XXVI

1841 Kata

Matahari lumayan terik menjejakan peluh – peluh keringat di kening Joshua. Siang – siang begini dia rela menjadi bulan – bulanan panasnya udara Jakarta yang hampir setara padang gurun Gobi, bukannya bermaksud menjadi orang Indonesia yang sok kebule – bulean, tapi setelah lima tahun lebih tinggal di Amerika membuat dirinya mesti dari awal lagi belajar beradaptasi dengan cuaca gersang kota tercintanya ini. Tempat parkir yang mirip lapangan gak ke urus dengan batu – batuan plus aspal bolong – bolong ini adalah pilihan terakhir untuk ‘nitip’ Lexus GS hitamnya. Secara kalo di liat dari ramenya cafe – cafe di kawasan ini menjelang jam makan siang agak mustahil buat mengharap kebagian tempat parkir yang lebih manusiawi. Gak bisa toleransi lagi dengan sengatan puanasssnya matahari Joshua memperce

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN