Chapter 2: Koma

1085 Kata
"Kita sudah terikat. Kamu juga tahu itu." "JUSTINN!!" teriak Valeta setelah ia sadarkan diri di salah satu kamar pasien. "Sayang, kamu baik-baik saja? Mama sangat khawatir sama kamu," ucap Olivia memeluk tubuh anaknya yang baru saja sadar. Setelah kecelakaan yang dialaminya membuat Valeta dan juga Justin langsung dilarikan ke Rumah Sakit untuk mendapat penanganan lebih lanjut—dan beruntung Valeta hanya mengalami benturan kecil di kepalanya. Saat ini Valeta berada di salah satu ruangan yang dikelilingi satu keluarga mulai dari Mama Papanya, keluarga Leon dan termasuk Keynan yang berdiri tak jauh. Namun ia hanya diam tak bersuara. "Mama sangat khawatir sayang waktu Nak Keynan ngasih tahu mama, kamu mengalami kecelakaan. Mama takut kehilangan kamu sayang!" "Keynan?" "Iya, suami kamu yang menemukan mobil kalian dan segera membawa kalian ke Rumah Sakit. " Valetta menatap ke arah Keynan dengan pandangan acuh. "Oh ya Mah, Justin di mana? Dia baik-baik ajakan?" tanya Valeta mulai cemas. "Valeta sayang, kamu baru saja sadar. Jangan terlalu memikirkan orang lain dulu, kamu harus banyak istirahat untuk memulihkan kondisi kamu sayang," ujar Olivia membelai wajah anaknya.   "Tapi aku cuma mau tahu kondisi Justin mah, kami kecelakaan dan—" "Dia baik-baik saja," potong Keynan bersuara. "Benarkah dia baik-baik saja?" Valeta ragu. Keynan hanya mengangguk yakin—namun berbeda situasi dengan yang ditunjukkan Mama dan juga keluarganya yang lain seakan tengah menyembunyikan sesuatu. "Iya, Justin baik-baik saja sayang. Kamu jangan cemas," sahut Olivia tersenyum. ..... Dua hari Valeta dirawat di Rumah sakit dan kini kondisinya juga sudah hampir membaik. Mungkin hanya kakinya saja yang terluka cukup parah dan menyebabkan ia kesulitan menggerakkan kakinya. Setiap hari Keynan selalu datang untuk menjenguknya. Nampak Valetta terlihat sangat bosan dan ingin segera keluar dari rumah sakit segera. "Mau jalan-jalan?" tanya Keynan bersuara. "Nggak usah," ketus Valeta. "Saya bisa menemanimu," ujar Keynan. Valleta menoleh ke arah Keynan. "Kalau begitu, antar saya ke tempat Justin," pinta Valeta. "Kalau itu. Saya menolak!" "Memangnya kenapa kalau saya ingin bertemu dengan Justin. Saya ingin melihat keadaannya." "Valetta!" "Hem!' Keynan mendekat, ia memposisikan bokongnya di tepi ranjang Valeta. "Mulai sekarang, Saya ingin kamu melupakan Justin!"   Valetta sontak saja terkejut dengan permintaan Keynan. "Maksud Anda apa. Melupakan dia? Asal Anda tahu saja, bahkan saya dan Justin sudah lebih lama bertemu, hanya karena status kita sebagai suami istri anda nggak berhak melarang saya," bantah Valeta tak setuju. "Saya tidak peduli. Lupakan dia atau kamu akan menyesal seumur hidup." Valeta mendengus kesal, melupakan Justin. Apa laki-laki ini sudah gila? "Saya menolak, terserah anda mau melarang apapun. Tapi saya akan tetap bertemu dengan Justin sekarang." Valeta mencoba untuk turun dari ranjang dengan sedikit tertatih, kondisinya masih lemas jadi sangat sulit menggerakkan tubuhnya apalagi kondisi kakinya yang kaku. Arghh... Awalnya Keynan tak terlalu memperdulikannya, namun melihat kesulitan yang dialami Valetta membuatnya tak bisa hanya diam saja melihat. Ia langsung menghampiri dan menjadi pegangan untuk Valeta.   "Nggak usah sok baik, lepasin!!" "Kamu ingin bertemu dengan Justin bukan, saya akan antar kamu," raut Keynan sangat sudah ditebak, baru saja ia tak menginjinkannya menemui Justin tapi sekarang?? Mau tak mau Valeta memang memerlukan Keynan untuk membawanya menemui Justin, berusaha sendiri dengan kondisi yang masih lemah justru akan menyulitkannya. Keynan membopong tubuhnya menuju kursi roda yang tak  jauh dari tempatnya berdiri dan memposisikan Valeta nyaman duduk di sana sementara ia menarik di kedua gagang sebagai pegangan. ..... Mereka melewati koridor rumah sakit yang terlihat sedikit sepi hanya beberapa orang berlalu-lalang melewatinya. Valeta terlihat masing asing dengan pemandangan di sekitarnya. Jujur ia paling tidak suka suasana rumah sakit yang khas dengan bau-bau obat yang membuatnya mual, tapi sekarang ia harus membiasakan selama dirawat di sana.   