Emma tidak tahu harus merasa bagaimana, antara marah, bingung, atau terpesona oleh pria di depannya. Chris selalu punya cara untuk mendominasi situasi, untuk membuatnya merasa kecil, tapi sekaligus terlindungi. Itu menyebalkan dan memikat sekaligus.
“Chris...” gumam Emma pelan, mengusap bibirnya setelah Chris menjauhkan wajahnya. “Kau tidak bisa terus seperti ini.”
Chris menyeringai. “Seperti apa, Emma? Memberitahumu betapa berharganya dirimu untukku? Aku akan melakukannya setiap saat.”
“Kau memaksakan kehendakmu,” ucap Emma, mengumpulkan keberanian untuk menatap pria itu. “Aku tidak ingin terjebak dalam permainan ini. Aku butuh ruang, Chris. Dan aku rasa kamu tidak punya hak mengatur diriku."
Chris memiringkan kepala, matanya menyipit seolah mempertimbangkan kata-kata Emma. “Permainan, katamu? Aku tidak bermain, Emma. Aku serius.”
“Apa maksudmu serius?” tantang Emma. “Kau tak pernah benar-benar menjelaskan apa yang kau inginkan dariku.”
“Emma.” Chris melangkah lebih dekat, suaranya rendah tapi penuh perasaan. “Kau benar-benar tidak melihatnya, ya? Aku menginginkanmu. Tidak hanya sebagai asistenku. Tidak hanya untuk malam-malam liar kita. Aku ingin kau menjadi milikku. Sepenuhnya.”
Emma tertegun, dadanya bergemuruh. Perkataan Chris selalu membingungkan, membuatnya ingin percaya tapi di sisi lain, membuatnya ragu. Ia tahu pria seperti Chris tidak mudah dijinakkan. Pria itu bisa mengucapkan janji, tapi apakah ia akan menepatinya? Emma tidak yakin.
“Chris, aku...”
Ponsel Emma bergetar di dalam tasnya, memotong kalimatnya. Dengan gugup, ia merogoh tas dan melihat nama Mia di layar. “Aku harus menjawab ini,” katanya, berharap bisa keluar dari situasi canggung ini.
Chris mendesah panjang, tetapi mengangguk. “Jangan lama-lama.”
Emma mengangguk cepat dan keluar dari ruangan, menempelkan ponsel ke telinganya. “Mia? Ada apa?”
“Emma, kau di mana? Aku butuh bantuan di ruang arsip. File yang diminta klien hilang, dan aku tidak tahu harus mencarinya di mana!”
“Aku akan segera ke sana,” jawab Emma, bersyukur memiliki alasan untuk menjauh dari Chris.
Namun, saat ia menutup telepon dan berjalan menuju ruang arsip, pikirannya kembali melayang ke Chris. Ia tidak bisa mengabaikan fakta bahwa pria itu memiliki kekuatan untuk membuatnya merasa hidup meski dengan cara yang sering kali membuatnya frustrasi.
Ketika Emma tiba di ruang arsip, Mia sudah sibuk membongkar tumpukan dokumen. “Astaga, ini benar-benar berantakan,” keluh Mia, menoleh sekilas ke arah Emma. “Kau baik-baik saja? Kau terlihat seperti baru saja keluar dari perang.”
Emma tertawa kecil, mencoba menutupi kegugupannya. “Aku baik-baik saja. Hanya sedikit... stres.”
“Stres karena bos tampan kita?” goda Mia sambil mengangkat alis. “Semua orang di kantor membicarakan betapa seringnya dia memanggilmu ke ruangannya.”
Emma terbatuk, hampir menjatuhkan map yang dipegangnya. “Mia! Itu tidak seperti yang kau pikirkan!”
“Oh, ayolah. Semua orang tahu dia memperlakukanmu berbeda. Kau bahkan tidak perlu pura-pura,” ujar Mia dengan nada menggoda.
“Mia, serius,” desak Emma, merasa wajahnya memanas. “Aku hanya asistennya. Itu saja.”
Mia mengangkat bahu, tampak tidak percaya. “Baiklah, kalau kau bilang begitu. Tapi aku tetap berpikir ada sesuatu di antara kalian.”
Emma menghela napas, memilih untuk tidak melanjutkan diskusi ini. Namun, jauh di dalam hatinya, ia tahu Mia tidak sepenuhnya salah. Ada sesuatu di antara dirinya dan Chris sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan.
---
Malam harinya, Emma pulang ke apartemennya dengan perasaan campur aduk. Ia melepaskan sepatu dan menjatuhkan diri ke sofa, mencoba mengosongkan pikirannya. Tapi tentu saja, bayangan Chris kembali menghantuinya.
Ia memutuskan untuk membuat secangkir teh, berharap minuman hangat itu bisa menenangkannya. Namun, sebelum ia sempat menyeruput tehnya, suara ketukan di pintu membuatnya terkejut.
Dengan hati-hati, Emma berjalan ke pintu dan mengintip melalui lubang intip. Matanya membelalak saat melihat siapa yang berdiri di luar.
“Chris?!” serunya begitu membuka pintu. “Apa yang kau lakukan di sini?”
Chris berdiri dengan santai, mengenakan jaket kulit yang membuatnya terlihat lebih santai tapi tetap memikat. “Aku ingin memastikan kau baik-baik saja,” jawabnya ringan.
“Bagaimana kau tahu di mana aku tinggal?” tanya Emma, merasa sedikit waspada.
Chris menyeringai, melipat tangan di depan dadanya. “Aku punya cara.”
“Chris, ini tidak—”
“Boleh aku masuk?” potong Chris, menatapnya dengan ekspresi yang sulit ditolak.
Emma ragu sejenak, tetapi akhirnya mengangguk dan membiarkan Chris masuk. Pria itu berjalan masuk dengan percaya diri, mengamati apartemen kecil Emma dengan senyum tipis.
“Tempat yang nyaman,” komentarnya. “Tapi terlalu kecil untukmu.”
“Aku suka tempat ini,” jawab Emma sambil menutup pintu. “Dan aku tidak butuh tempat yang lebih besar.”
Chris menoleh, menatapnya dengan intens. “Kau pantas mendapatkan yang lebih baik, Emma. Kau pantas mendapatkan segalanya.”
Emma merasa dadanya sesak. Cara Chris memandangnya selalu membuatnya merasa istimewa, tapi sekaligus membuatnya takut. “Chris, apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?”
Chris mendekatinya, langkahnya pelan tapi pasti. “Aku sudah bilang, Emma. Aku ingin kau menjadi milikku.”
Emma mundur, merasa terpojok. “Aku bukan milik siapa pun, Chris. Aku punya hak atas hidupku sendiri.”
Chris menghentikan langkahnya, menatapnya dengan ekspresi campuran antara frustrasi dan kekaguman. “Kau benar, Emma. Kau bukan milik siapa pun. Tapi kau harus tahu, aku tidak akan menyerah untuk mendapatkanmu.”
Emma menggeleng, merasa air mata mulai menggenang di matanya. “Chris, kau tidak bisa terus seperti ini. Kau tidak bisa terus mendominasi hidupku.”
Chris menatapnya dengan serius, lalu menghela napas panjang. “Baiklah, Emma. Aku akan mencoba memberimu ruang. Tapi ingat satu hal.” Ia mendekat, menyentuh pipinya dengan lembut. “Aku akan selalu ada untukmu, apa pun yang terjadi.”
Emma tidak tahu harus berkata apa. Kata-kata Chris selalu meninggalkan jejak di hatinya, membuatnya merasa bingung dan terjebak. Ia hanya bisa menatap pria itu pergi, meninggalkan apartemennya dengan perasaan yang sulit ia jelaskan.
Saat pintu tertutup, Emma merosot ke lantai, merasa hatinya berkecamuk. Ia tahu hubungan ini tidak sehat, tapi entah mengapa, ia tidak bisa sepenuhnya melepaskan diri dari Chris.
Sambil menatap langit-langit apartemennya, Emma berbisik pelan, “Apa yang harus aku lakukan?”