BAB 34

2849 Kata

Hidup sebagai anak pertama dari keluarga Bagaskara menjadi sebuah anugerah pun kutukan bagi Bara. Selalu dituntut untuk menjadi pemenang, Bara tidak pernah menggunakan hatinya dalam setiap tindakannya. Ia mengandalkan logika, kecerdikan dan kecurangan untuk mendapatkan apa yang ia mau, bahkan tak segan turun langsung dengan kekerasan agar jalannya semakin mulus. Bara berdiri menatap jendela kaca di ruang kerja dalam rumahnya, masih menggunakan setelan kerjanya, Bara mencoba mengurai pikiran dalam otaknya yang mulai kusut akhir-akhir ini. “Saya mendengar laporan Ardi kalau Nona Lucy mulai mengepak barang-barangnya” “Biarkan dia pergi jika memang ingin pergi” “Beberapa kali nomor Nyonya Nita menghubungi, tidak hanya itu, Tn Bagaskara juga rajin menghubungi, dan Pak Andang, ayah Nabilla”

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN