Sepanjang perjalanan, jantung Dinda berdetak kencang membayangkan apa yang akan ditanya Pak Jun nanti. Namun, ketakutan itu lumer seketika saat gadis itu tiba dan membuka pintu.
Ryan!
Dinda tak menyangka Ryan juga dipanggil ke ruangan yang sama. Ternyata, Pak Jun menyuruhnya datang untuk membahas program beasiswa perkuliahan yang akan diadakan dalam waktu dekat. Dinda tidak menyangka bisa terpilih menjadi salah satu kandidat penerima beasiswa. Terlebih, ia mendapat tugas penelitian bersama dengan sosok yang dikaguminya dalam program ini.
Tidak banyak yang dibahas dalam pertemuan tiga orang itu. Ryan dan Dinda hanya diminta untuk saling konsultasi dan mulai merencanakan ide penelitian apa yang akan mereka presentasikan dalam proses seleksi mendatang.
“Din, kita ketemuan di kantin besok, ya!” ajak Ryan sesampainya mereka di luar ruangan.
Seperti ditimpa hujan di musim kemarau. Hati Dinda merasa sejuk mendengar kalimat indah itu.
“Din, bisa, kan? Apa kamu sibuk, ya?” Ryan kembali memastikan.
“Oh, enggak-enggak. Aku belum jadi anggota DPR, jadi belum sibuk,” jawab Dinda sedikit gugup.
“Oke kalau gitu. Besok, jam istirahat, di kantin. Oke!” Ryan mengangkat jempol sebelum beranjak meninggalkan Dinda.
“O-oke!” Dinda mencubit pipi sendiri, berharap ini bukan mimpi.
Siang harinya setelah pulang sekolah, Dinda menceritakan apa yang Pak Jun bicarakan selama di ruang BP. Wiwi sedikit kesal dengan Dinda lantaran gadis itu tidak mau menjawab ketika ditanya, padahal Wiwi sudah sangat khawatir.
Dinda sengaja menceritakan tentang programnya bersama Ryan setelah pulang sekolah. Ia tidak mau Wiwi berisik yang akan membuat geng trio ceker berbuat ulah lagi.
Meskipun sempat kesal, Wiwi kembali antusias dengan apa yang Dinda ucap. Saking senangnya, Wiwi tidak berhenti menciumi pipi Dinda karena gemas dengan kabar baik yang sudah ia tunggu-tunggu selama ini.
“Alhamdulillah ... akhirnya kamu bisa kerjasama bareng Ryan. Aku doain biar kalian cepet-cepet jadian terus nikah abis ujian,” ucap Wiwi girang.
“Enak aja! Aku masih mau lanjut kuliah. Emangnya kamu, pikirannya nikah, nikah, nikah terus,” celetuk Dinda.
Wiwi hanya tersenyum, menunjukkan gigi-gigi gingsul. Mereka kemudian melanjutkan percakapan tentang apa yang akan Dinda dan Ryan rencanakan setelah ini.
Sesampainya di rumah, Dinda lagi-lagi harus memakai masker untuk menutupi lukanya. Belum sempat gadis itu menginjak teras, suara piring pecah menyambutnya begitu keras.
Dinda tersentak dan hampir menutup kuping saat suara teriakan menggema sampai ke luar rumah. Dinda membuang napas kasar dan meneruskan kegiatannya melepas tali sepatu. Pertengkaran itu, sudah seperti makan siang baginya. Saking seringnya, Dinda sampai berpikiran ingin kabur dari rumah.
"Assalamualaikum!" ucap Dinda sambil membuka pintu.
Hening, tak ada jawaban dari dalam. Gadis itu masuk sambil mengedarkan pandangan, lalu menepi pada dua sosok yang sedang duduk saling diam di meja makan.
Dinda menghela napas panjang. Ia tahu betul apa yang terjadi sebelum ia pulang. Ayah dan ibunya selalu bertengkar. Itulah sebabnya mengapa gadis bertubuh mungil itu lebih sering menghabiskan waktu sendirian di kamar.
"Pak, Bu." Dengan khidmat, Dinda meraih satu per satu tangan mereka lalu menempelkannya di dahi. Tak ada sepatah kata pun yang terlontar dari mulut dua orang tua itu, hanya usapan ringan dari lelaki berusia 42 tahun yang sempat mendarat di kepalanya.
