Aruna
Suara adzan subuh berkumandang, Aruna pun sudah bersiap menjalankan ibadah wajibnya. Dia sudah duduk sambil berdzikir setelah menunaikan sholat tahajud.
Setelah terdengar suara iqomah dari masjid, Aruna pun segera menunaikan sholat subuh. Dia menjalankan sholatnya dengan khusyuk.
Hingga ia pun selesai melakoni kewajibannya, lalu ia berdoa pada Allah, agar Allah selalu memberikannya kesabaran dalam menjalani hidup ini. Dia pun tak lupa mengirimkan doa untuk kedua orang tuanya yang telah lama pergi meninggalkannya. Terlebih, ibu kandung Aruna, dia meninggal saat Aruna masih berumur tiga tahun. Ibu Aruna meninggal karena terkena penyakit asam lambung. Begitupun dengan ayahnya, dia meninggal dua tahun lalu karena terkena serangan jantung.
"ARUNA!!!" teriak seorang perempuan dari luar kamar Aruna, Aruna tersentak dan dia pun segera melepas mukenanya, menyimpannya dan memakai hijab yang biasa ia kenakan.
Aruna pun bergegas menghadap pada wanita paruh baya itu, matanya memandang sinis pada Aruna. Aruna hanya menundukkan kepalanya.
Tak berani menatap wajah sinis itu, jika Aruna menatapnya, wanita itu tak segan-segan untuk menamparnya.
"Cepat buatkan makanan untukku dan anak-anakku. Kau hanya benalu disini. Jadi jangan kau bersikap seenaknya hanya untuk berleha-leha. Apa kau mengerti!!" Ucap wanita itu dengan lantang.
"Iya, Bu. Aruna mengerti..." jawab Aruna dengan menunduk.
"Bagus, cepatlah. Jangan banyak tingkah kau Aruna!"
"Iya, Bu.." jawab Aruna lirih.
Wanita itu adalah ibu tiri Aruna. Dia selalu memperlakukan Aruna dengan kejam. Dia memiliki dua orang anak, laki-laki dan perempuan.
Mereka bertiga tidak pernah peduli pada Aruna, mereka selalu memerintah Aruna seenak hati.
Terlebih jika mereka melihat Aruna memiliki uang, mereka dengan berani merebut paksa uangnya.
Aruna hanya bisa bersabar dan menuruti semua perintah mereka. Aruna tak mau, jika rumah yang mereka tempati diambil alih oleh mereka karena rumah itu adalah satu-satunya peninggalan dari kedua orangtuanya.
Aruna bisa saja meninggalkan mereka, namun ia masih memiliki hak untuk mempertahankan apa yang menjadi haknya. Rumah itu memiliki banyak kenangan indah bersama kedua orangtuanya.
Aruna terpekik kaget saat seseorang menjambak hijabnya, Aruna memegang tangan orang itu.
Aruna terkejut, ternyata kakak tirinya yang menjambak ya dengan kejam.
"Bang, sakit bang… tolong lepasin," pinta Aruna meringis sakit.
"Gue bakal lepasin, asal lo kasih duit ke gue."
"Kemarin uang Aruna sudah Abang ambil, Aruna cuma punya buat ongkos berangkat ke warung bu Asnah, bang." Ringis Aruna.
"Alaahhh, banyak alasan lo. Cepat, mana duit lo, kalau lo gak kasih gue duit, gue bakal seret lo keluar sampe nih hijab lo lepas, mau lo!"
Aruna membelalakkan matanya, rasa takut menyelimuti hatinya. Ia tak akan rela melepas hijabnya meski hujan badai menerpa sekalipun. Dosa besar baginya jika ia melepaskan hijabnya, Aruna selalu menutup auratnya sejak kecil. Karena sang ayah selalu mengajarkan hal baik kepadanya, agar ia menjadi wanita solehah kelak.
Zikri --- kakak tiri Aruna menyeringai licik, dia sangat tahu apa yang sedang Aruna pikirkan.
"Bagaimana, Aruna? Lo masih tetap sama pendirian lo?" Zikri menarik rambut---hijab Aruna lebih kuat lagi dan membuat Aruna kembali meringis sakit.
"B-baiklah, bang. Abang tunggu sebentar, Aruna ambil dulu uangnya." Jawab Aruna dengan suara pelan.
Zikri melepas jambakannya, lalu dia tersenyum puas.
"Nah, gitu dong. Susah amat dari tadi kek."
Aruna hanya mengangguk pasrah, ia pun berjalan gontai ke kamar yang mirip gudang itu. Aruna mengocek isi dompetnya.
Hanya ada uang 50 ribuan satu lembar dan uang 2 ribuan tiga lembar.
Aruna memandang uang 50 ribuan itu di tangannya, lalu terkejut saat tiba-tiba tangan Zikri merebutnya.
"Astaghfirullah, bang… bolehkah Aruna memintanya sepuluh ribu? Aruna mau berangkat kerja, bang."
"Gue nggak peduli, Aruna. Gue buru-buru." Jawaban egois Zikri membuat Aruna menghela napas berat, selalu saja seperti itu.
Mereka tak punya hati terhadap dirinya.
Aruna selalu berpikir, dirinya harus kuat, harus sabar dan harus bisa bertahan. Entah sampai kapan Allah akan mengujinya, Aruna akan mencoba ikhlas untuk menjalaninya.
Aruna meraih tas yang sudah kusam, dia tak lupa membenarkan hijab yang sedikit berantakan karena ulah kakak tirinya.
Aruna merasa lapar, namun ia tak boleh makan masakan yang telah ia buat. Aruna hanya boleh makan saat malam, itupun jika ada sisa. Jika tidak ada sisa, Aruna hanya mengganjal perutnya dengan minum air putih sebanyaknya.
Kini Aruna berdiri di trotoar, menunggu angkot langganan yang melaju ke arah tempat ia bekerja, di warung makan milik Bu Asnah. Disana, Aruna bisa memakan sarapan dan juga dia merasa kenyang. Bu Asnah sangat baik padanya, seringkali ia memberikan uang atau makanan tambahan untuk Aruna dirumah.
Aruna, meski usianya baru menginjak 21th, tapi ia benar-benar seorang gadis yang sangat kuat dan sangat lembut. Sikap Aruna sangat sopan, dia gadis yang sangat cantik dan juga Solehah. Hanya saja, nasibnya yang kurang beruntung baginya.
Aruna, gadis malam. Gadis yang selalu taat pada Allah, namun dia selalu saja mendapat perlakuan buruk dari keluarganya --- ibu dan saudara tirinya.
Tak terasa, Aruna sudah berdiri hampir 15 menit. Angkot yang ia tunggu baru saja datang, Aruna menyetopnya dan dia pun naik ke dalam angkot yang sedikit sesak.
"Eh, neng Aruna… mau berangkat ke warung bu Asnah, ya?" Tanya kenek angkot yang sudah paham pada Aruna.
Aruna tersenyum ramah.
"Iya, bang. Kok tumben datangnya telat, bang? Aruna nunggu lama loh, tadi."
"Iya, neng. Tadi ada sedikit kecelakaan di jalan sana, dan yah… jalanan jadi macet, neng."
"Oh begitu, tapi tidak ada korban jiwa kan, bang?" Tanya Aruna penasaran.
"Aman kok, neng. Yang kecelakaan itu mas Anton, dia nabrak mobil yang parkir di pinggir jalan."
"Mobil parkir tapi di tabrak, bang?"
"Iya, neng. Wong mas Antonnya mabuk gitu kok." Jawab kenek angkot membenarkan
"Astagfirullahaladzim.." ucap Aruna sambil menggelengkan kepalanya.
"Wajarlah, neng. Dia kan orang kaya, jadi ya hal itu sah sah aja."
"Enggaklah, bang. Enggak semua orang kaya bertingkah sepeti itu kok." Bela Aruna, karena ya memang faktanya tidak semua orang yang bergelimang harta selalu berlaku seenaknya saja, kan.
"Iya juga sih, neng." Jawab kenek angkot terkekeh.
Tak terasa, angkot yang Aruna tumpangi telah berhenti di depan warung Bu Asnah. Aruna turun dari angkot dan tak lupa membayarnya.
Aruna pun berjalan memasuki warung Bu Asnah, dan langsung menuju dapurnya.
Terlihat bu Asnah sedang sibuk menyiapkan bumbu halus yang akan ia masak dengan berbagai macam sayuran.
"Assalamualaikum, Bu.. maaf, Aruna telat." Ucap Aruna menghampiri Bu Asnah. Aruna pun tak lupa mencium tangan Bu Asnah.
Bagi Aruna, hanya bu Asnah lah yang peduli padanya saat ini.
"Waalaikumsalam.. nggak papa kok, Aruna. Ayo cepat, kamu sarapan dulu. Nanti bantuin ibu kalau sudah selesai sarapan." Jawab bu Asnah dengan tulus.
Aruna pun mengangguk senang, bu Asnah benar-benar sangat baik padanya.
Aruna pun dengan senang, dan tak lupa rasa syukur telah memiliki bos warung yang sangat baik seperti bu Asnah.
Aruna pun langsung mengambil nasi, beserta lauknya. Ia pun memakannya, tanpa lupa membaca doa.
Ia pun merasa jauh lebih baik dari pagi tadi, ia sudah terbiasa melewati hari yang sangat menyulitkan.
Ia sudah terbiasa, jika ia memiliki uang, pasti akan langsung di rampas oleh kakak tirinya, atau ibu tirinya.
Aruna adalah gadis yang sangat baik, saat ia kecil dulu, sang ibu pergi meninggalkannya. Aruna tidak tahu, mengapa sang papa memilih wanita itu untuk menjadi ibu tirinya.
Aruna pun telah selesai memakan sarapannya, ia pun segera membereskan itu.
Lalu, ia mendengar seseorang memesan beberapa bungkus nasi untuk dibawa ke kantornya.
Aruna dapat melihat, jika orang itu memakai mobil mewah.
Beruntung, warung ibu Asnah bukanlah warung makan biasa.
Ia memiliki tempat makan khusus, dan sangat higienis.
Ibu Asnah sangat mengutamakan kualitas, dan pelayanan.
Aruna dapat melihat sekilas, jika orang yang membeli nasi bungkus itu adalah orang kaya.
"Aruna, tolong berikan padanya. Orangnya menunggu di dalam mobil," ujar ibu Asnah pada Aruna.
Aruna pun mengangguk, ia membawa beberapa bungkus nasi dalam plastik kresek yang berukuran lumayan besar.
Lalu, seseorang pun keluar dari dalam mobil.
Orang itu terlihat sangat rapi, dan tampan.
"Astaghfirullah," gumam Aruna lirih, ia benar-benar kacau.
Otaknya mengapa dengan cara tiba-tiba mengatakan hal itu.
"Ini pesanannya, Bang." Aruna menyodorkan kresek itu, dan ia menunduk. Tak berani menatap wajah orang itu.
"Baik, terimakasih." Suara orang itu terdengar berat, sangat lembut.
Aruna yakin, orang itu sangat berwibawa.
Aruna pun kembali pergi dalam warung.
Ia membereskan kembali sisa pekerjaannya.
Hingga tengah hari pun tiba, Aruna meminta izin untuk pergi ke Mushola terdekat.
Tentu saja, ibu Asnah tak melarangnya. Aruna akan menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslimah.
Bersambung...