Arti Persahabatan
"Tak ada yang lebih bernilai selain hubungan persahabatan. Darah mungkin lebih kental dari air, tetapi sahabat akan tetap setia meski seluruh dunia mengkhianati."
***
Dinda menelan saliva setelah hampir lima belas menit meluapkan kesedihan yang ia alami dalam beberapa hari terakhir ini. Napasnya yang terengah-engah mengungkapkan betapa sesaknya hati gadis itu.
Pelukan erat dari sang sahabat, masih belum terlepas sedari mereka masuk ke dalam rumah. Baju Wiwi yang basah, menjadi saksi luapan kesedihan yang mendalam dari seorang Dinda yang sangat disayanginya. Tangan gadis berambut ikal itu tak henti menyeka rambut Dinda, yang sesekali menjuntai, menutupi sebagian wajahnya yang pucat pasi.
Tak jauh dari mereka, seorang pemuda tengah duduk bergeming menahan haru. Ada rasa pilu yang tak mampu ia ungkapkan. Ryan tidak sedikit pun melepaskan pandangannya ke arah gadis manis yang sedang melepas tangis. Rasa ingin merengkuh pun tiba-tiba muncul, tetapi Ryan sadar bahwa dirinya bukanlah siapa-siapa.
"Bantuin aku cari kosan, ya!" pinta Dinda sambil menyeka matanya yang sembap.
"Iya, Din, iya, pasti aku bantuin." Wiwi melepas pelukan, kemudian mengusap bahu Dinda pelan.
"Kamu mau ngekos? Sudah dapat tempatnya belum?" Ryan tiba-tiba memotong.
Tak menyahut, Dinda hanya menggeleng pelan.
"Kalau begitu, kamu pindah ke kosan belakang rumahku aja, pumpung ada yang kosong. Masalah sewa, nanti aku yang bicarakan sama ibuku. Kamu gak usah khawatir!" Ryan menimpali dengan begitu yakin.
Dinda dan Wiwi saling melirik, gerakan alis Wiwi yang turun naik seperti harga sembako itu, membuat Dinda sontak mengernyitkan dahi.
"I-iya Ryan. Ide bagus itu. Ya, nggak, Din?" Wiwi langsung menyikut lengan sahabatnya sambil memainkan alis kembali.
Melihat kelakuan sahabatnya itu, Dinda hanya bisa pasrah. Sesuatu yang ditawarkan Ryan memang sangat membantu. Cepat atau lambat, pihak Bank pasti akan datang untuk menyita rumahnya. Dinda sudah tidak punya waktu banyak, tetapi gadis itu tak ingin merepotkan siapa pun, apalagi Ryan.
"Oke kalau begitu. Mau pindah kapan?" tanya Ryan untuk memastikan.
Wiwi kembali menyikut lengan sang sahabat. "Gimana, kapan pindahnya?"
Dinda ingin langsung menjawab, tetapi hatinya justru ditimpa keraguan. Berpikir untuk meninggalkan rumahnya saja, sudah membuat gadis itu sedih setengah mati. Apalagi ... berpikir bagaimana caranya hidup sendiri.
"Ah. Lama kamu mah, kaya sinetron India," tampik Wiwi tak sabaran. Ia kemudian berdiri sambil menarik tangan Dinda, "Sekarang aja, yuk! Pumpung ada aku sama Ryan yang bisa bantu beres-beres," serunya lagi.
"Eh-eh, bentar!" Dinda menepis tangan Wiwi
"Udah, gak usah bentar-bentar. Lama!" Wiwi mengambil lagi Dinda dan langsung menariknya menuju kamar.
Dua gadis itu lantas bahu-membahu mengemasi barang-barang yang akan dibawa. Dengan cekatan, Dinda menurunkan beberapa piagam dan medali yang terpajang di dinding kamarnya. Wiwi pun dengan sigap memasukkan baju-baju Dinda, peralatan mandi, juga sepatu dan kaos kaki ke dalam koper besar.
"Din, kamu gak bawa skin care apa?" tanya Wiwi sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling.
"Gak ada. Aku gak punya gitu-gituan," jawab Dinda yang sedang sibuk memasukkan buku-buku ke dalam tas.
"Bagus, pertahankan!" ucap Wiwi seraya mengangkat ibu jari tinggi-tinggi.
"Emang gak pakai skin care itu prestasi yang harus dipertahankan?" Dinda melirik tajam.
"Oh iya jelas. Bukan hanya prestasi, tetapi juga ladang pahala."
"Pahala?" Alis Dinda mengerut.
"Iya, kalau uang buat beli skin care-nya, kamu pakai buat traktir aku makan seblak." Wiwi tergelak, sementara Dinda, hanya membalas candaan sahabatnya dengan senyum kecil.
Melihat sahabatnya tidak tertawa seperti biasa, Wiwi sontak membungkam mulutnya sendiri. "Gak lucu, ya?"
"Lucu, kok. Aku kan' senyum tadi," sahut Dinda tanpa menoleh muka.
Wiwi yang paham dengan suasana hati Dinda, memilih untuk tetap melebur sepi dengan melakukan aksi heroik sendiri. Wiwi sedikit canggung, tetapi ia sangat ingin mencairkan suasana agar sahabatnya tidak merasa sedih lagi.
Tak tanggung-tanggung, gadis berambut ikal itu sampai nekat menuang banyak bedak tabur ke wajahnya. Seperti orang kerasukan setan, Wiwi tiba-tiba berjoget India dan naik ke atas tempat tidur. Handuk putih bercorak Mikey Mouse milik Dinda, ia gunakan sebagai kain sari di kepalanya.
Melihat kelakuan aneh Wiwi, Dinda hanya menanggapi dengan gelengan kepala. Sementara Ryan yang tiba-tiba masuk ke kamar, sontak terbahak-bahak menyaksikan penampilan Wiwi yang mirip ondel-ondel di lampu merah.
"Astagfirullah!" Wiwi berteriak dan langsung menutupi wajahnya dengan handuk. "Kamu ngapain masuk-masuk ke sini, sih?"
Ryan masih tak berhenti tertawa sampai berjongkok-jongkok memegangi perut. Akhirnya, Dinda pun ikut terbahak menyaksikan Wiwi yang tertangkap basah oleh Ryan.
"Seneng, ya, kalian pada ngetawain aku!" Wiwi cepat-cepat membereskan pakaian dan wajahnya yang udah seperti kue klepon.
Bibir Wiwi yang mengerucut, juga wajahnya yang tertunduk, menggambarkan betapa malunya ia. Namun, melihat Dinda kembali tertawa, rasa malu itu berubah menjadi senyum lega. Ia merasa telah berhasil membuat sahabatnya itu kembali ceria.
Wiwi selalu menanamkan sesuatu di dalam dirinya. Tak ada yang lebih bernilai selain hubungan persahabatan. Darah mungkin lebih kental dari air, tetapi sahabat akan tetap setia meski seluruh dunia mengkhianati.
"Lucu kamu, Wi. Cocok jadi boneka Mampang," ucap Ryan, masih terus terbahak-bahak.
"Enak aja aku dibilang boneka Mampang." Wiwi menimpali gurauan pemuda itu sambil mencebik bibir.
"Terus, apa dong?" tanya Ryan.
"Boneka santet, puas!" Wiwi memonyongkan bibirnya.
Sontak, kamar Dinda yang sudah lama diselimuti kekosongan itu menjadi bising dengan riuh gelak tawa.
Ketiganya lalu melanjutkan kegiatan berkemas, diwarnai aksi lelucon Wiwi yang selalu berhasil menguras perut. Aura abu-abu yang sebelumnya terpancar di wajah Dinda, kembali menghangat dan penuh binar tawa.
Satu jam terasa singkat bagi Dinda dan kedua kawannya. Melihat tawa nyaring Ryan, Wiwi dan Dinda merasa sedikit aneh. Keduanya sama sekali tidak menyangka bahwa cowok pendiam dan cool seperti Ryan, bisa sangat menyenangkan, dan nyambung saat diajak bercanda.
Mereka pikir, Ryan adalah tipikal cowok yang angkuh dan membosankan. Akan tetapi, nyatanya mereka salah. Ryan justru terlihat sangat menikmati kebersamaan mereka sampai-sampai wajah tampan tanpa celanya tak berhenti merekah senyum.
Melihat Ryan yang tidak berhenti tersenyum, hati Dinda kembali berdebar tak keruan.
"Ayolah, Dinda. Ryan ini hanya mampir, harusnya yang kau sediakan kopi, bukan hati," ucap Dinda dalam hati.
***
"Saya kira, kamu sudah tidak peduli lagi dengan saya," ucap Harto pada wanita di depannya.
"Saya ke sini bukan untukmu, tapi untuk ini!" seru Rita sambil menyodorkan selembar kertas.
Sebuah surat cerai yang sudah dibubuhi tanda tangan sang istri, ditatap begitu lama oleh Harto. Wajahnya yang lusuh setelah menjalani proses penyidikan yang cukup panjang, menjadi semakin kuyu setelah membaca isi surat dari kementerian agama tersebut.
"Kamu tega!" Gemetar Harto melepas kertas dari tangannya.
"Kamu yang tega! Aku sudah cukup menderita karena utangmu. Lihat dirimu sekarang! Terlibat dalam kasus n*****a, menyedihkan!" ketus wanita tiga puluh delapan tahun itu sambil membuang wajah.
"Kamu menderita selama enam bulan, tetapi sangat menikmati hidup selama belasan tahun dengan semua yang telah kuberikan padamu. Apa kau sudah lupa dengan itu?" Harto terpaksa meluapkan isi hati yang tak bisa ia simpan lagi.
Lelaki bertubuh gempal itu sebenarnya tak ingin mengungkit-ungkit apa yang telah ia beri, tetapi harga dirinya selalu diinjak-injak oleh sang istri. Rumah, kendaraan, uang, dan benda-benda mewah yang pernah ia punya, kini lenyap bersamaan dengan cinta yang sudah tak lagi bertahta.
"Jangan menceramahiku, tanda tangan saja!" seru Rita tanpa menolehkan muka.
Harto menarik napas panjang, seiring gerakan tangannya mengambil pena hitam di sisi kanan kertas.
"Aku sudah mengabulkan apa yang kamu inginkan," ucap Harto setelah selesai membubuhkan tanda tangan.
"Baguslah. Aku titip Dinda sampai ia lulus. Setelah itu, aku akan mengambilnya," ujar wanita berkacamata hitam itu sambil beranjak.
"Dinda? Kupikir ia tak akan mau hidup dengan ibunya." Ucapan Harto berhasil membuat istrinya kembali duduk.
"Dia anakku. Aku berhak atasnya," ujar Rita, dengan wajah geram.
"Tapi dia juga manusia yang punya perasaan. Aku di penjara. Sementara kau ... tega membiarkannya menjalani hidup seorang diri. Apa kau pantas dipanggil ibu?" Ucapan Harto sontak membuat istrinya menelan ludah.
Sejenak, ada kerisauan yang tampak di raut wajah Rita sebelum akhirnya kembali beranjak, dan mengacungkan telunjuk ke wajah Harto.
"Itu bukan urusanku. Dinda itu tanggung jawabmu! Jika aku mengambil alihnya sekarang, kau akan enak-enakan hidup sendirian tanpa beban," ucap Rita lantang, lalu pergi tanpa berpamitan.
Harto masih tergugu di kursinya. Kekhawatiran semakin terasa ketika ia kembali mengingat tentang putrinya. Harto ingin sekali bertemu dengan Dinda. Namun, ia tidak punya daya lantaran masih harus menjalani proses penyidikan yang masih lama.
"Waktunya sudah habis, Pak. Silakan kembali ke sel," ucap petugas yang langsung menuntunnya beranjak dari kursi.
Harto tidak lagi memiliki kekuatan untuk berontak. Di tengah kondisi tubuh yang mengurus dan tulang pipi yang lebam, seuntai doa terlantun.
“Ya Tuhan, kuatkan dan selamatkan Dinda di manapun ia berada."