Setelah tinggi siang setengah kepala, mereka pun sampai di Panti asuhan, mereka di sambut puluhan bocah-bocah kecil dari berbagai etnis yang di asuh di panti itu. Bocah-bocah itu kebanyakan adalah hasil buangan dari orang tua yang tidak bertanggungjawab atas kelahiran mereka.
Yang datang menyambut mereka hanya seperdua persen dari total anak asuh panti tersebut, rata-rata mereka di didik dengan cerdas dan penuh perhatian. Mereka di ajarkan tentang berbagi, bekerjasama, dan memupuk nilai persaudaraan.
Selain itu, mereka diajarkan berbagai ilmu pengetahuan berdasarkan tingkat umur mereka, ada berbagai ruang untuk mereka belajar. Menggambar, bernyanyi, menari merupakan aktivitas pembelajaran mereka.
Tentu Jang-Whan bukan lagi seperti awal pertama ia datang dengan Mama angkatnya setahun lalu, waktu pertama kali ia menginjakkan kakinya di panti asuhan itu, ia beberapa kali emosi karena di permainkan oleh kelompok bocah-bocah nakal di panti asuhan itu. Jang-Whan pun kesulitan memahami karakter bocah-bocah itu hingga mereka enggan dan bahkan ada yang takut kepada Jang-Hwan.
Namun minggu berikutnya, ia mulai disambut ramah oleh satu-dua bocah dengan senyum tulus mereka. Minggu berikutnya, ia mulai memahami karakter para bocah tersebut, dan memahami apa yang harus ia lakukan saat berinteraksi langsung dengan mereka.
Jang-Whan memahami, bocah-bocah di panti ini adalah sama dengan kebanyakannya bocah dalam naungan keluarga mereka, memiliki rasa dan harus diperhatikan layaknya kita datang kepada mereka harus sebagai keluarga bukan sebagai pengunjung yang iba atau malah seperti pengunjung di tempat taman hewan, sekedar melihat dan membuat pengunjung itu senang.
Bahkan, banyak juga imbuh bocah-bocah panti itu yang datang hanya meningkatkan popularitas mereka sebagai publik figur, seperti selebriti yang sengaja membawa media untuk meliput mereka melakukan acara sosial atau bisa di katakan pura-pura peduli saja terhadap mereka.
Ada satu rahasia yang harus kita terapkan di depan mereka, "Apa itu?" Tanya Hana. Jangan pernah menampakkan wajah sedih di depan mereka. Sebab, mereka akan jauh lebih sedih ketika melihat kita sedih. Mereka akan berpikir bahwa kita sedang iba atau mengasihani mereka, hingga mereka berpikir bahwa mereka terlahir sebagai pengganggu saja.
Tampilkan wajah ceria di depan mereka, layaknya kita sedang berjumpa dengan saudara, dengan teman yang selalu kita nanti-nantikan. Yang membuat kita ceria dan mereka tentunya.
Semenjak Jang-Whan menerapkan hal itu di depan mereka, akhirnya bocah-bocah itu terbuka padanya, ada yang minta di ajarkan menari padanya, berhitung, membaca, dan ada juga yang menangis bercerita tentang keluh kesahnya padanya.
Seperti bocah bernama Yu Sen, kira-kira umurnya tujuh tahun. Dialah yang pertama kali menyambut Jang-Whan dengan ramah, setelah esok dan semakin akrab ia dengan Jang-Whan, ia sering menangis di bangku kayu panjang taman panti, ia bercerita pada Jang-Whan menghadap utara agar tak terlihat ia sedang menangis oleh teman-temannya.
Yu Sen mengaduh tentang mimpinya yang sangat membingungkan dan mimpi itu datang dua kali kepadanya. Dalam mimpi itu tergambarkan seorang pria dewasa telah datang mengadopsinya, menyayangi bagai anak kandungnya sendiri meskipun ia memiliki anak kandung yang lain. Namun tetapi, setiap kali ia tersenyum atau bisa dikatakan bahagia, maka pria dewasa yang mengadopsinya itu akan jatuh sakit. Mimpinya berakhir dalam teka-teki yang membuat Jang-Whan sendiri kebingungan menjawabnya.
Yu Sen pun menghampiri mereka, ia bertanya siapa wanita cantik disebelah Jang-Whan yang kini ia anggap sebagai kakak itu.
"Nama kakak, Hana...adik juga sangat cantik!" Ucap Hana sambil tersenyum cerah pada Yu Sen.
"Aku jadi malu...silahkan masuk kak." Bocah itu kemudian menarik tangan Hana dan Jang-Whan, ia berada tepat di tengah-tengah mereka bagai anak mereka berdua.
Tiba di sebuah taman belakang panti, ketika Hana dan Jang-Whan duduk di bangku kayu panjang, mereka melihat Yu Sen meneteskan air mata. Saat ia ditanya, ia hanya berkata tidak apa-apa.
Bocah dan remaja itu tidak jauh berbeda, jika kita datang hanya sekedar bertanya tanpa memperdulikan perasaan, maka mereka akan menutup mulut. Tetapi jika datang bagai seorang dari mereka, dan merasakan hal yang mereka rasakan meski itu pura-pura maka mereka akan terbuka bercerita.
Konsep sederhana itulah yang Hana dapatkan dari warisan Mamanya sebagai pensiunan guru itu, ia pun berkata lembut sambil memeluk Yu Sen,"Kakak juga memiliki kisah. Namun, kakak minta Yu Sen terlebih dahulu bercerita lalu selanjutnya kakak akan bercerita."
"Tidak apa-apa kak...aku saja yang terlalu cengeng. Aku hanya merasa berada diantara Mama dan Papaku sewaktu aku berada di tengah-tengah kakak Hana dan kakak Jang-Whan sambil menggenggam tangan kalian. Aku tidak tahu bagaimana rasanya berada di tengah-tengah orang tua, dari itu aku terharu," ucap Yu Sen sambil mengusap air matanya.
"Adikku sayang...anggap saja kita berdua sebagai orang tua kandungmu!" Jawab Jang-Whan, sambil mengedipkan mata kepada Hana.
"Iya...panggil saja aku Mama dan kakak Jang-Whan itu Papa. Hehehe...." ucap Hana.
Lalu tiba-tiba sebuah bola kasti datang di belakang mereka yang mengarah ke kepala Hana, seketika pula kecepatan bola tersebut bisa ditangkap Jang-Whan hanya dengan satu tangannya. Bocah-bocah yang tak sengaja memukul kearah Hana itu pun akhirnya tepuk tangan setelah melihat Jang-Whan berhasil menangkapnya dengan mudah.
Dan mereka pun diajak bermain kasti bersama. Anak-anak itu mengira jika Jang-Hwan adalah atlet kasti yang sedang bermain di sekitar mereka.
"Kakak, ayo kita main bersama dan ajarkan kami menangkan bola sekeren kakak tadi." teriak salah satu anak laki-laki yang terlihat paling kecil diantara teman-temannya.
Mendengar itu Hana tersenyum dan mendekatinya, "Kamu ingin menjadi pemain kasti?" tanya Hana dengan lembut pada anak itu.
"Tentu, aku ingin terkenal dan hebat seperti kakak itu." tunjuknya pada Jang-Hwan.
Mendengar itu Jang-Hwan tersenyum tipis karena dia merasa lucu dengan tingkah anak kecil itu yang mengiranya atlet kasti paling keren.
"Kamu kenal saya?" tanya Jang-Hwan mendekat kearah Hana dan anak lelaki itu berbicara
"Iya, pasti kakak atlet kasti kan?" timpal teman anak laki-laki itu yang berbadan gendut sangat lucu kelihatannya.
"Kamu yakin dia seorang atlet?" tanya Hana pada anak itu memastikan.
"Yakin, karena dia terlihat cepat saat menangkap bola." jawab anak lelaki itu dengan polosnya.
Mendengar itu Ye Sun dan Hana tertawa melihat wajah Jang-Hwan yang semakin bingung mendengar tebakan anak lekaki itu. Setelah itu Jang-Hwan pun bermain dengan anak-anak itu menuruti permintaan mereka. Jang-Hwan tidak ingin membuat mereka kecewa dengan menolak ajakan mereka, meskipun tebakannya salah tentang Jang-Hwan adalah seorang atlet kasti yang keren. Melihat kedekatan Jang-Hwan dengan anak-anak itu Hana semakin yakin jika Jang-Hwan memang pria baik dan berhati lembut. Bukan hanya padanya, tapi juga orang lain yang belum dia kenal.