Semangat untuk Bangkit

1242 Kata
Dinda dan Ryan duduk di ruang tamu dengan jarak yang cukup membuat orang lain berpikir, bahwa mereka berdua sedang bertengkar satu sama lain. Duduk di sudut-sudut sofa dengan sisi yang berbeda, membuat muda-mudi itu tampak seperti sepasang suami-istri yang sedang meributkan uang belanja. Sesekali, Kak Salwa dan Kak Mayang lewat ke dapur sambil menyembunyikan tawa, tak tahan melihat tingkah lucu Ryan dan Dinda yang kelihatan saling sungkan satu sama lain. Dinda sudah saling tegur sapa dengan para penghuni kos sejak sore tadi. Kak Salwa, sosok manis asal Kota Tegal itu adalah seorang guru PAUD yang menyambi mengajar les privat hingga sore. Gadis dua puluh dua tahun itu merupakan lulusan sarjana pendidikan dan sedang mengikuti program pasca sarjana tahun ini. Kak Salwa kini menjadi sosok yang amat Dinda kagumi. Gadis berhijab itu sudah merantau ke Jakarta sejak lulus SMA, kuliah sambil mengajar les, sudah ditekuninya hingga berhasil lulus sarjana dan mendapat predikat c*m Laude. Sementara Kak Mayang, adalah seorang pegawai swasta di salah satu kantor pendanaan. Mendengar cerita Kak Mayang yang bergaji besar dan sudah berhasil memberangkatkan umroh kedua orang tuanya di kampung, membuat Dinda sangat takjub dan ingin bisa menjadi wanita hebat sepertinya. Berbagai pengalaman yang Dinda dapat dari dua sosok itu, membuat suasana hati Dinda menjadi lebih rileks. Semangat Dinda kembali membara, setelah sebelumnya sempat redup dihantam kenyataan yang membuat mimpi-mimpi besarnya sempat terenggut. Kini, Dinda sudah mulai membulatkan tekad, bahwa ia harus terus berjalan meski tak ada satu pun yang mendukungnya di belakang. Kehilangan tempat tinggal juga kasih sayang orang tua, membuat Dinda berpikir bahwa hidup adalah sebuah perjuangan. Berjuang untuk sukses, berjuang untuk bahagia, adalah satu-satunya cara untuk menghargai diri sendiri. Jika ia hidup untuk orang lain, kelemahan akan sangat mudah menghancurkannya. Apalagi saat orang yang dijadikan panutan tak lagi memedulikan. Mungkin dengan kondisi yang seperti ini, Dinda sudah terjerumus ke dalam hal yang buruk dan melewati batas norma. Namun, Dinda tidak ingin menjadi seorang pecundang. Hidupnya adalah untuknya, bukan untuk siapa-siapa. "Kamu ikut program di universitas ini juga?" tanya Dinda disela keheningan. Setelah bolak-balik membaca brosur yang Ryan beri, semangat Dinda makin bersemi. Obsesinya untuk meraih beasiswa jalur prestasi, membuat gadis itu melupakan sedikit keresahannya akan kegagalan. "Aku pasti ikut, biar kita bisa kuliah bareng," jawab Ryan seraya menutup mulut. "Kuliah bareng?" Dinda menghujani Ryan dengan tatapan tak percaya. "Eem, maksudku ... kita bisa berjuang bareng buat dapetin ini," timpal Ryan sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Sejenak, ada setetes keraguan yang membasahi hati gadis bermata bulat itu. Dinda merasa, berjuang tanpa dukungan itu sama halnya dengan menaiki sampan tanpa dayung, menelusuri hutan tanpa cahaya, berjalan di gurun Sahara tanpa kompas. Entah berhasil sampai ke tujuan atau tidak, tetapi tersesat itu pasti. Dilema itulah yang selalu menghantui pikiran Dinda selama ini. "Kenapa kamu mau ikut program kuliah gratis? Toh, kamu bisa kuliah di universitas mana pun yang kamu mau," ujar Dinda dengan tatapan lekat ke sosok tinggi di depannya. Pertanyaan yang keluar dari mulut Dinda, sontak membuat pemuda berkaus biru itu tersentak. Ucapan gadis itu memang benar, untuk apa ia repot-repot mengikuti program beasiswa. Toh, orang tuanya cukup mampu untuk membiayai pendidikan meski sampai ke luar negeri sekali pun. Akan tetapi, ada hal yang tak ingin pemuda itu bahas pada Dinda. Bukan karena ia tak percaya. Hanya saja, merasa iri dengan sang kakak adalah hal yang paling kekanak-kanakan menurutnya. Ryan Mahesa yang merupakan putra bungsu di keluarga Tantowi Mahesa, begitu benci saat dirinya selalu dibanding-bandingkan dengan sang kakak. Baik dalam hal prestasi di bidang akademik, maupun sifat dan perilaku mereka yang amat kontras. Reza selalu mendapat peringkat pertama dan ahli dalam bidang sains. Oleh sebab itu, ia bisa masuk fakultas kedokteran di universitas ternama di Kota Jakarta. Kini, Ryan menjadi tak mau kalah. Ia harus