Satu minggu kemudian
"Baik, saya mengerti!" ucap Keynan mengakhiri pembicaraannya di telepon.
Saat ini ia masih berada di rumah sakit lebih tepatnya di ruang rawat Valeta yang masih harus banyak istirahat untuk memulihkan kondisi.
Dan yang menelpon tadi adalah client sekaligus rekan kerjanya di perusahaan—karena selama ia menemani Valeta di rumah sakit, ia menugaskan orang kepercayaannya mengurus semua yang berhubungan dengan pekerjaannya. Namun kali ini sepertinya ada situasi mendesak yang mengharuskannya pergi ke kantor untuk menyelesaikan sendiri.
Keynan berjalan mendekati Valetta yang masih bersandar di kasur nya dengan posisi meringkuk ke samping.
"Valeta... Aku harus pergi sebentar, akan kusuruh orang menjaga di luar," ujar Keynan.
Tak ada jawaban dari Valeta, ia masih membisu dan tak terlalu mempedulikan kepergian Keynan.
Keynan mengambil jas yang tersampir di dekat sofa pantas berjalan keluar ke arah pintu.Saat ia memutar knop pintu Valeta yang masih di dalam bersuara.
" Kenapa nggak pergi aja sekalian, dan jangan pernah kembali lagi."
Suara telak Valetta yang menohok membuat Keynan menghentikan langkahnya sejenak sebelum ia membalikkan tubuhnya kembali.
"Karena kamu adalah tanggung jawabku, jadi aku nggak bisa pergi begitu saja meninggalkanmu," balas Keynan dengan wajah datar.
Sontak suara gelak tawa kecil terdengar dari balik wajah Valeta yang seakan meremehkan.
"Tanggung jawab? Anda berlagak sok mengatur semua kehidupan saya dengan mengambil kebahagian saya, apa itu yang namanya tanggung jawab?" ketus Valeta.
"Istirahatlah... Tiga jam lagi aku akan kembali," pinta Keynan membuka pintu dan keluar.
Ckk...Valeta berdecak kesal, ia menatap geram laki-laki di depannya yang telah merebut segalanya.
Tuan Keynan akan kubuat anda merasakan sakit yang tak pernah anda bayangkan selama ini. batin Valeta meremas kedua tangannya.
.....
Keynan masuk ke dalam mobil jaguar hitam miliknya, sengaja ia melempar asal jas di kursi samping tempatnya mengemudi. Jam menunjukkan pukul 14.25 WIB, ada rapat penting yang harus ia pimpin di perusahaan hari ini. Bergegas ia melajukan mobil menuju perusaahaan WG Group, tempat yang dipimpinnya.
Di sisi lain, Keynan telah menyuruh dua orang bodyguard berjaga di depan kamar Valetta untuk memantaunya selama ia pergi.
***
Sementara itu Valeta hanya bisa duduk di ranjang rumah sakit merasa bosan. Kondisinya sudah hampir membaik, tapi Keynan melarangnya untuk pulang. Yang ia lakukan sekarang selain bermain ponsel adalah membaca buku.
Beruntung ada banyak buku yang memang sengaja dibawa Keynan selama menemaninya di rumah sakit.
"Bisnis... Keuangan... Apa nggak ada bacaan menarik apa? " gerutunya kesal.
Saat Valeta membuka salah satu buku, sebuah benda berbentuk persegi jatuh dari selipan yang sengaja ditaruh di antara bab buku itu.
"Siapa perempuan ini? "
Valeta penasaran, saat ia membalikkan foto di belakangnya, ada ucapan yang ditulis di belakangnya.
"Happy birthday Alishia! "
"Alishia?! Siapa dia?"
Valetta memincingkan mata penasaran, siapa sosok perempuan berambut panjang yang ada di foto ini, mungkinkah?
"Apa ini pacarnya?"
***
Di perusahaan WG Group.
"Ini berkas yang harus ditandatangani tuan, lusa depan ada kunjungan ke Singapura selama tiga hari," ujar salah satu asisten dengan setelan jas hitam formal.
Keynan yang tengah menandatangani berkas di meja, nampak terkejut.
"Singapura? "
"Maaf sebelumnya Tuan, saya baru bisa memberitahu perihal kunjungan di sana, saya sudah menyiapkan tiket penerbangan dan hotel—"
"Kamu memutuskan sendiri tanpa persetujuan dariku Bastian! " Keynan nampak marah.
"Maaf tuan, saya sudah ingin membicarakan tentang ini, tapi tuan jarang ke kantor. " Bastian tertunduk takut.
Keynan menghela napas.
"Kamu juga tahu alasan aku tidak datang bukan. " Keynan tampak kelelahan sembari memijat pelipisnya yag pusing.
"Saya tahu Tuan. "
Keynan menyandarkan tubuhnya ke belakang kursi kebanggannya dengan wajah pucat.
"Tuan baik-baik saja, apa perlu saya telepon dokter Jovan kesini?"
"Tidak perlu, aku baik-baik saja. Keluarlah Bastian, aku ingin sendiri sekarang! " perintahnya yang langsung mendapat anggukan dari Bastian.
Keynan terdiam menatap langit-langit ruang kerjanya, putih sam seperti hatinya yang kosong dan hampa. Remang-remang ia kembali mengingat masa lalunya.
"Key sayang, aku sudah bilang. Jangan terlalu memaksakan pekerjaan kamu, jadi demam kan? " ujar Alishia menyiapkan obat demam dan juga segelas air putih untuknya.
"Sebentar lagi ada proyek besar sayang, aku harus bisa menyelesaikan sebelum akhir bulan. "
"Enggak, kondisi kamu jauh lebih penting. Apa kata mereka kalau Direktur utama mereka sakit."
"Iya... Iyaa... Aku selalu kalah kalau berdebat sama kamu. "
"Aku kan pandai berdebat. "
Senyuman Alishia selalu menjadi hal yang tak pernah Keynan lupakan bahkan untuk saat ini. Ia merindukan suara gadis itu, sangat rindu, ia juga merindukan kehadirannya atau sekedar melepas penat dengan pekerjaannya sekarang.
Alishia, sosok gadis yang tak pernah ia lupakan bahkan untuk saat ini. Kehilangannya membuat dunia Keynan terasa hampa. Rapuh dan lemah.
"ALISHIA!!! "
Tanpa sadar Keynan memanggil nama Alishia saat ia mulai bermimpi. Sosok Alishia datang dan tersenyum padanya.
Keynan sadar, semua hanya mimpi. Tak ada yang nyata, Alishia mana mungkin kembali lagi, itu kenyataannya.
Keynan menyadari satu hal, saat ia mendongak melihat jam bertengger di dinding yang menunjukkan pukul 18.00 malam.
"Astagah!!. Aku ketiduran selama itu? " bergegas Keynan mengambil jasnya dan keluar dari kantor menuju ke rumah sakit.
"Tiga jam lagi aku kembali."
Kalimat itu terus berputar di otaknya, ia sudah berjanji untuk kembali dalam tiga jam yang akan datang —dan ini sudah lebih dari tiga jam. Selama hidup Keynan, setiap apa yang diucapkan adalah mutlak, satu kesalahan seperti terlambat sangat tak disukainya. Ia tipe laki-laki yang memegang janjinya.
Perjalanan yang menempuh hampir setengah jam ia lalui dengan mengendarai mobilnya sendiri menuju ke rumah sakit.
Dan untungnya lalu lintas hari ini tidak padat seperti biasanya, jadi ia bisa ngebut di jalan untuk segera sampai ke rumah sakit. Bukan apa-apa, tapi ia sudah berjanji untuk datang dan ia juga sudah berjanji sebagai seorang suami yang tanggung jawab.
Brakk...
Pintu terbuka cukup lebar, menampilkan sosok laki-laki dengan pakaian yang sama menerobos masuk dengan kasar.
"Keynan? "
Keynan dapat bernapas lega saat tahu Valeta baik-baik saja. Bodyguardnya memang bisa diandalkan.
"Saya pikir tidak datang. Padahal saya udah seneng anda tidak datang, " cerucus Valeta acuh.
Keynan berjalan mendekat, ia melihat banyak bungkus roti dan beberapa parsel buah di sana.
"Buah dari siapa ini? " tanyanya ketus.
"Teman. "
"Mereka tadi datang? "
"Yaiyalah... Pake nanya lagi. "
Keynan mulai mendekat ke ranjang Valetta yang bersikap acuh adanya. Mungkin marah.
"Maaf. "
"Aku terlambat."
Kata itu cukup mengejutkan Valeta. Bagaimana tidak—seorang Keynan yang terkenal dingin ini meminta maaf.