Soal Keynan, Valeta masih sangat canggung saat berdekatan dengannya, memang benar status mereka suami istri tapi  tetap saja mereka baru beberapa hari kenal dan Sekarang status mereka adalah sepasang suami istri, bukankah itu gila? Keynan mendorongnya melewati koridor menuju ke ruang  ICU. Lorong putih panjang yang nampak sepi, Valeta mulai cemas akan sesuatu dibalik kamar di depannya. "Key..."  Valetta menyuruhnya untuk berhenti sejenak, ia memang tak terlalu tahu soal rumah sakit tapi melihat tulisan yang cukup jelas yang mengarahkannya menuju ke ruang ICU membuat Valetta terlihat cemas. "Kenapa kita pergi ke sana?" Valeta nampak ragu. "Kamu ingin menemui Justin bukan?" Keynan meyakinkannya lagi. Kembali Keynan mendorong menuju ruangan bernuansa putih, dua jubah hijau telah mereka kenakan lantas keduanya masuk ke dalam ruangan yang memang hanya dikhususkan untuk satu pasien.   Satu pemandangan yang dilihat saat Valeta masuk ke dalamnya, berbagai macam alat medis terpasang pada tubuh seorang laki-laki yang terbujur koma di atas ranjang dengan Ventilator terpasang di mulutnya. "Justin!"lirih Valetta. Keynan mendorong kursi roda itu mendekati tubuh Justin yang sedang koma. Satu tangan diraih Valetta dengan menggenggam erat pergelangan tangan kanan Justin yang dingin. Air mata Valetta tak terbendung lagi, namun lidahnya kelu untuk berucap. "Justin!" "Dia mengalami koma, setelah kecelakaan yang kalian alami. Beruntung nyawanya bisa selamat," ucap Keynan datar. "Koma?" Hiks...hiks...hiks.... "Justin!" "Hei, jangan menangis! Aku nggak suka pacarku menangis, mengerti!" ucapan yang keluar dari mulut Justin setiap kali Valetta menangis di hadapannya, ia akan menghapus air matanya, mendekapnya, dan mungkin akan membuat satu lelucon kecil untuk membuat Valetta tersenyum. Namun sekarang, kondisinya berbeda. Laki-laki yang selalu melakukan semua itu kini terbujur koma di hadapannya--dan mungkin saja hanya alat yang menempel di tubuhnya adalah penyokong kehidupannya kali ini. "Justiinn!" isak tangis Valetta sembari menggenggam erat tangan dingin Justin. Keynan memilih mundur beberapa langkah dan memberi waktu Valetta bersama Justin. Melihatnya yang sekarang dengan isak tangis mengingatkan akan dirinya yang dulu saat kehilangan Alishia, kekasihnya—hanya saja sekarang kondisinya berbeda, Valetta masih memiliki kesempatan, sementara dirinya tidak. ***  Next Chapter : "Valeta... Saya harus pergi sebentar, akan kusuruh orang menjaga di luar," ujar Keynan.   Tak ada jawaban dari Valetta, ia masih membisu dan tak terlalu mempedulikan kepergian Keynan. Keynan mengambil jas yang tersampir di dekat sofa pantas berjalan keluar ke arah pintu.Saat ia memutar knop pintu Valetta yang masih di dalam bersuara. "Kenapa nggak pergi aja sekalian, dan jangan pernah kembali lagi." Suara telak Valeta yang menohok membuat Keynan menghentikan langkahnya sejenak sebelum ia membalikkan tubuhnya kembali. "Karena kamu adalah tanggung jawab saya, jadi saya nggak bisa pergi begitu saja meninggalkanmu," balas Keynan dengan wajah datar. Sontak suara gelak tawa kecil terdengar dari balik wajah Valetta yang seakan meremehkan. "Tanggung jawab? Anda berlagak sok mengatur semua kehidupan saya dengan mengambil kebahagian saya, apa itu yang namanya tanggung jawab?" ketus Valeta.   "Istirahatlah... Tiga jam lagi saya akan kembali," pinta Keynan membuka pintu dan keluar. Ckk...Valetta berdecak kesal, ia menatap geram laki-laki di depannya yang telah merebut segalanya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN