Hari-hari berikutnya, pria yang selalu memuji kecantikan dan pribadi Hana itu setiap jam enam pagi mengantarnya ke sekolah, dalam perjalanan menuju sekolah, biasanya ia akan bercerita mengenai pengalaman selama hidup di dunia manusia yang tak habis-habisnya. Pertama menginjakkan kaki ke dunia manusia, ia selalu ditertawakan, bahkan di hardik karena memiliki tampilan yang begitu lucu, ia meniru seorang pantonim dengan bedak tebal membalut wajahnya yang membuat ia terkesan saat melihatnya berjalan di tepi kota.
Ia mengira seorang pantonim tersebut adalah pahlawan didunia manusia atau seorang yang saat dihargai oleh manusia lain, tetapi ternyata ia baru memahami bahwa pantonim adalah suatu profesi yang menghibur. Tidak salah jika wajah yang dibaluti bedak tebal itu dilepaskan saat waktu santai, namun baginya tidak, ia tetap menjalani kehidupannya dengan wajah bedak yang tebal ala pantonimnya hingga membuat orang yang melihatnya tertawa kocak.
Dari itu dia bisa menyimpulkan bahwa manusia berbeda dengan mereka, manusia terlalu banyak mempermasalahkan penampilan serta tidak bisa menghargai perbedaan.
Selanjutnya, setelah satu bulan ia menjelma menjadi manusia yang mirip dengan seorang pantonim, kemudian dia melihat di siaran televisi seorang yang paling dihormati, lagi-lagi ia berkeyakinan orang itu dihormati karena penampilannya, seorang pria dewasa lengkap dengan jubah kerajaan serta mahkota yang ada dikepalanya. Ia meniru penampilan itu, lalu tetap saja ia ditertawakan bukan dihormati seperti yang ia lihat di televisi. Dan yang terakhir, hinggalah dia menjelma menjadi seorang pria yang ia intip di televisi berikutnya, yaitu tunangan Hana. Kemudian ia mempelajari kebiasaan manusia, dari alat transaksi bernama uang, baginya uang ini adalah pemicu permasalahan manusia. Ia menemukan beberapa kali orang dengan permasalahan yang sama.
Setelah mengetahui permasalahan itu, ia mencoba mengumpulkan uang untuk ia bagi-bagikan kepada yang membutuhkan, akan tetapi ia baru memahami bahwa uang hanya bisa di dapatkan dengan dua cara, yang baik dan salah.
Yang baik itu harus bekerja, sementara yang salah dengan cara mencuri, merampas atau merampoknya. Setelah ia mencoba mencari uang dengan yang baik, memasuki setiap toko, kantor, pabrik dan berbagai macam yang membutuhkan karyawan, ia heran karena di minta untuk menunjukkan sebuah surat bernama ijazah. Itu adalah syarat bahwa seseorang pernah menempuh sekolah.
Semuanya sudah teratur rapi, tidak ada yang bisa didapatkan dengan mudah di dunia manusia, sedangkan didunia mereka dengan sangat mudah untuk mendapatkan yang kita inginkan.
Ia juga heran, mengapa manusia begitu peduli dengan aturan semua ini, padahal dewa telah menyiapkan semuanya secara gratis.
Selanjutnya, setelah beberapakali keluar masuk tidak ada juga yang menerimanya, akhirnya ia menyimpulkan untuk mendapatkan uang dengan cara yang salah. Ia memiliki kekuatan yang tak sebanding dengan kekuatan manusia, manusia hanya bisa menciptakan agar bisa mendapatkan kekuatan baru. Namun untuknya, ia tinggal melakukan kebaikan maka kekuatannya akan bertambah, bahkan lebih hebat beberapakali lipat dari kekuatan ciptaan manusia.
Namun ia bingung bagaimana cara merampok itu, merebut uang seseorang dari tangannya, lagi pula ia juga tidak tega jika merampas uang kertas bernilai itu untuk ia serahkan pada seorang yang membutuhkan.
Ia tahu dalam sistem gaya hidup manusia, ada kaya, sedang atau pertengahan dan miskin, ini adalah sistem kelas sosial yang membelenggu manusia. Ia melihat yang kaya bisa mendapatkan apa yang ia minta, sedang yang miskin dengan tangisnya mendapatkan apa yang menjadi kebutuhannya.
Lalu ia membuntuti manusia yang disebut miliader itu secara diam-diam, ia penasaran dengan pekerjaannya, mengapa orang kaya tersebut bisa kaya sedangkan orang miskin tidak bisa kaya padahal mereka sama-sama manusia, sepadan memiliki kelengkapan tubuh dan pikiran.
Ia mengikuti seorang wanita yang sukses bernama Diana, yang memiliki apartement seperti yang dimiliki Hana. Wanita itu pada minggu pagi datang kesebuah taman untuk berbagi, seminggu sekali ia datang ke panti asuhan, panti jompo untuk berbagi, ia selalu giat berbagi, padahal tugasnya hanya mencatat, menulis digedung kantor yang tinggi menjulang, tidak beresiko celaka saat bekerja, lain dengan tukang bangunan yang selalu bertaruh dengan ketinggian dan hal-hal berat, tetapi tak memiliki pendapatan yang sama dengan wanita itu.
Hampir sebulan ia membunti wanita itu secara diam-diam, pada pagi ketika ia berangkat kerja, wanita itu tergeletak pingsan selesai menutup pintu apartementnya, kemudian ia membawanya kerumah sakit.
Ia terlalu bingung untuk menghubungi siapa sebagai keluarga setelah ditanya oleh pihak rumah sakit, maka ia sendiri mengakui sebagai keluarga satu-satunya, Diana telah mengidap kanker yang menyerang batang otaknya.
Setelah Diana siuman, Jang-Whan pun menemuinya, bercerita jujur padanya bahwa selama ini dia membuntutinya. Ia juga jujur ingin belajar menjadi orang kaya kepadanya.
Tanpa marah sedikit pun, wanita yang berumur kira-kira enam puluh tahun itu bercerita sepenuhnya pada Jang-Whan, ternyata kunci sukses baginya hanya satu, yaitu berbagi.
Diana pun mengaku sudah tidak memiliki keluarga, ada beberapa cerita yang harus ia sembunyikan mengenai keluarganya.
Pada akhirnya, Jang-Whan ia angkat sebagai saudara juga sebagai anak tunggalnya dan semua kekayaannya diwariskan kepadanya. Dengan catatan, Jang-Whan harus menerapkan apa yang sebelum Diana lakukan, seperti berbagi kepada sesama. Akhirnya Diana yang ia anggap sebagai ibu itu meninggal disebelahnya. Namun, ia tidak pernah bercerita pada Diana bahwa ia seorang Imoogi, melainkan Jang-Whan mengaku dari kampung yang tertinggal yang ditinggalkan orangtuanya.
Selesainya Jang-Hwan bercerita, Hana pun menyentuh tangannya, ia merasa terharu atas kebijaksanaan pria yang baru ia kenal itu. Parasnya memang seperti tunangannya, akan tetapi sifat dan wataknya sama sekali tidak sama. Tunangannya tidak pernah sopan terhadap siapa saja, ia hanya santun ketika dihadapan bosnya.
Selain itu, saat Jang-Hwan tersenyum padanya, ia merasakan ketulusan terpancar didalamnya.
"Terimakasih..." balas Jang-Hwan.
"Kamu juga wanita hebat," ucapnya memuji Hana.
"Aku ini wanita pecundang, yang bermimpi hebat tapi takut untuk bertindak."
"Buktinya kamu sekarang menjadi seorang guru."
"Yah...aku jadi teringat pada ibu dan ayahku yang berkaitan dengan pekerjaanku sekarang."
"Ceritakanlah...." seru Jang-Hwan.
"Lain kali saja ya...hehehe." jawab Hana malu-malu.
Memang Hana san Jang-Hwan sudah terlihat sangat akrab, Hana sudah menerima kehadiran Jang-Hwan dan membuka dirinya. Dia sudah terbuasa dengan keberadaan Jang-Hwan di setiap harinya. Bukan berarti dia menerima kehadiran Jang-Hwan karena wajahnya yang mirip dengan tunangannya itu, melainkan karena ketulusan dan kelembutan yang diberiman Jang-Hwan padanya. Sekeras atau sebatu apapun hati, jika berhadapan dengan kelembutan pasti akan kalah juga. Begitu juga yang dirasakan oleh Hana. Sikap terbuka yang diberikan Jang-Hwan juga membuatnya merasa nyaman, karena Jang-Hwan sangat percaya padanya padahal mereka baru saja kenal satu sama lain.