"Makanya, kamu kalau dikasih tau orang tua tuh, nurut. Disuruh makan, ya makan. Akhirnya gini, kan? Mag kambuh, pakai acara pingsan di sekolah. Bikin repot semua orang. Bikin repot Ibu!" Bu Rita terus saja memarahi Dinda yang masih tergolek lemah di atas tempat tidur pasien.
Beruntung, di dalam ruang rawat kelas tiga itu hanya Dinda yang mendiami. Jika tidak, pasti keluarga pasien lain sudah menegur ibu satu anak itu.
Di atas ranjangnya, Dinda terus menatap sang ibu sambil berkaca-kaca. Belum lagi hilang rasa sakit di bagian perut, malah hatinya pun kembali dihantam kemelut.
Siang tadi, Dinda pingsan karena belum makan sejak kemarin malam. Gadis itu lapar, tetapi tak sedikit pun berselera makan. Perkelahian kedua orang tua, juga u*****n yang sang ibu selalu jangankan padanya, justru semakin membuat Dinda merasa tidak ada gunanya hidup di dunia.
Sungguh, kejadian ini adalah sesuatu yang tak pernah Dinda rencanakan. Gadis itu hanya mengingat pertemuannya dengan Ryan di kantin. Setelah itu, tiba-tiba ia merasa pusing dan lemas, lalu ia tak ingat apa-apa lagi.
Lampu sorot di ruang UGD, sangat menyilaukan saat Dinda membuka mata. Kata salah satu guru yang mengantarnya ke rumah sakit, Dinda sama sekali tidak bangun meski para petugas UKS dengan susah payah memberikan pertolongan pertama. Oleh sebab itu, pihak sekolah langsung merujuknya ke rumah sakit terdekat.
Alih-alih ingin mendapat dukungan, Dinda justru dihantam amarah yang tak berkesudahan saat ibunya datang. Bu Rita terus saja meledak-ledak, sampai dua orang berseragam putih masuk ke dalam ruangan.
"Tolong, jangan bicara keras-keras, Bu! Ini rumah sakit," ucap salah satu pria yang mengalungkan stetoskop di lehernya.
Bu Rita sontak diam, lalu duduk di bangku di sisi kanan Dinda.
"Infusnya saya percepatan, ya! Supaya kamu lebih cepat pulih, gak loyo lagi!" ujar sang dokter sambil memutar roller clamp, lalu menyarankan agar Dinda tidak banyak menggerakkan tangannya, karena darah terlihat menyumbat selang infus.
Mendengar seruan dokter, Dinda hanya mengangguk pelan sambil tersenyum kecil.
"Ibu ini, ibunya pasien, kah?" tanya salah seorang perawat berkerudung putih, yang sejak tadi sibuk mencatat sesuatu di atas papan d**a.
"Iya," sahut Bu Rita singkat, tanpa menoleh, hanya sedikit melirik ke arah sumber suara.
"Anaknya sendiri kok dimarah-marahi? Kasihan loh, Bu!" ujar pria pemilik nama Dr. Hermawan S. Ked, yang terpasang di name tag di atas saku kanan bajunya.
Mendengar hal itu, Bu Rita hanya diam. Namun, wajahnya semakin tampak kesal dan memilih keluar dari bangsal.
***
"Bagaimana, Pak? Mau nggak?" Seorang pemuda bertato, tampak sedang menawarkan sesuatu pada Pak Harto.
Ayah Dinda lantas mengerutkan alis sambil mengecek isi dalam plastik hitam tersebut.
Di ujung gang dekat rumah Dinda, tepatnya di samping pos siskamling yang sering para pemuda gunakan untuk berkumpul bermain remi, Harto dan seorang pemuda tampak begitu serius membicarakan sesuatu.
"Aduh. Saya takut, Jem, takut ketangkep polisi." Harto mencoba mengelak, dan kembali mengedarkan pandangan demi mengawasi sekitaran.
"Ya ... jangan sampai ketangkep. Harus pinter-pinter gerak. Set set set!" ujar Jemy, pemuda yang dikenal preman kompleks yang ditakuti warga sambil meliuk-liukkan tangannya.
Harto yang sejak kemarin kebingungan mencari uang untuk membayar angsuran Bank, nekat menemui Jemy dan meminta pemuda itu mencarikan pekerjaan sampingan untuknya.
