Akhir dari Perselisihan

1449 Kata
Mata bulat Dinda lekat memandang layar ponsel dalam genggamannya. Tiga kata yang tertulis di sana, bagaikan hamparan salju di atas lahan tandus yang ditumbuhi puluhan kaktus. Hati Dinda yang gersang, mendadak sejuk kala membaca satu pesan dari si pemilik rindu. Entah benar atau tidak, tetapi Adinda Prameswari masih merasa ini hanya mimpi. [Gimana keadaanmu, Din?] Satu kalimat yang dikirim oleh Ryan terdengar seperti bisikan di telinganya. Dinda tak bisa mengatup bibir. Jari jemari lentiknya pun kaku, tak sanggup menggeser layar ponsel lima inci itu. Tubuh Dinda mematung seketika, seperti ada sesuatu yang mengikat persendiannya hingga sulit bergerak. "Buruan balas!" Wiwi menyenggol lengan Dinda tak sabar. "Udah aku balas, kok!" jawab Dinda. "Gimana balasnya?" tekan Wiwi lagi. "Aku membalas ... keadaanku? Aku baik selama kau baik-baik saja di sana." Pipi Dinda memerah saat mengataka itu. "Eaaa ... eaaa ...." Wiwi sontak berteriak sampai melompat-lompat. "Wi, kamu udah minum obat? Aku yang di SMS kok, kamu yang kesurupan?" Dinda menggeleng. Sejenak, ruang rawat terdengar bising dengan tingkah dua gadis yang saling bertukar tawa. Tak sampai lima menit, keadaan kembali sepi saat salah satu perawat masuk memberi peringatan kepada mereka. Wiwi dan Dinda pun segera mengecilkan volume suara agar tidak sampai mengganggu pasien di ruangan lain "Tuh kan, gara-gara dekat kamu, aku jadi ikut-ikutan sesat!" Dinda mencebik bibir. Matanya menghunus tajam ke arah sang sahabat. "Sesat, emangnya aku ini tukang sate." "Tukang sate?" Alis Dinda bertaut. "Iya. Dia yang kegerahan, satenya yang dikipasin. Sesat banget, 'kan!" Wiwi tertawa sambil menutup mulutnya dengan tangan, takut dimarahi suster lagi. "Eh, ada lagi pedagang yang lebih sesat, tau," timpal Dinda tak mau kalah. "Apa?" Wiwi mencondongkan wajah begitu ingin tahu. "Tukang sandal." "Kok?" "Ia. Kemarin aku beli sandal, masa kanan sama kirinya beda." Dinda memasang wajah lugu. "Ya beda lah, Oneng! Masa kanan sama kiri sama. Ah ... aku siram sabun cuci piring juga nih pikiranmu, biar cerah! Dua gadis itu pun kembali tertawa. Namun, dengan volume yang lebih kecil dari sebelumnya. Sejenak, sakit yang Dinda rasa perlahan-lahan mulai terlupa. Wiwi datang tak hanya membawa kabar bahagia tentang Ryan, tetapi juga memecah suasana yang sempat terpasung keluh. Bukan sakit di bagian tubuh saja, hantaman kenyataan yang sempat mengoyak hati Dinda pun, berangsur-angsur terobati. Gadis berparas ayu itu tak berhenti merekah senyum. Tuhan begitu baik telah menghadirkan sesosok sahabat yang selalu bisa mencairkan suasana dan membuat Dinda kembali bisa tertawa. *** Di sekolah, Ryan bersama beberapa anggota OSIS dan perwakilan guru, tengah mengadakan rapat koordinasi tentang pengadaan beasiswa kuliah gratis yang disponsori oleh universitas ternama di kota mereka. Tak hanya para murid yang mendapat nilai tertinggi, siswa-siswi yang memiliki bakat dan mampu mengembangkannya menjadi sebuah karya bermanfaat pun, bisa diikutsertakan dalam target peraih program beasiswa tersebut. Di tengah diskusi penting yang masih belum selesai hingga petang ini, pikiran Ryan justru hanyut dalam delusi. Memikirkan bagaimana kondisi Dinda membuatnya hilang fokus. Bayangan Dinda saat terkulai di lantai, membuat Ryan semakin dalam