Jang-Whan merasa telah membuang-buang waktu kurang lebih delapan jam bersama Hana setelah ia menahan derita yang tak bisa ia ungkapkan mengenai satu syarat cintanya.
Apa sulitnya mengungkapkan cinta terlebih dahulu? Bagi manusia itu adalah yang mudah, namun bagi seorang Imoogi seperti dirinya itu sangat terlalu sulit sebab merupakan pantangan yang tidak bisa dilanggar. Apabila ia melanggar pantangan tersebut, seketika saja ia akan lenyap dari pemukiman kehidupan manusia, ia akan kembali dalam dunia bangsanya.
Tentu ia tidak mungkin melakukan hal secerobah itu, sebab di lain sisi ia belum menyelesaikan tugasnya dan ia akan di jerat hukum kurang lebih seratus tahun kurungan oleh ketua kaum bangsa mereka. Hal itu merupakan sebuah tradisi yang tak mungkin ia lawan juga.
Keesokan harinya, bau semerbak bunga mawar pemberian Jang-Whan kemarin itu berulang kali Hana cium, sambil tersenyum dan pipinya memerah. Tampaknya ia telah terhujani rasa yang pernah turun padanya, rasa yang sama pada pria yang memiliki paras yang sama. Berulangkali hatinya mengakui bahwa ia seharusnya mengatakan cinta padanya, akan tetapi ia malu dan seharusnya pria yang mirip tunangannya itulah yang mengatakan cinta terlebih dahulu padanya.
Pagi ini Hana seperti kembang yang baru saja mekar, menikmati udara segar yang muncul dari jendela, ia bernyanyi riang mengikuti musik yang ia putar pelan. Ia telah wangi dan rapi, ia telah siap memukau mata Jang-Whan pagi ini. Apabila Jang-Whan nanti datang menjemputnya, ia berharap di dalam perjalanan menuju ke sekolah, pria yang ia taksir itu mengatakan cintanya padanya, dan sangat pasti pria itu tak mungkin menunggu lama sebab Hana akan mengatakan cinta sebaliknya kepadanya.
Jam setengah tujuh, ia mematikan musik, bercermin melihat penampilannya kembali sebelum keluar dari apartementnya. Sudah cukup, bahkan sudah lebih untuk ukuran kreteria wanita pria taksirnya. Begitu imbuhnya dalam hati.
Setelah bercermin, ia keluar dan menutup pintu. Berjalan menuju tangga lift dan akhirnya sampai di lantai dasar apartement. Biasanya, mobil Jang-Whan berwarna putih telah terparkir di depan apartement, namun kali ini tidak ada. Hanya sepasang suami-istri yang menunggu taksi menjemputnya.
Mungkin dalam firasat Hana, kali ini Jang-Whan agak telat, dari itu ia tunggu tanpa menghubunginya. Tetapi setelah lima menit berakhir, wajah yang mulanya bagai kembang yang baru mekar itu menjadi terkatup kembali, setelah tidak ada tanda-tanda Jang-Whan datang.
Sekali lagi ia sedikit kecewa, ia pun berangkat ke sekolah menggunakan taksi.
Ia pun Sampai di sekolah, namun sebelumnya dalam perjalanan menuju sekolah, ribuan tanda tanya menyerang kepalanya, dari bertanya kemana perginya Jang-Whan? Bukankah ia sudah berjanji tidak meninggalkanku? Sampai-sampai ia berpikir bahwa ia telah melakukan hal yang salah ketika kemarin ia jalan bersama dengan Jang-Whan. Tetapi ia tidak tahu itu apa? Pantas saja wajah Jang-Whan tak secerah hari biasanya. Kemarin itu ia seperti memaksa diri untuk tersenyum. Namun mungkin, Jang-Whan mungkin hanya sedang sibuk, dari itu ia tidak bisa menjemputnya. Sesekali pikirnya positiv.
"Selamat pagi Ibu Hana...!" Sapa Ye Jun di belakangnya. Ia pun menoleh ke arah suara, lalu ia membalas sapaan itu.
Sambil berjalan menuju gedung ruang kerja, Ye Jun bercerita sambil menggendong bola, "Selamat ya, Han...kamu mendapat apresiasi dari Kepala Sekolah. Ia baru saja menghubungiku."
"Maksudnya?" Sontak Hana bertanya.
"Kepala Sekolah bilang bahwa ia menyukai semangatmu kali ini, dari penampilan dan caramu mendidik. Ia sangat bangga padamu!" Kata Ye Jun menjelaskan.
"Terimakasih," ucap Hana dengan singkat.
