"Dinda. Lepasin, dong!" seru Ryan, masih menggenggam erat lengan mungil Dinda.
Gadis itu mengernyitkan dahi. “Lepasin, apa maksudnya? Kan, Dua yang pegang tangan aku, kenapa aku yang disuruh lepasin? Ngelawak nih cowok,” gumamnya heran.
Bel masuk santer terdengar, keduanya pun makin beringsut kalang kabut. Terpaksa, Dinda membalikkan badan hingga wajah keduanya saling berhadapan.
Ryan tampak mengangkat kedua alis tebalnya. Sementara Dinda, terus menatap pemuda itu tanpa berkedip.
"Din, gelangnya lepasin!" pinta Ryan lagi.
Sekejap, gadis itu langsung menoleh ke bawah, tepat ke arah pergelangan tangannya. Dan ternyata, gelang yang ia pakai menyangkut di sweter Ryan. Dinda sontak menggigit bibir, dia segera melepaskan gelangnya kemudian lari terbirit-b***t.
“Payah banget kamu, Dinda! Siapa yang mau nembak kamu? Gelangmu yang nyangkut. Halu, dasar halu!” rutuknya sambil memukuli kepala sendiri.
Setelah sampai di kelas, Wiwi sudah menyambut Dinda dengan tatapan penuh antusias. "Wadidaw! Senengnya yang abis ketemu Ryan. Au au au—" teriak Wiwi sambil bergoyang-goyang seperti cacing masuk microwave, menggeliat-geliat tak jelas.
Dinda yang masih mengatur napas, hanya bisa melirik sahabatnya dengan tatapan tajam. Ia paham betul dengan tingkah Wiwi. Remaja yang hobi makan lolipop sambil minum es teh seribuan itu sangat berbakat meledeknya, terlebih soal Ryan.
"Gimana-gimana, berbunga-bunga, kagak?" Wiwi lantas menyenggol-nyenggol pundak Dinda yang tengah sibuk mengeluarkan buku dari dalam tasnya.
"Berbunga, emang aku rentenir?" Dinda masih memasang wajah kecut.
"Ya ... kan, cinta sama hutang itu sebelas dua belas. Makin lama dipendam, makin banyak bunganya. Eaaa!" Wiwi tergelak.
Namun, tawa gadis berkulit sawo matang itu justru terhenti kala mendapati wajah murung sang sahabat. "Ih, abis ketemu gebetan bukannya semringah, malah asem banget kaya pipis kudanil."
"Pipis kudanil. Emang udah pernah nyoba?" Dinda memutar mata ke atas, heran.
"Pipisnya belom, tapi ilernya udah,” jawab Wiwi asal.
Wiwi kembali tertawa terbahak-bahak. Sementara Dinda, masih betah menekuk muka.
Pemandangan dua sahabat yang tengah bersenda gurau di bangku barisan depan itu, ternyata membuat geram Geng Trio Ceker. Geng yang beranggotakan tiga cewek cantik itu, langsung melangkah menghampiri Wiwi dan Dinda. Ketiga cewek paling hits di sekolah itu bernama Mary, Sarah, dan Kety.
Jujur saja, nama-nama keren itu bukanlah nama asli mereka. Tiga siswi dengan gaya khas modeling itu sangat anti jika ada yang memanggil mereka dengan nama asli. Terlebih Mary, yang memiliki nama asli Marjan Rosaly. Sebab, setiap guru mengabsen, teman-teman sekelas selalu saja menyorakinya.
"Marjan."
"Hadir, Pak!"
"Loh, udah ada Marjan aja. Perasaan bulan puasa masih lama," kekeh teman-teman sekelas dibarengi dengan jeritan Mary yang memekakkan telinga.
Terlebih, saat Marjan terlihat jalan sendirian tanpa dua sahabatnya.
"Tumben Marjan sendirian. Timun suri sama kolang-kalingnya, mana?" cibir beberapa teman dari kelas yang lain.
Meski begitu, Geng Trio Ceker terkenal sangar meski penampilan anggotanya unyu-unyu macam personil Cherrybelle. Ketiganya selalu tampil modis, stylish, dan apatis tentunya. Di saat siswa-siswi lain berangkat sekolah dengan berjalan kaki atau naik kendaraan umum, ketiga gadis berambut panjang itu sudah membawa motor matic keluaran terbaru dengan warna senada. Baby pink.
"Woy, berisik!" teriak Mary sambil berkacak pinggang.
Seluruh murid menoleh ke arah Mary, termasuk Dinda dan Wiwi. Keduanya sadar betul situasi mereka sedang terancam, sebab tatapan tiga gadis garang itu menghunus tajam ke arah mereka.
