Insecure

1223 Kata
Di dalam sel tahanan yang penuh kotoran dan debu, Harto meringkuk di sudut dinding dengan hiasan coretan tinta di permukaannya. Remuk dan bisu. Gelap dan pengap. Tak ada kalimat terpedih selain merasakan hukuman dunia seorang diri. Pria itu belum terlelap, hanya membenamkan wajahnya di antara dua paha sembari menahan sesak. Sekelumit kekhawatiran mulai merasuki benak pria berusia empat puluh dua tahun tersebut. Bukan, bukan ia sedang meratapi nasibnya sendiri, tetapi ini tentang hidup sang putri yang harus menjadi korban atas kesalahan yang tidak sengaja dibuat. Ingin rasanya lelaki itu kabur dari sel, pulang menemui sang anak dan membawanya pergi jauh dari kota ini. Namun, ketidakberdayaan membuat Harto mengutuk diri sendiri. Andai saja tidak pernah ada pertemuan antara dirinya dan Jemy waktu itu, mungkin lembapnya sel tahanan tak akan pernah ia tahu. Sungguh, sesal itu memang selalu muncul di akhir. Meski Harto terus berusaha membela diri. Tapi pada kenyataannya, barang sialan itu memang ada padanya saat polisi melakukan penggeledahan. Sialnya lagi, Jemy belum tertangkap. Polisi masih menetapkan Harto sebagai tersangka tunggal atas pengedaran barang haram tersebut. Sungguh, lelaki itu belum sama sekali terlibat, ini semua sangat tidak adil baginya. Suara rantai besi saling beradu saat seseorang memutar kunci, sontak membuat Harto yang tengah menunduk, sontak mendongakkan wajah. Matanya masih berusaha keras memicing, mencoba beradaptasi dengan silaunya cahaya lampu dari luar jendela. "Keluar kamu! Ada orang yang ingin bertemu," seru seorang petugas bertubuh tegap, dan Harto pun langsung beranjak mengekor di belakangnya. Rita, hanya nama itu yang diterkanya. Sebab, wanita itulah yang bersemangat sekali untuk datang ke tempat tersebut. Bukan lantaran ingin menjenguk, tetapi untuk menambah racun yang sudah melumpuhkan semangat hidup Harto yang sudah hancur dengan ambang-ambang perceraian. Sesampainya di ruang tunggu, mata Harto sedikit mengedar, mencari di mana sosok yang kata seorang sipir ingin menemuinya. Apakah Rita, atau Dinda. Namun, ia semakin ragu karena tak ada satu pun wanita di tempat itu. "Bang. Apa kabar?" sapa seorang lelaki dari arah belakang. Suara tak asing itu membuat Harto menoleh cepat, dan langsung terbelalak saat mendapati sosok lelaki di di belakangnya. "Kau!" Mata Harto melotot tajam. Ada luapan emosi saat pupil hitamnya menangkap sosok lelaki berjaket loreng dengan kaca mata hitam di kepala. Kebisuan sempat membungkam keduanya, sampai kepalan tangan Harto tiba-tiba menghantam wajah lelaki itu, dan keributan di dalam tahanan pun tak terelakkan. *** "Assalamualaikum!" Dinda sedang merapikan barang-barangnya saat seorang wanita berkerudung coklat masuk ke kamar yang sengaja tidak dikunci. "Waalaikumsalam. Bu!" Dinda beranjak dan langsung menggamit tangan wanita itu, menyalami. Keduanya lalu duduk di atas tempat tidur berukuran 120x200 CM, dengan alas kasur kapuk khas tempat tidur lawas. Dinda langsung menerka bahwa wanita berparas cantik itu adalah ibu Ryan. Bentuk wajah oval, juga tubuh yang tinggi semampai, begitu persis dengan sang anak bagai pinang dibelah dua. Entah bagaimana bisa Ryan dan kakaknya, memiliki wajah yang amat serupa dengan sang ibu. "Kamu masih beres-beres? Kenapa gak minta bantuan sama Mbak Mira saja?" ucap wanita berkerudung sembari menilik ke arah tumpukan figura, yang masih tersusun rapi di dalam kardus di atas lantai. "Gak apa-apa, Bu. Sebentar lagi juga selesai. Oh iya, masalah pembayaran ...." Belum juga Dinda menyudahi kalimatnya, Wanita berkerudung sudah memangkas lebih dulu. "Udah, kamu gak usah mikirin itu dulu! Ryan udah ngomong sama ibu," ucapnya. Dinda langsung tertunduk, tak berani atau segan untuk melanjutkan bicara. Entah harus dengan apa lagi ia berterima kasih pada Ryan dan keluarganya. Dinda merasa sangat beruntung. Sudah mendapat tempat tinggal, diberi keringanan biaya sewa pula. Meski bersyukur, tetapi gadis itu sempat merasa insecure. Sadar jika dirinya bukanlah orang yang tepat untuk bisa mendapatkan hati pemuda tampan dan baik seperti Ryan. Diterima di tempat ini saja sudah menjadi suatu keberuntungan baginya. Dinda tak ingin berharap lebih, sebab sadar ia bukanlah siapa-siapa. "Nama saya Maya. Anak-anak kos di sini biasa panggil saya Bu May," ucap Bu Maya dengan ekor mata tampak menjelajah ke setiap sudut kamar. "Baik, Bu. Saya Dinda, teman sekolah Ryan." Dinda pun turut memperkenalkan diri. "Kamu sering ikut perlombaan sains?" Tangan Bu May langsung mengulur ke sebuah kardus bekas mi instan yang Dinda letakkan di samping tempat tidur. "Ibu lihat, boleh?" pinta wanita berkacamata itu lagi. "Bo-boleh, Bu. Silakan!" Dinda mempersilahkan meski agak sungkan. "Wah! Kamu sering ikut perlombaan sains. Hebat sekali loh, ini," ujar Bu Maya dengan tatapan penuh keterkejutan. "I-iya. Alhamdulillah, Bu!" sahut Dinda, masih tergugu malu. "Ya ampun! Apa seluruh keluarga Ryan itu punya daya listrik, ya? Enggak cuma anaknya aja yang bikin aku tersengat, ternyata ibunya juga. Pertanyaannya, bikin aku gugup kaya lagi diinterogasi satpol PP " Batin gadis itu terus mengoceh. "Pasti orang tuamu bangga sekali, ya!" Bu Maya lagi-lagi memuji Dinda. Akan tetapi, ucapan Bu Maya kali ini berhasil membuat Dinda kembali dihantam rapuh. Orang tua lain mungkin akan sangat bangga memiliki anak yang cerdas sepertinya, tetapi tidak dengan orang tua Dinda. "Orang tua saya ...." Dinda menghentikan bicara sejenak, berusaha menemukan kalimat yang tepat untuk menjawab pertanyaan Bu Maya. "Orang tua saya, alhamdulillah sangat bersyukur, Bu." Gemetar Dinda mengucapkan kebohongan itu. Ada genangan yang mulai tampak di antara kelopak mata Dinda. Sadar ada sesuatu yang akan jatuh, ia pun segera menunduk, menyembunyikan apa yang seharusnya tidak dilihat oleh orang lain. Meski kisah hidupnya sangat pahit, tetapi Dinda tak ingin selalu menangis. Dinda tak mau disebut gadis cengeng yang terus meratapi sesuatu yang belum tentu orang lain bisa mengerti. "Alhamdulillah. Senang sekali ibu melihat ini. Ternyata, Ryan punya teman yang pintar dan berbakat seperti kamu. Ibu bangga," ujar Bu Maya sambil mengelus bahu Dinda. "Oia, kamu udah punya pacar?" tanyanya lagi. Dinda sontak terkejut, dan langsung mendongakkan wajah setelah sempat menyeka matanya. "Bu Maya tanya aku udah punya pacar atau belum. Jangan-jangan ... ah, tidak mungkin x Dinda sontak menepuk dahi sendiri. "A-aku, gak punya pacar, Bu!" sahut Dinda sambil senyum-senyum. "Oh. bagus kalau begitu. Ibu gak suka lihat anak yang masih sekolah udah pacar-pacaran." Dinda mematung, menelan ludah. "Waktu zaman ibu sekolah dulu, gak ada tuh yang namanya pacar-pacaran. Gak seperti sekarang. Masih sekolah saja udah punya pacar. Jalan ke mall sambil gandengan tangan, boncengan motor sambil pelukan. Astagfirullah! Risi ibu lihatnya." Kalimat yang keluar dari mulut wanita yang memakai lipstik berwarna nude itu, sontak membuat Dinda seperti diserang negara api. Gadis itu bingung harus menjawab apa, yang Dinda rasakan saat itu adalah, ia ingin segera lari ke lapangan, dan berubah diri menjadi Avatar. Sungguh, tidak punya jurus pengendali api itu sangat rentan diserang hawa panas. "Enggak boleh pacaran, ya, Bu? Ya sudah kalau begitu." Batin gadis itu meringis. Di tengah suasana tegang di dalam kamar berukuran tiga kali empat meter persegi itu, tiba-tiba Ryan datang dan membuat Bu Maya terkejut. "Kamu ngapain ke sini malam-malam?" Mata Bu May memicing sembari mengerutkan kening. "Aku, mau serahin formulir ini ke Dinda!" jawab Ryan gugup "Formulir apa?" "Beasiswa." Percakapan antara anak dan ibu itu kembali membuat Dinda terpaku. Pasalnya, sikap Bu Maya terhadap Ryan, lebih dingin dari sebelumnya. "Yasudah, ibu mau kembali ke rumah. Kamu yang betah ya, di sini!" Bu May mengelus rambut Dinda. Wanita itu berdiri, dan langsung berlalu setelah sempat melirik sinis ke arah putranya. Sungguh, itu terlihat aneh bagi Dinda. Setelah Bu May pergi, Ryan langsung saja mengambil kursi dan duduk di sisi tempat tidur Dinda. Baru saja Ryan hendak membantu Dinda membereskan barang-barang, Bu May kembali datang dan berdiri di depan pintu kamar. "Ryan. Dinda. ngobrolnya di luar!" seru Bu Maya dengan wajah tak suka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN