"VALETAA!"
Rupanya niat baik Valeta pagi-pagi memang harus diragukan, harusnya dari awal Keynan sadar atas kejailan anak itu.
….
Valeta tertawa terbahak-bahak saat masuk ke dalam kamarnya, ia benar-benar puas dengan ulahnya berhasil mengerjain Keynan. Entah bagaimana ekpresi laki-laki itu sekarang, mungkin ia sangat kesal sekarang.
Ting, terdengat suara notif dari handphonenya, ia langsung beranjak mengambil dan mengecek siapa yang mengirim chat pagi-pagi buta.
Pesan dari Nadia: ‘Ta, gimana kondisi lo sekarang, gue denger besok lo mulai masuk sekolah lagi?’
Valeta tersenyum, ia lantas mencoba menelpon Nadia balik. “Nad!”
“Ta, ya ampun gue pikir gue ganggu lo.”
“Enggak kok, gue udah sehat sekarang. Iya besok gue bisa masuk sekolah lagi.”
“Beneran? Gue udah nggak sabar ketemu sama lo lagi Ta!”
“Gue juga kangeen banget sama kalian.”
Tok…tok…tok…, terdengar ketukan pintu dari luar. Valeta yang berada di dalam langsung terganggu dengan ketukan itu. “Udah ya Nad, nyokap gue manggil nih!”
Valeta mendengus, ia langsung membukakan pintu kamarnya. “Aduh apaan sih ganggu aja pagi-pagi!”
Keynan berdehem di depan pintu kamarnya, sontak Valeta kaget dengan kedatanagnnya. “Eh bapak, hehe” Valera cengengesan. “Ada perlu apa ya? Oh iya, saya lupa belum mandi, saya mandi dulu ya!” saat Valeta akan menutup pintunya kembali, kaki Keynan menahannya. Tatapan laki-laki itu sangat tajam.
“Pak Keynan, badan saya bau loh. Masa di depan suami bau sih. Saya man—“ belum sempat meneruskan kalimatnya, tangan Keynan telah membungkamnya dan mendorongnya masuk ke dalam kamar.
Valeta panik saat Keynan menutup pintu kamarnya. Ia terpojok saat Keynan mendorongnya menabrak tembok kamar dengan posisi mulut masih dibungkamnya. Melihat gelagat aneh Keynan dengan senyum smirknya membuat Valeta ketakutan. Langsung saja ia memukul perut Keynan dengan kepalan tangan.
“Aw!” Keynan meringis kesakitan.
Valeta akhirnya terbebas dari kukuhan Keynan, langsung ia menuju ke kamar mandi dan menguncinya.
“VALETA!” teriak kesal Keynan.
“Bapak lupa ya, dilarang masuk kamar saya seenaknya!” seru Valeta dari dalam kamar mandi.
“Saya hanya mau bicara sama kamu, kamu pikir saya mau apa?”
“Kalau mau bicara, tunggu di bawah,” ujarnya lagi
Keynan berdecak kesal, ia pun terpaksa mengalah dengannya. Keynan duduk di kasur Valeta yang masih berantakan. Dilihat seisi kamar yang didominasi warna purple itu, banyak barang yang tergeletak begitu saja di lantai, bahkan ada coklat di atas kasurnya.
“Dasar cewek jorok!” Keynan langsung mengambil dan membuangnya ke tong sampah.
Saat mengedarkan pandangan di sekitar, pandangannya tertuju pada bingkai foto yang terpajang di atas meja belajar Valeta. Keynan pun mengambilnya. Sebuah foto yang menampilkan Valeta dan sosok laki-laki di sebelahnya. Keduanya tersenyum dan terlihat bahagia.
Teringat sosok laki-laki yang pernah ia temui di ruma sakit, yang saat ini tengah koma. Justin—mungkin sosok dalam foto itu adalah Justin, pacar Valeta. Tampaknya Keynan tak menyukai laki-laki itu, tangannya terkepal kesal melihat foto mereka.
***
Kelopak bunga mawar putih itu perlahan jatuh dari tempatnya, satu demi satu terkena hembusan angin dari balik jendela yang terbuka. Di sebelahnya, Justin masih terbaring koma tak sadarkan diri. Sepi—itulah gambaran di sekitarnya. Tak ada seorang pun yang menemaninya, hanya ada sebuket bunga yang setia menemaninya.
Tak berlangsung lama, suara langkah masuk ke dalam. Sosok dengan kaki tingginya menggenggam mawar putih menghampiri Justin yang koma. Dielus wajah Justin yang pucat dengan penuh kelembutan. Ia pegang tangan Justin yang dingin lantas menciumnya.
“Cepatlah sadar Sayang!”
….
“Apa yang kamu berikan di kopi saya tadi?” Valeta seakan diinterogasi oleh Keynan di ruang tamu.
Valeta duduk dengan posisi canggung harus berhadapan dengan Keynan. “Saya nggak naruh apa-apa.” Terlihat kebohongan di wajah Valeta.
“Apa kamu berniat meracuniku?”