"Hey, Dinda! Gak usah mimpi deh, bisa dapetin Ryan. Cowok ganteng, cool, dan tinggi macam dia, mana mau sama cewek pendek kaya kamu." Sarah berteriak, disambut kekehan dua sahabat yang mengapitnya.
Dinda seketika menghentikan geraknya. Perlahan, rambut yang sempat menutupi sebagian wajahnya itu, disibak demi bisa melihat dengan jelas wajah-wajah yang menghinanya barusan.
"Din, sabar, Din!" Wiwi mengusap-usap bahu Dinda yang bergerak naik turun.
"Diam, Wi! Ini urusan harga diri. Aku paling gak suka kalau ada orang yang hina fisik. Fisik itu ciptaan Allah. Menghina fisik, sama aja menghina yang menciptakan,” racau Dinda sambil menggulung lengan.
Di luar dugaan, Dinda tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Mary dengan dua tangan terkepal.
Kondisi kelas tiba-tiba hening, berpasang-pasang mata menuju ke arah Dinda yang tampak tak bisa menyembunyikan amarahnya. Sementara para personel Trio Ceker, terus melihat Dinda dengan tatapan merendahkan.
"Hey, Sarbo'ah!" Satu kalimat yang keluar dari mulut Dinda, berhasil membuat seisi kelas tertawa, terlebih Wiwi. Akhirnya Dinda tak bisa mengerem mulutnya untuk tidak memanggil Sarah dengan menyebut nama aslinya.
"Kamu bilang apa tadi, aku pendek? Gak masalah kalau tubuhku pendek, yang penting nilaiku tinggi. Dari pada kamu, body macam model, tapi otak kaya perkedel. Menye-menye. Gak pernah dapat nilai A. Kasihan guru punya murid macam kamu!" Dinda membalikkan badan setelah puas menebar racun pada gadis yang sudah menghina fisiknya itu.
Wiwi melongo. Hampir saja lalat-lalat tak berdosa yang kebetulan lewat, terisap ke dalam mulutnya. Begitu pula teman-teman yang lain, mereka semua tertawa di balik bekapan tangan. Beberapa siswa bahkan ada yang sampai menggebrak meja menciptakan kebisingan di ruangan berukuran 5x8 meter persegi itu.
Sarah yang tidak terima pun, langsung mengejar dan menjambak rambut Dinda hingga masker yang dikenakan terlepas.
“Hei, Cewek murahan! Kenapa mata sama muka Lo pada kegires gitu?
Dinda terkejut dan gugup didera pertanyaan seperti itu. Hal yang sedang berusaha Dinda sembunyikan, kini dikuliti oleh orang yang sangat tidak punya hati.
Wiwi yang awalnya tidak tahu dengan luka Dinda pun, ikut tercengang dan mendekat tak percaya.
“Din, kamu kenapa? Ada yang usilin kamu tadi malam? Kamu, sih. Udah aku bilang, kan, jangan lewat tempat gelap, nanti kamu kenapa-kenapa,” sergah Wiwi, berusaha menyentuh goresan di pelipis sahabatnya itu.
“Oh, jadi kamu habis diapa-apain?” Mary tertawa.
“Jangan-jangan .... diperk*sa!” sambung Kety sambil berkedip-kedip.
Suasana kelas kembali riuh oleh prasangka-prasangka seisinya. Dinda yang tidak punya banyak bukti untuk mengadu, merasa gugup dan bingung harus menjawab apa.
"Ada apa ribut-ribut?" Sosok tinggi berbadan tegap tiba-tiba muncul dan membuat kelas hening seketika. Pak Jun—guru ekonomi yang merangkap sebagai Wakil Bidang Kesiswaan, rupanya sudah berdiri di depan pintu sejak dua menit yang lalu. "Dinda, ikut saya ke ruang BK!" sambungnya. Dinda mengangguk pelan, lalu mengekor di belakang sang guru.
Geng Trio Ceker seketika tertawa beberapa detik setelah Dinda dan Pak Jun hilang di balik pintu. Mereka merasa berhasil membuat Dinda malu dan sampai dipanggil ke ruang bimbingan konseling.
"Sukurin, Lo! Makanya, jangan macam-macam sama kita, jadi kena hukum, kan!" ketus Sarah.
Tiga gadis bertubuh tinggi itu semakin terbahak-bahak. Sementara Wiwi, perasaannya menjadi tak keruan memikirkan apa yang akan Dinda dapatkan di ruang BK. Apakah masalah semalam ada kaitannya? Atau jangan-jangan, Dinda memang mengalami pelecehan seksual dan pihak sekolah tahu akan hal itu? Wiwi benar-benar khawatir akan nasib sahabatnya. Ia pun menyesal karena membiarkan Dinda pulang larut malam lantaran menyelesaikan tugas kelompok di rumahnya.