Bagaimana dengan Jang-Whan, pria yang baru saja berjanji tidak akan meninggalkan Hana itu tiba-tiba menghilang, hingga sampai saat ini ia tak memiliki sepercik kabar setelah kemarin mereka habis jalan-jalan. Handphonenya pun diluar jangkauan, seakan ia telah kembali pada dunia bangsanya. Menetap disana selamanya, ia begitu mudah meninggalkan Hana tanpa sehelai kata pamit ia tinggalkan. Memang begitukah seorang Imoogi yang memiliki kekuatan secepat kilat itu? Yang tak memiliki keberanian tanggung jawab atas apa yang ia ucapkan.
Hana tidak peduli lagi dengan bulan purnama yang hampir sempurna di atas langit, yang siang tadi ia ceritakan dengan anak didiknya di kantin sekolah, lalu ia idamkan menikmati sekejap cahayanya dengan Jang-Whan, lalu menarik dan memasukkan Jang-Whan pada kisah cinta agar ia mengatakan cinta padanya.
Tanpa canggung Hana ceritakan Jang-Whan pada sekelompok murid yang menamai diri mereka Geng Siput itu, Hana bercerita pada mereka tentang kebaikan Jang-Whan melebihi kebaikan Dewa, baginya terlalu sulit jika ada wanita yang tidak menyukai dirinya. Bahkan ia mengaku telah menyukainya.
Saat di tanya si Tomboi salah satu Geng Siput, apakah paman Jang-Whan juga akan mencintainya? Hana malah malu-malu mengatakan, ia bimbang pula mengatakan antara iya dan tidak, jawabnya hanya mudah-mudahan saja tanpa ia terangkan apa yang ia maksud dengan mudah-mudahan tersebut.
Kan bisa saja mudah-mudahan ia tidak suka, juga sebaliknya. Kali ini para Geng Siput merasa Ibu Guru kesayangannya itu bercerita berbeda, saat bercerita, Hana seakan di penuhi aura-aura asmara yang datang dari segala penjuru makhluk asmara. Bahkan si Tomboi menggemaskannya setelah ia lihat di pipi Ibu Gurunya itu ada tanda merah, layaknya ia bercerita tanpa ada penghalang bahwa ia seorang guru yang bercerita pada muridnya.
Kali ini ia begitu meledak-ledak, ia keluarkan semua tentang kesempurnaan Jang-Whan di matanya, hampir saja ia keceplosan mengatakan Jang-Whan makhluk mitologi bernama Imoogi, untungnya ia mengingat bahwa itu adalah larangan yang harus ia jaga.
Mengenai wajah Jang-Whan yang ditanya oleh si Tomboi muridnya yang paling heboh itu, ia katakan dengan jujur bahwa wajahnya mirip dengan mantan tunangannya dulu, sangat persis, bahkan juga tububnya, kata Hana memperjelas.
"Sungguh," kata Hana setelah para Geng Siput itu menerornya untuk berkata faktanya.
"Lalu dimana ia sekarang?" Tanya si Tomboi setelah Hana mengatakan ia sering menjemput dan mengantarkannya ke sekolah.
Dan saat itu, Hana baru tersadar bahwa Jang-Whan sampai detik itu juga tak ada kabar. Padahal, malam ini merupakan malam yang tepat memandang puncak sempurna bulan purnama dengan orang yang di sayang. Kata si Tomboi. "Coba Ibu Hana hubungi lagi, kami juga ingin mendengar bagaimana keren suaranya!" pintanya.
"Mungkin ia masih sibuk," ucap Hana menenangkan dirinya setelah panggilannya tak terjawab.
Dan jam sepuluh malam tiba, ia pun pulang ke apartementnya menggunakan taxi. Ia tak memahami apa yang tengah terjadi, antara Jang-Whan memang marah padanya atau sedang terjadi sesuatu padanya. Seperti kemungkinan kecelakaan yang serupa menimpa tunangannya. Ada apa dengannya? Kemana perginya?
Turunnya dari taxi, kesibukan para penghuni keluar-masuk dari apartement membuatnya resah, beberapa pasangan yang bahagia bergandeng tangan membuat ia menundukkan kepala. Bola matanya telah tergenang dalam tetesan air mata yang hampir menetes, kadang ia benar-benar malu telah menganggap bunga mawar yang kini berdiri tegak dalam pot di apartementnya sebagai tanda bukti Jang-Whan mencintainya. Mungkin saja itu hanya tanda pertemenan biasa.
Tetapi Jang-Whan itu terlalu serius menatap matanya akhir-akhir ini, membuat detak jantungnya tak bisa berdalih bahwa ia telah terjebak kedalam lubang cinta oleh tatapan sahdu matanya. Ditambah senyum dan sikapnya seperti cahaya purnama yang ingin ia lihat malam ini dengannya.
Sampainya di lantai atas menuju ruang apartementnya, sekejap saja tiba-tiba datang angin menerpanya dan ia sendiri tidak tahu kedatangan angin tersebut berasal dari mana, seolah-olah ada seorang yang melintas dengan cepat di sebelahnya. Kalau pun hembusan angin tersebut berasal dari sebuah ventelasi jendela, itu sangat tidak mungkin, sebab di dalam ruang satu lintasan menuju apartementnya sama sekali tak memiliki jendela. Hanya dinding-dinding tebal bercat putih mutiara.
Ia sedikit heran, akan tetapi ia masih tak bersemangat untuk mengkhawatirkan hal itu, pikirannya masih terjabak dalam pertanyaan seputar Jang-Whan.
Kemudian ia membuka pintu, sambil menunduk, ia melangkahkan kaki kanannya memasuki apartement. Namun saat melihat sepasang sepatu hitam yang mencegah kaki kirinya melangkah, ia pun mendongakkan kepala.
Tak bisa ia percaya, pria berwajah pucat yang telah mengusirnya hari lalu dari hotelnya itu ada di dalam apartementnya tanpa seizinnya, dan seakan pria itulah sebagai pemilik yang menunggu kedatangan Hana.
Bagaimana caranya masuk? Apakah ia seorang pencuri harta benda?
Sebab wajahnya pun terlalu suram jika di katakan ia adalah orang baik, tidak ada kedamaian di dalam tampilan wajahnya, begitu terlihat kesombongan dan keras kepala di dalam dirinya.
Hana berteriak keras setelah melihat ke arah wajah pria pucat yang menakutkan itu, lalu matanya melotot tajam dan segera ia usir pula seperti pria itu mengusirnya di hotelnya hari lalu. Tetapi pria di depannya itu seakan tuli atau tidak memahami apa yang baru saja ia katakan, pria berwajah pucat itu hanya diam dan menatap pada wajah Hana yang baru saja murung menjadi meledak saat melihatnya ada di dalam apartementnya.
"Sekali lagi keluar," kata Hana sambil membuka lebar pintu dan menunjuk kearah luar apartementnya. Saat pria itu hanya diam melihatnya, ia pun mengancam akan melaporkannya pada pihak keamanan apartement atau langsung melaporkannya pada Kepolisian.
Tetapi pria itu sama sekali tak merasa terancam, ia hanya masih diam dan menatap wajah Hana.
"Ada apa denganmu? Aku tidak memiliki harta apa-apa," kata Hana memperjelas. Pria itu masih diam.
"Baiklah...akanku telephonen polisi!" Ancam Hana mengambil handphone di dalam tasnya. Lalu pria itu bereaksi, ia merampas cepat handphone Hana di tangannya. Hana juga takut terlalu mendekat padanya, ia paham bahwa pria itu adalah orang yang kuat dan berbahaya meskipun ia pernah menolongnya.
Pria berwajah pucat itu pun menunduk melihat waktu pada jam tangannya, kemudian ia meminta Hana untuk masuk dan menutup pintu apartementnya.
"Apa? Yang punya apartement adalah aku, kenapa kamu yang mengaturku? Cepat keluar...!" Tegas Hana seperti telah siaga terhadap suatu ancaman.
"Jangan macam-macam padaku, ya! Aku mempunyai seorang teman yang tangguh, kamu pasti akan di hajar olehnya. Tetapi ia sekarang...." ucap Hana terhenti.
"Keluar...!" Teriak Hana dengan keras hingga pria berwajah pucat itu mengikat kedua tangan Hana dan menutup mulutnya agar tidak bersuara.