Ternyata Ini Alasan Suaminya Tak Pernah Menyentuhnya
Rasa haus membuat Emma terjaga dari tidurnya. Dengan mata yang belum terbuka sepenuhnya dan kesadaran yang belum terkumpul seutuhnya, Emma berjalan menuruni anak tangga menuju dapur untuk mengambil air minum. Biasanya Emma menyiapkan segelas air di kamarnya, tapi karena letih dengan persiapan ulang tahun pernikahannya yang akan diadakan besok hari, membuatnya lupa untuk menyiapkan air minum. Alhasil, ia harus mengakhiri mimpi indahnya dengan suaminya hanya karena rasa haus yang ia rasakan.
Namun, ketika tersisa tiga anak tangga baginya untuk tiba di lantai satu, Emma menangkap suara-suara aneh dari ruangan tamu. "Suara apa itu?" tanyanya dalam hati sambil berjalan mendekati asal suara itu.
Matanya melotot ketika menyaksikan apa yang sedang dilakukan oleh suaminya, Carlos dengan adik tirinya. Rasa tidak percaya menghantui pikirannya saat ini. Berharap jika apa yang ia saksikan saat ini hanyalah mimpi. Tapi ketika merasakan sakit saat mencubit pipinya sendiri, membuatnya sadar jika apa yang ia lihat saat ini bukanlah mimpi.
"Carlos! Apa yang sedang kalian lakukan?"
Sontak Carlos melepas penyatuannya dengan Claudia, membuat cairan kental putih berceceran di lantai karena mereka baru saja mencapai puncak kenikmatan.
"Em, ini tak seperti yang kamu pikirkan," ucap Carlos pada Emma sambil mengenakan celana panjangnya.
Emma menghempaskan tangannya ketika ia berusaha untuk meraih tangan Emma. "Kamu pikir mataku buta hingga tidak melihat apa yang sedang kamu lakukan dengannya, hah?" tanya Emma sambil menunjuk ke arah Claudia yang sedang tersenyum sinis pada Emma.
"Em, aku hanya khilaf. Aku...aku tidak akan mengulanginya lagi. Maafkan aku, Em," ucap Carlos sambil terus berusaha mendekati Emma.
"Iya, Kak Emi, maafkan kami. Kami hanya khilaf," ucap Claudia pada Emma.
Tapi senyumnya yang penuh ejekan, membuat Emma semakin emosi.
Emma mendekati Claudia, lalu tangan kirinya melayang dan mendarat tepat di pipi kanan adik tirinya itu, karena Emma terbiasa menggunakan tangan kiri. "Kak, kenapa kamu menamparku? Aku sudah minta maaf padamu." Claudia tidak terima Emma menamparnya saat ini. Ia menyentuh pipinya yang mungkin terasa perih karena tamparan Emma tadi. Tangannya terayun, ia hendak membalas Emma , tapi dengan cepat Emma menangkap tangannya sebelum menyentuh pipi Emma.
Claudia merasa kesal karena tidak bisa membalas Emma. Ia berteriak histeris dan meminta Carlos untuk membalas perbuatan Emma. Emma pikir suaminya akan membelanya, tapi nyatanya Emma salah. Carlos tiba-tiba mendekati Claudia sambil mengelus pipi wanita itu di depan mata Emma. "Kenapa kamu begitu kasar, Em? Bukankah kami sudah minta maaf"
Emma tahu, suaminya, tidak, ia lebih pantas disebut pria b***t. Carlos marah pada Emma saat ini. Entah kenapa juga mereka tidak terima apa yang Emma lakukan, seakan mereka adalah korbannya? Apa salah Emma jika ia menampar wanita yang sudah merusak pernikahannya?
"Kenapa kamu marah padaku. Apa salah aku menampar wanita sial*n ini?" Ucap Emma sambil menatap nyalang ke arah Carlos. "Oke, sekarang aku tahu kenapa selama tiga tahun pernikahan kita, kamu tidak mau menyentuhku. Jadi ternyata kalian bermain gila di belakangku ya."
"Terserah apa yang ingin kamu katakan. Aku dan Carlos memang saling mencintai." Ucapan Claudia semakin membuat Emma terkejut. Ternyata Emma telah salah menikah dengan pria brengs*k ini. Andai Emma tidak jatuh cinta padanya saat pertemuan awal kami, mungkin Emma tidak akan terluka seperti saat ini.
Emma melangkah mundur lalu berbalik meninggalkan dua manusia yang telah mengkhianatinya selama ini. Dan parahnya, Emma baru mengetahui perbuatan mereka sehari sebelum usia pernikahannya berumur 3 tahun.
Emma mengambil koper lalu memasukkan bajunya yang ia beli dengan uangnya sendiri dan beberapa barang penting miliknya. Ia sengaja tidak mengambil baju dan barang yang dibeli Carlos untuknya. Setelah itu, Emma menarik kopernya dan melangkah turun. Saat tiba di ruang tamu, Emma melihat Carlos sedang membujuk Claudia. Emma tak ingin memedulikan dua manusia ini lagi. Namun, ia tak menyangka Carlos akan mengejarnya sebelum kakinya melangkah keluar dari pintu.
"Selangkah saja kamu keluar dari rumah ini, maka jangan harap kamu bisa kembali lagi," ancamnya pada Emma.
Pikirnya Emma akan takut lalu mengubah niatnya untuk pergi. Emma menatapnya dengan tatapan dingin, lalu tanpa bersuara Emma menginjakkan kakinya keluar dari rumah itu. Carlos berusaha menarik tangannya, tapi Emma tak membiarkan itu terjadi.
"Em, jangan pergi, aku mohon," ucapnya sambil menatap Emma dengan tatapan penuh harap. Tapi bukannya merasa iba, Emma justru jijik melihat tatapannya yang ternyata penuh kebohongan.
Emma tidak menyangka selama tiga tahun dia berhasil menutupi perselingkuhannya dengan Claudia. Betapa bodohnya Emma selama ini. Claudia sering datang dan menginap di rumah mereka, tapi Emma tidak pernah curiga sedikit pun padanya hingga akhirnya malam ini Emma menemukan fakta menyakitkan ini.
Emma menyalakan mobilnya setelah meletakkan koper di kursi belakang. Mobilnya melaju membelah jalanan yang sunyi karena malam telah larut. Di dalam mobil, air matanya jatuh setelah beberapa lama ia tahan, karena ia tidak ingin menunjukkan kelemahannya di depan Carlos dan Claudia.
Untungnya Emma masih memiliki seorang sahabat yang selalu ada untuknya. Emma memarkirkan mobil di basemen, lalu menghubunginya, "semoga Jesi belum tidur," gumamnya.
"Halo, Em, ada apa?" tanya Jesi saat telepon tersambung.
"Jes, aku ada di basemen apartemenmu. Boleh aku nginap malam ini?"
"Kamu tunggu di sana, aku akan menjemputmu."
Beberapa saat kemudian, Jesi sudah muncul di hadapan Emma dengan rambut acak-acakan khas orang yang baru bangun tidur. "Em, ayo naik," ajak Jesi sambil menggenggam tangan Emma.
"Em, apa yang terjadi?" Tanya Jesi ketika mereka sudah berada di ruangan apartemennya.
"Jes, Carlos mengkhianatiku," jawab Emma sambil menahan tangisnya.
"Sialan! Ternyata benar dugaanku selama ini."
"Apa maksudmu, Jes?"