Harto diam sejenak, memikirkan matang-matang konsekuensi apa yang harus ia jalani jika melanjutkan pekerjaan ini
"Boleh, deh. Saya lagi butuh uang banget untuk bayar hutang." Akhirnya, Harto mengiyakan tawaran Jemy. Ia sudah tidak punya pilihan lain selain melakukan pekerjaan itu. Hutang-hutangnya makin bertumpuk. Setiap hari, ada saja orang yang datang ke rumahnya untuk menagih hutang.
Harto merasa hidup keluarganya sudah berada di ujung tanduk. Uang dari hasil dagang hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Untuk transportasi dan bekal di perjalanan saja, bisa habis lima puluh ribu per hari. Sisanya paling banyak tujuh puluh ribu dan itu semua harus ia serahkan kepada Rita untuk kebutuhan rumah tangga dan biaya sekolah Dinda. Lelaki itu bingung bagaimana caranya menyisihkan uang untuk membayar hutang.
Uang yang dihasilkan Bu Rita pun, masih belum cukup untuk mencicil angsuran Bank. Bekerja di laundry dengan gaji enam puluh ribu per hari, hanya bisa menutup tiga per empatnya saja.
"Oke, sip. Ini barangnya! Nanti saya WA nomor orang yang pesan," seru Jemy sambil menyerahkan kantung plastik hitam ke tangan Harto, dan menyuruhnya langsung memasukkan benda itu ke dalam saku dalam jaket yang dikenakan.
Harto pun segera pergi setelah Jemy memberi isyarat acungan jempol padanya. Matanya terus mengawasi sekitar, takut bila ada orang lain yang mencurigai pertemuan mereka.
***
"Tunggu, Wi!" Panggilan Ryan sontak menginterupsi langkah gadis berambut ikal
Wiwi menoleh dan kaget saat melihat Ryan berlari cepat ke arahnya.
"Lah, kamu habis maraton, Yan? Sampe ngos-ngosan gitu." Wiwi berdecak heran.
"Aku panggil-panggil kamu dari tadi, tapi kamunya jalan terus," jawab Ryan sambil berusaha mengatur napas.
"Oalah. Aku kira kamu lagi ngetes kaki, gak taunya ... aku yang budek." Wiwi terkekeh.
"Aku mau minta nomor Dinda," pinta Ryan di sela helaan napas yang masih memburu.
"Lah, emangnya belum punya?" Wiwi berkacak pinggang kemudian menggeleng. "Kasihan Dinda. Dia menyimpan semua tentang kamu, tapi nomor telepon Dinda aja kamu gak simpan."
"Loh, Dinda udah punya nomorku? Kenapa gak pernah kirim pesan?" Ryan menatap heran.
Wiwi sontak menutup mulut dengan tangan. Ia keceplosan. Bola matanya menepi ke atas, lantas memikirkan kata-kata yang pas untuk berkilah pada sosok tinggi di hadapannya.
"Eem. Aku gak tau. Buat apa juga dia kirim pesan ke kamu kalau gak penting-penting banget?" Wiwi berusaha tetap santai. Padahal, ia tahu betul bahwa Dinda ingin sekali bertegur sapa dengan Ryan lewat ponsel. Sayangnya, Dinda malu memulai terlebih dulu.
"Oh, gitu. Apa aku harus jadi presiden dulu biar dia anggap aku orang penting?" Ryan menunduk.
"Eh eh. Bukan gitu. Ya udah, biar gak salah paham, ini aku kasih nomornya!" Wiwi langsung mengambil ponsel dari dalam saku baju, lalu menyodorkannya pada Ryan.
Pemuda itu dengan cepat menyalin nomor. Setelah selesai, Ryan kembali menitipkan salam bahwa ia belum bisa menjenguk Dinda siang ini karena ada rapat OSIS.
Wiwi mengangguk antusias, lalu segera beranjak dari sekolah menuju rumah sakit tempat Dinda dirawat.
***
"Din. Ibumu ke mana?" tanya Wiwi sesampainya di kamar rawat sang sahabat.
Ruangan besar berukuran tiga kali delapan meter itu, hanya diisi oleh Dinda seorang. Empat ranjang pasien yang ada di sisi kiri dan kanannya, tampak rapi dan belum ada yang menghuni.
