Carlos dan Isabelle telah menyiapkan segalanya. Rencana mereka sudah tersusun dengan rapi, dan kini saatnya untuk melaksanakannya. Isabelle mengatur pertemuan dengan Emma di sebuah restoran mewah. Dengan alasan ingin bicara sebagai sesama wanita, ia berhasil membujuk Emma untuk bertemu. Emma datang dengan sikap waspada. Ia tahu Isabelle bukan orang yang bisa dipercaya. Begitu duduk, Isabelle memasang senyum palsunya. “Aku tidak ingin bertengkar, Emma,” ujar Isabelle dengan nada lembut. “Aku hanya ingin bicara.” Emma menatapnya tajam. “Kalau begitu, cepat katakan apa yang ingin kau katakan.” Isabelle menarik napas dramatis, lalu berkata dengan nada penuh simpati, “Kau tahu, Chris hanya sedang bermain-main denganmu.” Emma mencibir. “Apa maksudmu?” “Kau pikir dia benar-benar akan menin

