.
Dan sekarang memang terbukti, tak ada lagi ruang penilaian dalam hati dan pikiran Hana padanya bahwa Jee itu makhluk yang baik persisi Jang-Whan, pria seperti dia baginya tidak pantas hidup berdampingan dengan manusia. Ia tidak mungkin memiliki teman apalagi seorang pasangan.
Lalu mendadak mulut kasar Jee berucap, "Jauhi pria Imoogi itu, kamu akan menyesal jika terlalu dekat dengannya!" Sontak Hana tidak terima, pria yang baru saja menginjakkan kakinya ke apartementnua dan baru saja mengenalkan namanya itu memintanya untuk menjahui Jang-Whan yang telah ia cinta.
"Apa yang kamu maksud?" Kata Hana seakan tidak terima.
"Imoogi dari dulu terkenal sebagai makhluk yang licik, pendusta. Bangsa kami bukan hanya mengenal karakter mereka tetapi telah memahami secera keseluruhan mengenai mereka. Jika kamu terjebak dalam perkataannya maka ia akan sangat suka. Sebab kekuatan mereka berasal dari cerita yang mereka buat-buat," lanjut Jee menerangkan.
Telinga Hana memanas mendengar ucapan Jee, giginya menggerutu menahan emosinya. Jika dia memiliki kekuatan serupa maka tinju tangannya tak lagi ia tahan untuk menghajarnya.
"Diam...!" Kata Hana berteriak, "Silahkan keluar."
"Dengarkan aku...sebentar lagi tubuhku ini akan berubah menjadi wujudku yang sesungguhnya. Itulah alasan pria Imoogi itu tidak mendangi kamu hari ini, ia akan berubah pula pada wujud aslinya setiap kali datang purnama. Kamu memang tidak akan percaya jika dia berubah dalam wujudnya maka ia harus membunuh seseorang dengan s***s dan kejam, dialah monster itu, perubahannya bagai ular raksasa yang akan memangsa siapa saja di depannya."
"Sudah..." kata Hana berteriak sambil menutup telinga. Ia tak ingin mendengar ucapan Jee yang ia anggap bahwa Jee adalah pembohongnya.
Hana duduk tepat di tengah-tengah pintu, ia peluk kakinya dan ia tundukkan kepalanya. Dia tutupi air matanya di depan Jee, dan dia muak sekali melihat Jee dan mendengar ceritanya.
Sementara Jee sudah merasakan tanda-tanda di dalam tubuhnya, tubunya mulai merasa bergertar, matanya sedikit merah bagai cahaya senja, namun ia masih bisa menjelaskan pada Hana agar ia benar-benar meninggalkan Jang-Whan yang ia sebut dengan pria Imoogi.
Lanjutnua, "Bayangkan saja, Imoogi itu seekor ular raksasa yang mirip dengan seekor naga, sama sekali tak memiliki karakter yang kamu percayai itu sebagai karakternya. Sadarlah Hana...dia telah membohongimu, ceritanya adalah cerita palsu seperti kebanyakannya manusia hanya mengumbar janji. Kamu akan sangat menyesal jika berdekatan dengannya!"
"Kamu yang pembohong...." ucap Hana dalam batinnya. Sebab Jang-Whan telah membuktikan kebenaran ucapannya, kemarin itu dia telah membawanya ke panti asuhan, dan anak-anak panti itu memang telah akrab dengannya. Itu sudah cukup bahwa dia bukan seorang pembohong.
Seakan Jee mengetahui isi hati Hana, ia pun menjawab, "Kamu salah Hana! Panti asuhan itu bukanlah hal yang nyata, itu adalah sihirnya, kamu telah terjebak oleh sihir murahannya. Anak yang tidak enggan malu mengakui kalian berdua sebagai orang tua angkatnya itu sebagian dari kekuatan sihirnya. Mungkin kamu tidak akan percaya, tetapi seperti yang aku katakan awal tadi, bahwa kekuatan mereka berasal dari kepercayaan seseorang pada kebohongan mereka. Sifat baik yang dia tampilkan padamu itu adalah kebohongan saja. Percayalah padaku Hana!"
Semenit lagi jam dua belas malam, tubunya mulai terasa berbeda, sebentar lagi ia akan berubah ke wujud semulanya. Ia mulai membungkuk, seakan darah yang mengalir dalam dirinya bergerak kencang bagai sebuah arus yang membentuk pola baru dan ribuan urat dalam dirinya telah membuatnya tersiksa, bagai akar menjalar dan membentuk pola baru juga. Tulang-tulangnya terasa akan patah, kulitnya mulai di tumbuhi bulu-bulu halus.
Jee membungkuk kesakitan tepat di hadapan Hana, sementara Hana tidak tahu tindakan apa yang harus ia lakukan.
Diantara kebingungannya, ia juga sangat menyesali, mengapa harus dia menjadi target pria berwajah pucat ini dalam tindakan perubahannya menjadi monster. Tetapi, untuk kali ini ia menganggap sebagai balas budinya terhadap pria berwajah pucat itu karena telah menyelematkannya.
"Hei...kamu kenapa?" Ucap Hana resah.
Hana pun terlalu dilema, antara membantu atau membiarkannya kesakitan, antara kasihan dan juga marah, antara takut dan juga pasrah.
Kemudian Jee, dengan kondisi tubuh kesakitan yang ia tahan, ia meminta tolong pada Hana agar ia mengunci pintu apartementnya lalu pergi ke kamar mandi untuk berlindung, atau tempat mana saja yang membuatnya aman darinya. Ia meminta untuk menguncinya pula.