"Ke luar tadi. Beli makanan mungkin," sahut Dinda dengan nada malas.
Wiwi menatap sahabatnya lirih. Aura pucat di wajah Dinda amat kentara. Wiwi menarik napas dalam-dalam, mencoba untuk tidak meluapkan sedih meskipun cairan dari dalam hidungnya bergerak turun naik.
"Jangan nangis, Wi. Aku masih napas udah ditangisin." Dinda menjawil hidung bangir sang sahabat, yang tengah terisak-isak di sisinya.
"Kamu kalau ngomong gak pakai rem sih, Din? Kalau ada malaikat lewat terus aminin omongan kamu, gimana?" Wiwi malah menangis makin menjadi-jadi.
"Ya ... enggak apa-apa. Setidaknya, beban orang tuaku sedikit berkurang." Dinda menyeka pipinya yang tiba-tiba basah. Entah, buliran bening itu jatuh dengan sendirinya tanpa aba-aba.
"Dindaaa!" Wiwi menghambur, memeluk erat sahabatnya yang ikut hanyut dalam tangis. Sesak yang Dinda rasa, seolah-olah berbaur dengan rasa cemas yang Wiwi tahan sejak tadi siang.
Wiwi tahu betul apa yang sedangdialami oleh sahabatnya itu. Di balik tawa riang Dinda saat di sekolah, ada perundungan yang tersembunyi di dalamnya. Terlebih, goresan sembilu yang terlanjur menancap di hati Dinda, bukanlah karena siapa-siapa. Luka yang semakin menganga setiap hari itu, tidak lain berasal dari dua orang tuanya sendiri.
Jika saja rasa pedih di hati Dinda dapat ditulis oleh pena, mungkin sudah habis ribuan rim kertas untuk mencoret segala kekesalannya selama ini. Namun, Dinda justru memilih diam. Sebab ia tahu betul, membantah orang tua itu sama saja menimbun dosa yang sangat besar. Dinda tak ingin ikut tersulut emosi yang malah akan merugikan diri sendiri.
"Udah, dong! Jangan menangis lagi. Aku ke sini kan, bukan mau bikin kamu nangis." Wiwi melepaskan pelukan sembari mengusap pipi sahabatnya pelan.
"Terus ... mau apa?" sahut Dinda sambil berusaha tersenyum.
"Mau numpang tidur."
"Dasar kamu!" Cubitan keras pun melayang di salah satu pipi Wiwi.
Dua sahabat yang baru saja mengehentikan tangisan pun, sontak terbahak-bahak dan saling sikut satu sama lain. Senyum Dinda hadir kembali. Ia sampai lupa dengan jarum infus yang tertancap di tangannya sudah penuh dengan cairan darah yang naik ke selang.
"Auuu. Sakit, Wi! Tuh kan, darah aku keluar lagi." Dinda meringis kesakitan.
"Loh. Darahmu merah juga, Din. Aku kira ... warnanya baby pink karena lagi falling in love sama Ryan akhir-akhir ini." timpal Wiwi dengan ekspresi meledek.
"Ih. Jangan ngomong gitu! Aku malu kalau ingat pas pingsan tadi. Kira-kira ... Ryan illfeel gak ya, sama aku?" Wajah Dinda berubah murung. Bibirnya yang mengerucut tampak menyatu dengan hidungnya yang minimalis.
"Oh iya. Tadi Ryan minta nomor kamu." Wiwi tiba-tiba teringat dengan pertemuannya dengan Ryan sepulang sekolah tadi.
"Serius?" Dinda tak percaya.
"Beneran. Coba kamu cek handphone-mu! Siapa tau ada chat dari dia."
Mendengar instruksi Wiwi, Dinda pun langsung mengambil ransel dari atas nakas, lalu mengeluarkan ponsel dan menyalakannya.
"Gimana?" tanya Wiwi penasaran. Wajahnya begitu antusias menunggu reaksi dari sang sahabat yang sudah hampir setengah menit tidak mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.
"Wi!"
"Ya. Gimana?" Mata Wiwi semakin melebar, penasaran.
"Aku jadi pengen pingsan lagi." Dinda langsung menghempaskan kepalanya ke sandaran tempat tidur sambil menutup mata dengan tangan.