“Eh, siapa yang mau meracuni Anda, saya hanya menaruh garam di dalam kopi. Bapak juga nggak mati kok minum kopi buatan saya!” ucapnya ketus.
“Garam ya?” Keynan nyengir.
“I-itu.., saya cuman bercanda kok Pak!” ucapan Valeta dengan raut ketakutannya.
“Kemarilah!” pinta Keynan meminta Valeta mendekat
“Ngapain?”
Jari telunjuk Keynan mengisyaratkan untuk mendekat, terpaksa Valeta menurut. Ia mendekat dengan tertunduk.
Ctak, jemari tangan Keynan mendarat tepat mengenai dahi Valeta keras dan membuat gadis itu berteriak kesakitan.
“Aw sakit tahu!”
“Kamu tahu salahnya di mana?” Keynan berucap lagi, namun kali ini lebih tegas.
Valeta terdiam, ia tahu dirinya salah, tapikan ia cuman bercanda saja. “Iya maaf!”
“Bilang apa barusan?”
“Maafin saya Pak Keynan.”
“Saya nggak dengar, ulangi sekali lagi!” pintanya justru Keynan malah menggodanya.
Valeta mendengus, “Maafin saya pak Keynan yang terHORMAT!“ ucap Valeta sengaja meninggikan kalmat akhirnya.
Keynan tersenyum, tangan kanannya spontan menyentuh pucak kepala Valeta dan menepuknya. Hal itu membuat Valeta tersipu. “Anak baik!” ucapnya mengulas senyum tipis.
Glup, Valeta mengedipkan matanya pelan. Apa yang barusan ia rasakan? Kenapa saat Keynan menyentuh kepalanya, ia merasa nyaman. Usapan tangan tadi mengingatkannya pada kebiasaan Justin yang selalu menyentuh kepalanya bahkan pernah mencium kening Valeta lembut.
“Ya udah, sekarang cepat ganti baju kamu. Mama mau melihat kamu.”
“Mama?” Valeta bingung. “Mama nggak hubungin aku kok.”
“Mama aku,” ralat Justin
“Oh Tante Mira, tumben mau ketemu aku..”
“Udah cepatan ganti baju, aku tunggu 5 menit lagi.”
“Hah, 5 menit? Nggak salah, saya itu masih perlu make up, ganti baju, rapiin rambut terus...”
“Makanya cepatan, 5 menit itu lama.” Justin kembali membungkam mulut manis Valeta yang cerewet itu. “Cepat, aku tunggu di bawah!”
Valeta mengangguk, ia pun segera kembali ke kamarnya untuk berganti baju.
….
“Tuan muda!” panggil Bastian memergoki Keynan melamun di luar.
“Bastian, ada apa?” tanyanya.
“Saya lihat tuan terlihat senang sejak pagi tadi, apa mungkin karena Nona Valera?”
Justin mengelak, “Hey, jangan bercanda. Justru anak itu membuatku kesal pagi tadi, coba kamu pikir dia mengganti gula dengan garam di kopiku. Dasar!”
Bastian terkekeh, “Sama seperti Nona Alishia dulu bukan?”
“Alishia?” mendengar nama Alishia kembali disebut membuatnya murung
Bastian yang mengetahui raut wajah majikannya bersedih serasa tak enak atas apa yang diucapkannya. “Maaf Tuan, saya tidak bermaksud untuk mengingatkan dengan Nona.”
“Jangan sebut nama itu lagi di depanku Bastian. Kenangan tentang Alishia membuatku sakit.”
“Maafkan saya Tuan!”
Beberapa menit kemudian, Valeta muncul dengan setelan dress biru dengan geraian rambut panjangnya sedikit ia curly, tak lupa tas selempang khas anak muda. “Sudah, ayo!”
Keynan mendelik ketika melihat sepatu pantofel yang dipakai Valeta. “Kamu pakai sepatu?”
“Iya, ini lebih nyaman tahu.”
“Saya kan sudah membelikan high heels di kamar kamu.”
“Pak Keynan, saya itu nggak bisa pakai high heels. Udah ah, pake sepatu aja lebih nyaman kalau buat lari-larian.”
“Lari?” Keynan bingung dengan ucapan lugu gadis itu. “Apa kamu berniat mau kabur lagi?”
“Mungkin!” Valeta sudah masuk ke dalam mobil dan tersenyum nyengir pada Keynan.
“Jangan lakukan itu!”
“Iya iya, yaudah cepetan jalan!” perintahnya
“Bastian, saya pergi dulu!”
“Pak Bastian, saya pergi dulu ya!” Valeta pun ikut pamit pada pelayan Keynan itu. “Dadahh!”
Bastian hanya mengangguk sambil menyungging senyum tipis melihat kepergian keduanya dari kejauhan.
Di jalan, Keynan masih mempersoalkan sepatu yang dipakai Valeta. “Lain kali pakai sepatu yang lebih formal, kita mau ketemu mama, bukan untuk jalan-jalan.”
“Ish, dasar pengatur.” Valeta menggerutu kesal.