Jakarta memang penuh kenangan, bagaimanapun kerasnya kehidupan Nabilla disini, di kota inilah Nabilla merasakan menjadi seorang istri. Walaupun tidak dalam waktu yang lama tetapi Nabilla merasa bahwa menjadi seorang istri adalah peran yang luar biasa. Sebagai wanita, tentunya Nabilla menginginkan sebuah pernikahan yang sesungguhnya, menunggu suami yang terlihat lelah selepas bekerja, menyiapkan masakan dengan penuh cinta, Nabilla menginginkan hal itu, apalagi untuk usianya yang terbilang tidaklah muda. Namun kepahitan yang ia rasakan seakan mengekang jati diri Nabilla, takut melangkah, takut untuk kembali merasakan kegagalan. Itulah mengapa hatinya tak kunjung kembali ia buka, ia memilih menikmati berada dalam bayang-bayang masa lalunya. Apalagi untuk saat ini, ketika dia dihadapkan berad