mengutuk diri sendiri. "Bodoh banget sih kamu, Yan! ngajak Dinda ke kantin tapi gak dipesenin makanan. Aaargh!" Ryan membatin sembari memukul-mukul kening. "Kamu kenapa, Ryan?" Suara Pak Jun sontak membuat pemuda bertubuh tinggi itu melongo. Ryan merasa tertangkap basah kala melihat orang-orang di sekitarnya mulai menatap aneh. "Dinda. Kenapa kamu bikin aku jadi kaya orang aneh gini?" Ryan bertanya daalm hati. *** "Aku mau kita cerai saja," ucap Rita lantang. "Bu. Istigfar! Kita sudah hampir dua puluh tahun menjalani biduk rumah tangga. Tidak semudah itu melepaskan tanggung jawab, Bu!" Harto terus bersikukuh menenangkan sang istri yang sejak tadi tak berhenti mengamuk. "Aku sudah capek. Hutang belum kelar, Dinda dirawat. Aku harus cari uang di mana lagi?" Rita menjatuhkan diri ke bangku ruang tamu. Napasnya naik turun, menahan pilu dan amarah yang menghantam pikirannya secara bersamaan. Wanita itu tak bisa lagi menahan tangis. Raungannya pecah, seiring jatuhnya benda-benda yang ada di sekitarnya. Menjadi seorang yang temperamental, bukanlah hal yang Rita inginkan. Kondisi ekonomi yang mencekik keluarganya, membuat sifat penyayang seolah-olah hilang ditempa lilitan hutang. Rita sudah lelah, ia ingin berpisah agar terlepas dari kejamnya hutang riba. Dinda, bukan lagi tumpuan hidupnya. Wanita berusia tiga puluh delapan tahun itu berpikir, anak gadis itu harus ikut dengan bapaknya jika sudah bercerai. Harto yang tengah duduk sembari memegang remote TV pun, seketika berdiri. Ia melempar benda persegi panjang itu ke arah pot kaca yang terletak di tengah-tengah meja hingga pecah. Beling-beling kecil berserakan. Lantai yang basah berbaur dengan kekacauan yang sudah Rita ciptakan sebelumnya. Gorden bernuansa gold yang menutup dua jenderal di ruang tamu, bahkan sudah tak lagi di tempatnya. Di ujung ruangan, terlihat sapu dan pengeruk sampah yang patah. Semua itu akibat ulang Rita yang mengamuk membabi-buta. Atmosfer yang sudah tak sehat di rumah itu, makin lama makin membuat penghuninya tak betah. Baik Harto, Rita, juga putri mereka. Harto yang awalnya hanya diam menyikapi sikap kasar sang istri, kini tersulut emosi karena merasa kesabarannya sudah tidak lagi dihargai. Di dalam pikiran Harto saat itu hanyalah, untuk apa mempertahankan seseorang yang tak lagi hormat padanya. Sebagai seorang lelaki dan pemimpin keluarga, sudah sepatutnya ia disegani dan dihormati setulus hati. Namun saat ini, semua itu sudah tidak lagi ia dapatkan dari istri yang sudah belasan tahun ia nikahi. Kegagalan yang Harto alami bukanlah kemauannya. Susah payah belasan tahun meniti usaha demi menafkahi keluarga, tidak sama sekali dilihat oleh mata kepala Rita. Hutang, hutang, dan hutang. Hanya itu yang selalu diungkit-ungkit setiap hari dan membuat lelaki setengah baya itu terpojok, merasa tak berguna lagi sebagai seorang laki-laki. Ekor mata Harto terus tertuju pada Rita yang berjalan ke arah kamar. Selang beberapa menit, istrinya pun keluar dengan membawa tas besar di tangan. "Aku pergi dari rumah ini dan akan mengurus perceraian kita nanti. Siapkan saja uang 100 juta untuk harta gono gini," ucap Rita lantang. Jarinya menunjuk-nunjuk ke arah Harto tanpa segan. Harto menelan ludah. Rahangnya mengeras ketika menyadari sang istri akan benar-benar pergi kali ini. Harto hanya tertunduk dan pasrah, merasa