Cerita Hana

1006 Kata
Sebelumnya Hana memang telah berjanji akan menceritakan kisahnya pada Jang-Whan, kisah semangat yang telah membawanya ke pintu kesuksesan sebagai guru. Setiba hari minggu, Hana pun menuruti ajakan Jang-Whan ke sebuah pantiasuhan dekat seberang kota yang biasa Jang-Whan kunjungi setiap hari minggu. Perjalanan mereka hanya memakan waktu satu jam saja, jadi kali ini kesempatan Jang-Whan mendengarkan kisah perjungan Hana menggapai impiannya sebagai guru. "Ini terlalu pagi untuk bercerita, nanti saja ya...." kata Hana. "Anggap saja kamu sedang menjelaskan pada muridmu. Jadi, mulailah sekarang!"  "Emm...aku tidak tahu harus memulai ceritanya dari mana!" Kata Hana rada gugup. "Bagaimana jika aku cerita yang lain saja!" Pintanya. "Ya sudah...silahkan!"  Lalu Hana berbicara, "Aku seorang introvert...aku cenderung pasif dalam hal bersosial, aku pendiam dan selalu hanya berdialog dengan pikiranku sendiri. Aku telah merasakan hal itu sejak sekolah dasar dulu...."  Selanjutnya Hana bercerita bagaimana ia sukses menjadi guru karena peran kedua orang tuanya yang saat ini telah meninggalkannya. Papanya meninggal saat ia sekolah menengah, mengalami tekanan darah tinggi hingga mengalami stroke, akhirnya meninggal setelah dirawat di rumah sakit selama satu minggu. Sementara Mamanya meninggal belum cukup lama, Hana juga merasa itu salahnya, semenjak ia diterima bekerja disekolah megah itu, ia sering berangkat pagi dan pulang tengah malam, sekitaran jam sepuluh. Sementara Mamanya yang memiliki penyakit senja, sering pikun dan tidak kuat lagi menahan beban atas dirinya sendiri, ia harus melakuakan aktifitasnya di atas kursi roda. Hari kematian Mamaya masih melekat dalam pikirannya, itu hari pertama ia mendapatkan upah awalnya sebagai guru, lalu ia di kejutkan saat menemui Mamanya meninggal dunia diatas meja makan pada jam sepuluh malam. Ia kira Mamanya hanya tertidur karena menunggunya pulang, tetapi ketika ia membangunkan Mamanya dengan lembut, ia cium kepalanya, dan ia tidak sabar lagi memberitahu Mamanya tentang upah pertamanya menjadi guru, tetapi tubuh renta dan tua Mamanya itu terjatuh diatas kursi rodanya tanpa membuka matanya sama sekali, saat itu ia baru tersadar bahwa Mamanya telah tak bernafas lagi. "Sebenarnya antara Mama dan Papa memiliki kepentingan berbeda, Mama adalah seorang pensiunan guru sementara Papa seorang pensiunan Insinyur. Aku tidak tahu, mengapa Papaku di berhentikan dari pekerjaannya saat aku masih kecil. Aku hanya mendengar ia bercerita pada Mama bahwa ada beberapa rekan kerjanya yang tidak suka padanya, dari saat itu pula ia menjadi pengangguran yang sering mabuk-mabukan. Setiap malam aku sering mendengar Papa dan Mama bertengkar, mereka saling menyalahkan satu sama lain. Papa yang keras, membanting apa pun yang ada didepannya bahkan Papa selama dua hari tidak pulang kerumah karena tidak sengaja memukul Mama dengan keras...." kata Hana tersedu. "Akhirnya karena kebiasaan Papa yang buruk itu, ia mengalami stroke hebat, setengah bagian kirinya mati kaku sama sekali tidak bisa digerakkan. Aku menangis di sebelahnya, sementara Mama menangis di luar ruangan, ia masih marah pada Papa. Aku melihat Papa sulit untuk mengeluarkan sebuah kata, bibirnya telah kaku. Lalu aku memberikannya sebuah kertas dan alat tulis agar ia menulis pesan yang ia sampaikan. Dengan tangan kanannya ia menulis 'maaf' pada Mama. Melihat tulisan Papa itu, aku tambah menangis, aku langsung berlari pada Mama, memberitahunya bahwa tulisan yang ada di kertas ini adalah pesan Papa padanya...." "Akhirnya