Dinda langsung menarik diri dan berjalan menuju kamar. Ketika gadis itu menutup pintu, teriakan dan u*****n kembali terdengar. Ternyata kedua orang tuanya masih melanjutkan perselisihan tanpa memedulikan putrinya yang baru saja pulang.
Dinda enggan menghiraukan. Lagi pula, hal itu sudah menjadi makanan sehari-harinya. Hanya saja, sesekali Dinda merasa butuh seseorang yang bisa diajak bicara, tentang pelajaran di sekolah, tentang betapa menyebalkan tiga orang teman yang sering membullynya, tentang bagaimana kekagumannya pada Ryan yang tak kunjung usai. Apa pun itu. Ia butuh teman bicara yang tak pernah ia dapatkan di rumah.
Tak terasa, buliran bening meluncur dari manik hitam gadis berambut panjang itu. Baju seragam putih yang masih ia genggam, ia pakai untuk mengusap wajahnya kasar. "Kamu cengeng banget sih, Din!" rutuknya.
Ritsleting tas yang sudah sedikit rusak, ia buka perlahan. Dikeluarkannya buku-buku pelajaran hari ini, lalu menggantinya dengan buku yang dijadwalkan esok. Ketika tangannya merogoh dalam tas, gadis itu sontak diam, matanya terpaku pada benda segi empat yang baru saja ia keluarkan.
"PIAGAM PENGHARGAAN"
Ia ingat belum sempat membereskan tas setelah mengikuti Olimpiade Sains Sabtu lalu. Benda berwarna gold itu berhasil membuat Dinda merekahkan senyum. Dengan cepat, ia mencari-cari sesuatu dari dalam laci meja belajar, mengambil figura lalu mengarahkannya ke dinding hijau tosca yang sudah tak lagi cerah.
Beberapa kali tangan Dinda mengayunkan palu, hingga tercipta lubang di dinding yang lembap dan usang itu. Gadis itu lantas memajang hasil kerja kerasnya sebagai pecutan semangat kala pikirannya sedang goyah. Dinda memang memiliki keunggulan di bidang sains, itu sebabkan ia sering mendapatkan penghargaan dari pihak sekolah berupa keringanan biaya.
Tak hanya itu, ada beberapa sertifikat yang ia gantung di kamar, juga rentetan medali emas dan perak yang berbaris rapi. Benda-benda mati itu telah menjadi penyemangat Dinda saat dirinya dihantam sepi.
Sejenak, tatapannya seperti tak ingin berpaling dari benda-benda berharga itu. Semua prestasi, juga hasil perjuangannya di beberapa event perlombaan, seolah-olah seperti pajangan belaka.
“Untuk apa? Toh, bapak dan ibu tidak pernah memujiku sama sekali.” Lagi-lagi Dinda berkecil hati.
"Dinda. Ayo ke sini, makan dulu!" Teriakan sang bapak membuat Dinda mengakhiri lamunan. Segera ia keluar dari kamar, lalu menuju ke meja makan sebelum u*****n kasar ibunya menghantam gendang telinga.
"Makan, Pak, Bu!" ajak gadis itu pada dua orang tuanya yang masih saling bisu.
"Hayo dong, makan yang banyak, biar cepat gede!" Pak Harto—bapak Dinda—terlihat begitu asyik mencocol sambal dengan lalapan daun pepaya di hadapannya.
"Dinda. Udah dong, kamu cepat lulus sekolahnya, biar bisa cari kerja, biar bisa bantu-bantuin ibu cari uang!" ujar Bu Rita—ibu kandung Dinda yang tengah sibuk menggosok-gosok wajan yang sudah tak lagi mengilat.
Gaya rambut Bu Rita yang hanya diikat asal, menandakan betapa tak terurusnya ia. 24 jam bergelut dengan pekerjaan yang tak ada habisnya, membuat ibu satu anak itu seperti kehilangan kelembutan. Nada tinggi yang keluar dari mulutnya, seolah-olah menjadi hal yang tidak mengherankan lagi bagi penghuni rumah, pun bagi para tetangga di sisi kiri-kanannya.
Dinda yang baru saja ingin menyuap nasi ke dalam mulut, sontak berhenti dan kembali meletakkannya di atas piring.
"Sabar, Bu! Jangan bawa-bawa Dinda." Harto menimpali ucapan sang istri.
"Ini juga kan gara-gara bapak, terlalu percaya sama teman. Uang modal habis untuk bayar hutang Bank. Ibu sudah capek bantu-bantu kerja di laundry, tapi tetap gak cukup buat makan sehari-hari. Huh!" dengkus Rita kesal.
Panci dan penggorengan yang sedang ia cuci, saling berbenturan satu sama lain. Dinda membatin. Untung saja dua benda itu tidak punya otak. Kalau punya, bisa amnesia bahkan lupa jati diri.
Pak Harto menelan saliva, ekor matanya melirik ke arah Dinda yang hanya termenung menatap nasi di depannya.
Dinda yang sudah kehilangan mood sejak memasuki rumah, memilih beranjak dan kembali ke kamar.
"Din. Mau kemana? Dihabisin dulu nasinya, mubazir!" teriak Rita memanggil sang putri, tetapi Dinda tak menghiraukan sama sekali.
"Lihat, tuh, lihat! Bapak terlalu manjain Dinda sampai dia gak nurut sama orang tua." Kesal, Rita kembali melempar serbet ke lantai.
Pak Harto yang sejak tadi diam mendengar sang istri mengomel, akhirnya buka suara. Cacian dan makian kembali terdengar memekik telinga, belum lima menit rumah bergaya minimalis itu dibelai hening. Kini, ramai perdebatan kembali mengusik ketenteramannya. Dinda, memilih menutup pintu kamar rapat-rapat, lalu berbaring menatap langit-langit dengan earphone yang terpasang di kedua telinganya.
Memang, semenjak Harto bangkrut dari usaha perikanannya, kondisi perekonomian keluarga Dinda menjadi kacau balau. Uang yang seharusnya diputar untuk modal, ternyata raib dicuri teman yang sudah orang tua Dinda anggap sebagai orang kepercayaan.
Saat ini, bapak dan ibu Dinda pontang-panting bekerja keras demi menutupi hutang-hutang mereka pada Bank. Pasalnya, rumah yang mereka tempati merupakan jaminan hutang tersebut.
***
"Din. Udah ngerjain PR biologi? Aku nyontek, ya!" Wiwi, langsung memalak Dinda ketika mereka sampai di kelas.
"Ambil aja di tas!" sahut Dinda singkat.
"Lah, tumben. Biasanya, aku diceramahin dua hari dua malam kalau minta contekan?" Wiwi menatap Dinda heran, sambil tangannya sibuk membuka tas sahabatnya itu.
"Bayar tapi, pake somay Mang Udin seporsi."
"Somay doang?"
"Ama gorengan seplastik." Dinda menyahut tanpa menoleh sedikit pun.
"Buset, dah, kamu kesurupan? Beling sama pakunya, nggak sekalian?"
"Ngaco. Makanya kalau mandi otaknya sekalian dikeramasin, biar agak bening!" sahut Dinda kesal.
Dinda melayangkan buku ke kepala sang sahabat. Sementara Wiwi, tetap tak membalas, hanya mampu mengerucutkan bibir.
Gadis mungil berambut panjang itu rupanya masih belum bisa menjaga mood dengan baik. Bagaimana tidak! Saat ia berpamitan pun, ibunya masih mengungkit-ungkit soal biaya. Dinda sempat berpikir untuk bekerja paruh waktu setelah pulang sekolah. Setidaknya, ia bisa menghasilkan uang agar tidak menjadi beban.
"Dinda!"
Suara seorang pemuda membuat kedua sahabat yang tengah berdebat itu sontak diam. Bukan hanya mereka berdua, satu kelas turut mematung sembari memandang lekat ke arah pintu.
Terlebih tiga personil Trio Ceker. Pupil hitam mereka melebar, seperti Tuan Krab saat melihat dolar.
Sosok tinggi yang tengah merekah senyum itu, membuat Dinda kembali dihantam bisu. Ryan Mahesa adalah satu-satunya orang yang mampu membuat Dinda bersikap kalem di sekolah.
"Wi, aku berasa mau ke Amerika sekarang," ucap Dinda tanpa mengalihkan pandangannya pada sang pemilik rindu.
"Lah. Mau ngapain? Jauh amat!" Wiwi menoleh ke arah sang sahabat sembari mengernyitkan dahi.
"Mau laporan ke UNESCO kalau keajaiban dunia di Indonesia itu bukan cuma candi Borobudur."
"Terus, apa lagi ?" tanya Wiwi antusias.
"Ryan."
Wiwi mencondongkan wajah dengan ekspresi seperti biasa. Mulut menganga dan mata membulat sempurna.
"Lihat, deh! cakepnya awet banget, ya, kayak artefak, " ujar Dinda dengan nada berbisik.
"Makan borak kayaknya tuh si Ryan, makanya awet," Wiwi menimpali sambil tertawa geli.
"Din. Jam istirahat aku tunggu di kantin, ya!" seru Ryan sambil mengacungkan ibu jari ke arah Dinda.
Cowok idaman bertubuh tinggi itu pun berlalu, meninggalkan getaran semu di hati kecil gadis yang penuh halu.
"Oooy, jangan bengong! Entar kesambet!" teriak Wiwi sembari menggoyang-goyangkan pundak sahabatnya.
"Kesambet? gak apa-apa kalau setannya cakep!" Dinda terkekeh. Wajahnya yang sempat ditutupi awan kelabu sejak pagi, kembali ceria seperti embun yang menari-nari kala fajar mengintipnya diam-diam.
Selalu ada cara bagi cinta menorehkan senyum di hati, dan selalu ada alasan mengapa manusia memilih mencintai dalam sepi. Bukan karena mereka tak percaya diri. Hanya saja, mengagumi diam-diam itu lebih melegakan dibanding harus menciptakan sekat saat mengetahui isi hati masing-masing.
Di telinga Dinda, bunyi bel yang mendengung keras, kedengarannya seperti lagu H. Roma Irama yang berjudul 'Menunggu'. Iramanya syahdu, seakan-akan memaksa gadis bertubuh mungil itu ikut hanyut dalam simfoni kehaluan yang mulai mendarah daging.
Tak ingin membiarkan Ryan menunggu lama, Dinda pun segera membereskan buku dan cepat-cepat beranjak dari bangku.
"Aku ikut!" pinta Wiwi sembari mengedip-kedipkan mata.
Alih-alih ingin mendapatkan jawaban yang mengenakkan, Wiwi justru dihujani lirikan sinis dari sang sahabat.
"Iya-iya. Aku paham. Gak usah liatin aku kaya gitu kali. Aku bukan pisang," ujar Wiwi kesal.
Tak mau membuang waktu, Dinda pun segera berlalu meninggalkan Wiwi yang masih menggerutu.
"Oke, fix! Aku harus cari gebetan biar gak BT sendirian," ucap Wiwi lantang, tanpa memedulikan gelagat teman-teman di dekatnya yang menatapnya aneh.
"Wi. Kamu mau cari gebetan?" Tiba-tiba Sarah bersama kedua temannya datang.
"Astaga! Kenapa tiga kuntilanak ini malah nyamperin aku, sih? Mana Dinda gak ada, bisa kesambet aku. Audzubillahiminasyaithoonirrojiim—" Wiwi bergumam pelan.
"Woy. Ngapain komat-kamit, lagi baca mantra?" Tepukan keras tangan Sarah, membuat Wiwi kaget bukan kepalang.
"Bu-bukan. Lagi baca undang-undang dasar. Eh, doa maksudnya," sahut gadis berhidung bangir itu terbata-bata. Wajah Wiwi terlihat sangat pucat seperti sedang menahan buang air besar.
"What, baca doa? Kamu kira, kita bertiga ini, setan?" sergah Mary dengan raut wajah kesal.
"Lah, emang bukan setan?" Wiwi keceplosan. Ia sontak menutup mulut dengan tangan, lalu cepat-cepat kabur sebelum ketiga gadis yang sudah naik pitam itu menghabisinya.
***
Sudah sekitar sepuluh menit Dinda menunggu Ryan di kantin. Wajahnya yang berkeringat, menandakan kekhawatiran dan kegugupan yang bertempur di dalam otaknya.
Pertanyaan demi pertanyaan, mulai muncul dalam pikiran gadis itu. Entah Ryan lupa dengan janjinya, atau ... pemuda itu sedang sibuk dengan tugas-tugas sampai tak sempat menemuinya di kantin.
