Dua minggu berlalu, mereka layaknya sepasang remaja yang saling malu-malu mengungkapkan rasa suka. Dua minggu terakhir ini, setelah kaki mereka berjalan ke tempat yang sama, merasakan keindahan bersama, saling menuduh satu sama lain bahwa tempat yang mereka datangi adalah tempat favorit mereka berdua.
Kebahagian itu layaknya menatap.bulan purnama, bisa saja kamu akan sangat tenang jika merasakan cahaya menyentuh rasa. Waktu terus bergulir, namun Jang-Whan seakan telah lupa pada misinya, ia telah tenggelam dalam kebahagian yang memuncak di hatinya.
Ia pun sempat bertanya-tanya setiap malam sebelum tidur, bahwa ia baru saja sesuatu yang berharga tentang manusia yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Apakah memang cinta itu ada? Seperti apa wujudnya? Dimana letaknya?
Ia ingin mengetahui itu lebih dalam dan lebih spesial lagi keluar dari mulut-mulut yang telah ia cemburui ketika menatap pria selaim dia. Apakah ia benar-benar telah menjadi manusia? Hingga ia sendiri merasakan sesuatu berbeda dengannya.
Saat jauh merindukan segala tentang wanita yang baru saja ia kenal lewat prasangka yang tak terduga, Hana telah menjadi parasit dalam kepala dan hatinya sehingga wajah Hana, senyum segala tentangnya membuatnya kaku dalam setiap pejaman matanya. Entah apa yang terjadi, ia senyum-senyum sendiri saat mengetahui wajah Hana datang dalam bentuk bayangan didalam kepalanya.
Ini bukan suatu kebetulan, menurutnya mereka telah di pertemukan oleh sang Dewa dalam dunia manusia, andai kata ia tidak diberi tugas penting kelangsungan bangsanya ini, maka mereka tidak bertemu.
Rasa yang telah meracuninya berulang kali ini seharusnya disampaikan, meskipun itu lewat hembusan angin atau dalam diam agar tidak menemukan penolakan. Ia masih gugup menyatakan cinta dimana ia sendiri belum memahami lebih dalam apa itu cinta? Baginya cinta adalah titisan kasih sayang dari Dewa yang diturunkan kepada setiap manusia. Hanya sebatas itu yang ia pahami tentang cinta. Selebihnya ia menggambarkan cinta itu saling menjaga seperti di pragakan oleh beberapa drama yang ia lihat di televisi dan media lainnya.
Pagi ini, ia ada janji ketemuan kembali dengan Hana, ke sebuah tempat yang belum ia tahu bagaimana romantisnya tempat itu. Tetapi Hana telah merayunya agar ia menjemputnya di apartementnya. Dan akan membawanya kesebuah tempat yang indah, entah itu ladang, taman atau gurun, ia tidak tahu, sebab Hana hanya mengatakan itu tempat kesenangnnya.
Baginya tempat hanya sebatang perantara, selanjutnya dengan siapa kita pergi ke tempat itu, itulah yang sesungguhnya di nanti-nanti dan diharap. Meskipun pergi kesebuh tempat yang paling kumuh dan menyeramkan asalkan dengan orang yang kita cinta maka semuanya akan tetap tenang dalam keromantisan yang mendalam.
Cinta tak perlu mengetahui mengenai profesi atau latar belakang, ia tak perlu rangkaian-rangkaian yang liku untuk mengetahui statistik seberapa persen kita mencintai. Cinta tak butuh perhitungan, pembagian atau pengkalian. Juga tak butuh kekuatan magis secepat kilat atau berkeyakinan kuno sekaligus. Cinta tak memandang semua itu.
Jang-Whan pun menuju apartement Hana dengan wajah berseri dan sedikit gugup. Ia mempertanyakan keinginannya itu berkali-kali. Apakah hari ini ia harus mengungkapkan cinta pada Hana? Ataukah tidak terlalu cepat bagi wanita yang baru saja kehilangan tunangannya? Ah...lagi pula, wajahnya menyerupai tunangannya, sangat pasti Hana juga akan menyukainya.
Ada satu rahasia yang paling besar yang menurutnya Hana wajib mengetahuinya, tunggu saja waktunya. Mungkin setelah ini, setelah ia memandang kembang-kembang indah di balik tatapan mata Hana. Entah itu dalam perjalanan ke tempat tujuan, atau sesampainya di tempat tujuan. Ia pun gugup mengungkapkan itu.
Sampainya di apartement Hana, tak butuh waktu lama menunggu, Hana pun keluar dengan cantiknya seperti biasa, serba pakaian gelap. Menambah kegetaran di dalam hatinya. Beberapa kali ia menghembuskan nafas, menampar-nampar dirinya di dalam mobil putihnya. Sementara Hana semakin dekat menuju ke arahnya.
Setelah Hana masuk, ia berkata, "Maaf...aku tidak membukakan pintu mobil ini untukmu." Ucapnya gugup. Baginya itu adalah kesalahan pertamanya, yang ia nikmati dalam drama perfilm-an, bahwa seharusnya pria harus membukakan pintu mobilnya untuk seorang wanita yang ia cinta.
"Tidak apa-apa. Ada apa denganmu? Seperti baru saja mendapatkan hadiah besar!" Ucap Hana.
"Hadiah besar?" Katanya dalam hati. Apakah rata-rata kebahagian manusia hanya di ukur dengan materi. Hana tidak pandai membaca wajahnya, ia pun memaklumi itu.
"Tidak apa-apa. Kita berangkat?" Tanyanya.
"Iya," jawab Hana sedikit terheran.
Beberapa mil perjalanan, mereka pun sampai di sebuah pemakaman yang melewati jembatan penyebarangan Mapo. Di jembatan itu merupakan lokasi kecelakaan tunangan Hana, membuat Jang-Whan tertegun dan diam selama dalam perjalanan.
Mereka melewati beberapa makam yang terjejer rapi, tanpa bertanya, akhirnya Hana berhenti pada dua makam yang terjejer rapi, yaitu makam Papa dan Mamanya. Hana memang sengaja membawa Jang-Whan ketempat yang tak ia sangka itu, agar ia tahu bahwa sekarang adalah hari kematian Mamanya, sedangkan kematian Papanya hanya selisih hari dari hari kematian Mamanya hanya saja tahun kematiannya yang berbeda.
Terlihat Hana menahan rindu dan sedihnya, kedua matanya berkaca-kaca di tengah-tengah kedua makam Mama-Papanya. Jang-Whan segera mendekati Hana, ia menenangkannya dari belakang, memberi semangat lembut pada Hana agar ia tidak menyalahkan dirinya terus menerus atas kepergian kedua orang tuanya.
Kemudian Hana memeluk erat Jang-Whan, ia tumpahkan segala rasa salah dan rindunya lewat tetesan air matanya.
Demi menenangkan Hana, Jang-Whan berkata, "Kamu masih memiliki aku disini!" Tetapi ia masih gugup mengungkap hal diluar batas itu pada Hana, mulutnya begitu kaku padahal kata "Aku cinta kamu" telah berada di ujung lidahnya.
Kemudian, Hana menatap mata Jang-Whan penuh dalam membuat ia khawatir Hana akan berkata di laur batas sangkaannya. Mata lembut dan berkaca Hana menjadi sepasang amoba di dalam hatinya, apalagi Hana terlihat menggemaskan ketika wajahnya di genangi kesedihan.
"Jang-Whan," seru Hana sambil menatap matanya, "Apakah kamu ingin berjanji padaku tidak ingin meninggalkanku?" Lanjut Hana, ia berharap penuh Jang-Whan mengatakan sanggup padanya.
Sejenak Jang-Whan terdiam, "Asal kamu ketahui Hana, hari ini aku ingin mengatakan padamu menganai satu rasahia syarat tentangku, bahwa ketika kamu mengatakan cinta padaku maka aku akan selamanya menjadi manusia utuh dan sempurna layaknya kamu. Bahwa aku tidak bisa mengungkapkan cinta padamu meski aku ingin mengungkapkannya. Hana...aku menunggu kamu mengatakan cinta padaku!" Kata Jang-Whan membatin.
"Jang-Whan..." panggil Hana kembali. Lalu ia memberikan senyumannya yang paling indah pada Hana, agar ia tahu bahwa di balik senyumannya itu mengandung unsur mudah meledak yang ia tahan. Dibalik itu juga, senyumannya ingin memberikan bukti pada Hana bahwa ia sanggup menjadi apa pun yang Hana inginkan, terutama kekasihnya.
"Kamu tidak perlu mengatakan itu, aku telah berjanji pada diriku sendiri tidak akan meninggalkanmu."