tidak ada daya untuk mempertahankan rumah tangga. Ia sudah tidak punya apa-apa lagi. Rumah yang ditempati pun, sudah menjadi agunan Bank sebagai jaminan hutang-hutangnya. "Uang. Di pikiranmu cuma ada uang? Semurah itu kau tukar keluargamu dengan nominal?" Bibir lelaki itu bergetar. Matanya yang merah, menandakan betapa susah payah ia menahan buliran bening yang berdesakan di sudutnya. "Terserah! Aku sudah capek dengan keributan ini." Rita pun berlalu, tanpa menoleh ke arah Harto yang menatapnya pilu. Sekejap, bayangan Rita menghilang seiring suara langkah yang makin lama makin menjauh. Harto merebahkan tubuh di sandaran sofa. Dua tangannya menjambak rambut sendiri kuat-kuat, merasa sudah tidak berguna lagi sebagai seorang laki-laki. Harto tak lagi berusaha menarik tangan istrinya seperti yang selalu ia lakukan setiap Rita ingin pergi dari rumah. Ia tak lagi memohon agar sang istri tetap setia menemani di masa-masa sulitnya. Saat ini, Harto merasa harapannya sudah buntu. Mahligai rumah tangga yang selalu ia perjuangkan dengan segenap jiwa raga, empas begitu saja menyisakan puing-puing luka yang bercampur dengan rasa penyesalan. Harto berteriak sekeras-kerasnya. Andai saja ia tahu keluarganya akan hancur seperti ini, ia pasti tidak akan terlalu menaruh kepercayaan kepada orang yang sudah dianggap sebagai teman. *** Dinda sedang menyalin catatan pelajaran saat Harto datang membawa dua bungkus plastik di tangan. Meski sedang sakit, Dinda tetap berusaha untuk tidak meninggalkan pelajaran di sekolah. Beruntung, Wiwi dengan sigap meminjamkan buku catatan. Dinda tak perlu repot-repot mencari materi ke perpustakaan setelah sembuh nanti. Belajar, belajar, dan belajar. Hanya itu yang sedang Dinda kejar demi bisa meraih beasiswa yang sangat ia impikan. "Assalamualaikum, anak bapak yang cantik!" Suara Harto berhasil membuat gadis berusia delapan belas tahun itu menoleh kegirangan. "Waalaikumsalam. Bapak bawa apa?" Mata Dinda langsung tertuju pada plastik putih di tangan sang bapak. "Bubur ayam. Kecapnya banyak, sambalnya dipisah, gak pakai daun bawang, plus ada sate hati ampelanya," ucap Harto sambil menaruh tentengan di atas lemari kecil di sisi ranjang. "Asyik! Ayo, Pak, makan. Dinda jadi lapar lagi. Padahal udah makan-makanan dari sini. Tuh, nampannya masih ada!" kata Dinda sambil menunjuk nampan kosong di dekat kakinya. "Ayo. Kita habisin ini semua!" Harto pun dengan cekatan mengeluarkan satu per satu wadah styrofoam, membuka salah satunya, lalu menyuapi Dinda "Aaa!" Mulut Harto ikut terbuka kala tangannya menyodorkan sesendok demi sesendok bubur. "Mantep, Pak. Enak!" Dinda mengunyah dengan semangat sekali. Dua porsi bubur yang bapaknya beli, membuat Dinda mengernyitkan dahi. "Loh, kok cuma dua, Pak. Buat ibu mana?" tanya Dinda heran. Mendengar pertanyaan sang anak, Pak Harto malah menurunkan tangannya yang sudah terangkat untuk memberi suapan lagi. Helaan napas panjang bersamaan dengan bola mata yang mengedar, membuat keresahan Harto makin terlihat nyata. Lelaki itu menunduk tak berani mengangkat wajah. Ia berusaha memberanikan diri menjawab pertanyaan dari anaknya. "Ibu sama bapak, sudah pisah, Nak." Gemetar Harto mengatakan hal itu. Praaang! Tiba-tiba saja nampan stainless yang tergeletak di dekat kaki Dinda terjatuh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN