Bayang Masa Kecil

1244 Kata
Kasih ibu kepada Beta Tak terhingga sepanjang masa Hanya memberi, tak harap kembali Bagai sang surya menyinari dunia Alunan lagu masa kecil itu sudah terlanjur melekat di telinga Dinda. Di mana sang ibulah yang pertama kali menyanyikan lagu itu untuknya. Dinda tak ingat berapa tahun usianya kala itu. Ia hanya mengenang belaian cinta yang kerap kali mendarat di kepalanya. Sentuhan lembut disertai alunan syahdu dari sang ibu sembari mendendangkan lagu, selalu berhasil membuat Dinda tertidur di pangkuan. Namun, itu hanya sekadar kisah masa kecil, yang selalu Dinda rindukan meski tak pernah ia rasakan lagi sekarang. Tangkapan bayang masa kecil itu, seolah-olah mengejek Dinda yang sedang termenung sendiri di ruang tamu. Gadis itu sudah kembali dari rumah sakit. Nyeri di lambungnya sudah tak lagi terasa, tetapi hatinya justru makin teriris tersiksa. Apalagi saat dirinya menerima fakta, bahwa sang ibu pergi begitu saja tanpa meninggalkan sepatah kata. Pipinya basah. Sudah berulang kali gadis itu mengambil tisu untuk menyeka wajahnya, tetapi air matanya justru bertambah deras,. mengalir tak bisa dicegah. Dinda ingin menyandarkan tubuh sambil menumpahkan pilu, tetapi kepada siapa? Kosong yang ia rasakan, membuat hati kecilnya ditempa hampa. Dinda, merasa kecewa dengan sikap kedua orang tuanya yang memutuskan untuk berpisah. Bukan hanya perpisahan kedua orang tuanya yang Dinda tangisi, tetapi kenyataan bahwa tak ada satu pun dari bapak atau ibu yang memilihnya untuk tinggal bersama. Dinda menjadi semakin berpikir, kalau keberadaannya di dunia in memangi sudah tak diharapkan lagi. Dinda terus meracau, untuk apa pulang jika kesunyian yang selalu orang tuanya tawarkan di rumah. Dia kembali untuk siapa? Batin Dinda terus meronta-ronta menahan luka. Sudah pukul 22.30, tetapi Harto belum juga kembali. Mata Dinda sudah mengerjap-ngerjap menahan kantuk. Ia lelah dan ingin sekali memejamkan mata, tetapi rasa takut karena sendirian di rumah, membuatnya mengurungkan niat untuk merebahkan tubuh di kamar. Sejak siang, Harto sudah pergi dengan alasan ada urusan penting. Setelah Dinda pulang dari rumah sakit pagi tadi, bapaknya memang terlihat sibuk dengan telepon genggam. Entah itu panggilan dari siapa. Namun, Harto tampak sangat tergesa-gesa dan selalu menjauh setiap kali ponselnya berdering. Sudah beberapa kali Dinda menguap. Siaran di beberapa channel TV di hadapan pun, terasa makin membosankan. Embusan angin yang berasal dari kipas kecil di bawah eternit, membuat mata Dinda makin lama makin terkatup. Dinda tertidur lelap, ditemani televisi yang belum sempat ia matikan. Gadis itu, ketiduran di ruang tamu. *** Di tempat lain, Ryan tampak gelisah mondar-mandir di balkon kamar. Berulang kali ia mengecek ponsel dalam genggaman, tetapi tak juga menerima pesan jawaban yang sudah lama ia nantikan. "Kamu lagi ngapain, sih, Din? Sudah hampir setengah jam chat-ku gak dibalas-balas." Ryan bergumam. Tatapannya enggan beralih pada layar benda pipih di tangan. Bosan, pemuda itu memutuskan untuk kembali ke kamar lalu merebahkan tubuh ke atas kasur. Film action Hollywood yang tampak seru di layar televisi 42 inci miliknya, tak sama sekali ia lihat. Pemuda itu justru asyik menatap lekat pesan terakhir Dinda sebelum gadis itu offline. [Aku ikut bahagia saat orang lain tertawa karena aku. Tapi kamu tahu, gak? Orang humoris itu ternyata lebih banyak menyimpan luka. Bukan karena ia tak pernah bersedih. Hanya saja, ia tidak ingin orang lain turut mengasihani. Nyatanya ... kehidupan memang sekejam itu, kan!] Kata-kata yang dikirim Dinda itu sontak membuat Ryan berpikir keras. Sudah hampir tiga tahun ia mengenal Dinda, tetapi baru kali ini hatinya merasakan sesuatu yang tidak mengenakkan. Hati kecilnya seolah-olah tahu, bahwa Dinda sedang tidak baik-baik saja saat itu. Ia sudah mencoba membalas pesan juga menelepon Dinda berulang kali, tetapi tidak juga ada jawaban. Khawatir, hanya itu yang ada di pikiran Ryan. Pemuda berwajah tampan tanpa cela itu mencoba memalingkan wajah dari ponselnya, beralih menatap layar televisi yang disetel dengan volume tinggi di hadapan, tetapi fokusnya kembali gagal. Getaran ponsel membuatnya kembali beranjak dari tempat tidur, kemudian berdecak kesal kala tahu yang diterima hanyalah sebuah pesan dari operator. "Aku harus mampir ke rumah Dinda sebelum berangkat sekolah besok," ujar pemuda itu sembari mengacungkan remote ke arah TV. *** "Permisi!" Suara teriakan dan ketukan keras seseorang, membuat Dinda terkejut dan langsung beranjak dari sofa. Gadis itu memicing, kepalanya terasa sedikit pusing. Baru saja tangan memegang handle pintu, rasa ragu tiba-tiba menginterupsi gerakannya. Mata Dinda dengan cepat menghunus tepat ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 00.13. Siapa yang mengetuk-ngetuk pintu di jam segini? Bapak, atau ... ada orang lain yang mau berniat jahat? Dinda melangkah menjauhi pintu, lalu bergerak cepat menuju jendela ruang tamu. Gorden abu-abu berbahan velvet, disibaknya perlahan demi melihat keadaan di luar. Dia melihat tiga sosok lelaki bertubuh kekar tengah berdiri di depan rumahnya. Salah satu dari mereka membawa HT (alat komunikasi yang hanya bisa digunakan untuk jarak tertentu). Sementara dua orang lainnya, terlihat sibuk berkeliling di sekitar halaman sembari mengecek sesuatu. Jantung Dinda berdegup cepat. Mata bulatnya tak bisa berpaling dari tiga sosok yang membuatnya ketakutan setengah mati. "Siapa mereka, dan kenapa datang malam-malam begini?" Di sela kegugupannya, ketukan demi ketukan makin keras terdengar. Antara bimbang dan penasaran. Dinda takut jika tiga orang berpakaian serba hitam itu bukanlah orang baik. Namun, ia sangat penasaran. Takut jika orang-orang itu merupakan kerabat ayahnya yang ingin menyampaikan hal penting. "Buka pintunya! Kami dari kepolisian." Teriakan seseorang dari balik pintu, sontak membuat Dinda gemetar ketakutan. Polisi? Ke-kenapa mereka ke sini? Atau jangan-jangan ... terjadi sesuatu dengan bapak? Dinda langsung beranjak, memutar kunci pintu dengan cepat. "Selamat malam, Dik! Apa benar ini rumah Pak Hartono?" sapa salah satu pria yang memakai topi dan rompi hitam. Tak begitu jelas wajah mereka karena ketiganya memakai masker. "I-iya benar. Memangnya ... ada apa ya, Pak?" Dinda menjawab terbata-bata. "Kami dari Kepolisian Resor, ditugaskan untuk melakukan penggeledahan di rumah ini," ucap satu orang lainnya, diiringi langkah cepat ketiga polisi itu masuk ke dalam rumah. "Pak, tunggu, Pak! Apa yang terjadi dengan bapak saya? Apa dia baik-baik saja?" Pertanyaan-pertanyaan yang Dinda ajukan, sama sekali tak digubris oleh mereka. Ketiganya begitu sibuk keluar masuk ruangan, sembari membongkar semua isi lemari, juga laci-laci nakas. Dinda berlari ke sana ke mari, mencoba meminta penjelasan dari salah satu polisi. Namun, usahanya nihil. Hanya kebisuan yang Dinda dapat. Ketiga polisi itu hanya sibuk menggeledah, tanpa mengindahkan kekhawatiran seorang gadis yang mondar-mandir kebingungan mengharap jawaban dari mereka. Bapak. Bapak ada di mana? Ada polisi datang ke rumah. Rumah kita digeledah, Pak! Dinda takut! Hati gadis itu terus merintih, tetapi apa daya, tubuh mungilnya tak cukup kuat untuk menghentikan tindakan beringas dari ketiga polisi yang menatapnya tak peduli. Dinda pun berlari ke kamarnya, mengambil ponsel yang sedang tersambung charger. Setelah ponselnya menyala, segera ia cari kontak sang bapak kemudian meneleponnya. Sayangnya, sudah lima kali gadis itu melakukan panggilan, tetapi nomor sang bapak tidak dapat tersambung. Dinda mendapat lima pesan dan empat belas panggilan tak terjawab dari Ryan, tetapi Dinda tak sama sekali menggubrisnya. Ryan, aku sedang membutuhkan bapak saat ini. Maaf! Gumam Dinda dalam hati. Dinda pun makin terkejut saat ketiga polisi itu masuk ke kamarnya. "Loh, Pak! Kenapa kamar saya diacak-acak juga?" protes Dinda sambil berusaha mengamankan benda-benda berharga yang diletakkan di sembarang tempat oleh para petugas itu. Geram karena tak ada satu pun yang meladeni, Dinda pun nekat memasang badan di depan lemari pakaiannya yang hendak digeledah. "Kalau bapak tidak menjawab pertanyaanku juga, aku gak akan izinin kalian periksa lemari ini!" seru gadis itu sambil berkacak pinggang. "Tolong jangan mempersulit tugas kami! Lebih baik kamu minggir, atau ... saya akan bawa kamu juga ke kantor polisi seperti bapakmu." Ucapan salah seorang petugas membuat Dinda terperangah. “Ba-bapak dibawa ke kantor polisi. Apa yang terjadi pada bapak?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN