Kuda besi silver berpelat ganjil itu melaju dengan kecepatan standar. Banyaknya polisi tidur yang melintang di tiap persimpangan blok, membuat sang sopir mengontrol kecepatan dengan hati-hati. Di dalam kendaraan itu, dua gadis yang salah satunya masih memakai seragam sekolah, tampak saling bisu dan hanyut dalam pikiran masing-masing.
Di sisi kanan bangku penumpang, Dinda tampak memandang ke arah kiri jalan dengan tatapan kosong, pergi dari rumah dan tinggal di tempat baru seorang diri, harus ia jalani meski itu bukan kemauannya sendiri.
Perceraian juga kasus hukum yang menimpa orang tuanya, justru bukan hal yang ia sesali. Gadis bertubuh mungil itu malah mengutuk diri lantaran pernah lancang meminta pada Tuhan untuk memberinya kehidupan yang tenteram, tenang, tanpa teriakan dan perseteruan di dalam rumahnya lagi. Kemarin-kemarin, Dinda sangat menginginkan hal itu.
Sekarang, bahkan Tuhan sudah mengabulkan doanya tanpa kompromi. Rumah yang pernah Dinda tempati bersama keluarga, kini tak akan dihiasi kebisingan lagi.
Setelah Dinda beranjak meninggalkan rumah, hanya hampa dan kekosongan yang menyelimuti suasana bangunan yang sebelumnya diisi dengan banyak cinta. Jangankan suara teriakan, derit pintu pun rasanya enggan untuk sekadar mengucapkan selamat tinggal.
Dinda menyesali ucapannya. Dinda menyesali doanya. Ia tidak menyangka bahwa Tuhan benar-benar mengabulkan keinginannya. Meski jujur, bukan kesunyian seperti ini yang gadis itu harapkan.
Dari spion kiri mobil, Dinda melihat sebuah matic ber-style classic, mengiringi kendaraan yang ditumpangi dari belakang. Seorang pemuda dengan helm sporty bercorak abu-abu itu tampak begitu mahir membelok-belokkan stang, menghindari begitu banyak lubang.
Satu tumpukan besar yang pemuda itu apit di depan, seolah-olah tak mengganggu kemudinya sama sekali. Ryan terus memacu sepeda motor dengan kencang, mengimbangi kecepatan mobil yang berada tepat di depannya.
Tak butuh waktu lama, mereka pun akhirnya tiba di sebuah rumah berpagar besi dengan halaman yang cukup luas untuk dimasuki beberapa mobil. Dinda yang sedikit mengantuk, menjadi terperangah melihat rumah dua lantai yang tampak megah dan asri.
Setelah turun dari motor, Ryan langsung saja membuka gerbang. Satpam rumah itu tampak tergesa-gesa meninggalkan pos demi membantu sang majikan yang kembali dengan dua orang gadis asing di belakangnya.
Mobil berplat ibukota itu lantas pergi setelah Wiwi membayar ongkos. Keduanya segera melangkah mengikuti Ryan yang juga berjalan masuk sambil menuntun motornya.
"Langsung ke belakang aja, ya! Ibuku lagi gak ada di rumah, paling nanti sore baru bisa samperin kamu, Din," ucap Ryan seraya menurunkan standar
"Cie ... yang mau disamperin ibu mertua," ledek Wiwi dengan gerakan tangan usil menggelitiki pinggang sahabatnya.
"Jangan gitu, ih! Gak enak kedengaran Ryan," sahut Dinda merasa tak enak. Gadis itu kemudian melirik Ryan yang tampak seolah-olah tidak mendengar pembicaraan mereka.
Padahal, Ryan hanya pura-pura tak mendengar. Pemuda itu memilih diam meski bibirnya tak kuat untuk menahan senyum. Ada sesuatu yang menggelitik di hati sosok bertubuh tinggi itu. Sebab nyatanya, Ryan pun sudah mulai menyimpan rasa pada Dinda yang ia sendiri tak tahu apa artinya.
Dinda, gadis berhidung mungil itu ternyata sudah lama mengisi relung hati Ryan. Ia telah berhasil membuat Ryan penasaran sejak pertemuan pertama, meski Ryan sendiri tak ingat kapan rasa itu tumbuh. Bayang-bayang ketika mereka menjalani masa orientasi siswa bersama, selalu berhasil membuat Ryan senyum-senyum sendiri seperti orang gila.
Meski telah lama memendam rasa, nyatanya tidak mendorong pemuda itu untuk segera mengungkapkannya. Ada hal lain yang lebih besar untuk diraih selama menjalani masa SMA. Ryan tidak ingin perasannya menjadi kambing hitam jika suatu hari ia gagal.
Ryan masih ingat betul saat dirinya dan Dinda mendapat hukuman lari keliling lapangan dari para senior sewaktu MOS. Di siang hari ketika matahari begitu menyengat kulit, keduanya tak mampu menyelesaikan hukuman dan memilih beristirahat di bawah pohon bintaro yang terletak di sudut halaman sekolah.
"Nanti kalau ada senior yang lihat, gimana?" tanya gadis berpipi tembam itu sambil terus mengedarkan pandangan.
"Ya ... paling kena hukum lagi." Ryan menimpali dengan wajah acuh.
Melihat gelagat teman barunya yang terlihat cuek, Dinda sontak mengerucutkan bibir.
"Eh. Bapak kamu tukang es balok, ya?" tanya Dinda, berusaha memecah keheningan di antara mereka.
"Bukan," jawab Ryan singkat.
"Oh. Kalau begitu ... pasti tukang servis freezer?" Dinda kembali melayangkan pertanyaan yang aneh menurut pemuda yang sedang duduk termangu di sampingnya itu.
"Bukan. Apa, sih? Gak jelas." Ryan berdecak kesal dengan gerakan tangan menyeka rambut yang basah oleh keringat.
"Abis, anaknya dingin banget, sih. Aku saranin, ya, kalau mau ke sekolah itu gak usah bawa kulkas, biar hatimu gak beku ditaruh di freezer terus!" kata Dinda yang langsung berlari meninggalkannya sendirian.
Ryan tergelak dan bergeming di tempat. Senyumnya tiba-tiba merekah ketika memandang rambut panjang Dinda yang bergerak ke kiri dan kanan saat gadis itu berlari. Tak terasa, debaran tak biasa pun terurai begitu saja tanpa aba-aba.
Ryan seolah-olah tak ingin melepas pandangannya pada sosok mungil itu, sampai akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke kelas, dan meninggalkan Dinda yang masih berlari sendirian tanpa memedulikannya.
"Dasar cewek aneh, terlalu jujur!" ujar Ryan sambil menggeleng.
***
Dua gadis yang masih saling sikut itu mengekor di belakang Ryan menuju halaman belakang, diikuti dua asisten rumah tangga yang turut membantu membawakan barang-barang milik Dinda.
Setelah melewati rumah bergaya modern dan halaman bernuansa hijau di pekarangan belakang, mereka pun akhirnya tiba di sebuah bangunan berlantai dua di sisi kanan kolam ikan.
Suasana sejuk begitu terasa kala Dinda tiba di tempat itu. Tanah yang dipenuhi rumput hijau, juga beberapa pohon yang buahnya tampak mengintip dari sela-sela daun yang menghalangi, seolah-olah sedang menyambut kedatangan anggota baru di tempat mereka hidup.
Keluarga Ryan memang amat menyukai suasana alam yang asri nan sejuk. Kolam ikan yang didekor mirip dengan batuan di air terjun, juga pendopo dari anyaman bambu yang berdiri tegak di sudut kolam, membuat suasana di sekitaran semakin kental dengan nuansa di pedesaan.
"Ini kosannya!" ucap Ryan seraya membuka pintu.
Susana sepi pun menyambut kedatangan mereka. Sejauh mata memandang, tak ada satu pun penghuni yang terlihat. Meski begitu, Dinda sudah merasa nyaman berada di sana. Sepi pun tak masalah. Toh, gadis itu sudah terbiasa dengan kekosongan.
"Ada dua orang yang kos di sini. Mereka kerja dan pulang sore, makanya jam segini pasti sepi," ucap Ryan mencoba melebur suasana.
Pemuda itu langsung menggiring semua orang masuk, sambil menerangkan tentang kondisi rumah, serta peraturan yang harus ditaati oleh penghuninya.
"Kamarnya cuma ada tiga di atas. Nanti, kamar kamu ada di sebelah kanan paling pojok, ya Din. Di lantai bawah ini cuma untuk dapur dan ruang tamu, juga ada satu kamar mandi di ujung," tutur Ryan yang disambut anggukan pelan dua gadis di sisi kanannya.
"Ingat! Walaupun ada ruang tamu, itu bukan berarti bebas membawa siapa saja masuk ke sini. Ini kosan cewek, jadi yang boleh masuk ke sini itu cuma teman cewek. Cowok gak boleh masuk kecuali adik, kakak, atau orang tua." Ryan manambahi.
"Kalau kucing cowok, boleh?" Wiwi memotong pembicaraan tanpa dosa.
"Ish, ini lagi ngomongin manusia, bukan kucing." Dinda sontak menutup mulut sahabatnya dengan tangan.
Ryan berdecak dan kembali melanjutkan pembicaraan yang sempat terjeda. "Kalau mau ke luar, harus izin ke salah satu dari kami. Bisa ke aku, Ibu, Mba Mira, atau Pak Subur. Pulang malam cuma boleh sampai jam sembilan, karena lewat jam sembilan, gerbang dikunci," imbuh Ryan yang dibarengi anggukan pelan satpam serta asisten rumah tangganya.
"Bujug buset! Ini kosan apa asrama militer?" Wiwi lagi-lagi menimpali sembari melipat tangan di depan d**a.
"Ih, jangan ngomong gitu! Udah untung cepat dapat kosan." Dinda menyikut lengan Wiwi. Dia tampak tak enak hati dengan perkataan yang dilontarkan sahabatnya. "Maaf, ya. Ryan!" ucap Dinda sambil menangkupkan kedua tangan.
"Gak apa-apa. Peraturan ini juga kan, untuk keselamatan dan kenyamanan kalian. Kalau terlalu dibebasin, apa jadinya nanti?" ucap Ryan memasang wajah serius.
"Tapi kalau yang punya kosan, bebas masuk ke sini, kan?" Wiwi kembali menyergah pembicaraan sambil menatap sinis ke arah Ryan.
"A-aku? Ya ... bebaslah! Emm ... maksudnya, aku pasti sering disuruh ibu ke sini buat ngecek kalau ada yang korselet." Wajah Ryan tiba-tiba kelihatan gugup.
"Oh. Bagus kalau begitu. Soalnya, temen aku ini hatinya sering korselet, pasti kamu bakal repot bolak-balik betulin." Wiwi tertawa dan berkedip ke arah Dinda.
"Wiwi!" Dinda teriak.
"Apa, Cinta?" Wiwi masih tertawa dan wajahnya tampak sangat puas meledek dua orang di depannya.
"Sorry ya, Ryan! Si Wiwi emang mulutnya susah direm." Dinda berusaha santai meskipun hatinya kembang kempis tak keruan.
"Yeee, emangnya mulutku ini bajai?" sahut Wiwi sambil membuang muka.
"Gak apa-apa, Din! Kamu juga harus banyak belajar dari Wiwi," ujar Ryan dengan memasang wajah datar.
"Aku, harus belajar apa dari dia?" Dahi Dinda mengernyit..
"Belajar buat jujur sama perasaan sendiri," jawab Ryan.
Dinda sontak terkejut mendengar hal itu. Ucapan Ryan barusan membuat gadis itu merasa seperti dihantam palu kenyataan.
Dinda seperti tertangkap basah oleh targetnya sendiri. gadis itu mengakui bahwa selama ini ia memang sengaja menutup-nutupi rasa suka terhadap sosok di hadapannya. Nervous, Dinda sampai berani membalas tatapan mata Ryan yang menghunus tajam ke arahnya.
Di tengah-tengah suasana menegangkan di dalam rumah berlantai dua itu, tiba-tiba datang sosok asing yang wajahnya mirip sekali dengan Ryan.
"Ryan. Ibu mana?" tanyanya. Pemuda bercelana jeans biru dengan kemeja senada itu berhasil membuat seisi rumah sontak menoleh
"Ya ampun, Din. Ganteng banget!" ucap Wiwi seraya menutup mulutnya dengan tangan.
"Hai! Kamu ... penghuni baru di kosan ini?" tanya pemuda bertubuh tegap itu tanpa melepas tatapan ke arah Dinda.
"I-iya, Kak!" jawab Dinda yang langsung menunduk membalas sapaan.
Tatapan pemuda yang baru saja datang itu, membuat Dinda merasa sedikit canggung, terlebih saat menyadari sosok tersebut mirip sekali dengan orang yang sangat disukainya.
"Kenalin, ini Reza, kakakku." Ryan tetap berusaha memperkenalkan meski wajahnya terlihat malas.
"Ooh ... ini temanmu, Yan? Cantik juga. Masih jomlo, kan?" Reza menunduk sedikit demi menyejajarkan kepala dengan Dinda di hadapannya.
"A-aku masih jomlo kok, Kak!" Wiwi langsung saja menjawab dengan antusias.
Mendengar ucapan Wiwi, Reza malah tertawa terbahak-bahak. Pemuda itu langsung beranjak ke sisi Dinda, lalu menoleh sedikit ke arah Wiwi.
"Kamu sama adikku aja, ya! Aku sama yang ini," pungkas Reza yang kembali menatap lekat ke arah Dinda.