On The Way
Kereta menuju ke Solo itu melaju cepat, mereka memilih menggunakan Argo Lawu supaya tak memakan waktu lama di jalan. Nadin duduk bersandar kursi nyaman kereta itu, sedangkan Nathan tertidur di sebelahnya dengan satu tangan Nadin membelai wajah suaminya. Mendadak pikirannya merencanakan malam panas ia dan suaminya. Perjalanan mereka ke Solo, selain untuk mengunjungi sang Ibu, juga untuk bulan madu lagi. Harapan Nadin, setelah pulang dari Solo, ia akan diberikan rejeki anak.
Senyumnya merekah, manakala ia selesai meminta tolong kepada adik sepupunya untuk membelikan beberapa barang dan dikirim ke hotel, menitipkan di resepsionis. Sedikit kejutan untuk Nathan darinya tak menjadi masalah. Karena suaminya pasti suka.
Cup. Nathan mencium pipi Nadin, ia sudah bangun tidur. Tubuhnya bergeliat merenggangkan otot di atas kursi kereta. Nadin terkikik pelan sambil memberikan air mineral ke suaminya yang langsung ditenggak hingga tandas.
"Haus banget, Mas, mimpi dikejar apaan?" ledek Nadin. Nathan tersenyum sembari mengusap kepala istrinya itu.
"Mas ..., aku mau beli oleh-oleh nanti untuk Margie sama Bayinya, aku punya temen yang suka bikin selimut baby, custom gitu, boleh?" Nadin menatap Nathan.
"Ya boleh, lah, masa nggak boleh beli buat calon keponakan sendiri. Eh tapi, udah fix itu jenis kelaminnya cewek?" Nathan memicingkan mata. Nadin mengangguk.
"Ok, pesen warna pink bagus kali ya, Din," lanjut Nathan.
"Iya, aku juga kepikiran satu warna itu aja. Mas, nanti kita stay di rumah Ibu, nggak? Apa mau main aja tapi tidur tetap di hotel? Kita udah booking untuk berapa malam, sih?"
Nathan mengernyitkan kening, "kata kamu tiga malam, aku udah booking, lho," lanjut Nathan lagi.
"Iya, fix kita di hotel aja, ‘kan, ke tempat Ibu numpang nyantai sama main, gitu aja ngegas kamu, Mas," sewot Nadin dengan mata memicing ke Nathan yang tersenyum simpul hingga dua lesung pipinya tampak manis di mata Nadin.
Nadin mendekatkan bibirnya ke telinga Nathan, hendak membisikan sesuatu, "aku punya kejutan buat kamu, babe," bisiknya s*****l. Nathan melirik sambil menggigit bibir bawahnya. Ia juga mengangkat sebelah alis matanya dengan senyum smirk.
"Really? Kamu mau bikin aku..., terus berdiri tegak, hum?" tanya Nathan.
"Lihat aja nanti, honeymoon kita harus berkesan luar biasa kali ini, Mas," bisik Nadin lalu mengecup cuping telinga kiri suaminya. Suami mana yang tak merinding saat istrinya menggoda dengan hal yang mampu meningkatkan rasa penasaran juga birahinya. Nathan terus menatap Nadin yang semakin lama tampak malu-malu, lalu kini Nathan yang berbisik di telinga istrinya itu.
"Toilet kereta, yuk, cobain, belum pernah, kan?"
Sontak Nadin melotot dan menggeleng cepat. "Sinting kamu. Nggak!" Nathan tertawa, jelas ia menggoda, ingin lihat reaksi istrinya, ternyata benar, Nadin mencak-mencak dan mencubit pinggang Nathan tanpa ampun.
***
Sesampainya di stasiun Solo Balapan, keduanya disambut sepupu Nadin yang memang rela menjadi supir selama dua kakak sepupunya itu akan berada di kota itu. Nadin memeluk Ageng, yang tampak BT jika kakak sepupunya memperlakukan dia seperti anak kecil.
"Mbak, aku udah gede," ucapnya.
"Gede apaan, masih pake putih abu-abu gini, Mas mu, tuh, juga pasti anggap kamu anak kecil, ‘kan, Mas?" toleh Nadin ke Nathan yang merangkul Ageng lalu mengacak rambut pemuda itu gemas.
"Mas! Mbak! Isin aku, malu!" protesnya. Suami istri itu hanya tertawa, sementara Ageng menatap wajah di kaca mobil, merapikan rambutnya lagi sambil ngedumel.
"Geng, nih," panggil Nathan sembari menyodorkan dus ponsel baru. Ageng diam, ia menatap ragu, lalu sumringah dan berteriak kegirangan.
"Murah banget sogokan kamu, Geng… Geng," ucap Nadin seraya membuka pintu bagasi. Nathan tertawa sembari membantu istrinya memasukan koper mereka.
Mobil melaju ke jalanan kota Solo, tujuan pertama tempat makan sate buntel, Nathan lapar dan mau makan itu. Nadin juga rindu, mereka bertiga makan siang bersama.
"Mbak, lama, ‘kan, di sini?" tanya Ageng.
"Empat hari tiga malam, Mas mu harus kerja, aku juga, kenapa emangnya, Geng?" Nadin balik bertanya.
"Itu, katanya mau ada acara tujuh bulanan anaknya Mbak Ayu, kembar, Bude pingin Mbak hadir, piye, Mbak?"
Nadin diam ia selalu terusik jika menyangkut bahasan kehamilan. "Nggak bisa, Geng, nanti aku bilang ke Ibu, aku sama Nadin nggak bisa hadir." Nathan langsung menyela sebelum Nadin bersuara. Ageng manggut-manggut.
Nadin kembali mengalami mood swing, kalau sudah begini, Nathan harus buru-buru membawa istrinya ke hotel, membuatnya tak perlu khawatir dengan bahasan kehamilan.
"Habis ini, Mbak sama Mas mau ke rumah Bude dulu? Apa istirahat di hotel?"
Bude maksudnya, Ibunya Nadin yang dipanggil Ageng. Nathan memberi tahu jika mereka akan ke hotel dan meminjam mobil Ageng, pemuda kelas 3 SMA itu tak perlu repot menjadi sopir, pada akhirnya, toh, dia sudah dibelikan ponsel baru oleh Nathan.
Pria itu melirik ke piring Nadin yang makanannya hanya dimainkan. "Makan, aku nggak mau kamu kepikiran terus." Perintah Nathan tegas, suami Nadin itu akan kesal jika istrinya mendadak tak mau makan karena BT, ia tak suka melihat istrinya larut dengan pikiran menyebalkan itu dan menjadi kurus, Nathan tipikal pria yang tak suka dengan wanita kurus atau cenderung bertubuh ideal, ia lebih suka dengan Nadin yang sejak dulu sudah bertubuh sedikit berisi, dengan bentuk tubuh seperti beyonce atau kim kardashian. Luar biasa selera Nathan memang, dan beruntunglah doanya terkabul hingga bertemu Nadin lalu berjodoh dengannya.
Sedangkan Nathan, pria tinggi tegap dengan otot tubuh tercetak sempurna dan tatapan yang selalu membuat Nadin tergoda, keduanya seperti pasangan yang akan selalu hot di manapun mereka berada.
"Mbak, Mas, aku denger gosip, kalau suami Mbak Ayu sebenernya punya istri lagi, tau, tapi di luar negeri." Mulailah Ageng bergosip tentang keluarganya.
"Masa?" Mendadak Nadin semangat. Nathan tersenyum, susah memang perempuan, ya.
"Serius. Tapi Mbak Ayu nutupin, aku pernah denger Mbak Ayu nangis lagi telponan sama suaminya, terus buru-buru hapus air matanya pas aku buka pintu kamarnya lebar-lebar karena di suruh ambil casan HP punya Kunto."
"Terus gimana?" tanya Nadin penasaran.
"Ya gitu, Mbak Ayu senyum dan keluar kamar tapi pergi ke arah kebun di belakang rumah, aku ya cuma bilang ke Kunto, kenapa Kakakmu, kok nangis gitu, maki-maki suaminya di telpon."
"Kata Kunto, apa?" Nadin semaki kepo. Nathan tertawa pelan. Ia akhirnya memutuskan menyuapi istrinya makan.
"Ngerumpi juga butuh bahan bakar, makan sayang," ucap Nathan sambil mengarahkan sendok ke mulut istrinya.
"Katanya, udah biasa. Mbak Ayu cemburuan, dan pikirannya curiga melulu, perkara itu fakta apa nggak, belum ada yang bisa buktiin, Mbak, ngono." Ageng menutup kalimatnya.
"Kalau sampai Ayu beneran digituin, kasihan ya, suaminya emang masing kerja di perusahaan minyak di sana?" lanjut Nadin. Ia juga mengunyah makanan dengan lahap, Nathan terus menyuapinya.
"Masih, tau lah, Mbak, intinya kalau benar, jahat amat, Mbak Ayu rela jadi Ibu rumah tangga biasa demi suaminya, padahal karirnya lagi naik banget, dilepas gitu aja," ucap Ageng kemudian.
"Emang Ayu kerja apa?" kini Nathan yang penasaran.
"Kepala Unit bank tempat dia kerja, Mas, Mbak Ayu, tuh, mandiri banget dan pintar," timpal Ageng lagi.
"Sayang juga, ya." Nathan membersihkan sudut mulut Nadin dengan tisu. Istrinya tersenyum dan memeluk manja karena sudah di suapi makan. Nathan mengusap kepala Nadin lalu mengecupnya pelan.
"Giliran ada bahan ghibah, mood kamu naik, padahal aku buru-buru mau bawa kamu ke kamar hotel, mau ku kurung kamu," lirik Nathan. Nadin tersenyum lalu tertawa pelan. Ageng gak peduli, ia memilih melanjutkan makan.