berhasil mendapatkan beasiswa itu sebagai bukti bahwa ia pun mampu menjadi kebanggaan orang tuanya seperti sang kakak. "Hey. Kok, bengong?" Suara Dinda berhasil menghentikan lamunan Ryan. Secarik senyum ia labuhkan, sembari mengingat-ingat tentang apa percakapan terakhir mereka. "Oh iya. Aku hanya sedang ... men-challange diri sendiri," ucap pemuda itu dengan intonasi merendah. Dinda mengangguk mendengar jawaban dari lawan bicaranya itu. Namun, matanya tetap serius menatap ke selembar kertas yang ada di tangan. Sontak, bola mata penuh daya tarik itu seperti tak mau lepas memandang wajah cantik Dinda. Bukan hanya sekadar cantik, tetapi menurutnya ... Dinda itu berbeda. Di saat cewek lain begitu terang-terangan mengejarnya, Dinda justru menjauh. Hal itu sudah Ryan rasakan sejak gadis itu selalu menghindar tiap kali mereka berpapasan di sekolah. Entahlah. Sejak ia menyadari sikap Dinda yang selalu menghindar ketika berjumpa, Ryan menjadi merasa bersalah dan ingin sekali mengubah wajah agar Dinda tak perlu pergi jika dirinya hadir. "Din. Andai saja aku bisa berubah menjadi Pak Slamet yang selalu kau sapa setiap pagi, atau bisa bertukar peran dengan Mang Udin tukang somay yang selalu kau hampiri ketika jam istirahat. Aku mungkin akan lebih senang karena tak perlu menjadi seorang Ryan yang selalu membuatmu menghindar," ucap Ryan kala itu. Namun, jarak itu terpangkas dengan sendirinya, meski harus dibayar dengan kepiluan yang Dinda rasakan. Bukan karena Ryan senang dengan nasib buruk yang gadis itu alami. Ia hanya bersyukur sudah diberi kesempatan untuk membantunya, plus menjaganya karena tempat tinggal mereka sudah tak lagi berjarak. "Tapi aku bingung harus bagi waktu," ucap Dinda, membuat lamunan pemuda itu berakhir "Bagi waktu untuk apa?" "Bekerja. Aku harus bekerja paruh waktu secepatnya." Ucapan Dinda sontak membuat pemuda bermanik hitam itu sontak berdiri. "Gak bisa!" refleks Ryan mengeluarkan kata-kata itu dengan nada tinggi. "Loh. Kenapa enggak? Aku butuh uang untuk makan dan bayar kos, Ryan." Dinda menghela napas panjang. Ia tak habis pikir bahwa pemuda di depannya akan memasang wajah semarah itu. “Benar juga. Dinda sudah tak ada lagi yang membiayai. Ia harus berjuang sendiri untuk hidupnya. Entah apa yang tiba-tiba merasuki pikiranku hingga bersikap kasar seperti ini.” Ryan beralih mengutuk dirinya sendiri. "Ma-maaf. Aku ... refleks tadi." Ryan kembali menaruh badan di sofa. Gugup. Ia tak ingin sosok di depannya berpikiran macam-macam. "Aku mau ngelamar kerja di restoran cepat saji besok. Mereka menerima pelajar yang masih sekolah untuk bekerja paruh waktu. Aku bisa bekerja di sana setelah pulang sekolah," ujar Dinda. "Tapi di sini tidak boleh keluar sampai larut malam, Din. Sudah aku bilang, kan?" Ryan kembali memperingatkan. Mendengar ucapan Ryan, Dinda sontak merebahkan bahu ke sandaran bangku, menarik napas panjang, lalu membuangnya perlahan. Ryan benar, di indekos ini tidak boleh penghuninya pulang malam lewat dari jam sembilan. Sementara jadwal kerja yang Dinda tahu, antara jam dua siang sampai jam sepuluh malam. Itu berarti ia baru sampai sekitar jam sebelas, karena jarak tempat kerja yang cukup jauh dengan indekos. "Biar Dinda kerja denganku saja." Tiba-tiba ... sosok tinggi yang Dinda temui sore tadi, muncul dan langsung memotong pembicaraan. "Kak Reza? Ngapain ke sini?" Ryan berdiri, menatap tajam ke wajah sang kakak. Bukannya menjawab pertanyaan Ryan. Reza justru mendekat ke arah Dinda tanpa memedulikan sang adik yang tengah menghujaninya dengan tatapan kesal. "Ibu bilang kamu gadis yang pintar. Dan kebetulan, apotek punya temanku sedang butuh kasir, nanti saya ajak kamu ke sana besok. Tenang saja, di sana tutup cuma sampai jam delapan. Masalah jam kerja, nanti bisa saya koordinasikan dengan beliau. " Reza menatap wajah Dinda begitu lekat. Mendengar ucapan Kak Reza, mata Dinda sontak berbinar-binar. Sesuatu yang pemuda itu tawarkan sungguh sangat solutif. Dinda jadi bisa bekerja paruh waktu tanpa perlu khawatir pulang larut. Dinda, langsung saja mengiyakan tawaran Reza tanpa bertanya. Sementara Ryan, tampak mengepalkan tangannya kuat-kuat lalu pergi membawa hatinya yang teriris berkeping-keping.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN