Emma melangkah keluar dari ruangan dosen dengan perasaan campur aduk, marah, kesal, dan terluka. Semua mata tertuju padanya seolah-olah dia benar-benar bersalah. Bisikan-bisikan menyakitkan memenuhi udara di sekelilingnya. "Simpanannya pria tua? Memalukan sekali." "Aku tidak menyangka Emma seperti itu. Padahal dia kelihatan lugu." "Huh, dasar w************n. Pantas saja bisa hidup mewah." Setiap kata menusuk hatinya seperti belati. Emma mengepalkan tangannya, berusaha menahan air mata yang hampir jatuh. Ia tidak akan membiarkan dirinya hancur oleh fitnah yang tidak berdasar ini. Setelah keluar dari gedung fakultas, Emma segera mengambil ponselnya dan menelepon Chris. "Chris, kita harus bicara. Sekarang." Di sisi lain, Chris yang sedang berada di kantor langsung merasakan sesuatu yan

