Di jalan, Keynan masih mempersoalkan sepatu yang dipakai Valeta. “Lain kali pakai sepatu yang lebih formal, kita mau ketemu mama, bukan untuk jalan-jalan.”
“Ish, dasar pengatur.” Valeta menggerutu kesal.
***
Mobil Keynan berbelok ke arah lain, Valeta yang merasa arah yang berbeda langsung menegurnya. “Bukannya tadi harusnya belok kiri, kenapa kita jadi putar arah?” ujarnya.
“Saya nggak mungkin membawamu dengan penampilan seperti ini, kita akan mampir di butik untuk mengganti pakaianmu,” ucap Keynan.
“Ganti? Kenapa, ini tuh baju kesayangan aku. Enggak, aku nggak mau.”
“Valeta, kamu ini istriku, jadi harus turuti ucapan suami kamu.”
Valeta menggerutu dalam hati, apa yang salah dengan pakaiannya sih. Ia rasa semua baik-baik saja. Dres yang dipakai juga tertutup dan rapi. Apa Keynan mempersoalkan sepatu yang dipakainya? Tetap saja hal itu membuat Valeta kesal setengah mati pada laki-laki di sampingnya itu.
Mobil berhenti di salah satu bukit, Keynan keluar dan langsung membukakan pintu Valeta. “Ayo keluar!”
Valeta cemberut, ia terpaksa keluar dengan wajah jengkelnya. Tiba-tiba tarikan tangan dari Keynan mengejutkannya, Keynan menarik cukup kasar dan langsung membawa masuk ke dalam butik langganan mamanya. Kedatangan mereka disambut hangat oleh sang pemilik butik bernama Viola—Viola butik.
“Eh Keynan, apa kabar kamu. Sudah lama tente nggak lihat kamu berkunjung ke butik,” sapa Viola menghampiri mereka.
Viola melirik sosok perempuan di belakang Keynan. “Dia siapa? Pacar kamu ya?” sindir Viola
“Dia istriku Valeta. Bisa tolong rapikan penampilannya. Dan tolong beri sepatu yang cocok untuknya,” pinta Keynan.
“Istri? Oh dia perempuan yang dibicarakan itu. Cantik juga, Tante akan mendandani Valeta seperti keinginan kamu. Ayo Valeta!” panggil Viola ramah menarik tangannya.
Valeta hanya menurut saat dibawa masuk ke dalam untuk memilih dres yang cocok untuknya. Sementara itu, Keynan menunggu di ruang tunggu sambil membaca majalah.
Viola memilih beberapa dres dengan variasi warna yang menarik untuk Valeta, ia pun dituntun untuk memakai satu persatu dres pilihannya. Valeta hanya menuruti keinginan Viola. Gaun lengan pendek menjadi pilihan Valeta, ia juga suka dengan dres yang dikenakan itu. Selanjutnya, Viola membawa Valeta untuk didandani, rambut ia rapikan, dan polesan make up tipis natural menambah kecantikan wajah Valeta yang memang tak perlu banyak polesan make up. Ia sudah manis dengan pipi chubbynya. Terakhir, Viola pun memberikan beberapa jenis sepatu high heels miliknya dan memberikan pada Valeta untuk mencobanya.
Awalnya Valeta enggan menggunakan sepatu itu, jujur ia tak pernah mengenakan sepatu perempuan setinggi itu.
“Apa kamu nggak bisa pakai high heels Valeta?”
Valeta canggung, “belum pernah Tante!” Valeta nyengir.
Viola pun berpikir kembali, sepatu apa yang cocok untuk Valeta. Ia pun membuka simpanan terbarunya. Sepatu high heels yang lumayan pendek, jadi Valera tidak kesulitan memakainya.
“Coba ini!”
Valeta pun mencobanya, dan benar saja. Sepatu itu sangat pas di kaki Valeta yang putih. Warna yang senada dengan bajunya menambah kesempurnaan penampilan Valeta sekarang. Snagat jauh berbeda dengan penampilan sebelumnya. Viola puas dengan hasil kerjanya. Melihat penampilan dirinya di cermin membuat Valeta kaget dengan hasil yang diperolehnya, ia tak menyangka pantulan di depan cermin itu dirinya.
“Kamu cantik sekali Valeta, tidak salah Keynan memilih istri secantik kamu.”
Valeta hanya menyungging senyuman, antara senang dipuji atau tidak, yang jelas ia akui, ia sangat puas dengan penampilannya sekarang—walau ia masih belum terbiasa dengan sepatu yang dikenakannya.
“Pelan-pelan kamu akan terbiasa, jangan gugup!” ucap Viola meyakinkannya.
“Terima kasih Tante,” ucapnya
“Sekarang temui suami kamu, dia pasti akan terkejut dengan penampilan kamu yang sekarang.”
Valeta pun berjalan keluar, menemui Keynan yang tengah menunggunya berjam-jam. Terlihat Keynan begitu sibuk dengan bacaannya sampai tak menyadari kedatangan Valeta.
“Key!” panggilnya lirih.
Keynan pun menutup majalahnya dan langsung mendongak melihat penampilan baru Valeta. Mata Keynan melotot tak berkedip, benar-benar di luar dugaan melihat penampilan Valeta yang begitu anggun dengan dres nya kini. Viola memang jenius sebagai perancang designer dalam mendandani orang.
“Bukankah istrimu sangat cantik Keynan?” suara deheman dari samping membuyarkan lamunan Keynan yang terhipnotis dengan Valeta saat ini. “Tante selalu bisa membuat penampilan seseorang lebih cantik dari aslinya.”
“Cantik!” lirih Keynan tanpa sadar menyebut kata ‘cantik’ di depan Valeta
“Lihat Valeta sayang, suamimu saja mengagumi kecantikan kamu,” ucap Viola
Valeta benar-benar canggung di depan Keynan. Apalagi saat Tante Viola malah mendorong tubuhnya hingga menabrak tubuh Keynan di depannya.
“Kalian ini, sudah jadi suami istri masih saja malu-malu. Key, kamu perlu mengajari istrimu lebih agresif lagi,” bisik Viola dengan sedikit m***m di depannya.
“Tante!”
“Yaudah cepat sana, bukankah hari ini ada pesta di rumah kamu Keynan?”
“Pesta?” Valeta baru tahu kalau ada pesta, Keynan tadi hanya mengatakan acara keluarga biasa bukan pesta.
“Tante yakin, semua akan bertuju pada istrimu yang cantik ini. Sudah cepat kalian berangkat!” Viola mendorong keduanya untuk bergegas pergi.
“Hati-hati di jalan!” tak lupa Viola melambaikan tangan melihat kepergian keduanya.
Keynan pun kembali menyalakan mobilnya menuju ke tempat yang dituju. Selama perjalanan, Valeta masih tak terima soal kebohongan yang dikatakan Keynan kepadanya. “Pesta? Kenapa tadi Anda cuman bilang acara keluarga kalau mama pengen ketemu aku.”
“Mama memang pengen ketemu kamu,” ucap Keynan
“Terus pesta yang barusan tante Viola katakan, Anda nggak bahas soal pesta?”
Keynan mendengus, “Valeta, denger ya. Mulai sekarang beradaptasilah dengan acara formal seperti sekarang, apalagi status kamu sebagai seorang istri saya. Jaga perilaku kamu, mengerti?”
Valeta masih tak mengerti, ia kembali bertanya. “Pesta apa emang?”
“Pesta keluarga besar.”
“Apa mama aku juga akan datang?”
“Tante Olive nggak akan datang.”
“Tapikan mama juga keluarga besar sekarang.”
“Valeta, ini acara keluarga saya. Jadi bertingkahlah lebih dewasa, ingat jangan sampai orang tahu kalau kamu masih sekolah. Untung saja Viola berhasil merubahmu lebih baik dari sebelumnya.”
Benar saja, suasana rumah kediaman Keynan bak istana putri saat ini. semua dirombak menjadi sebuah pesta kebun yang diadakan di belakang rumahnya yang luas. Beberapa pelayan berlalu lalang melewati tamu sambil membawa hidangan. Pertama kali Valeta masuk ke dalam, ia dibuat takjub dengan suasana kediaman rumah Keynan yang begitu besar. Bahkan rumahnya 2 kali lebih besar dari rumahnya.
“Wah, ini rumah kamu Keynan?”
“Rumah mama lebih tepatnya, ayo!” Keynan menggandeng tangan Valeta untuk masuk lebih dalam ke rumah itu.
Banyak sekali tamu dengan pakaian super mewahnya melewati Valeta. Bahkan mungkin beberapa selebritis ternama juga diundang di sana. Valeta terus mengekori kemanapun Keynan pergi. Matanya mengedarkan ke seluruh penjuru ruangan, benar-benar pesta mewah yang selalu ia lihat di drama-drama korea kesukaannya. “Ini sangat hebat!”
Pandangan Valeta langsung tertuju pada makanan yang begitu banyak tersaji berjejeran di meja-meja. Mulai dari makanan berat, dessert, minuman, bahkan buah semua lengkap tersaji di sana.
“Ingat, jangan kemana-mana…”
Kruyuk, suara perut Valeta terdengar cukup keras di telinga Keynan. Ia tahu kalau Valeta kelaparan sekarang. “Baiklah kamu boleh makan di sini, tapi jangan berlebihan.”
Valeta pun senang, ia langsung melepas tangan Keynan dan langsung berlarian menuju meja yang berisikan makanan. Melihat kelakuan Valeta yang kekanak-kanakan membuat Keynan hanya bisa menepuk jidatnya.
“Semoga anak itu tak berulah lagi.”