Mama pun masuk disebelah Papa, ia juga mengatakan maaf pada Papa dan menggenggam tangan Papa dengan erat. Semenit sebelum Papa meninggal, ia menulis pesan di kertas itu kembali, Papa menulis 'Jadikan Hana sebagai Dokter,' Mama pun mengatakan iya pada Papa...." Semenjak kehilangan Papanya, Hana merasa bahwa dunia tidak berlaku adil terhadap kehidupan keluarganya. Selama seminggu ia mengurung diri dalam kegelapan kamarnya, tetapi setelah Mamanya melarikannya kerumah sakit karena demam, mulai saat itu Mamanya menyadari bahwa tugas seorang Dokter tidak pantas untuk pribadi Hana yang introvert, baginya seorang Dokter harus dengan cepat menanggapi pasien yang sakit, jika telat sedikit dan tidak teliti maka pasien akan mati. Maka Mamanya mengarahkan Hana untuk menjadi seorang seniman, sebab seorang introvert seperti dia bagi Mamanya sangat pantas. Mamanya memahami bahwa Hana sering melamun memikirkan segela bentuk terutama yang mengganjal dihatinya. Dengan seni lukis, Mamanya yakin Hana bisa menuangkan imajinasinya kedalam tuas lukisan. Namun Hana menolak, ia katakan dengan lugu dan jujur, bahwa ia mengidolakan Mamanya sebagai pensiunan guru, ia mengaku ingin menjadi seorang guru. Ia mengaku telah memikirkan segala bentuk tanggungjawab dan susah-senangnya menjadi guru.  Akhirnya Mamanya menyetujui keinginan Hana yang di anggap payah itu, lalu Mamanya dengan tekun mengarahkan, mendidik Hana agar ia mampu beradaptasi dengan banyak orang dengan cepat. Dan mengajari Hana beberapa metode ajar yang sering Mamanya gunakan sewaktu menjadi guru. Ibunya mengelompokkan murid berdasarkan karakternya dan seorang guru dituntut bisa membaca atau peka terhadap semua kondisi emosional anak didiknya, semua pengalaman Mamanya selama menjadi guru ia ceritakan pada Hana, hingga Hana semakin yakin ia akan menjadi seorang guru diusianya masih sembilan belas tahun.  Setelah menyelesaikan studinya di perguruan tinggi, ia pun diminta langsung oleh sekolah yang sejak lama ia impikan tempat ia mengajar saat ini. Namun sayangnya, Mamanya tidak bisa mencicipi uang gaji pertamanya sebab Mamanya meninggal dunia diatas kursi rodanya. Melihatnya memakai baju kerjanya saja Mamanya belum sempat melihatnya. Jika teringat akan hal itu, rasanya dunia Hana seakan tidak berbentuk. Kehilangan oranh yang dia sayang, itu sebabnya Hana semakin kacau saat tunangannya juga meninggalkannya dengan cara yang tragis.  "Apakah semua orang yang aku sayang akan meninggalkan ku?" tanya Hana lirih.  Mendengar itu Jang-Hwan mengkerutkan dahinya seakan tidak mengerti apa yang Hana ucapkan. "Apa maksud mu?" Tanya Jang-Hwan. "Mama dan kekasihku meninggalkan aku." jawab Hana tanpa basa-basi. Mendengar itu Jang-Hwan mengerti kesedihan yang di alami oleh Hana, perasaan Jang-Hwan sangat sensitif untuk melihat situasi seperti ini.  "Tidak usah di ingat-ingat, biar tidak membuat mu bersedih lagi. Maaf sudah memaksa mu untuk bercerita." Jang-Hwan merasa bersalah pada Hana.  "Tidak usah minta maaf, lambat laut juga kamu akan tau. Jadi lebih baik aku ceritakan sekarang bukan?" Hana menghela nafasnya panjang "Aku hanya merasa bersalah atas kepergian mereka?" lanjutnya lagi.  "Itu juga bukan salah mu Hana, berhenti mendengerkan ucapan orang-orang yang ingin merusak fikiran mu. Fokus pada diri mu sendiri dan karir mu." tegas Jang-Hwan pada Hana. Itulah kelebihan seorang Imoogi seperti Jang-Hwan, bisa mengetahui apa yang dirasakan oleh orang-orang sekitarnya apa lagi orang yang sudah sangat dekat dengannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN