Berjuang Sendiri

1447 Kata
Hawa dingin membekap tubuh mungil Dinda yang tengah meringkuk di depan ruangan bertuliskan Kasat n*****a di papan pintunya. Wajah gadis itu tampak kuyu, dahinya terus mengernyit sembari menyekap sendiri tubuhnya yang kedinginan. Sesekali Dinda berusaha mengintip lewat kaca hitam yang menjadi dinding pembatas antara teras dengan ruangan tersebut. Dari penglihatanya, tampak Harto sedang duduk menundukkan kepala diapit oleh dua lelaki berkaus biru tua dengan tulisan POLISI di bagian belakang bajunya. Sudah berulang kali Dinda berusaha membujuk petugas, tetapi ia tak diizinkan masuk karena sang bapak sedang menjalani proses interogasi atas kasus yang menimpanya. Dinda hanya mampu meringkuk kedinginan. Bajunya yang separuh basah terkena percikan air hujan, membuat gigi-giginya gemelutuk saling beradu. Setelah rumahnya digeledah semalam, Dinda memutuskan untuk pergi ke kantor polisi untuk memastikan keadaan yang sebenarnya. Ia baru satu kali bertemu dengan sang bapak. Itu pun hanya beberapa menit saja. Mereka tidak bisa mengobrol bebas karena saat itu, Harto dikawal ketat oleh dua orang petugas. Setelah pertemuan singkat itu, Dinda disarankan untuk kembali ke rumah karena keberadaannya di sana hanya akan membuang-buang waktu saja. Sebab selama proses penyidikan, tertuduh tidak diperbolehkan menemui anggota keluarga kecuali didampingi oleh kuasa hukum. Berbagai alasan yang disampaikan oleh tim penyidik, rupanya tidak benar-benar membuat Dinda mengerti. Nyatanya, gadis itu tetap pada pendiriannya dan tidak mau beranjak dari depan ruang penyidik walau sejengkal pun. Dinda masih sangat ingin bertemu dengan sang bapak. Ia masih tidak percaya jika belum mendengar dari mulut Harto sendiri. Ketika diberi kesempatan bertemu, Harto hanya meminta maaf kepada Dinda karena telah menelantarkan putrinya seorang diri. Dinda sama sekali tidak mendapatkan informasi apakah benar bapaknya ikut terlibat atas kasus pengedaran n*****a seperti yang dituduhkan oleh pihak kepolisian. Harto juga sempat memberitahukan bahwa rumah yang mereka tempati dalam waktu cepat akan disita oleh Bank. Dinda diminta untuk mencari indekos untuk tempat tinggal sementara. Setidaknya, sampai kasus yang menjerat orang tua itu selesai. Dinda sangat kebingungan di sana. Ia tidak tahu apa yang harus diperbuat setelah keluar dari tempat ini. Beberapa orang petugas sudah memberikan penjelasan berkali-kali kepada Dinda bahwa Harto telah ditangkap atas kasus pengendaraan n*****a. Namun, gadis itu tetap bersikukuh kalau sang bapak tidaklah bersalah. Bagaimana Dinda bisa menerima begitu saja, sementara ia melihat dengan mata kepala sendiri, wajah bapaknya penuh dengan lebam kebiruan. Bagaimana bisa ia meninggalkan orang tuanya dalam keadaan seperti itu. Sudah hampir dua jam Dinda berdiri di dekat pintu, tetapi masih belum ada selentingan kabar kapan bapaknya selesai menjalani pemeriksaan. Perutnya kembali melilit. Dinda ingat, ia belum sarapan dan tidak tidur sejak semalam. "Belum tau, Dik. Pemeriksaan kasus seperti ini biasanya seharian penuh, dan baru akan selesai dalam waktu yang lama," kata seorang petugas yang saat itu menghampiri Dinda. Informasi yang Dinda dapat kali ini, membuatnya semakin berkecil hati. Ia mulai berpikir, lelaki berseragam cokelat itu benar. Tidak ada gunanya terus-terusan berada di sini. Mungkin akan lebih baik jika ia pulang mengistirahatkan diri. Setelah menimbang-nimbang beberapa saat, akhirnya Dinda beranjak dari gedung berlantai tiga itu dengan hati yang masih bergejolak. Dari raut wajahnya, gadis itu seolah-olah seperti sedang mempersiapkan diri menghadapi ejekan dunia. Berjalan pelan melewati gerbang sambil terus memantapkan hati, bahwa setelah keluar dari tempat ini, ia harus siap berjuang seorang diri. *** "Gak usah nunggu di depan pintu, kali. Dinda gak akan masuk sekolah!" ejek Sarah bersama rekan-rekannya. Alih-alih ingin marah, Wiwi justru mengusap-usap d**a sambil mengucap istigfar berulang-ulang. "Astagfirullah. Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk." Wiwi menghela napas panjang. Baru saja gadis berambut keriting itu membalikkan tubuh, tiba-tiba saja Sarah sudah berada tepat di depannya. Wiwi pun terkejut dan refleks latah di depan Sarah. "Ku-ku kuntilanak. Eh, Wewe Gombal. Eh, bukan-bukan. Sundel b*****g!" Teriakan Wiwi sontak membuat teman sekelas mereka tertawa. Suasana kelas sontak riuh dengan tawa dan ejekan para siswa, kecuali Sarah. Gadis bertubuh semampai itu langsung menghujani Wiwi dengan bidikan tajam di matanya. Melihat wajah Sarah yang memerah seperti udang rebus, Wiwi sontak melangkah mundur. Wiwi hendak melarikan diri dari amukan Sarah dan kedua temannya, tetapi nahas, tembok berhasil menyudutkan dan membuat Wiwi terperangkap di antara tiga gadis itu. Suasana di kelas tiba-tiba menegang. Pasalnya, siapa pun yang berani berurusan dengan tiga siswi itu, pasti akan berakhir perundungan yang tidak ada habisnya. "Kamu berani sama kita?" Mery mulai angkat bicara. Ketiga gadis bertubuh tinggi itu pun melaju, membuat jarak di antara mereka berempat semakin terpangkas. "Berani sama kalian?" Wiwi menatap ketiganya gemetaran. "Ya ...enggak, lah!" jawab Wiwi sambil cengar-cengir. "Gak berani tapi senyum-senyum. Kamu ngeledek kita?" gertak Sarah sambil tangannya menapak kuat ke tembok yang letaknya tepat di samping wajah Wiwi. "A-aku kan emang murah senyum. Kenapa kalian marah? Memang, aku salah apa? Aku kan perempuan. Ingat, perempuan itu gak pernah salah. Benar, kan?" timpal Wiwi sambil sedikit mengangkat kepalanya. Bahunya bergerak naik-turun. "Bener tau dia. Perempuan itu gak pernah salah." Mery menyahut. "Iya juga, ya?" Sarah balik menanggapi "Lah, terus ... kita di sini ngapain?" Ketiga gadis itu pun tampak kebingungan dan saling sikut. Wajah mereka yang awalnya sangar, berubah ragu dan saling menyalahkan satu sama lain. "Kalian, sih, ngapain kumpul di sini? Mau ngajak aku arisan?" Wiwi terkekeh dan mulai percaya diri. Sementara salah satu dari mereka, kembali menghunjamnya dengan cengkeraman di kerah baju. "Kamu pikir kita itu lucu. Hah?" ucap Mery sambil matanya melotot. "E-enggak lucu sama sekali. Malah ... serem!" Wiwi menelan ludah. Sementara kakinya, makin berjinjit mengikuti tubuhnya yang semakin terangkat. "Asal kamu tahu ya, Wi. Dinda itu gak akan masuk sekolah. Orang tuanya sudah cerai, rumahnya disita Bank, dan bapaknya ... ditangkap polisi karena kasus n*****a. Pasti dia udah gak punya muka lagi. Atau mungkin, udah gantung diri di kamar mandi karena malu." Sarah tertawa terbahak-bahak. "Kamu ... jangan bicara sembarangan, ya!" Wiwi akhirnya berontak. Tangannya mengibas cengkeraman di lehernya hingga terlepas. Alih-alih takut, Wiwi justru berbalik mengacungkan telunjuk ke wajah Sarah dengan napas memburu. "Kalau kamu gak percaya, ya terserah! Ibunya Dinda itu kerja di laundry milik mamihku, jadi aku tau semuanya," Sarah menarik salah satu sudut bibir ke samping, sambil ekor mata melirik ke temannya yang lain. "Wiwi!" Suara bariton dari arah pintu, sontak menginterupsi gerakan keempat gadis yang tengah berseteru. Ryan menghampiri Wiwi yang sedang di apit oleh tiga siswi pembuat onar, kemudian menarik tangannya agar menjauh. "Eh. Ada kamu. Tumben ke sini, Yan? Cari aku, ya?" Sarah berpura-pura bersikap manis dengan menyapa Ryan. Wajah ketiga gadis yang awalnya tampak garang, sontak berubah total. Di depan Ryan, mereka dengan cepat bertransformasi menjadi gadis elegan dan menawan. Tampak sangat kontras dengan perilaku ketiganya beberapa detik sebelumnya. Ryan yang sudah hafal betul sifat mereka, memilih acuh dan langsung beranjak menggandeng tangan Wiwi. Melihat sikap dingin Ryan, Sarah dan ketiga temannya kompak berteriak seperti orang kesurupan. *** "Aku udah ke rumah Dinda tadi pagi, tapi sepi, gak ada orang sama sekali," ucap Ryan sesampainya mereka di kantin. Tentu saja informasi itu membuat Wiwi semakin khawatir dengan keadaan sahabatnya. Kini Wiwi percaya bahwa ucapan Sarah barusan bukanlah sekadar bualan. Kemarin, setelah Dinda memberi kabar kepulangannya dari rumah sakit, Wiwi merasa sangat bahagia dan tidak sabar ingin bertemu dengan Dinda di sekolah. Namun, mendengar kabar tidak mengenakkan ini, perasaan Wiwi menjadi semakin tak keruan. Wiwi merasa sahabatnya itu telah cukup menderita dengan pertikaian orang tua. Wiwi tak bisa membayangkan betapa hancur hati Dinda jika semua berita yang didapat hari ini adalah benar. "Ryan. Ayo kita ke rumah Dinda pulang sekolah nanti!" ajak Wiwi dengan mata berkaca-kaca. Ryan mengangguk. Ia paham betul dengan kekhawatiran yang dirasakan Wiwi, yang sebenarnya tidak kalah besar dirasa oleh Ryan sendiri. *** "Assalamualaikum, Dinda!" Sudah tiga kali Ryan dan Wiwi mengetuk pintu, tetapi tak ada satu pun jawaban dari dalam rumah bertembok biru itu. Keduanya mulai cemas, takut jika terjadi sesuatu dengan Dinda di dalam. Mereka ingin bertanya ke tetangga sekitar tentang Dinda dan keluarganya, tetapi tak ada satu pun tetangga sekitar yang berada di luar rumah mereka. Di kompleks perumahan bersubsidi itu, memang selalu tampak sepi di siang hari, karena rata-rata para pemiliknya bekerja, dan baru kembali sore atau malam hari. "Din. Dinda!" Wiwi berteriak makin keras, tetapi tetap tidak ada respons dari dalam. Ryan mencoba menelepon Dinda, tetapi nomornya tidak aktif. Belasan pesan yang dikirim sejak semalam pun, tak satu pun di balas oleh gadis itu. "Kalian?" Suara sendu dari arah pagar depan, sontak membuat Wiwi dan Ryan kompak menoleh antusias. "Astagfirullah, Din! Kamu dari mana? Kenapa bajunya basah gini?" tanya Wiwi khawatir. "Aku dari kantor polisi. Ayo kita masuk! Maaf, bikin kalian nunggu di luar." Dinda melangkah ke arah pintu, diikuti Wiwi yang mengekor di belakangnya. Sementara itu, Ryan masih tergugu memandangi Dinda dari luar dengan tatapan hambar. Pemuda itu senang karena rindunya sudah terobati. Namun, dengan kondisi Dinda yang mengkhawatirkan, hati pemuda itu pun teriris-iris. Ia tahu, Dinda sedang tidak baik-baik saja saat ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN