More (18+)

1035 Kata
More (18+) Desahan itu begitu menggoda terdengar di telinga Nathan. Tak segan ia membuat istrinya terus menyebut namanya bahkan kini tampak semakin menggila dengan perbuatan Nathan yang terus membuatnya menjerit nikmat. "Salah sendiri kamu mancing aku, gimana, enak?" bisik Nathan sembari terus mengecupi telinga dan area sensitif istrinya. Nadin bergeliat karena ia justru terjebak permainannya sendiri. Niat awal ingin menyuguhkan sesuatu yang berbeda kepada suaminya, justru terbalik menjadi ia yang menikmati suguhan itu. "Nath...," rengek Nadin saat suaminya tak kunjung menyatukan inti mereka. Nadin merengek, memohon, tapi suaminya tak kunjung bergerak. Justru terus mengerjainya. "I hate you!" omel Nadin yang sudah diujung tanduk. Nathan tertawa, ia segera menghujam hingga Nadin memekik nikmat. Kegiatan mereka terasa begitu panas, kamar hotel itu menjadi saksi bagaimana gilanya mereka berdua, saling mendamba dan begitu tampak mencintai. Nadin tak mau kalah, ia kembali ke tujuan awalnya yang ingin mendominasi permainan mereka. Nathan menolak, hei, dia laki-laki, gengsinya tinggi jika hanya menerima. Tidak akan bisa. "Jangan disobek…," protes Nadin di sela desahannya. "Gemes, kamu nyuruh Ageng beli baju transparan ini?" Nathan menghentikan gerakannya sejenak. Ia menatap lekat istrinya yang mengangguk. "Dia nggak malu kamu suruh beli baju-baju dan lingerie ini semua, Din?!" Nathan melotot sambil berkacak pinggang. Nadin tak tahan, ia mulai bergerak dan membuat Nathan tersenyum menahan godaan istrinya. Nadin menjerit. Saat suaminya menekan semakin dalam lalu mengecup pipi istri cantiknya itu. "Lain kali, sekalian satu set sama g-stringnya, okey…," goda Nathan. Nadin mengangguk seraya merengek supaya suaminya bergerak. Ia tak tahan lagi, terlalu gila suaminya itu jika menggoda dirinya. "Nathan... please," rengek Nadin. "Ok, scream my name, Nadin, my beautiful wife," bisik Nathan di telinga Nadin. Mereka terus bergumul, Nathan dan Nadin saling memuaskan, mereka memang terbuka soal urusan ranjang, membahas kemauan masing-masing supaya sama-sama tau, dan... menghindar dari pikiran dipuaskan oleh orang lain. Terlalu jahat jika itu sampai terjadi. Tengah malam mereka baru selesai, setelah saling membersihkan diri, kini keduanya duduk sambil berpelukan di atas ranjang, menonton TV dengan Nadin menyuapi buah yang sempat ia beli sebelum sampai di hotel tadi. Sesekali Nadin mengecup pipi suaminya itu, bergelayut manja dengan Nathan yang hobi membelai lengan istrinya dengan lembut. "Semoga bulan depan kamu udah mampet ya, Din," bisik Nathan diakhiri kecupan di bahu istrinya itu. Nadin mengangguk, ia mengecup lama bibir suaminya itu. "Kalau masih belum juga, aku mau coba bayi tabung, gimana?" tatapan Nadin menjadi sendu, Nathan mengambil alih piring berisi buah dari tangan istrinya, meletakkan di atas nakas, lalu meminta wanita itu duduk di pangkuannya. Tatapan Nathan dibarengi senyuman penuh cinta. "Ayo, aku setuju, kita coba, ya, kamu jangan kepikiran apa-apa, harus sehat juga badan kamunya, sini..." ia merengkuh tubuh Nadin membawa ke dalam pelukannya. Mencium bahu telanjang istrinya yang hanya memakai lingerie warna merah menerawang. Membuat Nathan tergoda kembali. Tapi ia urungkan, kasihan istrinya itu nanti remuk tubuhnya karena serangan bertubi-tubi. "Iya, Mas," jawab Nadin yang membuat Nathan gemas. "Kok kamu iseng, sih, kalau kita lagi gempur, kamu nggak pernah manggil aku Mas, selalu, Nathan, Than, Nath, kenapa, hum... iseng banget ini mulutnya." Bibir pria itu mengecup bibir merah Nadin. "Ya, nggak apa-apa, biar lebih seimbang aja, lagian nggak nyaman aku kalau manggil ‘Mas’ pas lagi begituan." Nadin masih bersandar di pelukan hangat suaminya. "Iya, sih, lebih luwes dan makin menggila," lanjut Nathan. "Mas, balik ke topik, padahal kita sama-sama sehat, kenapa belum dikasih kepercayaan anak ya? Kamu nggak selingkuh, ‘kan?" Nadin menatap suaminya. "Gila kamu! Jangan asal kalau ngomong. Punya istri seksi begini, masih diselingkuhin? Kamu jangan mikir aneh-aneh, Din, kamu tau gimana aku ngejar dan dapetin kamu susah dari jaman kamu masih magang di kantor temenku itu, sampai akhirnya kamu luluh cuma karena aku ajak kamu ke seaworld, saking sukanya kamu lihat ikan di akuarium besar, mana cantik banget kamu waktu itu, pengen langsung aku nikahi, kalau kamu mau tau," ucap Nathan. "Masa, sih? Aku kok lupa, ya?" Nadin menyipitkan kedua mata, tangannya membelai kepala dan wajah suaminya itu. "Ck, segala lupa, aku kayak kepatil sama kamu. Mana yang incar kamu juga banyak, tapi mereka kalah dengan keberanian suamimu ini." Tawa Nathan pecah. Nadin mengangguk, ia ingat itu. Suaminya nekat jemput Nadin kerja padahal dia baru pulang dari Palembang karena ada meeting di cabang sana, mana hujan pula, seret-seret tas koper turun dari bus bandara sampai ke lobi gedung kantor Nadin. Wanita itu melihat Nathan basah kuyup, tak lupa masih terus tersenyum sambil menyapa, 'Aku pulang, dan tepati janji jemput kamu kerja, kan, Din?.' Jelas Nadin luluh, bahkan Nathan yang basah kuyup harus menahan dingin hingga gemetar. "Inget, kan?" tanya Nathan. Lalu menangkup wajah istrinya yang masih duduk di pangkuannya. "Ayo kita coba bayi tabung, uang bisa aku cari untuk biaya itu, ok, yang penting kita usaha." lanjut Nathan. Nadin menitikkan air mata, jujur ia lelah dibilang bermasalah dengan kandungannya oleh orang-orang. Ia ingin hamil, teramat sangat. "Istri aku akan selalu satu, kamu, yang mampu terima sifat aku tanpa ngeluh, aku yang suka manja sama kamu, suka mendadak minta jatah padahal kamu udah siap kerja, atau kapan pun aku mau, dan banyak sifat kekanakanku lainnya. Juga, kamu yang aku butuhin untuk urus anak-anak aku nanti, urus aku sampai tua dan maut yang memisahkan, jangan pikir aku selingkuh. Apa, kamu nih, yang flirting, ya? Hayo, ngaku–" pelotot Nathan. Nadin tertawa, "aku flirting? Ngapain, punya suami bertenaga kuda, ganteng, baik, mapan, dan sizenya, wowww...," Nadin tersenyum nakal. Nathan tertawa. "Aku selalu bersyukur setiap saat karena jodoh aku kamu, ketemu sama kamu walau temen-temenku waktu itu sempat mikir kalau kamu playboy, tapi ternyata kamu gemesin banget, sayang...! Nggak ada yang aneh sama kamu, sama sekali, i loved you, Mas..." ucap Nadin. Ia meraih wajah suaminya dan melumat bibir suaminya lagi. "Hmmm, terusss… deh, mancingnya bisa banget," ucap Nathan dengan suara berat dan tatapan sayu, juga, sembari mendongak menatap wajah istrinya yang mulai nakal dan bergerak di atas pangkuannya. "Kan bulan madu, Mas, jadi ya ...," tak perlu Nadin selesaikan kalimatnya, Nathan sudah menyambar bibir Nadin dan mereka semakin memperdalam lumatannya. Mereka tak peduli apa pun, mereka menciptakan kebahagian sendiri disaat banyak yang bertanda tanya dipikiran kenapa Nadin tak kunjung hamil. "More?" ucap Nathan saat Nadin mulai memanjakan milik suaminya, maka selanjutnya, mereka kembali saling memuaskan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN