Sepasang tali mengikat tangan Hana, sementara mulutnya dipasangi kain agar ia tidak bersuara. Perbuatan dan tindakan bagai penculik yang di lakukan pria berwajah pucat itu telah melukai hati ini hingga ia menangis histeris, ia kira pria berwajah pucat itu akan melakukan tindak kejahatan padanya, seperti akan membunuhan Hana, akan tetapi, pria berwajah pucat itu beberapa kali merayu Hana agar ia tidak takut padanya dan ia akan menjelaskan semua mengenai maksud kedatangannya.
"Percaya padaku, aku akan melepaskan ikatanmu. Oke?" Ucap pria berwajah pucat itu pada Hana. Hana pun menganggukkan kepala sambil menangis.
Pertama yang ia lepaskan dari Hana ialah kain putih lusuh penutup mulut Hana secara perlahan, ia lepaskan sambil merayu Hana agar ia tidak berteriak yang dapat mengganggu ketenangan pikirannya. Tetapi dua menit setelah kain putih lusuh itu di cabut oleh pria berwajah pucat itu dari mulutnya, Hana meminta agar pria berwajah pucat itu mengambilkannya satu gelas air minum, ia sangat kehausan.
Sepuluh detik kemudian, pria berwajah pucat itu mengagetkan Hana saat ia datang bagai sebuah kilat tanpa menumpahi air di dalam gelas itu sedikitpun. Ia seperti pemain akrobat yang telah piawai membawakan sesuatu yang mustahil di lakukan seseorang.
Hah...makhluk apa dia? Seru Hana dalam hati. Apakah ia sebangsa dengan Jang-Whan yang memiliki satu kekuatan super yang sama. Atau jangan-jangan ia makhluk lain? Sekali lagi tak bisa ia bayangkan secepat apa pria berwajah pucat yang kini berdiri memberi segelas air minum di depannya itu, padahal baru saja ia rencanakan pengkaburan dari apartement dan segera melaporkan pria berwajah pucat misterius itu ke pihak keamanan apartement dan Kepolisian agar ia segera di tangkap dan di jerat hukum, hingga ia tidak lagi bertemu dengannya.
Baginya pria berwajah pucat itu adalah makhluk yang senonoh, urakan dan barangkali ia mudah membunuh seseorang, ia tak seperti Jang-Whan yang memiliki sifat lembut bagai kaum para Dewa. Pria itu di lahirkan dengan perilaku yang berbeda dengan Jang-Whan, pria dengan sikap seperti pria itu tidak pantas beradaptasi di dunia manusia. Ia akan mudah di buru dan di bunuh oleh manusia karena sikapnya.
Sangat amat berbeda dengan Jang-Whan, pokoknya Jang-Whan adalah malaikat itu sendiri.
Akan tetapi rencananya yang baru saja ia susun tak berguna lagi jika yang ia lawan makhluk yang berkekuatan super seperti pria berwajah pucat itu, bahkan Hana yakin pria wajah itu bisa menghindari kecepatan peluru yang diarahkan padanya. Dan ia juga yakin bahwa satu-satunya yang dapat menghentikan pria berwajah pucat itu adalah Jang-Whan, sang kekasih yang ia cintai dalam diam itu.
Hana hanya berharap Jang-Whan datang tiba-tiba merasakan ancaman yang dialaminya dan menyelematkannya, lalu mengahjar pria kurang hajar yang menutup mulutnya dengan sehelain kain lusuh ini di depannya, agar ia sangat puas. Meskipun pria berwajah pucat itu pernah menolongnya, jika ada kesempatan membunuhnya, Hana akan membunuhnya. Ia terlalu kesal dengan tingkah lakunya yang senonoh dan tak berkeprimanusiaan itu.
Meskipun pria itu bercerita sambil memohon dengan alasan apapun, luka yang telah menganga di hati Hana atas kelakuannya tak mungkin mudah ia lupakan, meski apa pun ia berikan untuknya. Sebab baru kali ini Hana di perlakukan keras oleh seseorang. Ditambah dengan suasana hatinya yang belum terobati saat mengetahui Jang-Whan tak meninggalkan kabar hari ini untuknya.
Setelah suasananya kondusif, Hana tidak lagi memberontak dan mengikuti pola tujuan pria berwajah pucat, ia pun membuka tali tangannya sambil berkata,"Hei...Hana, tolong dengarkan aku!" Hana sedikit kaget, pria itu tahu dari mana namanya.
"Maafkan aku...tetapi aku harus melakukannya. Tolong dengarkan aku sebentar saja dan percayalah perkataanku meskipun sedikit saja," sambungnya.
"Aku ini seorang Gumiho (Rubah ekor sembilan) dari itu aku butuh tempat berlindung untuk berubah ke wujud asliku ketika datang bulan purnama sebentar lagi. Aku butuh kamu, sebab hanya kamu yang mengetahui tentang aku saat aku menolongmu malam itu. Aku butuh tempatmu ini, dan aku mohon janganlah mengadu siapa saja saat kamu telah melihatku menjadi Gumiho."
"Aku yakin kamu tidak akan terlaku kaget dan mempertanyakan tentang diriku, karena kamu telah berteman dengan seorang Imoogi." Terlepasnya tangan Hana, lalu ia berlari ke arah pintu dan berkata pada pria berwajah pucat itu, "Aku memang berhutang nyawa padamu, tetapi ini sudah terlalu malam untuk bertamu, silahkan pergi!" Kata Hana sambil membuka lebar daun pintu.
Hana sama sekali tidak percaya apa yang dikatakan pria itu, namun waktu terus berjalan menuju jam dua belas dan beberapa puluh menit lagi purnama akan bersinar terang dan bulat.
"Percayalah padaku, Hana...aku butuh kamu menolongku. Sekitar jam dua belas lagi aku akan menjelma menjadi makhluk yang tidak pernah kamu lihat sebelumnya," kata pria berwajah pucat itu memperjelas.
"Jika seperti itu, aku akan menunggu sampai kamu berubah seperti yang kamu katakan, disini! Di depan pintu ini yang aku buka lebar ini, jika kamu melakukan hal di luar batas tindakan wajar, aku akan segera melaporkanmu. Tetapi setelah kamu selesai, silahkan langsung pergi!"
"Panggil aku Jee Jo Hwan," katanya menjawab dengan wajah datar.
"Iya, Jee Jo Hwan!" ucap Hana memeperjelas ucapan lelaki yang memaksanya itu.
Hana memaki keadaan saat dalam hatinya, setelah pertemuannya bersama Jang-Hwan yang mengaku dirinya sebagai Imoogi sekarang ada lagi lelaki yang meminta pertolongan dirinya karena dia ingin berubah. "Ada apa dunia sekarang ini." lirih Hana dengan kesal.
"Apa kamu percaya pada ku?" tanye Jee Jo Hwan pada Hana.
Hana hanya diam, tidak menjawab satu kata pun. Dia masih terdiam memikirkan semua kejadian yang melibatkan dirinya pada dua makhluk yang kini muncul di hidupnya.
"Bagaimana aku bisa percaya pada mu? Sedangkan kejadian s****n ini membuat ku takut padamu." jawab Hana dengan wajah sinisnya. Dia sudah terlanjur membenci Jee Jo Hwan atas semua tindakannya itu. Berbeda dengan apa yang dulakukan Jang-Hwan padanya, dua lelaki yang mengaku bukan dari bangsa manusia itu sangat berbanding berbalik. Jang-Hwan yang hadir seperti malaikat pelindung dan tempat Hana bercerita sedangkan Jee Jo Hwan hadir dengan sangat brutal di kehidupan Hana. Tetapi, Jee Jo Hwan dengan santainya meminta Hana untuk mempercayainya. Atas dasar apa Hana harus mempercayai orang seperti dirinya.
Hana sudah terlanjur membenci dan tidak menyukai Jee Jo Hwan karena ulahnya sendiri. Seperti gelas kaca yang sengaja di pecahkan, hatinya tidak bisa utuh lagi meskipun dengan cara apapun. Baginya, perkenalan pertama adalah penentu baik dan buruknya seseorang apapun itu kenyataannya.