Bapak pernah berpesan kepada Nabilla sebelum ia berangkat ke Jakarta, hati-hati! Jangan kembali melihat sesuatu yang berada di belakang, karena kita hidup untuk melangkah ke depan. Nabilla sadar bahwa keputusannya untuk kembali ke Jakarta dalam waktu yang cukup singkat setelah perceraiannya, seakan kembali membuka luka lama yang belum sepenuhnya sembuh. Dengan sekuat hati meyakinkan diri, berharap untuk tidak kembali bertemu dengan salah satu objek pencipta rindu yang menggebu. Tetapi hidup sering sekali memberikan kejutan, alih-alih berada di Hongkong, mantan suaminya kini berdiri dihadapannya dengan kedua tangan bersedekap dan terlihat sangat angkuh di dekat pintu kamar perawatan Alesha. Tatapannya tak lepas dari keponakannya yang kini terbaring lemah sambil mendengarkan Hana yang sed