Sebenarnya ia masih menyimpan rasa kecewa terhadap guru-guru disekolahnya, dari guru kimia yang paling bawel, Kepala Sekolah berkepala botak, dan Ye Jun yang telah menganggap ceritanya bodoh dan para guru-guru lain yang tak berperasaan. Namun anggaplah semua itu sebagai peneguh sikap dan karakternya. Ia pun tidak terlalu bangga atas apresiasi singkat oleh Kepala Sekolah itu, meskipun ia sekarang di berhentikan dari sekolah, ia tidak terlalu peduli.
Namun, satu alasan yang masih membuat ia bertahan, ada murid-murid yang telah ia anggap sebagai adiknya sendiri, murid-murid yang sering membantunya menyusun baik alur kehidupan kacau yang selalu datang padanya. Ialah Geng Siput.
Bel jam istirahat telah datang, baru saja ia telah menegur beberapa murid yang ceroboh mengerjakan soal yang membuatnya emosi. Lain dengan waktu saat ia berada di luar jam kelas, ia seperti pahlawan penyelamat yang tak pernah enggan membantu memberikan penecerahan pada murid-murid yang kesulitan mengerjakan tugas-tugas yang di berikan pada mereka. Selagi bisa, mengapa tidak. Kan itu sudah menjadi tugasnya sebagai guru yang berupaya mencerdaskan anak bangsa.
Di meja kantin yang sering Geng Siput tempati, Hana datang tanpa membawa wajah kusam dan cemas seperti biasanya, Hana telah merindukan mereka. Sepatunya mengetuk lantai seakan menjadi tanda bahwa bunyi itu adalah tanda kedatangannya. Anak didiknya pun sudah memahami hal itu, maka dari mereka ada yang riang gembira bagai mendapat kejutan kado ulang tahun saat kelopak mata Hana terlihat menuju mereka.
Itu artinya, mereka bisa lepas menanyakan, bercerita apa pun pada guru mereka, Hana. Bahkan biasanya Hana lebih suka anak didiknya bercerita atau bertanya mengenai dua hal, yaitu pelajaran sekolah dan asmara mereka.
"Asmara adalah satu objek penunjang semangat dalam kehidupan, apabila kalian merasakannya, cepatlah pertahankan" begitu qoutes guru Hana yang telah tersimpan dalam memori mereka.
Lalu Geng Siput sama-sama kaget setelah melihat dari arah selatan datang Ibu Sophia, guru Kimia yang sering kontra dengan Ibu Hana. Sepertinya ia juga menuju kearah mereka, tetapi wajahnya dan penampilannya sedikit berbeda, lebih tepat di katakan sebagai wanita biasa yang sopan ketimbang sebelumnya lebih pantas dikatakan sebagai wanita penghibur malam. Astaga....
Sampainya Hana di meja Geng Siput, ternyata alasan anak didiknya tak terlalu menampilkan wajah senang saat ia datang ialah kedatangan Sophia yang menyapanya dari belakang. Hana menarik nafas panjang, ia membatin soal apa lagi yang ia permasalahkan. Andai saja ia Kepala Sekolah, sudah lama guru Kimia yang sangat bawel ini ia keluarkan. Atau lama-lama ia saja yang mengalah keluar dari sekolah.
"Ibu Han...maafkan aku!" Kata Sophia. Mendadak semua yang mendengar kaget. Kemudian Hana melihat kearah wajahnya, ia meminta untuk mengulangi perkataannya.
"Maafkan aku...." ucapnya kembali.
Hana membatin, jangan-jangan maaf wanita ini memiliki maksud tujuan tertentu. Tetapi lebih baik, ditanyakan saja keterangannya.
"Maaf yang dimaksudkan Ibu Sophia itu apa?" Kata Hana rada menantang.
"Ya, maaf...tidak kurang. Aku hanya ingin meminta maaf pada Ibu Hana, karena selama ini...ya, Ibu sendiri yang menilainya," katanya merasa bersalah. "Jujur saja bahwa selama ini aku telah cemburu pada Ibu Hana karena lebih di perhatikan oleh Ye Jun. Aku menyadari, kali ini aku memang menyadari, bahwa cinta bukan paksaan. Aku telah iklas dan tidak akan mengganggu hubungan kalian lagi, selamanya," lanjutnya.
Ini fakta yang salah, dari mana Sophia mendengar bahwa Hana dan Ye Jun itu memiliki hubungan asmara. Mereka hanya berteman layak seperti padang dan ilalang, tidak lebih.
Hana sangat memahami kondisi hati wanita, maka dari ia biarkan Sophia membuka peluang pada mereka untuk bercerita. Mengeluarkan segala keresahan yang telah menyerang hati dan kepalanya.
Apalagi saat ini penampilannya telah berubah, itu artinya ia memang benar-benar telah ingin merubah dirinya, ke hal yang lebih pantas di sebut sebagai teladan contoh anak didiknya.