Sudah lebih dari lima kali mata gadis itu mengedar ke penjuru kantin, takut jika Ryan datang, tetapi tidak menyadari keberadaannya. Berkali-kali juga Dinda melihat arloji silver di pergelangan tangan kiri, khawatir karena waktu istirahat sudah banyak terpangkas tanpa hasil.
"Maaf, Din."
Suara yang begitu Dinda rindukan, akhirnya datang mengobati kecemasan.
Bahagia? Tentu, tetapi Dinda lebih memilih bungkam dan tetap fokus pada minuman yang sudah hampir tandas di hadapannya.
"Aku pesenin minuman lagi, ya," ucap Ryan sembari menarik kursi yang ada di samping Dinda.
Tubuh Dinda yang sejak tadi berkeringat kepanasan, mendadak sejuk saat duduk berdampingan dengan pemuda itu.
"Ya Tuhan. Semoga aku dijodohkan dengannya. Kalau Ryan jadi suamiku, aku tak perlu repot-repot beli AC karena berada di sampingnya saja, badanku sudah dingin gak keruan." Batin Dinda terus berkecamuk, senyum-senyum sendiri.
Terlalu larut dalam lamunan, membuat Dinda tak menyadari dua gelas es teh sudah ada di depannya. Padahal, gadis itu sudah merasa kembung sejak tadi. Alih-alih ingin menolak, Dinda justru memilih untuk memulai pembicaraan. Sebab, waktu istirahat sudah tinggal beberapa menit lagi.
"Oia. Ini contoh materi untuk persiapan penelitian. Kalau kamu punya referensi lain, bisa kita diskusikan bersama," ucap Dinda meski hatinya masih digelayuti sound system jedag jedug orang hajatan.
Ryan menoleh dan tertawa kecil melihat ekspresi wajah Dinda yang kelihatan gugup.
"Aku ketemu kamu di sini, bukan untuk ngebahas itu," tegas Ryan sambil memutar badan ke arah Dinda. Kini, jarak di antara keduanya hanya berkisar lima senti. Lutut Ryan dan pinggang sebelah kanan Dinda, hampir saja bersentuhan.
Merasa sangat dekat, Dinda pun makin gemetaran. Alih-alih ingin jingkrak-jingkrak sambil joget koprol di atas meja kantin, Dinda memilih tetap tenang demi menjaga image. Tarikan napas panjang dua kali, berhasil membuat perasaan Dinda sedikit tenang.
"Kalau bukan untuk bahas itu, ngapain kamu panggil aku ke sini?" timpal Dinda tanpa berani menatap Ryan.
"Aku ... cuma mau traktir kamu aja." Ryan tersenyum.
"Traktir?" Dinda akhirnya menoleh dengan tatapan penuh tanya.
Secarik senyum yang tersungging di bibir tipis Ryan, membuat Dinda sontak menarik wajah dan kembali menunduk. Dinda tidak mau kegugupannya tertangkap basah oleh pemuda itu.
"Astaga ... ganteng banget!" Dinda bergumam dalam hati.
"Iya, aku cuma mau traktir sebagai ucapan terima kasih karena kamu udah mau bantuin aku urusin program beasiswa ini," terang pemuda yang suka sekali memakai sweter rajut itu dengan tatapan lekat.
"Em ... terima kasih, tapi kamu sebenarnya gak perlu ngelakuin hal ini, loh! Ini juga atas permintaan Pak Jun, kan!" ujar Dinda, terdengar lebih rileks dari sebelumnya.
Beberapa menit berlalu, Dinda dan Ryan pun hanyut dalam obrolan ringan yang semakin lama, semakin memupuk candu. Dinda mulai membiasakan diri berdekatan dengan sang pemilik rindu tanpa dihantui rasa ragu.
Ryan pun sama, bertukar kalimat dengan gadis ceriwis seperti Dinda, membuat ia turut terbawa suasana. Alih-alih ingin membicarakan hal yang penting mengenai persiapan program beasiswa, mereka justru menikmati obrolan garing yang tidak jelas alurnya. Pak Slamet—satpam sekolah, justru jadi target obrolan yang sontak membuat keduanya terpingkal-pingkal.
"Aku gak pernah telat, sih. Makanya gak pernah berurusan sama Pak Slamet," timpal Ryan dengan segala ke-uwu-annya.
"Payah kamu! Aku dong. Karena sering banget datang telat, Pak Slamet sampe bingung mau kasih hukuman apa lagi. Push up udah, lari keliling lapangan udah, bersihin WC, hormat bendera juga udah," ucap Dinda dengan penuh rasa bangga.
"Terus, yang belum apa?" tanya Ryan sembari menyeruput es teh.
"Yang belum ... lari-larian ke KUA bareng kamu."
Ryan tersedak, dan Dinda pun lantas menyodorkan tisu sambil memukul-mukul bibirnya sendiri.
"Ma-maaf, bercanda doang!" Dinda merasa sangat bersalah.
Melihat wajah Dinda yang begitu ketakutan, Ryan justru tertawa terpingkal-pingkal. "Kamu lucu, Din." Ryan menyeka matanya yang berair.
"Emang iya. Dari lahir!" sahut Dinda.
Mendengar jawaban Dinda, Ryan kembali tertawa lepas. Cowok yang dikenal pendiam dan kaku itu, seketika bertransformasi menjadi sosok yang garing dan asyik untuk diajak bicara.
Ryan terus saja menatap wajah Dinda ketika gadis itu bicara. Lengkungan di bibirnya, seolah-olah enggan kembali karena terlalu banyak hal lucu di diri gadis berambut panjang itu.
Lebih dekat dengan Dinda membuat Ryan merasa sedikit melupakan tugas yang dibebankan padanya. Menjadi sosok yang mengemban amanat penting sebagai ketua OSIS di sekolah, ternyata membuat Ryan kehilangan waktu untuk menyenangkan diri dan bergaul dengan teman-teman sebayanya.
Dinda dan Ryan saling menikmati gurauan satu sama lain, tak peduli teman-teman di sekeliling mereka yang mulai berbisik-bisik heran. Pasalnya, Ryan—cowok cool yang menduduki posisi sebagai pelajar paling berprestasi seperti Ryan, tidak pernah terlihat nongkrong di kantin, apalagi berduaan dengan lawan jenis.
Dinda dan Ryan sangat menikmati obrolan. Saat bel masuk berbunyi, wajah keduanya sontak tertekuk bersamaan. Mereka masih ingin menikmati momen santai yang jarang terjadi. Kini, kesempatan itu harus terhalang oleh kewajiban mereka sebagai seorang siswa dan siswi.
"Pulang sekolah nanti ada rapat, kan? Pulangnya bareng aja, ya! Biar gak jalan kaki sendirian," ajak Ryan.
" Oke." Dinda menjawab sembari beranjak.
Baru saja Ryan menggeser kursi, Dinda sudah kembali berulah dengan melempar candaan baru.
"Ryan, kamu itu ... tembaga+telurium banget, sih!" ucap Dinda.
"Tembaga+telurium?" Dahi Ryan sontak mengerut.
"Iya. Cu+Te. Jadinya, Cute banget!" jawab Dinda spontan. Lagi-lagi, gadis bertubuh mungil itu menepuk dahi sendiri.
"Oh. Jadi ... sekarang bahas kimia, nih! Oke kalau begitu. Aku juga punya," kata Ryan.
"Are you sure?" Dinda melirik tak percaya.
"Ya!" Ryan mengangkat kedua alisnya. "Kamu juga mengandung empat unsur kimia, loh. Ada calsium, nitrogen, titanium, dan potassium," ungkap cowok bertubuh tinggi itu tak mau kalah.
"Jadinya apa tuh?" Dinda bertanya begitu antusias.
"Ca+N+Ti+K. Cantik!" Ryan terkekeh sambil menggeleng dua kali. Pemuda itu tidak menyangka bisa mengeluarkan gombalan receh seperti itu.
Bukannya bereaksi setelah digombali, Dinda justru diam seribu bahasa. Dinda seketika memegangi kepala. Pandangannya tiba-tiba kabur dan tubuhnya sempoyongan. Lima detik kemudian, tubuh Dinda terhuyung mundur dan jatuh ke lantai.
"Dinda!" Ryan teriak histeris dan langsung meraih Dinda yang sudah tidak sadarkan diri.